
"Hallo, sayang! Kamu dimana?," ucap Bisma setelah merasa panggilan teleponnya di jawab oleh Putri. Namun, Tiba-tiba saja panggilan teleponnya terputus. "Sayang, Hallo? ....".
"Hallo...," Bisma menjauhkan ponsel dari telinga. Ia menatap kesal ke layar ponsel yang ternyata panggilan telepon itu sudah terputus.
Melihat itu, "Sial dimatiin," ucapnya memukul kuat setir yang ada di depan.
"Apa Putri udah tau kebenarannya?," gumamnya sembari berpikir dengan tangan yang ditempelkan di dagu. Melihat ponsel yang sebelumnya panggilan dalam keadaan terhubung tiba-tiba terputus. Bisma sedikit mengkerutkan dahi.
"Sialan lo! Lo mau ngejebak gue?.". || "Lo nyuruh orang buat mukulin gue, Hah? Iya?.". || "Tu cewe dibawa pergi sama cowo!.".
Ucapan kemarahan Andre di malam itu terngiang kembali di telinganya dengan sangat jelas. "Tu cewe dibawa pergi sama cowo!," Bisma tertuju pada satu kata dalam kalimat itu.
"Cowo?," Ia mulai berpikir, siapa yang membawa pergi Putri di malam itu lalu pikirannya tertuju pada satu orang yang ia tau. Orang yang sangat dekat dengan Putri "Apa jangan-jangan Putri lagi sama dia?," tebaknya.
Bisma segera menyalakan mesin mobilnya, menuju ke suatu tempat, dimana menurutnya ia bisa menemukan Putri. Namun belum sempat menjalankan mobil, Drt... Drt... Ponselnya berdering. Ia melirik ponsel itu terlebih dahulu, kalau-kalau itu adalah panggilan dari Andre tapi ternyata ia bernapas lega setelah tau bahwa yang meneleponnya adalah Putri.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Senyum licik Bisma mulai terukir di bibirnya. Ia segera menjawab panggilan dari Putri dan ...,
"Hallo, Sayang. Kamu dimana?," tanya Putri dari seberang sana.
Senyum licik itu masih terus terukir di wajah Bisma, "Aku di depan rumah kamu. Kamu dimana?," jawab Bisma dengan nada lembutnya.
Putri yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit dengan rasa kesal setelah mendengar penjelasan Reza yang menurutnya sangat tidak mungkin. "Kita ketemu di tempat biasa! Ada yang mau aku tanyain ke kamu!," balas Putri tanpa memperdulikan pertanyaan dari Bisma. Ia ingin membuktikan bahwa Bisma tidak seperti yang dipikiran oleh Reza.
Putri menutup teleponnya. Ia berjalan ke tepian jalan, mencari sebuah taxi yang akan membawanya ke tempat tujuan.
»
Nasya menghempaskan kasar tubuhnya diatas kasur. Dengan wajah kesal setelah apa yang ia lihat di depan rumah tadi. "Tu cewe apa ga punya harga diri? Suami orang dikejer ampe segitunya," gerutunya kesal dengan melipat tangan.
Lalu, beberapa menit kemudian, "Ngapain juga gue kesel? Bodoamatlah." ucapnya mencoba untuk tidak perduli dengan dua manusia yang berada di lantai bawah.
Nasya merebahkan tubuh diatas kasur, menatap langit-langit kamar. Meski mencoba untuk tidak perduli, pikiran nya tetap saja tertuju pada Dicky yang berada dibawah bersama dengan Nabila. Bayangan tentang mereka yang tengah duduk berdua di ruang tengah, dengan posisi Nabila yang bersandar di dada Dicky dan Dicky yang merangkul mesra Nabila lalu tertawa bersama, membuat Nasya bangkit dan kembali duduk di tepian kasur.
