
“Jadi, dia tidak ada di kantor ?...” Amarah wanita baya tersebut seketika meluap kala mengetahui sang anak sedang tidak berada di kantor untuk mengurus perusahaan. Ketika salah seorang pegawai disana menganggukan kepala, menjawab pertanyaan dari wanita baya tersebut. “...Sudah berapa lama dia pergi ?” Dengan nada yang kesal dan wajah yang marah, beliau kembali memberikan pertanyaan pada para pegawainya.
“Maaf, bu. Sejak pagi, Pak Reza memang belum datang ke kantor.” Dengan sedikit takut dan ragu, pegawai tersebut menjelaskan pada wanita baya disana.
“Anak itu....” gumam wanita baya ini kesal. Mata tajamnya menatap lurus ke depan. Membayangkan sang anak. Sepertinya beliau tau, kemana anaknya pergi. “....Pasti karena perempuan itu lagi.” Geramnya.
»
Drt... Drt...
Baru saja hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja sebuah benda pergi panjang yang ada di dalam saku celana itu bergetar. Reza meraih ponselnya. Bola mata terpaku pada sebuah nama di layar ponsel. Ia sedikit ragu untuk menjawab panggilan tersebut, namun....
“Hallo, Ma...”
“....”
“Maaf, Ma. Aku sedang ada urusan sebentar di luar.”
“....”
Untuk beberapa detik, Reza nampak diam tidak menjawab. Ia sedikit menghela napas. Lalu didetik kemudian...
“Iya, Reza ke sana sekarang.”
Dan telepon pun terputus. Pemuda ini kembali menghela napas-dalam. Sepertinya ia tau apa yang akan dibicarakan oleh lawan bicaranya nanti. Meski begitu, pemuda ini tidak begitu ambil pusing. Karena menurutnya, apa yang ia lakukan saat ini adalah benar.
***
Sebuah senyum terukir di wajah mungil Nabila. Bola mata nya menangkap sosok pemuda di ujung sana. Tentu saja, ia beranjak dari tempat duduk. Melihat pemuda yang kian mendekat kearahnya.
Sudah lumayan lama, Nabila menunggu kedatangan pemuda tersebut. Ya, tentu saja hal itu tidak sia-sia. Betapa senang hati nya saat ini, Pemuda itu datang. Setelah sekian lama tidak bertemu.
“Dicky...” ujar perempuan berwajah mungil ini. Masih dengan kebiasaan lama, Nabila meraih lengan pemuda tersebut. Berujar manja pada nya “...Aku kangen banget sama kamu.”
Namun, dibalik rasa bahagia seorang Nabila. Tanpa ekspresi apapun, Dicky diam menatap perempuan yang kini bersandar mesra di lengannya. Walau sudah lama tidak bertemu dengan sang kekasih hati, Dicky malah merasa jijik dengan sikap Nabila yang seperti itu padanya.
“Kenapa sih kamu lama banget? Aku pikir kamu ga bakalan dateng...” lanjut Nabila dengan memasang wajah cemberut-manja di hadapan Dicky.
Masih dengan tatapan yang sama, Dicky lalu melepaskan tangan Nabila dari lengannya. “Hentikan! Cepatlah katakan...” Ucap pemuda ini beralih dari tatapan Nabila yang bingung akan sikap nya tersebut.
__ADS_1
“Dicky, kamu...”
“Aku tidak punya banyak waktu!.” Lanjut Dicky memotong cepat perkataan Nabila sembari kembali menatap perempuan tersebut. Tatapannya tajam bak sedang ingin menerkam mangsa. Sungguh, ia sangat kesal dan marah pada perempuan yang ada di hadapannya itu. Hanya saja, ia masih mencoba menahan. Terlebih, ini juga adalah bagian dari kesalahan dia sendiri.
