NADI

NADI
Keputusan.


__ADS_3

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


- Kamu tidak perlu mengatakannya, aku tahu sorot matamu menunjukkan bahwa cinta itu hanya milikku –


***


“Ada apa, dok ? Apa terjadi sesuatu pada anak saya ?,”


Wanita baya berbaju biru tua disana terlihat sangat khawatir. Terlebih saat dokter yang merawat anaknya meminta untuk bicara empat mata.


“Melihat kondisi Nasya sekarang, tidak ada sesuatu yang terjadi pada anak anda,”.


“Lalu, ada apa, dokter ?,”.


“Saya ingin mengatakan bahwa Nasya sudah diperbolehkan pulang sore ini,”.


Senyum haru menghias diwajah Mama Nasya. Tentu saja, itu benar-benar kabar bahagia untuknya. Mengingat Nasya yang kini sudah baik-baik saja. Meski beberapa bagian dari ingatanmu menghilang. Syukurlah, setidaknya Nasya tidak akan merasa bosan berada di kamar inap itu lagi kan ?.


***


Di dalam salah satu ruang inap. Wanita bernama Nasya terdiam di atas brankarnya. Dirinya masih tertegun mengingat apa yang baru saja terjadi.


“Tadi itu...,” gumamnya dengan sedikit bergetar.


Memorinya masih mengingat dengan jelas bagaimana dan apa yang diucapkan oleh perempuan bernama Putri yang juga sedang dirawat disana. Meski perempuan tersebut dalam keadaan tak sadarkan diri dan hanya mengiggau. Hal itu benar-benar mengganggu pikiran Nasya.


“...Nindia,” Lanjutnya bergumam mengingat sebuah peristiwa yang selama ini tidak ingin diingat olehnya.


SREET!


Sebuah gesekan benda berbahan kayu diruangan itu terdengar jelas membuat Nasya tersadar dari ingatannya. Terlihat wanita paru baya disana. Wajahnya terlihat sangat senang. Tentu saja, mengingat apa yang baru saja dikatakan oleh sang dokter.


Wanita baya itu berjalan—mendekati brankar tempat dimana Nasya berada.


“Ada apa, ma ?,” Ucap sang anak keheranan melihat ekspresi dari wajah sang mama yang tidak biasanya.


“Ada kabar baik untuk kamu, sayang!,” jawab wanita baya disana. Senyum diwajah wanita itu terus saja mengembang. Sungguh, ia benar-benar bahagia mengetahui kini anaknya sudah diperbolehkan untuk pulang dan baik-baik saja.


“Kabar apa, ma ?,” Dahi Nasya nampak mengernyit. Kabar apa yang sekiranya membuat sang mama nampak begitu bahagia seperti itu.


Wanita baya yang masih berdiri disana, kian mendekat—mengelus lembut puncak kepala anaknya. “Dokter bilang, kamu sudah diperbolehkan untuk pulang sore ini,” jelasnya dengan perlahan.


Dan Nasya sedikit tergemap mendengar berita itu. Entah mengapa ia merasa sangat sedih daripada merasa senang. Seakan tidak dapat bertemu dengan seseorang yang sangat berarti di hatinya.


Senyum di wajah wanita baya itu menghilang. Ia mendadak khawatir kala melihat ekspresi anaknya yang biasa saja.


“Sayang, kamu kenapa ?,” Tanya wanita baya yang lagi-lagi membuat Nasya tersadar dari lamunannya.


“Uh, Engh—gapapa, ma,” Jawab Nasya.


***

__ADS_1


“Dicky!,” Teriak pemuda bermata sipit bernama Rafael mengejar langkah kaki Dicky yang barusaja keluar dari rumah sakit. Pemuda itu berlari sembari menepuk bahu Dicky. Tentu saja, sudah ribuan kali ia berteriak memanggil nama sepupunya tersebut tetap tak dihiraukan. Itu sedikit menyebalkan bagi Rafael. Terlebih ia paling tidak suka di abaikan, terutama oleh seorang perempuan.


“Dic, Tunggu! Lo mau kemana lagi sekarang ?,” Deru napasnya yang ter-engah bahkan terdengar sangat jelas.


Dan masih dengan raut wajah yang super sendu tentunya, Dicky tak berekspresi apapun pada sepupunya itu. Ia hanya melirik sekilas, lalu bergegas pergi dari rumah sakit. Entahlah, Tapi sepertinya ia hendak pergi ke suatu tempat.


Rafael kembali menahan Dicky untuk pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya. Tentu saja, Ia tidak ingin mendapatkan sebuah ceramah dari om dan tantenya. Terlebih, Sepupunya itu tengah berada dalam situasi yang rumit. Ia tidak mungkin membiarkan Dicky pergi begitu saja. Walau ia percaya bahwa Dicky tidak akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


“Tunggu dulu!,”.