Nasya kembali memasang wajah kesalnya. Rasanya ia tidak bisa diam saja ketika Nabila sedang berada di dalam rumahnya. Ini adalah rumahnya. Kenapa ia malah berasa seperti orang lain dirumah itu, pikir Nasya.
Otak licik Nasya mulai kembali bekerja meskipun ia baru saja sembuh dari sakit.
Entah apa yang akan Nasya lakukan kali ini, yang jelas perempuan itu harus ditendang jauh dari rumah ini.
Perlahan, Nasya menuruni anak tangga yang terhubung dengan ruang tengah itu. Sembari menuruni anak tangga, ia mengkerutkan dahi, melihat tidak ada siapa-siapa diruang tengah itu.
Nasya menghentikan langkah kaki dipertengahan anak tangga, memegang pegangan tangga sembari berpikir "Dimana mereka?," gumamnya pelan.
Lagi, bayangan keduanya kembali muncul di benak Nasya. Dicky dan Nabila berada di dapur. Tengah memasak sesuatu, berdua dengan mesranya. Nabila yang tengah sibuk dengan penggorengan tersenyum manis saat sepasang tangan melingkar di perutnya. Dicky meletakkan wajahnya di bahu Nabila dengan memeluk hangat dan mesra perempuan itu. Dan "Ih... Apaan sih!," ucap Nasya bergidik geli dengan bayangan adegan tersebut.
Perempuan ini melirik arah dapur dari tempatnya berdiri. "Gue tendang aja dua-duanya sekalian!," kesalnya.
Perlahan, Nasya berjalan kearah dapur, mengendap-endap bak seorang pencuri. Ia penasaran apa yang sedang dilakukan oleh dua makhluk hidup itu didapur. Namun, sesampainya didapur, tak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Nasya menghentikan gerakan mengendap-endap nya itu dan memperhatikan sekeliling "Gaada?," gumamnya sembari bertegak pinggang. Sorot mata Nasya yang sedari tadi mencari keberadaan Dicky dan Nabila itu terhenti "Apa mereka pergi ya?," gumam dan pikirnya.
"Siapa yang pergi?.".
Suara itu mengejutkan perempuan tersebut.
Nasya yang sebelumnya bertegak pinggang, menoleh cepat ke sumber suara. Rasanya tiba-tiba menjadi salah tingkah dan kikuk.
Pemilik suara itu, yang tidak lain adalah Dicky, masih berdiri menatap tingkah Nasya disana.
"Nga..Ngapain lo disini?," ucap Nasya mengabaikan pertanyaan Dicky.
Diam, Dicky berjalan mendekat, bukan untuk mendekat pada Nasya tapi untuk mengambil sebuah gelas yang ada di deretan meja dapur. "Gue mau bikin minuman buat Nabila," jawabnya fokus dengan gelas itu.
"O..Oh..." jawab Nasya yang masih kikuk dan tetap berdiri ditempatnya.
Merasa jawaban itu terlalu singkat dan Nasya pun masih berada disana, Dicky menoleh pada istrinya itu, "Lo ngapain disini?," tanyanya membuat Nasya kembali menoleh cepat.
"Gu..Gue...," Melihat tingkah Nasya yang aneh, Dicky meletakkan gelas minuman itu. Ia berjalan mendekat membuat Nasya semakin kikuk. "...Gue... Gapapa!" jawab Nasya dengan perlahan berjalan mundur karena Dicky terus berjalan mendekatinya. Alhasil, tubuhnya terpojok di tembok.
Dicky tetap terus mendekat dengan raut wajahnya yang serius dan entah mengapa, detak jantung Nasya saat itu bekerja dua kali lipat dari sebelumnya. Cepat sekali.
Kini Dicky berada dalam hitungan centi pada Nasya dan... "Apa lo sakit lagi?," tanyanya.
Nasya sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dicky yang khawatir, masih terus menatap sang istri, "Lo ga enak badan?," tanyanya lagi. Namun, sejenak Nasya mematung menatap wajah Dicky yang begitu dekat dengannya.