“Kamu apa-apaan sih?...” kesal Nabila saat mendengar ucapan Dicky barusan. “...Kita tuh udah lama ga ketemu dan kamu bilang kamu ga punya banyak waktu ?...” celoteh perempuan dengan rambut sepunggung itu. Sementara Dicky kembali mengalihkan wajahnya dari tatapan Nabila. “...Kamu ga punya banyak waktu buat aku ? Apa kamu ga kangen sama aku ?.”.
Pertanyaan itu kembali membuat Dicky menatap Nabila. “Iya, Aku ga kangen sama kamu!.” Dan hal itu membuat Nabila terkejut mendengarnya. Pemuda itu berubah. Ia bukan seperti Dicky yang dikenal dulu.
Dicky beranjak dari tempatnya. Rasanya ia menyesal datang kesini. Nabila hanya membuang-buang waktu.
“Mau kemana kamu?.” Pertanyaan Nabila menghentikan langkah kaki Dicky disana.
“Pulang.” Jawab Dicky singkat.
“Apa? Pulang?...” Nabila menyusul langkah kaki Dicky dan berdiri tepat di hadapan Dicky. “...Kamu baru aja dateng dan sekarang mau pulang?.”
“Iya.” Jawab Dicky.
“Kamu tuh....”
Namun, Dicky lagi-lagi mendahului ucapan Nabila. “Lagipula, gaada hal yang mau dibicarain kan? Yaudah, aku pulang!.” Lalu kemudian, pergi meninggalkan Nabila disana.
“Ish...” Nabila kesal. Ia menatap punggung belakang Dicky yang semakin menjauh disana.
Sungguh, ini jauh dari apa yang ia bayangkan. Dicky yang dulu perhatian pada nya. Yang dulu begitu sangat mencintai dirinya. Kini bersikap dingin seperti itu? Dan tentu saja, kepala nya mengincar satu nama yang membuat Dicky jadi bersikap seperti itu padanya. Nasya.
“Dasar, Wanita Sialan!.”.
***
Reza baru saja tiba di kantor. Bola mata nya menangkap sosok wanita baya yang sudah lama berada disana. Tatapan tajam mengiring saat langkah kaki Reza kian mendekat.
“Dari mana kamu?...” Tanya wanita baya tersebut dengan tatapan intens pada sang anak. Reza sejenak diam. Pemuda itu lalu duduk di hadapan sang Mama. “...Dari tempat perempuan itu lagi?.”
“Aku cuma mau bantu dia aja, Ma.” Jawab Reza
“Ngapain sih kamu bantuin dia terus? Lebih baik kamu dikantor! Urus perusahaan!...” Kesal wanita baya disana. “...Lagian kenapa juga kamu masih pertahanin dia sebagai sekretaris? Sudah mama bilang kan, Pecat dia dan cari sekretaris baru!.” Serbu wanita baya tersebut dengan berbagai pertanyaan kepada anaknya.
"Bukan begitu, Ma..."
__ADS_1
"Apa? Kamu mau tetep pertahanin dia disini?..." Wanita itu memotong cepat perkataan sang anak. "...Lagipula dia sudah sebulan ini tidak bekerja. Jadi buat apa pertahanin pegawai yang seperti itu!."
"Ma, Putri bukan tidak bekerja. Dia ambil cuti. Dan itupun karena kondisi nya sekarang tidak memungkinkan untuk bekerja." jelas Reza.
"Kamu itu, susah sekali kalau di bilangin orangtua. Kamu lupa apa yang terjadi sama kamu waktu itu? Gara-gara perempuan itu?..."Wanita baya itu benar-benar kesal. Reza tidak menjawab kala sang mama kembali mengungkit kejadian sebulan yang lalu. "...Pokoknya mama gamau tau! Kamu harus pecat dia dan cari pegawai baru!..."
"Ma...."
Wanita baya disana berdiri. Menatap tajam sang anak yang masih duduk di hadapannya "Kalau kamu gamau melakukan itu, Mama yang akan melakukannya!." balas cepat wanita tersebut. Lalu pergi dari ruang CEO itu.
