NADI

NADI
Sadar dan Menyesal.


__ADS_3



Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan sangat teramat mencintaimu. Tak sedikitpun terpikirkan bahwa aku tidak dapat hidup tanpamu. Aku bahkan tak pernah menganggapmu. Kala itu, kau hanyalah sebagai alat peredam amarah dari kedua orangtuaku yang terpaksa harus aku nikahi. Namun, meski begitu aku masih berhubungan dengan kekasihku saat itu, secara diam-diam.


Kini... aku menyesal. Aku sungguh menyesalinya. Aku terlalu bodoh karena tak mendengarkan perkataan mereka untuk memutuskan dia. Aku terlalu egois. Memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaanmu sebagai seorang istri. Yah! Aku salah. Aku menyesal. Membawa wanita itu masuk ke rumah kita dan menghancurkan semuanya.



"Waktu memang tidak bisa berputar, sekeras apapun kamu mencobanya, itu tidak akan pernah berhasil. Yang ada hanyalah sebuah penyesalan,".



.


.


.



Suasana tegang dan hening amat terasa diruang itu. Sebuah ruang keluarga yang hanya ada dua orang pria disana.



Pria muda itu bahkan tak berani menatap mata lawan bicaranya. Kepalanya berisi perbuatan-perbuatan bodoh yang mencelakakan sang istri. Dimana ia sangat menyalahkan dirinya sendiri dan siap menerima hukuman apapun kecuali berpisah dari sang istri.



"Sejujurnya, saya sangat kecewa. Bisa-bisanya kamu berlaku seperti ini pada anak saya,".



Dicky makin terdiam kala suara berat dan tatapan tajam tertuju padanya. Ditambah lagi kedua orangtua Nasya sangat tidak terima atas perlakuan Dicky. Bahkan sebuah surat gugatan cerai telah dikirim kepada Dicky.



Kini, pria kurus ini harus benar-benar berjuang. Berjuang untuk kepercayaan sang mertua, Berjuang untuk persahabatan orangtua mereka yang kini renggang karena ulahnya, dan berjuang demi wanita yang kini sangat ia cintai.



"Dicky sungguh minta maaf, Pa,".



"MAAF??? Apa menurutmu dengan kata maaf bisa memperbaiki semuanya ?," Suara berat itu meninggi membuat Dicky semakin tak berani untuk menatap. Dalam hati, ia terus menyalahkan dirinya sendiri.



"Bagaimana jika Nasya tidak selamat ? Apa kata maaf darimu itu bisa menyelamatkan nyawanya ???,".



\>



"Baguslah. Emang dia seharusnya mati!,".



Bisma mencengkeram kuat lengan wanita yang sama sekali tak memiliki hati nurani tersebut. Mengingat apa yang telah dilakukan Nadin kepada mantan kekasihnya, Putri. Pria kurus ini sangat tidak terima akan hal itu.



Nadin menatap tajam pada lawan bicaranya sembari meringis, menahan rasa sakit di lengannya.



"Liat aja, kalo sampe lo berani sentuh dia. Gue ga bakal jamin lo bisa hidup dengan tenang,".



Bola mata Nadin terbelalak mendengarnya. Sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa Bisma berkata seperti itu pada kekasihnya sendiri ?



Nadin kesal bukan main. Rasanya saat ini, ia benar-benar ingin membunuh Putri. Ia sungguh tidak terima dengan kenyataan bahwa Bisma lebih memilih untuk melindungi sang mantan daripada dirinya.



Dengan kasar, Bisma melepaskan lengan Nadin. Dan di detik kemudian ia memilih pergi meninggalkan wanita tersebut. Dan Nadin menggeram saat itu. Tangannya mengepal, membayangkan wanita yang ia anggap sebagai perusak hubungannya dengan Bisma.



\>



Putri semakin jauh, meninggalkan Reza dan Nasya disana. Wanita mungil itu tak lepas dari ingatan beberapa hari yang lalu. Sejujurnya, ia amat merasa bersalah pada Reza. Karena telah membuat pria tersebut terlibat dalam masalahnya. Dan lagi, ia selalu saja merepotkan pria tersebut.



