
Sebelumnya,
Pukul 08:35,
Sudah 10 menit berlalu setelah sebuah pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Indonesia.
Pemuda dengan koper hitam di tangan, tak lupa dengan kacamata hitam yang semakin memberikan kesan keren padanya itu, tengah melihat kearah ponselnya.
Tak heran beberapa wanita yang lewat disana melirik, tersenyum sembari berbisik pada seseorang disebelah mereka. Bahkan ada juga yang mengambil gambar pemuda itu dengan ponsel mereka. Ah, Bandara itu terasa seperti sedang kedatangan artis luar negeri saja. Ramai dengan jeritan histeris dari wanita-wanita tersebut.
Mengetahui itu, Si pemuda sedikit melirik salah satu mereka dan memberikan senyuman yang ternyata malah menambah riuh suasana disana. Ia lalu kembali menatap ponselnya, men-scroll cepat layar ponsel itu serta menarik kopernya dari tempat tersebut. Nampaknya pria itu sudah tidak nyaman disana.
"Bukankah sudah tante bilang untuk tidak datang mendadak seperti ini?.".
Pemuda itu menoleh cepat saat mendengar suara yang sangat familiar untuknya.
"Ah, Akhirnya tante datang juga,".
Pemuda itu segera menghampiri wanita baya yang disebutnya dengan 'Tante' disana-itu. Ia bernapas lega setelah sang tante berada disana untuk menjemput dirinya.
"Apa kamu sudah lupa dengan jalan kerumah tante? Kenapa ingin minta dijemput?," gerutu wanita baya tersebut kepada keponakannya yang manja itu.
Pemuda tersebut hanya terkekeh akan pertanyaan itu. "Dasar! Kamu ini!," wanita baya itu berucap dan melirik seakan ingin memukul keponakannya tersebut. Sementara si pemuda hanya terkekeh melihat tantenya yang seperti itu.
.
.
.
»
.
.
.
"Bagaimana kuliahmu di New York?," Sembari menyetir, wanita baya itu melirik keponakannya di sebelah yang baru saja tiba di Indonesia.
"Baik," jawabnya singkat.
"Benarkah?," Wanita baya itu berkata dengan sedikit curiga.
Melihat itu, Pemuda bermata sipit ini menyunggingkan senyum di wajahnya untuk meyakinkan sang tante. "Iya, tante!.".
Tak ada jawaban dari wanita baya tersebut setelah apa yang dikatakan keponakannya.
"Oh iya, Paman bilang belum bisa pulang. Masih ada proyek penting yang harus dikerjakan," Pemuda itu mengubah topik pembicaraan di dalam mobil tersebut.
Wanita baya itu hanya diam akan pembicaraan itu. Pikirannya sedikit tertuju pada apa yang saat ini terjadi, pada anak dan juga menantunya
.
.
.
»
.
.
.
"Masuk dan beristirahatlah!," ujar wanita baya itu dari dalam mobil kepada keponakannya yang baru saja turun.
"Loh, tante mau kemana?," pemuda sipit itu nampak heran ucapan sang tante dan melihat sang tante yang tidak turun dari dalam mobil.
"Tante mau ke rumah sakit dulu. Melihat keadaan istrinya Dicky," jawab wanita tersebut.
__ADS_1
"Ah, kalau begitu aku juga ikut," pemuda sipit itu bergegas untuk membuka pintu mobil kembali namun,
"Tidak!.".
Sang pemuda segera menatap setelah sang tante berkata begitu. "Kamu dirumah saja, Istirahat!," sambungnya.
"Tapi aku juga ingin membesuk sepupu iparku. Lagipula aku juga penasaran dengan sepupu iparku itu karena saat Dicky menikah, aku tidak bisa datang menghadiri dan melihat sepupu iparku," jelas pemuda sipit itu lagi. Ah, lupa! Kita panggil saja dia dengan nama Rafael. Ya, Rafael. Pemuda bermata sipit yang kini menjadi tanggung jawab mama dan papa Dicky dikarenakan orang tuanya meninggal dalam perjalanan New York-Indonesia, 5 tahun yang lalu.
"Jangan khawatir! Nanti juga kamu bertemu dengan sepupu iparmu itu," balas sang tante.
Rafael hanya memanyunkan bibir saat sang tante membalas perkataannya begitu. Wanita baya itu lalu segera melaju dari perkarangan rumah yang cukup luas tersebut. Pemuda sipit itu menghela napas sesaat setelah ia memandang rumah yang kini ada dihadapannya, yang tidak berubah sama sekali setelah 5 tahun berlalu saat dirinya hendak dibawa pulang ke Indonesia dari New York.
\*
\*
\*
"Papa tau sendiri kan? Bagaimana sikap papanya Nasya? Sekali mengambil keputusan, akan sulit untuk membujuknya!," jelas wanita baya yang sedang menelepon seseorang diseberang sana. Tentu saja, siapa lagi? Dia adalah Tante dari Rafael dan juga Mama Dicky serta Mama Mertua Nasya.
Beliau menelepon dengan sesekali memegang kepalanya. Pikirannya kacau, entah harus bagaimana ia membujuk sahabatnya itu untuk merubah keputusannya yang akan memisahkan Dicky dan Nasya.
"Dia sekarang berada di rumah sakit," ujar Wanita itu menjawab pertanyaan dari sang suami disana.
.
.
.
\*\*\*
.
.
.
SREEET!
Perlahan, ia melangkahkan kaki menuju brankar. Mendekat agar bisa melihat dengan lebih jelas wajah perempuan itu. Memandang betapa cantik dan manisnya perempuan yang sempat ia sia-siakan cinta tulusnya.