"Nasya!," ucap Dicky menyadarkan istri nya dari lamunan.
"Engh---gue... gapapa," jawab Nasya mengalihkan padangan matanya.
"Lo yakin?," Dicky kembali bertanya seraya menempelkan telapak tangannya di dahi Nasya.
"I..Iya, gue gapapa," jawab perempuan ini mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
Dicky menganggukkan kepala, "Syukurlah!," ucapnya bernapas lega dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Nasya.
Melihat itu, "Gue---mau ke kamar dulu!," ucap Nasya dan segera bergegas menuju ke lantai atas.
»
"Ih! Tu cewe apa-apaan sih?," dengus kesal Nabila yang melihat kedekatan Nasya dan Dicky didapur. Ia terlihat geram melihat itu. Amarah memuncak dan, "Awas aja lo!," gumamnya dengan melirik Nasya yang bergegas menaiki anak tangga.
\*\*\*
"Hai, sayang!," sapa lembut Bisma ketika melihat Putri sudah berada di caffe, tempat biasa mereka bertemu.
Putri hanya tersenyum tipis dan duduk disebelah. "Kamu mau pesen apa?," tanya Bisma.
"Gausah," jawab Putri singkat.
Melihat itu, Bisma menganggukkan kepala pelan dan menatap Putri yang lebih pendiam ketika bertemu dengan dirinya. "Oh iya, kamu bilang ada yang mau di tanyain? Soal apa?," tanya Bisma lagi seolah tak mengijinkan hening datang menghampiri.
\*"Put, lo harus percaya sama gue! Bisma itu bukan cowo baik-baik! Dia itu cuma manfaatin lo doang!.".
"Dia tu mau ngejual elo!.".\*
Ucapan sang sahabat itu terus terngiang di kepalanya. Putri melirik pemuda bernama Bisma yang kini ada di depannya. Terlihat, Putri nampak bimbang menanyakan hal itu pada sang kekasih.
Bisma meraih tangan Putri yang ada diatas meja, "Ada apa?," tanya Bisma lembut membuat gadis itu menoleh.
"Soal malam itu," ucap Putri yang kali ini membuat Bisma terdiam dan sedikit mengalihkan sorot matanya dari Putri, sekilas. Ia mulai merasa panik namun mencoba untuk menyembunyikannya dan tetap tenang. Apa Putri sadar yang terjadi di malam itu? pikirnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi malam itu?," tanya Putri lagi.
"Mak..Maksud kamu?," Bisma seolah tak mengerti dengan pertanyaan Putri.
"Jujur sama aku! Apa yang terjadi di malam itu? Kenapa aku ga bisa inget kejadian malam itu?," ucap Putri yang semakin membuat Bisma kaku.
"Memang... A..Apa yang terjadi di malam itu?.".
Putri menatap Bisma serius. "Kenapa aku bisa pingsan dan pulang bersama Reza?.".
Bisma terkejut dengan pertanyaan itu. Jadi memang benar, pemuda itu yang membawa Putri pergi dari apartemen Andre, pikirnya. Bahkan ia sudah menceritakan yang terjadi malam itu pada Putri tapi ...,
__ADS_1
Bisma sedikit mengkerut, melirik Putri. Apakah perempuan dihadapannya ini sedang menjebak dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan itu? pikir Bisma.
"Lalu, kemana kamu malam itu? Kenapa Reza bisa ada diacara pertunangan temen kerja kamu dan mengantarkan aku pulang?," tanya Putri lagi.
Mendengar itu, Bisma kembali meraih tangan Putri. Ia mulai memasang dengan senyuman manisnya. "Sayang, masa kamu ga inget?...," ucapnya membuat Putri mengkerut. "...Malam itu, bukankah kita ketemu sama temen lama aku?....".