"Jae, lo yakin ngebiarin si Putri pulang sendiri ?," Pertanyaan Nasya membuat Reza diam untuk beberapa detik. Bahkan bola mata pria itu terus tertuju pada Putri disana.



Tentu saja, dalam hati ia tak tega membiarkan wanita itu pulang sendiri. Setelah apa yang dialami Putri selama ini. Reza sungguh tak tahan melihat Putri menderita seperti itu. Belum lagi, Perasaan bersalah menghantuinya. Setelah apa yang dilakukan oleh sang Mama kepada wanita tersebut.

__ADS_1



"Jae!," Nasya geram. Melihat Reza yang tetap diam ditempatnya padahal ia sangat ingin menyusul Putri disana.



Reza menoleh. Sejujurnya, ia sendiri bingung apa yang harus dilakukan. Mengingat Putri yang menolak untuk diantar pulang.



"Kenapa malah diem ? Itu susulin si Putri! Anterin pulang!," titah sahabatnya.



"Bukannya gitu, tapi kan ...,".



Kesal. Karena menurutnya, Reza banyak bicara. Nasya memilih untuk menyusul Putri tanpa peduli dengan apa yang dikatakan pria tersebut. Ia takut akan kehilangan jejak Putri jika tetap berdiri disana. Khawatir, kalau-kalau terjadi sesuatu hal buruk lagi yang membahayakan wanita tersebut.



.


.


.



Rafael menghela nafas kala ia tiba di depan rumah sang tante. Ya! atas permintaan sang tante, Rafael akhirnya kembali ke Indonesia. Bagaimana tidak, ia tidak ingin semua fasilitas kuliahnya dicabut begitu saja. Dan mau tidak mau, ia harus kembali menginjakkan kaki disini. Dan juga... ia harus terpaksa bertemu dengan Dicky.



Rafael berjalan dengan 'ogah-ogah-an' sembari menggeret koper. Dan wanita baya yang tidak lain adalah tante nya telah menanti dirinya, tepat didepan pintu masuk.



"Apa yang kamu lakukan ?," Sebuah pertanyaan yang sedari tadi menghantui kepala Rafael.



Tanpa menjawab, Rafael terus saja masuk ke dalam rumah. Seakan tak terjadi apapun.



"Rafa!!!,".


Dan langkah kaki pria sipit tersebut terhenti. Kala sang tante menaikkan nada suaranya.



"Apa yang terjadi antara kamu dan Dicky ?,".




Tanpa berbalik dan bicara, Rafael kembali berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan wanita baya disana.



Tentu, wanita ini tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keponakan satu-satunya yang memiliki sikap berbeda jauh dari anaknya sendiri, bisa berlaku seperti itu padanya. Pergi tanpa menjawab satupun pertanyaan.



Ia melipat kedua tangannya. Rasa kesal menyeruak didadanya "Apa yang telah dilakukan Dicky hingga Rafael bertingkah seperti itu ?,".



.


.


.



"Putri!,".


Wanita di kursi roda tersebut menoleh. Dan betapa terkejutnya Putri kala melihat sosok pria yang memanggilnya disana.



Panik, Takut, Trauma, Benci. Mungkin begitulah yang dirasakan Putri. Semuanya menjadi satu. Bahkan ia sedikit gemetar.



Bisma perlahan mendekat. Pria kurus ini merasa sakit melihat Putri seperti itu. Salahnya, membuat kaki wanita mungil disana tak berdaya.



Dengan mata berkaca "Berhenti!,". Untuk beberapa detik, Putri beralih dari tatapan Bisma.



"Berhenti disana!," Bisma terhenti, menatap gadisnya disana. Rasa sakit didadanya menyeruak.


__ADS_1


Putri kembali menatap pria kurus itu "Jangan mendekat!," Dan hati Bisma semakin hancur mendengarnya.