“Apalagi ?,” Dicky membentak keras. Ia nampaknya mulai merasa kesal pada Rafael disana. Ia menatap intens sepupunya tersebut. Asal pemuda sipit itu tau, ini hanya akan membuang-buang waktunya. Ia harus bergegas pergi ke suatu tempat.


“Lo mau kemana ? Gue gamau kena omelan dari nyokap dan bokap lo!,” Kesal Rafael yang juga ikut membentak Dicky disana.


“Yaudah, Kalo gitu lo balik aja ke New York sana!...,” Rafael tersentak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dicky. “...Lagipula, siapa yang suruh lo pulang kesini ? Lagian buat apa lo ngawasin gue ? Gue ini bukan anak kecil lagi! Gue tau apa yang mau gue lakuin!,” Lanjut Dicky.


Sungguh, Pemuda sipit itu benar-benar murka mendengar ucapan Dicky. Rasanya seperti tak dihargai dengan apa yang telah ia lakukan disini. Lagipula, siapa yang tidak murka mendengar hal seperti itu. Jika taunya akan jadi seperti ini, Pemuda sipit itu tidak akan pulang ke negara asalnya. Mungkin, tidak akan pernah.


“Oh gitu ? OK. Kalo itu yang lo mau. Gue akan balik ke New York sekarang,” Ujar Rafael dengan tatapan intens pada Dicky.


Dan pria bertubuh kurus ini hanya diam—berdiri ditempatnya. Sejujurnya ia sangat kesal dengan sikap sang sepupu sebelumnya. Ia bukan lagi anak kecil yang harus selalu di ikuti dan di awasi seperti itu. Ia tau apa yang akan ia lakukan. Lagipula, ia masih sangat waras untuk tidak melakukan suatu hal yang tidak diinginkan.


“Dan gue ga akan pernah balik ke sini lagi!” Rafael menekan ucapannya. Ya, Dengan sangat yakin, ia mengucapkan hal itu.


Pemuda bermata sipit itu pergi lebih dulu meninggalkan Dicky disana. Ia pergi menggunakan sebuah taksi dan kembali menuju tempat dimana barang-barangnya berada. Sungguh, ia benar-benar marah sekarang. Ia hanya sedang berniat baik pada sepupunya itu. Bukankah melakukan hal seperti ini sudah terjadi sedari mereka kecil dulu ? Terlebih, disaat pemuda sipit itu kehilangan kedua orangtuanya.


“Sudah cukup! Gue ga akan perduli lagi sama lo!,” Rafael berujar sembari mengingat kembali saat dimana ia dan Dicky tengah berdebat.


Sementara itu, Ditempat sebelumnya...


Dicky masih terdiam disana. Ia melirik kearah perginya Rafael, sekilas. “Benar! Lebih baik lo pergi! Lagipula, gue ga membutuhkan bantuan lo disini!,” Ia berujar dalam hati. Meski jauh di lubuk hatinya yang paling terdalam, terdapat sedikit rasa penyesalan karena sudah membentak sepupunya seperti itu.


Seketika, ia kembali tertunduk lesu. “Yang gue butuhin cuma... Nasya,” Lanjutnya masih berbicara menggunakan hatinya.


***


Nadila terduduk lemas di atas kasurnya. Ia baru saja sampai di rumahnya setelah Tante atau tepatnya mertua Nasya menyuruhnya untuk beristirahat dirumah. Tapi tetap saja, Nadila masih merasa cemas. Terlebih, setelah ia tau apa yang akan dilakukan sang wakil presdir, Andra kepada perusahaan milik kakak sepupu iparnya.


Sungguh! Bagaimana bisa ia beristirahat dengan tenang. Pikirannya kacau. Bagaimana jika ia beritahukan hal ini pada kakak sepupunya ?.


Kepala Nadila menggeleng cepat. Mengusir pemikiran tersebut. Tidak! Itu tidak boleh. Mengingat masalah yang sedang dialami oleh Nasya, Ia berubah pikiran untuk memberitahukan hal ini. Selain itu, Bukankah kakak sepupunya itu sedang mengalami Transient Global Amnesia. Itu berarti semua hal yang berkaitan tentang Dicky, menghilang dari ingatan Nasya. Jadi percuma saja memberitahukan hal tersebut.


Ah, Seharusnya tadi ia tetap berada dikantor. Mengawasi pria licik itu.


***


Putri perlahan membuka matanya setelah hampir 7 jam tak sadarkan diri. Tentu itu membuat kedua orang tuanya yang berada disana merasa lega. Untungnya ini tak selama saat ia masih dalam kondisi koma waktu itu.


“Kondisi nya sudah membaik,” Jelas sang Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Putri diiringi oleh beberapa suster dibelakangnya.


Helaan napas lega dari wanita baya yang tidak lain adalah Ibu dari perempuan yang terbaring di atas brankar itu, terdengar jelas sekali. Beliau segera mendekati anaknya. Mengelus lembut puncak kepala sang anak yang masih samar-samar menangkap objek dengan retina matanya.

