
...Harusnya, Tuhan ciptakan waktu berjalan dua arah supaya aku bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus semua penyesalanku....
"Hai, Cantik.".
Bisma tersenyum melihat perempuan yang berpakaian bak kurang bahan dan ketat serta rok di atas lutut, berdiri menunggu dirinya di depan sebuah club.
Perempuan tersebut menoleh sebal pada Bisma karena datang terlambat.
Bisma segera merangkul perempuan itu karena ia tau bahwa sang kekasih (baru) nya itu tengah kesal padanya.
"Kamu kemana aja sih? Lama banget!," gerutu perempuan dengan rambut pendek itu sembari melepaskan lipatan tangannya dan memanyunkan bibir.
Bisma terkekeh melihat bibir mungil yang dimanyunkan oleh perempuan itu. "Sayang, maaf ya. Tadi ada urusan sebentar," Bisma menjawab dengan sangat lembut sembari sedikit mengelus rambut sang perempuan.
"Urusan apa?," tanya perempuan yang kembali melipat kedua tangan disana.
"Urusan kerja, sayang," jawab Bisma (lagi) dengan lembut.
Perempuan itu tak menjawab, ia mengalihkan pandangan dari Bisma.
"Sayang, jangan ngambek gitu. Cantiknya hilang loh," bujuk Bisma pada kekasihnya itu.
Nihil. Tetap tak ada respon dari perempuan itu.
Melihat sang kekasih yang merajuk, Bisma tiba-tiba mencium pipi perempuan itu sehingga membuat perempuan tersebut terbelalak dan menoleh cepat kepada Bisma.
"Kamu tu apaan sih?," Perempuan itu bertanya dengan nada manjanya.
Bisma tersenyum melihat itu, "Tapi kamu suka kan?," balasnya membuat perempuan tersebut tersenyum malu.
"yaudah masuk yuk, sayang," ujar Bisma yang merangkul perempuan yang membalas dengan sebuah anggukan itu.
»
Samar-samar, retina mata Putri menangkap bayangan yang ada disekitarnya. Rasanya, seluruh tubuhnya yang terbaring diatas brankar itu, terasa seperti tak memiliki tenaga.
Putri merasakan sebuah tangan menggenggam erat jemarinya.
"Kamu udah sadar, sayang?," Suara lembut yang sedikit serak itu terdengar jelas oleh gendang telinga perempuan tersebut.
Dari nada ucapannya, sangat jelas bahwa suara lembut dari wanita parubaya yang tidak lain adalah sang mama, nampak khawatir. Namun, dapat dirasakan, betapa bahagianya wanita baya itu saat mengetahui bahwa anak tunggalnya sudah sadarkan diri setelah menjalani operasi beberapa jam lalu.
"Mama...," lirih Putri saat matanya sudah jelas melihat apa dan siapa yang ada disekitarnya. Dengan menitikkan air mata, wanita baya tersebut tersenyum, menatap anaknya seraya menggenggam erat jemari sang anak yang sesekali ia cium menandakan bahwa ia sangat menyayangi dan mencintai anaknya tersebut serta takut akan kehilangan sang anak.
"Syukurlah, kamu udah sadar, sayang," Wanita baya itu bernapas lega melihat anaknya yang kini sudah sadarkan diri hingga beliau menitikkan air mata kebahagiaan.
Selang beberapa menit, seorang pemuda yang tidak lain adalah sahabat baik dari anaknya yakni Reza, masuk ke dalam ruangan dengan membawa makanan untuk wanita baya tersebut. Ia nampak terkesiap melihat Putri yang kini sudah sadarkan diri. Tanpa berpikir panjang lagi, Reza segera meletakkan makanan tersebut, sembarang dan segera menghampiri brankar, tempat dimana Putri terbaring, disana.
Sekilas, Reza menatap wanita baya yang setia disebelah brankar Putri. "Putri udah sadar, tante?," Reza masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Hati benar-benar lega dan juga bahagia melihat Putri sudah sadarkan diri.
Wanita baya disana menganggukkan kepala dengan terus memegang tangan Putri dan menatap wajah anaknya itu. Begitupun Reza yang berdiri disisi lain, sebelah brankar itu, berhadapan dengan wanita baya tersebut.
