
Sebelumnya, setelah Reza membawa pergi Putri dari apartemen Andre. Pemuda hidung belang itu melampiaskan amarahnya kepada Bisma.
"Apa? Lo digebukin?," kaget Bisma yang mendengar kabar dari Andre melalui telepon.
"Eh, lo jangan main-main ya sama gue! Gue abisin lo!," ancam Andre pada Bisma dari seberang telepon.
"Tenang dulu dong lo! Gausah pake emosi gitu sama gue!," balas Bisma.
"Gimana gue ga emosi! Tu cewe udah gue bayar mahal," kesal Andre lagi sembari mengelap kembali darah yang ada diujung bibir.
"Pokoknya gue ga mau tau! Tu cewe harus balik lagi ke gue. Kalo ga, lo yang gue abisin!," Andre menekan kata-katanya, mengancam Bisma.
"Iya! Lo tenang aja! Gue bakal bawa dia buat lo!," jawab Bisma diseberang sana. Setelah mendengar jawaban Bisma, Andre segera menutup telepon. Ia meringis merasakan sakit ditubuhnya akibat pukulan dari Reza.
***
"Sayang, mama mau tanya sesuatu sama kamu," Putri menoleh, menatap sang mama yang duduk ditepian tempat tidur.
"Sebenernya, apa yang terjadi semalam?," pertanyaan itu membuat Putri mengkerutkan dahi. Ia sama sekali tidak ingat tentang kejadian semalam.
"Bukankah, semalam kamu pergi bersama Bisma?," tanya sang mama lagi.
"Bisma?," Putri menatap sang mama.
Wanita baya itu mengangguk pelan. Putri lalu mengalihkan pandangan. Kejadian semalam mulai terbayang di kepalanya tapi tak semua.
"Semalam, aku pergi sama Bisma?," batinnya.
"Apa yang terjadi setelah kamu dan Bisma pergi? Kenapa kamu bisa pulang sama Reza dalam keadaan pingsan?," Putri menoleh cepat, menatap mamanya.
"Aku pulang sama Reza? Kok bisa, ma?," Gadis itu balik bertanya pada sang mama.
Hal itu membuat wanita baya ini yang mengkerut, "Kamu ga inget, apa yang terjadi?," tanyanya dan mulai khawatir pada anak sematawayangnya itu.
Putri menggeleng pelan dan, "Aku ga inget, ma. Aku cuma inget, Bisma ngajak aku ke acara pertunangan temen kerjanya. Soal Reza, aku beneran gatau, ma," jawab Putri menjelaskan tentang ingatannya.
Wanita baya itu diam mendengar jawaban anaknya. Mengingat kejadian itu, Pikiran wanita itu sudah sangat jauh. Apalagi semalam, anaknya itu pulang dalam keadaan tak sadarkan diri.
»
Nasya menuruni anak tangga dirumah. Matanya mencari sosok wanita baya yang tidak lain adalah sang mertua. Namun, sorot mata Nasya itu tak menemukan sosok nya. "Mama kemana?," gumamnya.
Lalu, tercium aroma masakan gosong dari arah dapur. Nasya bergegas menuju kesana untuk memeriksa. Terlihat, Dicky yang sedang bergulat dengan alat dan bahan dapur disana.
"Lo ngapain?," tanya Nasya dengan wajah cengo melihat keadaan di dapur itu.
Dicky menoleh cepat setelah mendengar suara sang istri. Dengan cengengesan, ia melirik keadaan dapur sekilas lalu menatap Nasya.
Nasya lalu melirik masakan yang gagal dibuat oleh Dicky. "Ini apa?" Dengan wajah penuh tanya, ia melirik masakan itu sekilas lalu menatap Dicky.
"Steak!," jawab Dicky ragu dengan cengengesan.
Nasya masih dengan ekspresi yang sama menatap Dicky setelah mendengar jawabannya.
"Tadinya gue mau bikin ini buat elo tapi masakannya gagal," jelas Dicky.
Nasya mengangkat sebelah alis mendengar penjelasan Dicky. Ia merasa heran, entah ada angin apa, pemuda yang biasanya menyebalkan itu membuatkan makanan untuknya.