__ADS_1


“Ma..Mama...,” perempuan itu melirih memanggil nama sang ibu.


Seusai berbicara pada ayah pasien, pria yang mengenakan pakaian putih itu pergi keluar dari ruangan. Begitupun para suster yang dari tadi mengiringi sang Dokter.


“Putri... Nak, kamu sudah sadar ?,” ujar pria baya yang berada dikursi roda. Kondisinya memang sudah baik-baik saja namun, dokter masih menyarankan beliau untuk selalu berkonsultasi dan melatih kedua kakinya. Dan beruntungnya, Ayah Putri hanya mengalami kelumpuhan sementara. Itu berarti kemungkinan untuk sembuh lebih besar.


Putri melirik dua objek yang kini mulai jelas dalam pandangannya. Kepala masih terasa sedikit pusing.


“Syukurlah. Ibu sama Ayah sangat khawatir, nak,”.


Dahi Putri terlihat mengerut. Menatap bingung dua orang yang kini berada dihadapannya. Ibu ? Ayah ? Sorot mata Putri beralih dari tatapan cemas dua orang berhati malaikat tersebut.


“Kenapa... Aku memanggil... Mama .. ?,” Putri membantin. Entah mengapa ia merasa ada hal yang aneh yang telah terjadi. Rasanya ia baru saja berada di dalam keluarga yang berbeda.


“Ada apa, nak ?,” Tanya heran sang Ibu ketika melihat ekspresi wajah anaknya nampak kebingungan. “Apa ada yang sakit ?,”.


Tersadar, Putri kembali menatap kedua orangtuanya. Sebuah senyum simpul terukir sebagai bukti bahwa saat ini ia baik-baik saja.


***


Dicky baru saja tiba disebuah rumah yang nampak besar. Ia menatap intens rumah tersebut. Meski sedikit ragu, tapi ia harus menemui seseorang disana. Ya, Tentu saja ia harus melakukan sesuatu sebelum rumah tangganya bersama Nasya benar-benar kandas.


Dicky berjalan masuk ke dalam perkarangan rumah tersebut. Ia sangat yakin bahwa orang yang ia cari berada disana. Bagaimanapun cara ia harus membujuk dan mengembalikan kepercayaan Papa Nasya terhadap dirinya.


Dicky menekan tombol bel yang berada diantara gerbang berwarna hitam disana. Namun tak ada balasan dari pemilik rumah. Dilihatnya sekitaran rumah tersebut. Memang, rumah itu nampak sepi. Apa mungkin tidak ada orang di dalam rumah ?.


Pemuda kurus tersebut nampak kecewa dan juga kesal. Kalau saja ia tidak bertingkah kekanak-kanakkan, Mungkin hal ini tidak akan terjadi.


Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam baru saja tiba di depan rumah tersebut. Terdengar suara klakson dari kendaraan roda empat—memberikan sebuah isyarat agar Dicky menyingkir dari depan gerbang.


Namun, rupanya Dicky enggan untuk menyingkir. Terlebih saat ia mengetahui bahwa kendaraan tersebut adalah kendaraan Papa Mertua.


Kesal karena pria tak tau diri tersebut tidak menyingkir, Papa Nasya keluar dari dalam mobil. Tatapannya tajam dengan emosi yang masih dicoba untuk ia tahan. Mau apa lagi pria kurus itu datang kemari ?.


“Pa,”.


“Jangan panggil saya dengan kata Papa!,” bentak kuat dari pria baya itu ketika Dicky baru mengeluarkan dua huruf dari mulutnya.


“Pergi kamu dari sini dan jangan pernah datang kemari lagi!,”.


Dicky tertegun. Sejujurnya, ia merasa takut menghadapi Papa Nasya yang begitu tegas. Tetapi, mau tidak mau, ia harus mencoba. Apapun itu.


“Pa, aku...,”.


“Saya bilang jangan panggil saya dengan panggilan Papa! Kamu bukan lagi menantu saya!,” jelas pria baya disana.


Lagi-lagi, Dicky terdiam dibuatnya. Bagaimana bisa itu terjadi ? Sementara surat cerai belum keluar dan di terima olehnya. Ia bahkan tidak akan pernah menandatangi surat tersebut. Ya, Tidak akan! Tidak akan pernah.


Pria baya itu kembali masuk ke dalam mobil hitamnya. Beliau memarkirkan mobilnya di dalam perkarangan rumah. Tentu, ini adalah kesempatan bagi Dicky untuk dapat masuk ke dalam rumah tersebut.


Dicky kembali menghampiri pria baya disana.

__ADS_1


Dan dengan yakin ia berkata “Pa, aku tidak ingin bercerai dengan Nasya. Kami tidak akan pernah bercerai!,”.


__ADS_2