"Syukurlah, lo udah sadar, Put," ucap bahagianya menatap Putri yang sadar dengan masker oksigen di wajahnya.
__ADS_1
***
Dicky, masih setia duduk disebelah brankar Nasya. Ia memandang sendu wajah sang istri. Menyesal, itu yang ia rasakan saat ini. Ia merasa amat bersalah pada Nasya karena telah menyebabkan hal seperti ini kepada perempuan tersebut.
Dicky melirik tangan Nasya yang dipasang selang infus dihadapannya. Perlahan, ia meraih tangan tersebut. Dengan sangat menyesal "Maafin gue, Nasya," lirihnya sembari menggenggam tangan Nasya dan mendekatkan genggaman itu ke pipi kirinya sembari menatap wajah sang istri yang masih terpejam.
Ia sangat berharap Nasya segera membuka mata. Namun disisi lain ada rasa takut didalam hatinya. Tentu saja, setelah Nasya membuka matanya nanti, ia harus siap berpisah dengan Nasya.
»
"Wijaya menyuruh mereka bercerai?," sesosok pria baya yang mengenakan jas hitam, duduk di depan meja kerja itu nampak kaget dengan apa yang di dengar olehnya melalui telepon.
"Anak itu benar-benar keterlaluan! Dimana dia sekarang?," tanyanya kepada seseorang diseberang sana. Wajah kagetnya itu berubah menjadi wajah marah setelah mendengar penjelasan dari orang yang ada ditelepon itu. "Baiklah. Papa akan pulang ke Indonesia!.".
»
Kini Bisma dan kekasihnya tengah duduk berdua dengan posisi sang kekasih bersandar di dada bidang Bisma. Keduanya sama-sama memegang gelas kaca di tangan, di isi dengan minuman alkohol yang ada di meja, di hadapan keduanya. Dengan kondisi sang kekasih yang setengah mabuk dan sadar.
Meskipun, kini Bisma sudah memiliki kekasih baru, pengganti Putri namun tetap saja, pikiran tertuju pada mantannya itu terutama pada kejadian, dimana Putri menjadi korban tabrak lari dan itu disaksikan langsung oleh mata kepalanya sendiri.
Bisma meletakkan gelas yang ada di tangannya dan membuat sang kekasih menoleh-heran padanya. "Sayang...," ujar perempuan itu membuyarkan lamunan Bisma.
"A..Ada apa, sayang?," balas Bisma yang menoleh pada kekasihnya itu.
"Aku perhatiin, Sejak masuk ke club tadi, kamu ga banyak bicara....".
Bisma sedikit mengalihkan wajah dari pandangan sang kekasih.
"...Kamu lagi ada masalah?," tanya perempuan itu, lagi.
"Bismaaa!," ujar perempuan yang ada disebelah itu, kembali membuyarkan lamunan Bisma.
"Apa sih?," kesal Bisma pada perempuan tersebut.
Tentu saja, perempuan itu terbelalak dengan jawaban Bisma yang sedikit membentak dirinya. "Kamu kenapa sih? Tiba-tiba ngomongnya gitu," balas perempuan tersebut.
Bisma melirik perempuan itu sekilas dan berdecak. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan perempuan itu tanpa mengatakan apapun.
"Bismaaa!...," ujar perempuan tersebut yang menatap punggung belakang Bisma.
"...Kamu mau kemana?," ujarnya lagi namun sama sekali tak di gubris oleh Bisma. Pemuda itu terus berjalan pergi meninggalkan club tersebut dan itu membuat kekasihnya berdecak sebal menatap kepergiannya.
»
"Mama kemana, ja?," lirih Putri kepada Reza yang kini berada di sebelah brankar tempatnya berbaring.
"Mamamu sedang berada di ruangan papamu. Nanti balik kesini lagi," jawab Reza sembari meraih bubur yang tadi diberikan oleh pihak rumahsakit untuk Putri.
Tak ada balasan dari Putri. Ia memandang wajah Reza yang lebam karena dirinya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Reza menjadi babak belur begitu.
Harusnya, aku mati saja setelah ditabrak oleh truk mini itu. pikirnya.
Putri menatap langit-langit kamar rumahsakit itu. Rasanya ia tak sanggup untuk hidup. Setelah apa yang terjadi. Begitu polosnya sampai mau percaya begitu saja pada Bisma. Bodoh sekali. Dalam hati, Putri terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Sekarang lo makan dulu ya, Put," ucap Reza sembari mengaduk-aduk bubur yang ada di tangannya.