"Mama tadi pagi buru-buru pulang." sambung Dicky.
"Loh, kenapa?.".
"Adek sepupu gue mau dateng ke rumah makanya mama pulang tadi pagi," jawab Dicky yang dibalas anggukan oleh sang istri.
Nasya lalu kembali melirik Dicky yang mengenakan pakaian biasa dan bukan pakaian kantor, "Lo ga ke kantor?.".
"Enggak," jawab Dicky sembari fokus dengan alat dapurnya.
"Loh, Kenapa?.".
pertanyaan Nasya itu membuatnya menoleh cepat "Banyak tanya lo ya," balas Dicky.
"Lo itu masih dalam keadaan sakit. Ntar kalo gue ke kantor terus ada apa-apa sama lo, gimana coba? Bisa-bisa gue diamuk mama lagi!," sambung Dicky dengan penjelasannya yang panjang lebar.
"Pemikiran lo berlebihan tau ga!," balas Nasya yang membuat Dicky menatap padanya.
"Gue udah gapapa! Udah sehat!," sambung Nasya.
Dicky menjitak cepat kepala istrinya itu setelah mendengar ucapan tersebut. Hal itu membuat Nasya merintih kesakitan dan menatap kesal pada Dicky. "Lo tu ya! Sembarangan banget jitak kepala orang! Lo pikir ga sakit apa di jitak mulu!," kesal dan omel Nasya.
__ADS_1
"Makanya kalo gamau di jitak gausah batu jadi orang!," balas Dicky.
Nasya memegang bagian kepalanya yang dijitak oleh Dicky. "Bisa-bisa retak kepala gue di jitak mulu" celotehnya.
Dicky kembali fokus pada masakannya "Yaudah lain kali biar gue cium aja," balas pria itu membuat Nasya menoleh cepat.
"Dasar omes lo!," Nasya menepuk kuat bahu kanan Dicky dan membuat pria itu kembali menatapnya.
"Siapa yang omes? Gue?.".
Nasya tak menjawab dan tetap menatapnya "Gue ga omes! Lagian sama istri sendiri dibilang omes," sambung Dicky.
Nasya makin menatap tajam pada Dicky "Awas aja lo kalo sampe berani cium gue! Gue lempar lemari lo!.".
"Bodoamat," jawab Dicky kembali dengan pekerjaannya di dapur.
Kesal "Dasar kodok! Udah sana lo pergi ke kantor!," Ujar Nasya.
Dicky menghentikan pekerjaannya dan melirik sang istri, "Kalo gue gamau gimana?.".
Dicky menatap penuh pada Nasya disana, tubuhnya menghadap Nasya dan ekspresi wajahnya pun berubah tak seperti sebelumnya yang terlihat menyebalkan.
Heran, Nasya masih menatapnya.
Perlahan, Dicky mulai berjalan mendekati dirinya, "Gue mau nya dirumah," Ucap Dicky.
Merasa Dicky mulai aneh, Nasya melangkah mundur, menjauh dari Dicky. "Berdua sama istri gue yang cantik ini," sambungnya terus mengikuti langkah Nasya hingga membuat istrinya itu terpojok ke meja makan yang ada dibelakang.
Nasya sudah tak dapat kemana-mana karena Dicky terlalu dekat. "Apa lo gamau berduaan sama gue?," ucap Dicky dengan nada lembutnya.
Sejenak tak ada jawaban dari perempuan ini. Nasya mencoba berusaha menghindar dari Dicky yang perlahan mulai mendekatkan wajahnya dan ...
Dicky mencium lembut bibir sang istri. Entah atas dasar jahil atau memang dia sudah memiliki perasaan pada Nasya.
Mata Nasya terbelalak, mendapat ciuman dari Dicky. Ia segera mendorong kuat tubuh Dicky agar menjauh. "Ish! Dasar tukang omes lo!," oceh Nasya kian menjadi setelah apa yang Dicky lakukan.
Dicky tertawa puas melihat istrinya yang terus berceloteh seperti itu!.
"Lo emang minta di lempar ama lemari ya!," kesal Nasya lagi.
"Lo gausah ngomel kayak gitu! Ntar gue cium lagi, mau?.".