"Ngapain kamu kesini ?," Putri menatapnya tajam dengan mata yang nampak berkaca. Sungguh, ia sangat membenci pria kurus disana. Ia juga sangat menyesal... pernah mencintai pria tersebut. Kalau diingat-ingat kembali, Wanita ini berkali-kali menyalahkan dan mengatakan dirinya 'Bodoh'.



"Put, aku...,".



"Apa kamu belum puas dengan semua yang telah kamu lakukan ?,".



Bisma terdiam. Perih. Hancur.



"Kamu kesini untuk menertawakan penderitaan aku kan ? Menertawakan kebodohan wanita yang dapat kamu perdaya kapanpun. Menertawakan kebodohan wanita yang terlalu percaya pada pria sepertimu,". Terlihat jelas, emosi Putri kala itu memuncak. Mengingat perbuatan Bisma yang sudah sangat keterlaluan. Yang menganggap dirinya seolah barang.



"Putri...,".



"Ah, apa kamu ingin membawaku kembali pada temanmu yang hidung belang itu ?,".



Bisma kembali diam. Rasa bersalahnya makin menjadi kala mendengar perkataan Putri. Ya, itu salahnya. Saat itu, yang ia pikirkan hanya uang dan bersenang-senang. Bahkan tak sedikitpun ia menganggap Putri.



"Maaf, Put," Ucap Bisma tertunduk lesu.



Putri terbelalak. Menggeram penuh amarah pada Bisma. Setelah apa yang ia dilakukan, ia masih bisa berkata 'maaf' ? Berkali-kali Putri sangat menyesal bertemu dengan pria bernama Bisma tersebut. Bagaimana bisa ia jatuh hati pada pria yang tak mempunyai hati nurani tersebut ?.



Sesak menyeruak dalam dada. Sesuatu seakan mencekat didalam tenggorokan. Bahkan cairan bening dipelupuk mata pun tak terbendung. Putri masih tak habis pikir, kenapa pria yang sangat dicintainya berlaku seperti itu padanya.



"Aku sungguh minta maaf, Pu...,".



"Pergi kamu!,".



\>



Dicky baru saja tiba di rumah sakit. Tempat dimana Nasya dirawat saat itu.



Tepat didepan rumah sakit, Dicky menatap dalam. Memorinya memutar kembali kenangan buruk yang terjadi pada Nasya. Dan di tempat inilah, ia baru sadar dan menyesali semua perbuatannya.



Dicky bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Dimana ia diberitahu bahwa Nasya sedang berada disana. Ya, ia datang untuk melihat wanita tersebut. Melihat namun tidak bertemu. Meski hatinya sangat ingin bertemu dengan Nasya. Namun apadaya, semua ingatan Nasya tentang Dicky hilang. Belum lagi, kesepakatan yang telah ia buat dengan sang mertua. Yakni untuk tidak memberitahu Nasya bahwa ia sudah menikah.



Langkah kaki Dicky terhenti saat bola mata menangkap sosok wanita yang ada dikursi roda tak jauh darinya. Dahinya mengkerut, tak asing dengan wanita tersebut.



Ya, Putri. Wanita yang saat itu hendak dibunuh oleh seseorang. Lalu, Dicky melihat pria tak jauh dari sana. Dan Dicky beranggapan bahwa pria disana ingin mencelakakan Putri.



Dicky bergegas mendekat. Ya, meski semua orang menganggapnya jahat telah memperlakukan istrinya dengan tidak baik. Sejujurnya, Dicky masih memiliki hati nurani.



\>



"Mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapan aku lagi!," Putri berusaha memutar kursi roda nya. Hendak meninggalkan Bisma disana.



"Putri...,".



"Lo ga denger tadi ? Dia ga mau ngeliat muka lo lagi!,".


Suara tersebut membuat Putri terhenti. Wanita ini berbalik, menatap seseorang yang berdiri tepat di depan Bisma. Menghalangi Bisma saat hendak menyusul dirinya.

__ADS_1



Bisma terkejut melihat pria yang berada dihadapannya. Ya, dia mengenal pria itu. Dia adalah Dicky. Suami Nasya. Dan juga.... kekasih Nabila.


__ADS_2