Putri semakin mengkerutkan dahi mendengarnya, "...Sangking asiknya aku lupa sama kamu. Waktu aku sadar, kamu udah gaada di acara itu. Aku udah telepon nomor kamu tadi ga di angkat. Aku pikir kamu pulang karena aku sibuk dengan temen-temen aku," jelas Bisma.
"Kamu ga bohong kan?," tanya Putri lagi.
"Ya.. A..Aku ga bohong, sayang!," jawab Bisma.
"Terus, Kenapa ga ada satupun panggilan dari kamu malam itu? Yang ada cuma ada panggilan telepon waktu kamu berada di depan rumah aku.".
Pertanyaan Putri kembali membuat Bisma terdiam. Otaknya bekerja berkali lipat untuk mencari alasan yang tepat dan "Ya---mungkin aja kan temen kamu itu yang ngehapusnya," jawab Bisma.
Putri terdiam, rasanya tidak mungkin Reza melakukannya. Mengotak-atiknya saja tidak berani, apalagi menghapus laporan panggilan tak terjawab di ponselnya.
"Sayang, maafin aku ya karena malam itu aku terlalu asik sama temen-temen aku," ucap Bisma memegang erat kedua tangan Putri yang ada di atas meja.
Putri masih diam, menatapnya. Kenapa rasanya ia jadi ragu seperti ini?
"Aku janji ga akan seperti itu lagi," Bisma terus memohon agar Putri memaafkannya dan seperti biasa, dengan mudahnya Putri memaafkan Bisma namun kali ini untuk hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Setelah melihat Putri mengangguk dan menerima maafnya, Bisma kembali tersenyum manis "Makasih, sayang," ucapnya. Namun Putri hanya tersenyum tipis.
\*"Dan sekarang, lo masih mau ketemu sama Bisma? Lo mau dijebak lagi sama dia?."\*
Ucapan Reza lagi-lagi tergiang di kepalanya. Putri membuang napas panjang dan mencoba menghilangkan semua perasaan buruknya terhadap Bisma. Meskipun ia merasa ragu dengan apa yang telah di jelaskan oleh Bisma namun dalam hati kecilnya, ia sangat berharap bahwa Bisma tidak seperti yang dipikirkan oleh Reza.
\*\*\*
Selagi Dicky masih berada di dapur. Nabila segera menyusul langkah kaki Nasya yang kini baru saja selesai menaiki anak tangga.
"Nasya!," ucap Nabila dengan nada emosi.
Hal itu membuat Nasya menoleh cepat. "Apaan sih lo, manggil-manggil nama gue kayak gitu," gerutu Nasya.
"Eh, Gausah banyak basa-basi deh. Lo habis ngapain sama Dicky di dapur? Hah?," balas Nabila cepat yang kini sudah berada di hadapanmu.
Mendengar pertanyaan Nabila, Nasya nampak terkejut "Oh, jadi selain godain suami orang, lo itu juga tukang ngintip ya?," balasnya.
"Sembarangan lo kalo ngomong! Yang ada elo tu, tukang rebut suami orang!," ucap Nabila tak terima dengan sebutan dari Nasya untuknya.
Nasya men-de-ha, mendengar ucapan Nabila "Gue ngerebut suami lo? Ga salah?...," ucapnya menatap Nabila dihadapannya.
"...Emang sebelumnya lo udah nikah sama Dicky? Pake bilang gue ngerebut suami lo lagi," kesal Nasya dengan tuduhan Nabila.
"Eh, Lo denger ya, Kalo bukan karena dijodohin sama lo. Gue sama Dicky itu udah nikah!," balas Nabila dengan nada sedikit tinggi.
Kesal "Eh, Mak Lampir! Lo pikir, gue yang minta di jodohin ama Dicky? Lo pikir, gue suka di jodohin ama dia? Tapi ya namanya udah takdir, gue ga bisa ngerubahnya lah!," balas Nasya.
