
Perempuan ini melirik sebuah minuman di atas nakas. Ia bergegas meraih minuman tersebut. Sembari menahan rasa panas yang ada di area mulutnya.
Diminumnya lah minuman itu. Minuman yang sebelumnya tidak ingin ia minum. Minuman yang sangat ia curigai sebelumnya.
Perempuan ini, Ah... sebut saja Nabila, Bergegas menuju wastafel yang berada diantara toilet dan dapur. Ia merasa ada yang aneh pada minuman tersebut.
"Aish! Udah gue duga kan, pasti tu orang ngasih sesuatu di minuman itu," Nabila mendumel, mengingat Nasya yang membuat minuman itu.
Kesal "Awas aja lo, Nasya!," Ucapnya sembari mengepalkan tangan erat diiringi rasa dendam atas apa yang telah Nasya lakukan padanya.
Merasa sudah lebih baik dari sebelumnya, Dicky kembali ke ruang tengah. Menghempaskan tubuh pada sofa yang ada disana. Sembari memegangi perut, "Gila, Nabila masukin bumbu cabe banyak banget," gerutunya.
Meski rasa pedas itu masih bisa dirasakan oleh Dicky, namun bibirnya sudah tidak begitu bergetar seperti sebelumnya.
"Bisa doer ni bibir," Ucapnya lagi sembari mengipas-ngipas mulutnya dengan sebuah majalah yang ada di atas nakas.
Kemudian, Dicky melirik segelas minuman yang juga berada diatas nakas itu. Minuman spesial dari Nasya untuk sang suami.
"Kebetulan nih ada minuman disini," Sembari tersenyum meraih gelas itu.
Tanpa pikir panjang, Dicky segera meminum minuman itu dan.... "Pff....".
Ia menyemburkan minumannya, "Apaan nih?," Ucapnya menatap minuman yang di angkat olehnya.
"Gila, tadi pedes sekarang asin" gerutunya sembari meletakkan kembali minuman tersebut ketempat nya.
Beberapa detik kemudian, Dicky bangkit menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Menghilangkan rasa yang sudah campur aduk di dalam mulutnya.
"Apa jangan-jangan, ini ulahnya Nasya?," pikirnya setelah selesai meminum air putih dan meletakkan
gelas dimeja.
"Aish! Sialan, malah gue yang dikerjain dia" batin Dicky kesal.
Nabila yang baru saja keluar dari toilet, melihat Dicky yang diam berdiri didepan sebuah gelas. "Sayang," Ucap Nabila mengalihkan lamunan Dicky saat itu.
Menoleh cepat mendengar suara itu Dicky bergegas memasang senyum manis di hadapan sang kekasih.
"Ada apa?," tanya Nabila.
"Enggak ada apa-apa kok" jawab Dicky.
Nabila hanya menganggukkan kepala, menatap Dicky disana dan perlahan mendekat pada kekasihnya itu
"Sayang, maafin aku ya," Nabila sedikit menunduk.
Dicky menoleh heran "Loh, Kenapa kamu minta maaf, sayang?," menatap Nabila disebelahnya.
"Karena aku gagal masakin makan malam buat kamu" jawab Nabila menyembunyikan wajahnya dari tatapan Dicky, bersikap merasa bersalah seolah itu adalah benar perbuatannya.
Dicky yang menganggap Nabila merasa bersalah padanya, tersenyum "Kamu ga perlu minta maaf gitu. Lagipula aku ga masalah kok dengan masakan kamu tadi,".
"Aku janji, Lain kali masakan aku pasti enak kok," Nabila mengangkat kepalanya, menatap dan meyakinkan Dicky akan masakan buatannya.
Dicky tersenyum, ia memegang kedua bahu Nabila "Aku tunggu masakan kamu itu," ucapnya membuat Nabila tersenyum.
//
Tak terasa, malam semakin larut. Tentu, Nabila harus pulang kerumahnya. Jika tidak, orang akan berpikir yang macam-macam, bukan?. Tapi bukankah membawa perempuan lain kerumah itu sudah tidak benar?
"Sayang, kamu anter aku pulang ya!," Nabila.
Dicky tersenyum "Iya, aku anterin.".
Nabila tersenyum dan mengambil tas berwarna hitam miliknya yang ada disofa.
Dicky yang merangkul mesra Nabila sembari berjalan menuju mobil.