Dicky berhenti tertawa, "Lo pikir gue ini anjing pake bilang ciuman gue rabies.".
Nasya tak menjawab dan sibuk membersikan bibirnya menggunakan air keran yang ada di dapur.
"Bilang aja lo suka gue cium," ucap Dicky membuat Nasya menoleh cepat.
"Apaan sih lo! Udah sana pergi ke kantor! Nabila udah nungguin lo," balas Nasya.
Dicky berhenti meledek dan menertawakan sang istri saat ia mendengar nama Nabila.
"Gue ga sengaja baca pesan masuk lo tadi." sambung Nasya.
Dicky tersentak mendengar itu "Lo ngotak-atik ponsel gue?," tanyanya mulai kesal pada Nasya karena menurutnya Nasya memeriksa ponselnya.
Tak terima dengan tuduhan itu "Enak aja! Ngapain juga gue ngotak-atik ponsel lo, kurang kerjaan tau ga!," jawab Nasya.
"Terus kenapa lo baca pesan gue?," tanya Dicky lagi.
"Eh, Kodok! Gue ga sengaja! Tadinya gue kira ada hal yang penting karena ponsel lo terus bunyi. Gue gatau kalo ternyata itu dari pacar lo!," jelas perempuan ini dengan kesal.
Dicky tak menjawab, ia berdecak kesal dan segera menuju ke kamar memeriksa ponselnya.
Nasya melirik arah perginya Dicky dengan sedikit mencibirnya. Dan seketika Ia kembali kesal akan sikap Dicky yang menciumnya tadi. "Aish! Itu tadi first kiss gue!," kesal Nasya dengan menatap ke arah Dicky pergi.
***
Putri baru saja melangkahkan kaki untuk pergi ke kantor hari itu. Meski sang mama sudah menahannya untuk tidak masuk ke kantor dulu, Putri tetap bersikeras dengan keputusannya.
Putri membuka pintu utama di ikuti sang mama yang masih berusaha untuk membujuknya agar tidak masuk ke kantor. Namun, ia terkejut saat mendapati Reza yang sudah berada didepan rumah, begitupun dengan wanita baya itu.
"Loh, kenapa lo disini?," tanya Putri pada Reza.
"Lo mau kemana?," ucap Reza yang langsung memberikan pertanyaan itu karena heran melihat Putri yang sudah berpakaian rapi.
"Gue mau ke kantor lah," jawab Putri.
"Ngapain?," tanya Reza lagi.
__ADS_1
"Ya kerjalah, jahe!," kesal Putri yang menurut dirinya itu adalah pertanyaan konyol.
Melihat sikap Putri yang biasa saja membuat heran Reza. Gadis itu seperti tak ingat dengan kejadian semalam.
Tiba-tiba, telepon yang ada di dalam rumah berbunyi. Wanita baya itu segera masuk untuk menjawab panggilan itu. Reza kembali menatap Putri disana "Lo gapapa?" tanya Reza lagi.
Putri sedikit mengkerutkan dahi "Enggak." jawab Putri dengan menggelengkan kepala.
"Emang gue kenapa?," Putri balik bertanya pada Reza.
"Lo ...," Reza sedikit ragu untuk menanyakan apa yang ada di dalam kepalanya, " ... ga inget yang terjadi semalem?," sambungnya.
Setelah mendengar pertanyaan itu, Putri diam. Pertanyaan yang sama, yang ditanyakan oleh sang mama saat ia baru saja sadarkan diri. "Gue inget kok, semalem gue diajak pergi sama Bisma." jawab Putri.
"Terus?.".
Putri kembali mengkerutkan dahi dengan maksud dari pertanyaan Reza "Emang kenapa?," lagi, Putri berbalik bertanya pada Reza.
"Lo inget, cara lo pulang kerumah?," Putri kembali diam. Ia sama sekali tidak ingat dengan hal itu.
"Apa yang terjadi setelah kamu dan Bisma pergi? Kenapa kamu bisa pulang sama Reza dalam keadaan pingsan?.".
Pertanyaan dari sang mama itu kembali terngiang di benak Putri. Ia menoleh cepat pada Reza.
