NADI

NADI
Pernyataan Maaf.


__ADS_3

Pukul 13:23,


Sebuah mobil baru saja tiba di perkarangan rumah yang cukup sederhana. Seorang pemuda keluar dari dalam mobil, beralih ke bagian belakang untuk mengambil sesuatu. Ya! Pemuda itu mengeluarkan sebuah kursi roda dan membantu sang sahabat sekaligus rekan kerja yang masih berada di dalam mobil untuk duduk dikursi roda.


Wajah Putri terukir sebuah senyum meski tipis kala kedua mata menangkap sosok Reza yang repot melakukan hal itu untuknya. Entah harus apa dan bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikan pemuda tersebut. Jika harus diingat lagi, Betapa bodoh dirinya di masa lalu. Yang sangat mempercayai Bisma. Yang tidak percaya tentang kebenaran yang telah dikatakan oleh Reza. Sungguh! Hingga saat ini. Detik ini, Putri masih menyalahkan diri atas apa yang sudah terjadi.


“Gausah mikirin hal lain!. Yang terpenting sekarang, lo harus sembuh terlebih dahulu!.” Ujar Reza yang seakan tau isi di dalam kepala Putri. Sembari mendudukkan gadis itu ke kursi yang tadi ia keluarkan dari dalam mobil.


Putri sedikit mendongakkan kepala pada pemuda yang kini perlahan mendorong kursi roda. Ia hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh Reza. Sembari kembali mengalihkan pandangannya. Ya! Setelah peristiwa itu, Putri nampak lebih banyak diam.


“Putri...”


Suara yang terdengar serak membuat kursi roda dan langkah kaki Reza terhenti. Sorot mata kedua remaja itu mencari sosok pemilik suara serak tersebut. Dan, betapa terkejutnya mereka khususnya Putri saat mengetahui bahwa Bisma sudah berada disana.


Pemuda kurus tersebut nampak sendu memandang kearah Putri, sang mantan kekasih. Melihat keadaan Putri yang seperti itu karena ulahnya. Rasa sakit dalam dada nya kembali menyeruak. Membuatnya sedikit merasa sesak.


“Mau apa lagi kesini ?” ucap Reza membuat pandangan Bisma teralihkan padanya.


Bisma tersenyum sinis akan pertanyaan itu. Sejujurnya ia merasa sangat kesal, melihat pemuda tersebut terus-terusan berada di dekat Putri. Namun apa daya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih ketika memori nya memutar ulang kejadian pahit yang terjadi sebulan lalu. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu kepada Putri hanya karena uang semata.


"Gue mau ketemu sama Putri." ucap Bisma sembari mengalihkan sorot mata nya kepada Putri disana. Ia tidak peduli akan keberadaan Reza. Jika memang ia harus dipukul, itu adalah hukuman yang belum seberapa atas apa yang telah ia lakukan kepada Putri.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Putri. Gadis itu memilih diam dan menghindari tatapan Bisma. Rasa takut menguasai tubuh kala ia melihat Bisma berada disana.


Mengetahui Putri yang merasa tidak nyaman atas kehadiran Bisma disana, "Bukankah udah gue bilang, gausah temuin Putri lagi!."Ucap Reza kembali menatap Bisma.


Sejenak, Bisma diam ditempatnya. Menunduk dengan sendu. Sungguh! Ia sangat menyesal. "Gue..." Pemuda kurus itu kembali menatap Putri disana. Masih dengan tatapan sendu dan penuh rasa bersalah. "...mau minta maaf." lanjutnya dengan lirih. Dan mata yang nampak berkaca-kaca. Andai saja waktu bisa diputar kembali, ia pasti akan menjaga gadis itu dengan baik. Andai saja ia tak melakukan hal tersebut, saat ini Putri pasti baik-baik saja. Dan orang yang berada disamping gadis itu bukanlah Reza tapi dirinya. Andai saja....


Reza tidak percaya mendengar ucapan Bisma barusan. Benarkah pemuda itu adalah Bisma? Pemuda keras kepala, tidak sopan dan kasar itu?


Begitu juga dengan Putri. Sontak, ia menatap pemuda kurus yang masih berdiri disana. Hatinya merasa tidak tega melihat Bisma seperti itu. Karena sampai saat ini, sejujurnya, Putri masih mencintai pemuda kurus itu. Tapi... ada rasa sakit yang lebih besar yang membuatnya takut terhadap pemuda itu. Bahkan sekarang saja, Putri sudah tidak seceria dulu.