Sesampainya didepan mobil, tiba-tiba terasa sesuatu yang sangat perih dari dalam perut Dicky. Dicky menatap Nabila disana, "Sayang, bentar ya," Ucap Dicky buru-buru pergi menuju toilet meninggalkan Nabila yang kebingungan.
"Loh, sayang, kamu mau kemana?," tanyanya yang sama sekali tidak di gubris oleh Dicky karena sudah tidak tahan atas rasa perih yang ada di perutnya.
Nabila kesal akan hal itu "Pasti mau nemuin Nasya dulu." gerutunya dengan melipat tangan.
Cukup lama, perempuan itu menunggu disana. Dicky tak kunjung kembali dan mengantarnya pulang. "Dicky ngapain sih?," Nabila berdecak kesal menatap ke arah rumah.
Beberapa menit kemudian, Nabila pergi begitu saja dari sana. Tanpa memberitahu Dicky.
"Nyebelin banget. Mau nganter pulang aja pake minta ijin dulu segala," gerutunya sembari mencari kendaraan umum.
Disisi lain,
Dicky barusaja keluar dari dalam toilet. Dia sudah dua kali keluar masuk toilet. Baru saja meninggalkan toilet beberapa langkah dan sepertinya Dicky harus kembali masuk kedalam. Ia memegangi perut yang berbunyi kencang bak sebuah band yang sedang konser. "Aduh.. perut gue...," Ucapnya pelan sembari menahan rasa sakit dan bergegas masuk ke dalam toilet.
//
Merasa tidak puas jika tidak melihat ekspresi Dicky dan wanita itu, Nasya keluar dari dalam kamar. Penasaran akan yang terjadi pada mereka berdua.
__ADS_1
Nasya menuruni anak tangga dengan wajah heran atas situasi disana, "Loh, udah sepi?," Ucapnya bingung dan mencari sosok dari dua orang itu di sekeliling rumah.
"Kemana mereka?," Ucap Nasya lagi yang baru selesai menuruni anak tangga dengan bertanya-tanya.
Nasya berjalan menuju ruang makan, terlihat nasi goreng yang sudah tersedia dipiring, dibuat oleh wanita itu masih cukup penuh.
Nasya tersenyum senang melihat itu, "Udah susah payah masak, kok ga dimakan sih? Mubasir tau!," Ucapnya menatap nasi goreng spesial itu.
Lalu kembali mencari sosok Dicky dan [Istri]nya, namun nihil. Tidak ada keberadaan mereka disana.
"Au ah, mending gue tidur lagi aja," Ucap Nasya lagi yang kemudian kembali menuju ke kamar.
Sebelum menaiki tangga, Dicky keluar dari dalam toilet untuk yang ketiga kalinya tanpa menyadari keberadaan Nasya disana.
Terlihat, Dicky menghela napas dengan memegang perutnya. Nasya tersenyum puas, itu artinya rencananya berjalan dengan lancar.
"Makanya jangan bikin gue kesel," Ujar Nasya sendiri masih ditempatnya, memperhatikan Dicky disana.
Tapi, Nasya tidak melihat [istri] tercintanya Dicky. Sorot mata Nasya kembali menelusuri setiap sudut yang ada diruangan itu, "Dimana tu orang?," pikirmu.
Dicky lalu duduk di sofa dengan memegang perut, "Duh..." rintihnya.
Nasya menghampirinya dengan melipat tangan dan bersikap seolah tidak tau apa-apa. "Kenapa lo?.".
Dicky melirik sang istri sekilas yang berdiri tak jauh darinya. "Gausah pura-pura ga tau lo!," balasnya.
Mendengar itu "Pura-pura?,".
Dicky menatap Nasya tajam, "Gue tau, ini semua kerjaan lo kan?.".
Nasya men-de-ha karena ucapan itu,
"Lo yang nambahin bubuk cabe ke dalam masakannya Nabila kan? Dan lo juga masukin garam kedalam minuman," Jelas Dicky.
Nasya menganggukkan kepala pelan, "Oh, soal itu," Ucapnya santai tanpa berdosa.
"Tu kan bener dugaan gue," Ucap Dicky paham meski reaksi Nasya biasa-biasa saja.
"Lagian siapa suruh bawa istri lo kesini?," Ujar Nasya kesal menatap Dicky.