"Mama bilang, semalem gue pulangnya bareng elo dalam keadaan pingsan. Apa itu bener?," ucap Putri.
Reza tidak menjawab. Diam, masih menatap heran sahabatnya itu. "Kok bisa sih? Perasaan gue ga ada pingsan deh semalem," Putri berpikir keras untuk mengingatnya.
Lalu wanita baya atau tepatnya mama Putri bergegas keluar dari dalam rumah. Wajahnya terlihat panik dan khawatir. "Ada apa, ma?," tanya Putri bingung, begitupun Reza.
"Papamu," ucap sang mama.
Mendengar nama sang papa, Putri mulai sedikit khawatir "Papa kenapa, ma?.".
"Papa sekarang ada dirumah sakit. Rekan kerjanya bilang, papamu jatuh dari tangga," jelas wanita baya itu.
Putri terkesiap mendengar itu dan mulai panik serta khawatir dengan keadaan sang papa.
"Yaudah, kita kerumah sakit sekarang ya, ma," ucap Putri yang dibalas anggukan oleh sang mama.
"Biar aku yang nganter, tante!," sambung Reza disana.
»
"Oi, Nasya!!!," Dicky berteriak keras dari lantai atas sampai ke lantai bawah, tepat dimana Nasya berada.
Nasya yang tengah duduk diruang tengah dengan majalah melirik Dicky yang kini sudah berada di hadapannya.
"Apaan sih lo, teriak-teriak udah kayak dihutan aja!," ketus Nasya.
Dicky menatap istrinya itu kesal, "Ini ponsel gue kenapa basah kayak gini?" tanyanya.
Nasya melirik ponsel yang ada ditangan Dicky. Dengan wajah yang tak berdosa "Oh, tadi habis baca pesan dari pacar lo itu, gue ga sengaja nyemplunginnya ke bak mandi," jawab Nasya santai.
Dicky yang mendengar itu, membolakan matanya "Ga sengaja nyemplungin?," tanya Dicky mengulang perkataan sang istri.
Nasya mengangguk santai sembari menatap majalahnya.
"Lo bilang ga sengaja nyemplungin?," Dicky mengulangi pertanyaannya.
Hal itu membuat Nasya menoleh lagi, "Iya, Kenapa?," tanyanya balik masih dengan wajah tak berdosa.
"Eh, dodol! Dimana-mana kalo nyemplungin itu namanya sengaja! Kalo ke cemplung baru ga sengaja!," gerutu Dicky.
"Lah, emang gue ga sengaja nyemplunginnya ke dalam bak mandi kok," balas Nasya menatap Dicky yang penuh tanda tanya di wajah.
Nasya menghela napas terlebih dulu dan "Tadi, sehabis gue baca pesan dari pacar lo itu. Otak gue yang cerdas ini ga sengaja ngeluarin ide cerdiknya. Terus, tu ponsel gue bawa ke dalam kamar mandi. Gue penasaran, kalo ponsel di cemplungin ke dalam air masih bisa hidup apa enggak. Makanya gue cemplungin tu ponsel ke dalam bak dan gue baru dapet jawabannya, ternyata ponselnya mati pas udah di cemplungin. Habis itu, yaudah. Gue tarok lagi ponsel lo di atas nakas," jelas Nasya dengan sangat detail dan kembali membaca majalahnya.
Setelah mendengar penjelasan panjang dari sang istri itu, Dicky kembali membolakan mata. "Eh, dodol! Yang bener aja dong lo, masa ponsel gue jadi bahan percobaan?" omel Dicky membuat Nasya kembali menatapnya.
"Lagian nih ya, mau ponsel apapun kalo udah kecebur di dalem air, ya pasti mati lah," sambungnya.
"Ya kan gue gatau," balas Nasya dengan wajah polos.
Kesal, "Aish! Lo tu ya!," geram Dicky.
Masih dengan wajah polos, Nasya tak merespon balik dan kembali fokus dengan majalah.
Dicky kesal melihat tingkah istrinya itu. Ia lalu menghempaskan tubuhnya disofa yang ada disebelah Nasya, meratapi ponselnya yang kini mati total akibat ulah sang istri.
__ADS_1