Nabila menatap istri Dicky itu dengan tajam. "Sialan lo! Pake ngatain gue mak lampir," balasnya.
"Bilang aja kalo sebenernya lo suka sama Dicky!.".
Mendengar itu, Nasya tak kalah tajam menatap Nabila "Pe'a lo! Kalo gue suka sama dia, Ngapain gue berantem ama dia dan ngebiarin lo berduaan ama dia?," balas Nasya.
Nabila men-de-ha mendengar ucapan Nasya. Ia melipat tangan di dada. "Kapan lo ngebiarin gue berduaan sama dia? Lo bahkan ngerjain gue sama dia! Lo campurin sesuatu di dalam minuman gue waktu itu? Lo juga kan yang masukkin bubuk cabe di masakan gue?...," jelas panjang Nabila.
"...Kalo lo ga suka sama dia, terus itu apa maksudnya?," sambung Nabila.
"Eh, Lo denger ya, Gue ngelakuin itu bukan berarti gue suka sama dia! Gue ngelakuin itu karena dia udah jadi suami gue! Dan lo harusnya malu jadi cewe. Ngejer-ngejer suami orang," balas Nasya membuat Nabila tak terima dengan hal itu.
Hal itu semakin membuat Nabila murka pada Nasya. Ia mulai mencoba menarik rambut Nasya dan Nasya yang tak terima pun juga menarik rambutnya. Namun karena posisi Nasya berada di ujung tangga, Nabila mendorongnya kuat hingga istri sah Dicky itu terjatuh menggelinding di tangga.
Dicky yang hendak membawa minuman pada Nabila, melihat Nasya yang jatuh dari tangga. Matanya terbelalak dan "Nasya!!!," ucapnya segera menghampiri sang istri yang sudah tak berdaya dengan kondisi kepala yang berdarah.
Sementara Nabila yang masih berada diatas, tersenyum licik melihat keadaan Nasya. "Nasya! Nasya, banguun!," ucap Dicky menggoyahkan tubuh sang istri yang sudah tak berdaya.
Tanpa pikir panjang, Dicky segera membawa Nasya ke rumahsakit.
\*\*\*
"Bis, kita mau kemana?," tanya Putri kepada Bisma yang sedang menyetir disebelah. Kini keduanya sedang berada didalam mobil, dalam perjalanan yang tak tau kemana.
Putri memperhatikan jalanan itu, "Ini bukan jalan ke rumahsakit, Bis," ucap Putri menoleh pada Bisma.
"Udah, kamu tenang aja. Aku mau ajak kamu ketemu sama seseorang," jawab Bisma.
Putri mengkerut "Siapa?," tanyanya.
"Nanti kamu lihat sendiri," jawab Bisma dengan fokus menyetir.
Putri kembali menatap jalanan itu sembari berpikir siapa orang yang dimaksud Bisma.
Sementara Bisma melirik sekilas pada Putri dengan tersenyum licik, "Kali ini, gue pastiin. Lo ga akan kabur lagi," batinnya.
Tak lama setelah itu, Bisma menghentikan mobil. Terlihat didepan sana sudah ada sebuah mobil berwarna putih yang sudah menunggu.
Bisma turun dari mobil untuk menemui sang pemilik mobil berwarna putih itu.
Sementara Putri tetap berada didalam mobil, matanya memicing pada sang pemilik mobil putih yang terasa tak asing dimatanya.
\*"Lo pacarnya Bisma yak?.".
"Kok lo mau sih sama dia? Lo itu cantik tau! Ga cocok sama dia.".
"Lo itu cocoknya sama gue!.".\*
Ya! Putri ingat. Pemilik mobil itu adalah pemuda yang menggoda dirinya di acara pertunangan teman Bisma yakni Andre, pemuda hidung belang yang tanpa disadari oleh Putri, yang nyaris saja merenggut kesuciannya.
Putri sedikit bingung, untuk apa Bisma menemui pemuda seperti itu, disini.