"Loh, kenapa? Ini juga rumah gue, gaada masalah dong buat lo," Jawab Dicky dengan sedikit menahan rasa sakit di perutnya.
"Ya masalah lah!,".
Dicky masih menatap Nasya, "Masalah kenapa? Lo cemburu?," Balasnya membuat Nasya tak dapat membalas.
"Ih, ngapain juga gue cemburu. Buang-buang waktu gue aja." Batinnya lagi.
Tiba-tiba, Dicky kembali merasa sakit perut dan segera kembali ke toilet. Melihat itu, Nasya masih dengan senyum liciknya dan,
Drt... Drt...
Ponsel Dicky bergetar diatas nakas. Nasya meliriknya, tertera jelas nama seorang wanita di layar ponsel tersebut.
Nasya mengkerutkan dahi, membacanya "Nabila?".
Penasaran, Nasya segera membuka pesan itu, {Kamu lama! Aku pulang.} isi dari pesan tersebut dengan satu emoticon marah di akhir pesan.
"Oh, namanya Nabila?" Ucap Nasya dengan mengangguk kepala pelan.
Selagi Dicky masih berada si toilet, otak liciknya kembali bekerja. Nasya membalas pesan itu. Entah kenapa, malam itu rasanya semua berada dalam kendali perempuan ini.
"Tuh! Rasain lo!," Nasya meletakkan ponsel Dicky kembali dan menatap kesal.
Merasa tak ada yang perlu dilakukan lagi karena wanita bernama Nabila itu sudah pulang sendiri, Nasya memutuskan untuk kembali ke kamar dan tak memperdulikan Dicky yang sudah keempat kalinya masuk ke dalam toilet.
//
Ditempat lain,
Nabila baru saja tiba dirumah, terbelalak menatap layar ponsel, "Dicky apaan sih?," gerutunya setelah membaca sebuah pesan yang barusaja diterimanya
"Kenapa malah nyalahin aku gini?," Sambungnya kesal.
Nabila melempar ponselnya keatas tempat tidur. "Ini pasti ulah Nasya," Ujarnya geram pada istri sah Dicky tersebut.
"Lo tunggu pembalasan dari gue!,".
Pukul 21:26.
Nasya masih terjaga ditempat tidur sembari mengutak-atik ponsel. Ia melirik kearah sofa, tempat dimana biasanya Dicky tidur. "Itu orang betah banget dibawah," Ucapnya yang mengira Dicky sedang menonton televisi diruang tengah.
Nasya kembali fokus pada ponsel, mengirim sebuah pesan singkat kepada seseorang dan "Eh, Apa jangan-jangan tu orang masih bolak-balik ke toilet ya?," Ujarnya sedikit khawatir.
Penasaran, Nasya bergegas turun kevbawah untuk melihat keadaan Dicky.
Tidak ada keberadaan Dicky di ruang tengah.
__ADS_1
Nasya segera menuju ke toilet dan benar, Dicky baru saja keluar dari dalam sana.
"Dic, Lo masih sakit perut?," Tanya Nasya khawatir.
Dicky hanya meliriknya sekilas, Ia berkeringat dan ter-engah memegang perutnya itu.
Melihat keadaan Dicky yang seperti itu "Kita kerumah sakit aja ya!," Ujar Nasya memegang lengan Dicky.
"Gausah!," Balas Dicky melepaskan lengannya dari tangan Nasya.
"Tapi, gue takut lo kenapa-napa.".
Meskipun Dicky sangat menyebalkan namun, jika sesuatu terjadi padanya, Nasya tentu merasa khawatir karena dia adalah suaminya.
Dicky menatap Nasya, "Lo denger ga sih yang gue bilang tadi? Gausah!," Balasnya dengan kesal menahan rasa sakit.
Nasya ikut merasa kesal karena Dicky yang menolak untuk diajak kerumah sakit. "Terus, lo mau kayak gini terus sampe besok?".
Dicky tidak menjawab dan masih pada posisinya.
Menghela napas "Pokoknya, sekarang kita kerumah sakit!," Tegas Nasya sembari membantu Dicky berjalan menuju ke mobil.
***
Drt.. Drt..
Ponsel diatas nakas itu bergetar, Reza yang sedang sibuk dengan laptop meraih ponsel itu. Ia sedikit tersentak ketika melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, "Nasya.".