"Maaf...," lirihnya pelan. Terlihat di pelupuk matanya sudah terbendung cairan bening disana. "...Aku sungguh menyesal," lanjutnya sembari menunduk, tak tahan akan cairan bening dipelupuk matanya itu.
Lalu, Bisma kembali menatap Putri disana. Dengan sendu, ia terus menatap perempuan itu. Perlahan, tangannya mulai menggapai wajah Putri. Mencoba untuk mengelus lembut wajah cantik itu. Namun, seketika tangan itu terhenti tatkala peristiwa yang menimpa Putri teringat kembali dalam benaknya. Dan rasa bersalah itu lagi-lagi mengalahkan ego-nya.
Bisma hanya dapat memandang wajah itu. Ia tidak ingin Putri menyadari kehadirannya disana. Ia tidak ingin menyakiti perempuan itu lagi. Cukup melihat Putri bisa tersenyum, sudah membuatnya ikut bahagia meskipun hatinya tidak terima ketika Putri bersama dengan pria lain.
Bisma keluar dari dalam ruangan itu. Baru saja ia menutup pintu tersebut...
"Ngapain lo disini?,".
Seseorang menyergapnya dengan sebuah pertanyaan.
Bisma menoleh ke sumber suara yang ia sendiri sudah tau orangnya.
Dengan tatapan tajam dan intens, pemuda itu menghampiri Bisma yang berdiri di depan pintu kamar inap Putri. Pemuda itu segera menarik kerah baju Bisma disana. Ia berpikir bahwa pemuda bernama Bisma itu akan kembali melakukan hal yang tidak diinginkan kepada Putri (lagi).
"Apa yang lo perbuat ke Putri?," Reza tak terima dengan kehadiran Bisma disana.
Bisma hanya diam saat Reza menarik kerah bajunya seperti itu. Ia tak bisa membalasnya. Jika ia diposisi Reza mungkin ia akan melakukan hal yang sama seperti itu.
"Buat apa lo nemuin dia lagi??!!," Terlihat Reza begitu penuh amarah kepada Bisma.
Bisma sedikit tersenyum dan melepaskan cengkeraman tangan Reza di kerah bajunya. "Gue cuma pengen mastiin tentang keadaannya," jawab Bisma.
Reza mendeha mendengar itu "Buat apa? Lo mau ngejual dia lagi sama temen lo yang br\*ngs\*k itu?," Reza kembali mencengkeram kerah baju Bisma.
Tak ada jawaban dari Bisma. Nampaknya ia pasrah dengan perlakuan Reza padanya
__ADS_1
"Denger ya! Putri itu ga pantes buat cowo yang ga punya hati kayak lo!.".
Deg!
Mendengar itu, Bisma benar-benar terdiam. Putri memang tidak pantas untuknya. Perempuan itu terlalu baik untuk pria seperti dirinya.
"Mulai sekarang, Lebih baik lo jauhin dia! Dan jangan pernah ganggu hidup nya lagi!," Reza melepas kasar cengkeramannya.
Reza benar. Tidak seharusnya ia muncul lagi. Menyakiti perempuan itu lagi. Putri sudah cukup menderita selama berpacaran dengannya.
Tak ada balasan sedikitpun dari Bisma. Tidak seperti biasanya. Bisma menatap Reza sekilas, lalu pergi meninggalkan tempat itu walaupun hatinya tidak ingin pergi dari sana.
.
.
.
\*\*\*
.
.
.
"Dimana tantemu?," tanya pria baya yang baru saja tiba dirumahnya sembari melirik ke sekeliling ruangan.
"Tante sedang keluar," jawab Rafael.
Sejak kapan?.".
"Sejam yang lalu.".
Pria baya itu menjawab dengan anggukan kepala sembari melepas jas hitam nya.
"Dicky? Dimana dia?," tanya pria baya itu yang seakan sudah tak sabar bertemu dengan putranya yang bernama Dicky itu.
"Sejak datang, Rafa belum ketemu sama Dicky," jawab pemuda sipit berkacamata itu.
"Aish! Kemana perginya anak itu" gerutu kesal pria baya itu, pelan.
.
.
.
»
.
.
.
"Membosankan sekali!," gerutu Nasya yang duduk ditepi brankar, menatap keluar jendela.
Tentu saja, terus-terusan berada di dalam ruangan seperti ini pasti sangat membosankan bukan? Apalagi dengan aroma ciri khas dari rumah sakit. Belum juga harus memakan bubur dan sop yang rasanya hambar tanpa adanya penyedap rasa.
Nasya mendorong tiang infusnya keluar dari ruangan itu. Ia terus saja menggerutu dalam hati. Bagaimana tidak? Papa dan mamanya pulang untuk membawa perlengkapannya selama dirawat dirumah sakit. Lalu sahabatnya, Reza? Seperti yang dikatakan oleh mamanya, pemuda itu sibuk dengan rekan kerjanya. Nasya menghelas napas setelah mengingat semua itu.
Langkahnya terhenti, saat seseorang menahan tiang infus itu sebelum ia menjauh dari ruangan inapnya.
"Lo mau kemana?," tanya pemuda itu penuh khawatir.
Nasya hanya menghela napas saat mengetahui pemuda itu adalah pemuda yang mengaku sebagai suaminya.
Nasya hanya berdecak, tak menjawab. Ia kembali melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan Dicky disana.
Namun, Dicky menahan tiang infus itu lagi.
__ADS_1
"Ish! Lo tu apaan sih? Minggir! Gausah ngurusin orang!,".