\*"Buka mata lo lebar-lebar! Lo tu ga dianggap sebagai pacar tapi lo tu dianggap barang sama dia!!!.".\*
Mata Putri sedikit membola mengingat ucapan Reza kembali. Apa mungkin yang dimaksud Reza itu ... "Ga mungkin!," ucapnya sendiri dan kembali menatap Bisma yang menemui Andre diujung sana. Namun, dahi Putri lagi-lagi dibuat mengkerut, lantaran sudah tidak ada keberadaan Bisma disana.
Putri bingung, kemana pergi nya Bisma? Ia lalu turun dari dalam mobil Bisma, mencari keberadaan Bisma yang ia takutkan kenapa-napa.
Saat sedang celingak-celinguk mencari sosok Bisma tiba-tiba pemuda bernama Andre itu muncul dan membuatnya kaget. "Hai, cantik! Akhirnya kita ketemu lagi," ucap Andre dengan mencoba mengelus wajah mulus Putri.
"Apa sih!," Putri menepis kasar tangan Andre.
"Ah~! Kamu tetap saja kasar seperti ini," ucapnya dengan nada melirih lembut.
"Mana Bisma?," tanya Putri tak menghiraukan ucapan pemuda itu.
Andre tersenyum sebelah bibir mendengar Putri menyebut nama Bisma. "Lo tu terlalu polos tau ga! Mau aja percaya sama cowo seperti Bisma.".
Putri mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksud ucapan pemuda itu. "Asal lo tau, Bisma itu cowo brengsek!...," sambung Andre. Ia merangkul Putri yang tentu saja dilepas kasar oleh Putri.
"...Dia udah nyerahin lo sama gue!," jelas Andre menunjuk dirinya sendiri dan membuat
Putri membolakan mata, tak percaya mendengar itu. "Apa?.".
__ADS_1
"Sekarang, lo itu milik gue!," Andre kembali memperjelas ucapannya.
"Ga! Itu ga mungkin! Bisma ga akan seperti itu!," bantah Putri.
Andre perlahan mendekat pada Putri yang melangkah mundur darinya. "Gaada yang ga mungkin di dunia ini, sayang," jawabnya.
Putri mulai merasa takut. Apa yang dikatakan oleh Reza sepertinya benar. Betapa bodoh dirinya yang tak percaya dengan penjelasan dari sang sahabat sebelumnya.
Melihat Andre yang terus mendekati dirinya itu, Putri mencoba untuk berlari pergi dari tempat itu namun Andre lebih dulu menahan tangannya. "Mau kemana, cantik?," ucap Andre.
Putri menoleh dan mencoba namun apa daya, tenaganya tak lebih kuat dengan tenaga Andre. "Gue ga bakal ngelepasin lo lagi!," sambung Andre lalu memaksa Putri masuk ke dalam mobil putih yang ada didepan mobil Bisma.
"Lepasin! Gue gamau!," ucap Putri kuat pada Andre. Putri meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Andre.
"Masuk!!!," bentak Andre yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"Ga!!!," ucap Putri yang masih berusaha untuk lepas dari pemuda hidung belang itu. Andre tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini.
"Woii!!!," suara keras itu membuat Andre dan juga Putri menoleh.
"Lepasin dia!," perintah pemuda itu yang tak lain adalah Reza. Pemuda itu sudah mengikutinya sejak Putri pergi meninggalkan rumahsakit untuk menemui Bisma.
Putri nampak terkejut saat melihat Reza yang datang, mengikuti dirinya.
Melihat Reza datang secara tiba-tiba seperti yang telah diduga olehnya, Andre tersenyum sebelah bibir masih dengan mencengkeram kedua tangan Putri dari belakang. "Gue tau, lo pasti dateng!...," ucap Andre menatap Reza yang berada dihadapannya.
"...Gue udah siapin hadiah buat lo," sambungnya membuat Reza mengkerutkan dahi.