***
Dicky baru saja tiba di rumah. Ia duduk di sofa ruang tengah. Menyenderkan punggung ke sofa tersebut. Sejenak, ia merasa kesal akan Nabila. Memang, ini semua berawal dari ide bodoh nya. Harusnya ia tidak melakukan itu kepada Nasya sejak awal. Meski berat, Kini ia harus menerima kenyataan bahwa sekarang Nasya sudah bukan istrinya lagi.
Dicky sedikit memijat pelipisnya. Rasanya pusing sekali. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan. Terlebih, untuk mengambil hati dan kepercayaan Papa Nasya lagi. Percayalah, ini lebih sulit dari yang di bayangkan.
Bahkan, untuk bertemu Nasya saja, ia harus mencari waktu yang pas. Kalau tidak, ia akan di maki habis-habisan oleh Papa Nasya.
PUK!
Dicky melirik sesuatu yang baru saja dilemparkan ke atas perutnya. Sebuah makanan ringan, kesukaan Dicky.
Lalu, Bola mata nya melirik seseorang yang baru saja duduk disebelah. Kerutan di dahi Dicky sedikit terlihat. Ia menatap heran. Kenapa bocah itu ada disini? Bukankah dia sudah kembali ke New York?
"Gue..." Rafael sejenak menggantung. Tanpa menatap Dicky disebelah. "...minta maaf..." lanjutnya sembari menoleh pada sepupunya itu. "Ga seharusnya gue bicara kayak gitu sama lo."
"Apaan sih lo...." ujar Dicky melemparkan balik makanan tersebut pada Rafael sembari memposisikan tubuhnya duduk.
Rafael melirik sekilas makanan tersebut. Apa ini,Dicky tidak menerima permintaan maaf dari nya? "...Harusnya gue yang minta maaf sama lo..." Lanjut pria yang bertubuh sedikit lebih kecil dari Rafael. "...Ga seharusnya gue bersikap kayak gitu sama lo..."ujar Dicky dengan tatapan lurus ke depan. "...Gue yang salah. Karena takut kehilangan istri gue, Gue jadi bersikap kasar sama lo..." Kali ini, Dicky menoleh. Memberikan senyum tulus pada sepupunya itu. "...Padahal, waktu itu lo berniat baik mau bantu gue..." Dicky kembali mengalihkan wajah dari tatapan Rafael. "...Sorry, karena gue udah bersikap gitu sama lo." lanjutnya kembali melihat ke arah Rafael.
"Iya, gue tau. Lo ga sengaja ngelakuin itu. Gue ngerti posisi lo waktu itu..." Dicky tersenyum dengan sedikit menganggukkan kepala "...Mungkin, kalo gue ada diposisi lo, Gue juga akan ngelakuin hal yang sama."lanjut Rafael yang juga sembari tersenyum menatap sepupunya tersebut.
Lalu, Dahi Dicky kembali mengernyit. "Ngomong-ngomong, Lo kenapa ada disini? Bukannya balik ke New York?."
Mendengar itu, Rafael sedikit tersenyum geli sembari mengalihkan wajahnya sekilas dari Dicky. "Tante maksa gue buat balik ke sini..." jawab pemuda sipit itu. Jika harus diingat lagi, "...Gue kekanakkan banget kan?..." Rafael kembali menoleh pada sepupunya. "...Habis berantem sama lo, Gue lari ke London." jelasnya.
Mendengar itu, Dicky pun sedikit tersenyum geli. "Memang, kapan lo udah dewasa ?"ujar Dicky sembari melirik Rafael disana.
Dan Rafael hanya membalas nya dengan tawa. Pemuda sipit itu kembali melemparkan makanan tersebut kepada Dicky. "Tuh... Gue beli khusus buat lo!." ucap Rafael.
__ADS_1
Dicky tersenyum "Makasih..."