{Jahe, Apa kabar?}
Begitulah isi dari pesan singkat tersebut. Reza tersenyum tipis saat membaca kata 'Jahe' itu. Sebenarnya 'Jae' adalah nama panggilan pemuda itu namun Nasya malah memanggilnya dengan nama 'Jahe' karena itu lah Reza tersenyum ketika membaca kata tersebut. Sejak Nasya menikah, keduanya sudah jarang berkomunikasi dan bertemu.
"Dasar Kunyit!," Ucapnya pelan lalu membalas pesan itu.
***
Nasya dan Dicky berada dirumah sakit, baru saja selesai melakukan pemeriksaan terhadap Dicky. Keduanya duduk di hadapan dokter.
Nasya yang khawatir, "Gimana suami saya, dok?" Tanya Nasya menatap dokter itu, serius.
Melihat Nasya yang cemas, Dokter itu tersenyum, "Suami anda hanya mengalami diare, mungkin suami anda ada salah makan atau memakan makanan yang terlalu pedas," Jelas dokter tersebut.
Nasya yang masih cemas, "Tapi hal itu ga berbahaya kan, dok?. Suami saya tidak berhenti keluar masuk toilet, dok.".
Dicky diam ditempatnya, menatap Nasya yang mencemaskan dirinya.
Dokter itu kembali tersenyum "Tidak apa-apa. Hal ini tidak terlalu berbahaya untuk bapak Dicky." Jawab sang dokter menatap Dicky sekilas lalu menatap Nasya kembali.
"Saya sarankan, bapak Dicky sering-sering minum agar cairan tubuh yang hilang tergantikan. Paling tidak setiap 2 jam sekali.... ".
Nasya menyimak setiap apa yang dikatakan oleh dokter tersebut, "... Hindari makanan padat dan berserat terutama produk yang mengandung susu karena hal itu dapat membuat diare yang dialami oleh bapak Dicky bertambah parah." Jelas sang Dokter.
Mengangguk paham, "Baik, dok. Saya akan mengingatnya," Ucap Nasya.
Dokter itu tersenyum lagi mendengar Ucapan Nasya, ia lalu manatap Dicky, "Oh iya, bila diare yang dialami berlangsung hingga 1-2 hari, segera bawa kerumah sakit karena ada kemungkinan bapak Dicky terkena dehidrasi," sambung dokter.
"Baiklah, dok. Kalau begitu, kami permisi dulu.".
Dokter itu mengangguk dengan tersenyum.
Nasya diiringi oleh Dicky meninggalkan ruangan itu.
Diam, Nasya jadi merasa bersalah dan tidak tega atas apa yang telah ia lakukan pada Dicky. Meski merasa bersalah, Nasya berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa, mengingat Dicky yang nekat membawa wanita bernama Nabila kerumah.
Dicky melirik istrinya tajam karena ulah istrinya itu, dia harus merasakan sakit yang berlebihan pada perutnya.
Menyadari bahwa Dicky melirik dirinya, Nasya menoleh, "Ngapain lo liatin gue?.".
"Gue cuma mikir, kenapa gue bisa punya istri yang tega kayak lo gini," balasnya.
Langkah kaki Nasya terhenti ketika mendengar ucapan itu, menoleh, menghadapkan tubuhnya pada Dicky.
"Istri yang tega ngebikin suaminya masuk rumah sakit," sambung Dicky.
Nasya melipat tangan, "Lagian siapa suruh lo nekat bawa tu cewe kerumah?.".
"Kalo lo gasuka, lo bisa keluar dari rumah!," balas Dicky kesal.
"Oh, lo ngusir gue?,".
Usir? Eh, nampaknya bukan itu yang dimaksud Dicky. Dicky diam dengan sedikit gelagapan. "Bu.. Bukan.. Gitu... ".
"Terus apa?" cela Nasya kesal.
"Ya.. Maksud gue.. lo bisa pergi sama temen lo.. Gausah dirumah!," jelasnya.
Nasya yang terlanjur kesal, "Udahlah! Gausah banyak alesan...," dengan tatapan serius. "...Lo mau gue pergi dari rumah itu kan? Fine! Gue bakalan pergi dari sana!," sambung Nasya lalu meninggalkan Dicky dilorong rumah sakit.
__ADS_1
Dicky menatap punggung belakang sang istri, "Nasya tunggu dulu! Bukan itu maksud gue," Sembari menyusul langkah kaki Nasya.