Beberapa detik kemudian, Bisma dan beberapa pria bertubuh besar datang mendekati Reza disana. Melihat itu, Putri terbelalak karena Bisma dan beberapa pria itu mengelilingi Reza.
"Habisin tu cowo!," perintah Andre pada Bisma dan juga beberapa pria disana.
"Reza!," teriak Putri sembari meronta, melepaskan dirinya dari cengkeraman Andre. Namun, cengkeraman itu masih sangat kuat walaupun Andre tertawa lepas melihat para anak buahnya yang mulai memukuli Reza.
Andre lalu melirik Putri dan "Lo liat? Gue gaakan biarin dia ngebawa lo pergi dari gue lagi!," ucapnya semakin mencengkeram erat tangan Putri.
"Lepasin dia!," ucap Putri menatap tajam pemuda disebelahnya itu.
"Apa? Lo mau gue ngelepasin dia?...," balas Andre menunjuk kearah Reza yang tengah berkelahi dengan beberapa orang disana.
"...Terus ngebiarin dia bawa lari lo lagi?," sambung Andre kembali menatap Putri.
"Gue gaakan pergi! Asal lo lepasin dia, sekarang!," balas Putri cepat.
Tak pilihan lain, dengan cara itu dia bisa menyelamatkan Reza dari Bisma dan beberapa pria bertubuh besar itu.
Andre menatap perempuan itu, "Lo pikir, gue in bego? percaya sama kata-kata lo?," ucap Andre kepada Putri yang melihat Reza terus-menerus mendapat pukulan dari beberapa pria itu.
Putri menoleh cepat pada Andre "Gue janji! Gue akan kabur! Asal lo lepasin Reza!," ucap Putri memohon pada Andre.
Sejenak Andre diam, menatap wajah memelas Putri padanya. Andre lalu menoleh pada Bisma dan pasukannya, memberikan sebuah kode agar mereka berhenti memukuli Reza.
Putri segera berlari, menghampiri Reza yang sudah tersungkur di jalan dengan darah diwajahnya. Melihat keadaan Reza yang seperti itu, Putri tak kuasa menahan air matanya, "Ja, banguuun! Reza!," ucapnya memangku kepala sahabatnya itu dengan sedikit menepuk pelan wajah Reza.
Reza yang masih sadarkan diri itu menatap Putri "Lo... harus la..lari...," lirihnya pelan.
Putri menggeleng pelan "Maafin gue, ja! Gue sempet ga percaya sama lo," ucap Putri yang merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"Jangan pikirin gue! Sekarang, lebih baik lo buruan lari...," sambung Reza.
Putri kembali menggeleng, ia tak bisa melakukan itu, ia tak ingin meninggalkan sahabatnya dalam keadaan yang seperti itu.
Tak lama setelah itu, Andre mendekat kearah Putri dan Reza disana. Ia kembali mencengkeram tangan Putri, memaksanya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Tentu saja, Putri meronta dan sesekali melihat keadaan sahabatnya yang sudah tersungkur itu. "Lepasin gue!," teriak Putri kencang pada Andre yang terus membawanya mendekat pada mobil putih itu.
"Cerewet banget sih lo jadi cewe!," sahut Bisma disana.
Putri menatap tajam pemuda itu "Kalo gamau dipaksa, makanya nurut!," sambung Bisma.
Putri masih dengan tatapannya "Lo jahat, bis!," ucapnya dengan penuh penekanan.
Bisma tertawa mendengar itu "Gue jahat?...," tanyanya yang diakhiri tawaan lagi.
"...Bukan gue yang jahat tapi lo yang bego! Mau aja gue kibulin!," balas Bisma.
Tak ada jawaban dari Putri. Ia hanya menatap pemuda brengsek dihadapannya itu dengan tatapan membunuh.