Putri menggelengkan kepalanya saat Reza hendak menyuapkan sesendok bubur padanya. Sedikit menghela napas, "Lo harus makan, Put. Lo mau sembuh kan?," ujar Reza.
__ADS_1
Lagi, Putri menggelengkan pelan kepalanya. Dalam keadaan seperti ini, perempuan itu tetap keras kepala seperti biasanya.
"Ayolah, Put. Lo harus makan!," bujuk Reza lagi dengan menyodorkan sendok bubur itu kepada Putri.
Tetap saja, Putri menggelengkan kepalanya. Enggan untuk memakan bubur itu.
"Jangan kayak gini, Put. Lo mau lihat mama lo sedih terus? Lo harus sembuh, Put!," ujar Reza.
Tak ada balasan dari Putri. Ia diam, kembali memandang langit-langit diruangan itu. "Lo gamau lihat mama lo menderita kan? Sekarang, lo makan ya," Reza kembali menyodorkan sendok bubur itu ke mulut Putri.
»
Seseorang mengintip diluar kamar inap Putri sembari menyunggingkan senyum. Ia menghela napas lega tatkala melihat Putri selamat dari kecelakaan itu. Namun dibanding rasa leganya ada sesuatu yang lebih menguasai dirinya, seperti ada yang membakar hatinya. Saat manik cokelatnya melihat seorang pria sedang menyuapi Putri. Pemuda tersebut menggeram dalam diam, harusnya ia yang ada disana bukan pria itu.
Namun tiba-tiba kenyataan menghempaskannya, ia tak bisa berada disana. Rasa bersalahnya mengalahkan segalanya karena dirinya lah penyebab Putri mengalami insiden itu. Ya, Dia adalah Bisma. Pemuda yang sebelumnya berada di club bersama kekasihnya.
"Nah, gitu dong," ujar Reza sembari tersenyum saat Putri menerima suapan bubur darinya. Putri tersenyum tipis akan hal itu. Sementara Reza kembali memberikan sebuah suapan lagi.
Putri menerima suapan itu lagi. Namun kali ini tanpa sengaja, sorot matanya tertuju kearah pintu, dimana ada sedikit kaca pada bagian pintu itu. Ia merasa ada seseorang yang berdiri dibalik pintu itu.
"Ada apa?," tanya Reza yang juga melirik kearah pintu sama seperti Putri.
"Engh.. ga ada apa-apa," jawab Putri mengalihkan sorot matanya.
***
..."Andai waktu bisa diputar kembali. Takkan pernah aku menyia-nyiakan dirimu"....
»
"Lo... Siapa?.".
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Nasya saat mendapati seseorang yang berada disebelah brankar, tempat ia terbaring.
Hal itu tentu membuat pemuda tersebut yang tidak lain adalah Dicky, terkesiap tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Lo siapa? Sedang apa disini?," Nasya kembali memberikan pertanyaan itu pada pemuda yang memasang wajah bingung di sebelahnya, menatap dirinya.
"Lo---ga inget gue?," heran Dicky balik bertanya.
"Siapa? Emang kita pernah kenal?," balas Nasya.
Hal itu membuatnya merasakan sesak didalam hatinya. "Gue---suami lo," jelas Dicky kepada Nasya.
Namun Nasya malah tersenyum sebelah bibir mendengar itu. "Mustahil!," jawabnya membuat Dicky bingung hingga mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana mungkin lo suami gue? Gue bahkan ga kenal sama lo," sambung Nasya.
Dicky tak menjawab, ia memandang sendu istrinya itu. Bagaimana bisa Nasya tak mengenal dirinya?.
"Lagian, gue ngerasa ga pernah nikah sama lo.".
Deg!
Hati Dicky semakin sakit mendengar penuturan itu. Sesak diiringi dengan rasa sakit diujung tenggorokannya. Rasanya bak ditusuk oleh belati.
Setelah apa yang diputuskan oleh sang papa mertua, kini ia harus terima kenyataan baru mengenai istrinya itu. Kenyataan bahwa Nasya yang kini telah sadarkan diri, sama sekali tidak mengenal dirinya.
__ADS_1