Melihat Putri yang terus merasa gelisah, "Sudahlah! Lebih baik lo pergi!" ucap Reza.


Bisma masih diam ditempatnya. Pandangannya tidak teralih sedikitpun dari Putri. Pemuda kurus itu terus-terusan menyalahkan dirinya. Dan Bisma mengerti bahwa Putri sudah tidak ingin bertemu dengannya. Gadis itu membencinya. Semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Bisma harus rela melepaskan Putri.


***


Sembari bersenandung, pemuda sipit ini baru saja tiba dirumah besar berwarna putih sembari membawa sebuah kantong plastik di tangan. Wajahnya berseri. Hatinya berbunga-bunga. Tentu saja, Rafael tengah bahagia saat ini.


Memori otaknya tak henti-henti memutar peristiwa sebelumnya, ketika ia berada di minimarket yang tak jauh dari rumah. Bibirnya mengembangkan senyuman. Pipinya merona. Ah, pemuda ini sedang jatuh cinta.


"Ada apa?," Tanya heran seorang pria bersuara serak di dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Kaget "Ah, Paman..." Rafael sedikit salah tingkah saat sang paman memergokinya tengah senyum-senyum sendirian.


"Sedang apa kamu?.".


"Ah, gaada kok." jawab Rafael sedikit malu karena tidak mengetahui keberadaan sang paman disana.


Lalu, mata Rafael menangkap raut wajah sang paman yang terlihat lelah akan sesuatu. Dahi pemuda itu sedikit mengkerut. Sepertinya ia tau masalah yang sedang di pikirkan oleh pamannya tersebut.


"Dicky lagi, om?," Pria baya disana lekas menoleh akan pertanyaan Rafael padanya.


"Ah, Tidak...," elak sang paman mengalihkan pandangan. "...Ini cuma masalah kantor." dustanya kembali menatap Rafael.


Rafael diam, ia tau ini bukan masalah kantor. Ya! Tentu saja ini masalah Dicky. Jika diingat, sebenarnya ia masih sangat kesal terhadap Dicky. Tapi mengingat apa yang terjadi pada sepupunya itu, rasanya tidak tega. Meskipun semua ini disebabkan oleh ulah Dicky sendiri.


"Apa mertua Dicky tetap ingin mereka bercerai?.".


Sejenak, pria bersuara berat itu diam. Melihat itu, Rafael yakin bahwa dugaannya adalah benar. Ah, kalau sudah begini, seisi rumah jadi ikut pusing bukan?.


"Jadi, mereka harus benar-benar bercerai?.".


"Ah, Sudahlah. Kamu tidak usah ikut memikirkan hal ini!..." balas sang paman kembali menatap keponakannya. "...Semua akan baik-baik saja." sembari melempar senyum, agar Rafael tidak begitu mengkhawatirkan hal ini.


Di detik kemudian, Pria baya itu pergi. Meninggalkan tempatnya. Beliau perlahan menaiki anak tangga dirumah besar tersebut.


***


Didepan rumah besar berwarna abu-abu, nampak sebuah mobil hitam baru saja terparkir disana.


Sorot mata terlihat memicing dari depan rumah untuk dapat mengetahui siapa yang baru saja tiba. Dan didetik kemudian, wanita baya ini dibuat kaget saat mendapati bahwa sang anaklah yang keluar dari dalam mobil tersebut. Bahkan beliau lebih kaget lagi ketika matanya juga menangkap sosok Dicky disana.


Bagaimana bisa Nasya dan pria itu masih berhubungan?. Bukankah, Dicky sudah berjanji untuk tidak mengganggu Nasya lagi?. Ya, Kepala wanita ini dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Dan tanpa pikir panjang, Beliau segera menghampiri sang anak tercinta disana.


"Nasya..." Wanita baya tersebut segera menarik sang anak. Menjauhkannya dari pria tak berhati disana. Beliau menatap sinis pada pria yang sempat menjadi menantunya.


"Mau apa lagi kamu dengan anak saya?"l.".


Meski nyali nya sedikit takut, kalau-kalau sang Papa Mertua melihat hal tersebut. "Aku... cuma mau anter Nasya pulang, Ma."jawab Dicky.


Dahi Nasya nampak mengkerut "Mama?..." ujarnya. Wanita ini beralih menatap sang mama. "...Mama kenal sama dia?..." sembari menunjuk pria kurus di hadapan. "...Kenapa dia manggil 'Mama' ?.".