"Udah masuk!!!," ujar Andre mendorong Putri masuk kedalam mobilnya yang berada beberapa langkah dari tempatnya.
Sekilas, Putri menoleh ke belakang, kembali menatap Reza yang masih disana "Maafin gue, ja," batinnya.
Melihat itu, "Apalagi sih? Buruan masuk! Dia gaakan bisa bawa lo pergi lagi!," ucap Andre kembali mendorongnya kearah mobil.
Putri menatap tajam para pemuda brengsek itu. Ia melirik cengkeraman Andre, mencoba mencari cela untuk melarikan diri. Dan "Eh, tu cowo gimana? Ditinggalin gitu aja?," tanya Bisma menatap Reza yang terbaring dan membuat Andre ikut menatap Reza disana.
"Terserah lo mau apain dia! Yang penting ni cewe udah ada ditangan gue!," balasnya melirik Putri yang kini ada digenggamannya.
Bisma tersenyum sinis mendengar itu dan juga melirik Putri yang melirik tajam padanya.
"Udah sana, buruan lo urus dia!," ucap Andre kepada Bisma dan beberapa pria itu untuk membawa pergi Reza dari tempat itu.
"Ets! Lo ga lupa sesuatu kan?," ucap Bisma sebelum mengeksekusi Reza dari tempat itu.
Mendengar itu, Andre berdecak kesal. "Aish! Lo tu kalo udah urusan uang, cepet banget!," gerutu Andre yang dibalas cengengesan oleh Bisma.
Andre lalu melepaskan sebelah cengkeramannya dari tangan Putri untuk mengambil uang yang sudah ia siapkan didalam amplop berwarna kuning kecoklatan itu.
Tanpa pikir panjang, Putri menggigit tangan Andre yang masih mencengkeram tangannya. Andre meringis kesakitan sementar Putri segera berlari dari tempat itu.
Kesal, Andre menatap para anak buahnya dan juga Bisma, menyuruh mereka mengejar langkah kaki Putri yang melarikan diri.
Melihat para pria besar itu mengejarnya, Putri mempercepat langkah kakinya. Ia hanya berpikir untuk terus lari, menjauh dari orang-orang yang mengejarnya. Dan tanpa ia sadari, sebuah truk mini dengan kecepatan penuh sedang melaju kencang kearahnya dan "Aaaa...."
»
"Nindiaaa!," teriak kencang wanita baya yang terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdetak kencang setelah apa yang ia lihat di dalam mimpinya.
"Nindia?," ucapnya lagi sembari mencoba mengatur deru napasnya.
Beberapa detik kemudian, Nadila datang ke dalam kamar wanita baya yang tidak lain adalah mama Nasya. Wajahnya begitu khawatir dan panik saat masuk ke dalam kamar mama Nasya.
"Tante...,"
Hal itu membuat mama Nasya bingung, "Ada apa, Dila? Kenapa kamu panik begitu?," tanya beliau.
Jantungnya kembali berdetak kencang, "Kak Nasya, tante!," ucap Nadila membuat wanita baya itu ikut panik setelah Nadila menyebut nama Nasya.
"Nasya kenapa?," tanyanya memegang erat lengan Nadila.
"Kak Nasya jatuh dari tangga dan sekarang menuju ke rumahsakit," jelas Nadila.
Bola mata wanita baya itu terbelalak lebar mendengar kabar tersebut. Panik dan khawatirnya mulai menjadi, ia bangkit dan memegang kedua bahu keponakannya itu "Kok bisa?," tanyanya.
Nadila menggeleng "Dila, gatau tante. Kak Dicky bilang Nasya sekarang sedang dibawa ke rumahsakit dan barusan, Kak Dicky ngirim pesan tentang alamat rumahsakit yang sedang dituju," jelas Nadila.
__ADS_1
"Kita kesana sekarang!," ucap wanita baya disana tanpa pikir panjang lagi dan segera meninggalkan kamarnya diikuti oleh Nadila.