Wanita itu beralih dari Dicky. Ia menatap Nasya disana. "Ga!..." jawab beliau. "...Mama ga kenal...." lanjutnya kembali menatap Dicky sejenak. "...Sudahlah. Lebih baik sekarang kita masuk saja!." ucap beliau sembari mengajak sang anak masuk ke dalam. Dan meninggalkan Dicky sendirian disana.


Sakit. Ya, Itu lah yang Dicky rasakan saat ini. Mendengar jawaban dari sang ibu mertua yang seperti itu. Bukan main, rasa sesak mulai merayap dan bersarang di dada nya. Bahkan untuk menelan air liur pun rasa nya sakit sekali.

__ADS_1


Pria ini hanya menatap sendu pada sang istri, Ah maksudnya mantan istri yang perlahan berjalan masuk ke dalam rumah besar disana. Jika saja, kebodohan itu tidak ada. Nasya tidak akan mengalami amnesia seperti ini. Wanita itu tidak akan lupa pada nya. Ah, sudahlah. Jangan berandai-andai!


"Aku benar-benar menyesal, Nasya!.". gumamnya dengan kepala sedikit menunduk.


"Maafkan aku!.".


»


Nasya yang baru saja tiba di dalam kamar, nampak berdiri dan bersandar pada pintu kamar berwarna putih tersebut. Ingatannya kembali memutar ulang kejadian hari ini. Dan bergegas, ia meraih handphone yang ada di dalam slinbag hitam miliknya.


Layar terbuka dan wanita ini mengukir senyuman di wajah. Jika dilihat dengan jelas, ia nampak berkaca-kaca menatap gambar di layar ponsel tersebut.


"Kalau ketemu lagi sama orang yang ga dikenal kayak tadi, gausah di gubris!. Nanti kalau kamu kenapa-napa gimana ?." Dan tiba-tiba ucapan sang Mama muncul di kepalanya. "Lagian, itu orang ga kenal ngapain coba ke rumah kita terus...".


Tak terbendung, cairan bening di pelupuk mata pun akhirnya jatuh. Ya! Wanita ini menangis. Lagi, mata nya menatap gambar yang ada di ponsel. Rasa bersalah dan rindu menjadi satu. Dadanya sesak. Kenapa harus seperti ini?.


***


Isak tangis yang sesegukan itu membuat Nabila merasa kesal. Matanya menatap sinis wanita mungil yang ada di hadapan. Wanita itu menangis di atas ranjang tak henti-henti. Ayolah, apa dia hanya bisa menangis seperti itu saja?


"Udah deh! Ga guna kayak gini terus-terusan..." gerutu Nabila disana sembari memberikan satu kotak tisu yang baru pada wanita tersebut. "...Lo pikir, dengan lo nangis kayak gini, Bisma bakal dateng kesini? Balik lagi sama lo?..." Namun wanita disana tetap menangis dan menangis.


Nabila menarik napas panjangnya. Ah, rasanya percuma saja ia menggerutu seperti itu. Buang-buang tenaga dan waktu saja. Bahkan, tugasnya untuk menuntaskan tujuannya pun belum selesai.


"Ga guna lo nangis kek begini!," ujar Nabila menekan setiap katanya. Wanita ini beranjak, mengambil slinbag milik nya di atas nakas.


"Ma..Mau... Ke..mana...?," dengan sesegukkan, Nadin menatap Nabila disana.


"Gue ada urusan!..." jawab Nabila sembari membenahi slinbagnya. "...Ntar gue balik lagi. Dan awas kalo gue balik, lo masih nangisin si Bisma!." lanjutnya dengan tatapan tajam pada Nadin.


Wanita berpakaian ketat itu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dengan sedikit kesal karena waktu nya terbuang 2 jam 45 menit. Dimana ia hanya duduk menggerutui Nadin disana. Padahal, ia harus pergi menemui Dicky. Dan menyingkirkan Nasya dari hidup Dicky.


Jari panjangnya menyentuh halus layar ponsel di tangan. Mencari sebuah nama disana. Didetik kemudian, ponsel tersebut berpindah-menyentuh telinga.


Raut wajahnya kesal, saat panggilan teleponnya tidak diangkat. Lagi, ia mencoba sekali lagi. Namun, hasilnya tetap nihil. Orang di seberang sana tetap tidak mengangkat teleponnya.


"Argh, Dicky!!!...." geramnya kembali mencoba menghubungi pria tersebut. "....Angkat dong, sayang!." lanjutnya saat lagi-lagi mendapatkan hasil yang sama.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2