
Sebelumnya, sesaat setelah terjadinya tabrak lari yang saat ini menyebabkan Putri terbaring di rumah sakit. Bisma dan beberapa pria bertubuh besar yang mengejar Putri disana, terhenti ketika melihat tubuh Putri terpental jauh akibat tertabrak truk mini. Darah mulai mengalir dijalanan ber-aspal itu.
"Putri!!!," lirih Reza yang mencoba bangkit dan melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia berusaha untuk menghampiri sang sahabat yang kini sudah tidak berdaya dengan kondisi yang sangat parah.
Andre yang juga menyaksikan kejadian saat itu, membelalak. Pria itu segera memberikan sebuah kode kepada para anak buahnya untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Saat ini, ia sudah tidak menginginkan perempuan itu lagi. Meski ia harus kehilangan banyak uang untuk perempuan itu. Yang ada dipikiran nya hanyalah pergi dari tempat tersebut. Dan menghilang sebelum masyarakat setempat datang menangkap dirinya. Terlebih hal yang terjadi pada Putri adalah karena ulah darinya.
Sementara Bisma, dirinya masih terpaku disana, menatap perempuan yang berlumuran darah disana. "Pu... Putri...," ucapnya dengan bibir sedikit bergetar. Sungguh tidak dapat di bayangkan. Hal ini bukanlah bagian dari skenario-nya.
Seluruh tubuhnya terasa lemas, atas apa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri secara langsung. Bahkan ada rasa menyakitkan berasal dari dalam dadanya.
Meski dalam keadaan yang bisa dibilang 'parah' namun Reza akhirnya bangkit dan menghampiri sahabat karibnya "Putri! Bangun, Put!," Pemuda itu mengoyakan tubuh Putri yang sudah berlumuran darah disana.
Dan Bisma, masih berdiri ditempat-mematung. Ia perlahan terduduk dengan menjatuhkan lututnya terlebih dulu. Ia masih tak percaya dengan hal ini.
Beberapa detik kemudian, para warga sekitar datang beramai-ramai untuk melihat serta menolong Putri yang menjadi korban tabrak lari tersebut.
.
.
.
"Maafin gue, Nasya," Dicky yang kini duduk di sebelah brankar sang istri yang kini sudah di pindahkan dari ruangan unit gawat darurat.
Sementara Putri, ia dibawa keruang operasi karena kondisinya yang sangat buruk, mengharuskan ia mendapatkan penanganan yang lebih serius.
Dicky terus menatap istrinya yang sudah berbalutkan perban di kepala. Ia menatap sendu disana. Ia benar-benar merasa bersalah kali ini. "Gue mohon! Buka mata lo," rintihnya yang perlahan meraih pergelangan tangan Nasya dan menggenggamnya.
"Kalo lo ga buka mata, terus gue berantemnya sama siapa?," ujarnya berbicara pada Nasya yang sama sekali tidak akan dijawab oleh Nasya saat itu.
Dicky terus menatap Nasya dalam posisi yang masih menggenggam tangan kiri Nasya. "Lo jangan keras kepala dong! Ayo, buka mata lo!," ucapnya yang kesal namun menatap sendu karena sang istri belum juga membuka mata.
»
Diluar ruangan,
Terlihat papa Nasya tengah berbicara pada mama Dicky, disana juga ada Nadila serta Nabila yang berada tak jauh dari ruangan Nasya. Nampaknya wanita itu masih betah menyaksikan kesedihan yang terjadi pada keluarga Nasya, terutama ia tidak ingin melewatkan kemarahan papa Nasya kepada Dicky saat ini.
"Tolong, jangan seperti ini!," Wanita baya yang tidak lain adalah mama Dicky, memohon pada papa Nasya yang sama sekali tidak terima atas perlakuan Dicky pada anaknya.
"Saya akan menjelaskan semuanya.".
"Tidak perlu! Saya tidak ingin mendengar apapun lagi. Setelah Nasya sadar nanti, dia dan Dicky harus pisah!!!.".
Mama Dicky membelalak mendengar keputusan tersebut. Beliau tidak terima dengan keputusan itu. Beliau tidak ingin kehilangan menantu yang sudah sangat ia sayangi layaknya anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Sementara Nabila yang mendengar itu, tersenyum sinis penuh kemenangan di tempatnya. "Baguslah! Dengan begitu, gue ga perlu susah payah nyingkirin tu cewe," ucapnya menepuk pelan kedua tangan lalu berbalik dari tempat tersebut. Senyuman sinis yang khas miliknya itu terus mengembang di wajah sembari berjalan meninggalkan tempat perkara yang membuatnya merasa penuh kemenangan.
"Saya tidak ingin, nyawa Nasya terancam lagi setelah ini," sambung pria baya disana.
Mendengar itu, mama Dicky sontak terduduk dihadapan papa Nasya. Beliau berlutut, sembari memohon agar papa Nasya menarik kembali keputusan itu. Ia sama sekali tidak ingin hal itu terjadi. "Tidak, Wijaya! Kamu jangan seperti ini! Saya akan pastikan, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.".
Nadila yang melihat itu, mendekati sang paman tersebut, mencoba menenangkan amarahnya meski kelihatannya hal itu mustahil.
Mendengar adanya keributan di depan ruangan, Dicky menatap pintu ruangan Nasya. Telinganya mencoba untuk mendengar apa yang tengah terjadi.
"Saya sangat menyayangi Nasya. Saya tidak ingin kehilangan menantu seperti dia," jelas mama Dicky yang masih memohon pada papa Nasya disana. Ia mendongakkan kepala, menatap pria baya yang buang muka darinya.
Tidak respon dari papa Nasya, ia benar-benar sudah membulatkan keputusannya itu.
Nadila menghampiri mertua dari kakak sepupunya tersebut, "Sudah, Tante. Bangunlah," ucanya dengan membantu wanita baya itu berdiri.
Di detik kemudian, Dicky keluar dari dalam ruangan Nasya. Ia sebelumnya heran dengan apa yang terjadi dan terkesiap saat melihat sang mama yang sudah mengalirkan air mata. "Ada apa, ma?," Dicky panik melihat sang mama yang menangis.
Tak ada jawaban dari sang mama, dalam hati, ingin sekali wanita itu memarahi anak tunggalnya tersebut.
Melihat Dicky disana, papa Nasya menoleh cepat dengan tatapan bak seorang pembunuh.
Dicky menoleh pada sang mertua, "Apa yang terjadi, pa?," tanyanya yang kini berada disebelah sang mama.
"Gara-gara kamu! Anak saya sekarang terbaring dirumah sakit!...," ucap papa Nasya yang masih menekan kata-katanya. Beliau tak menghiraukan pertanyaan Dicky sebelumnya.
Dicky mengalihkan wajah, menghindari tatapan tajam dari sang mertua. "Saya tidak mau tau, setelah Nasya sadar dan sembuh nanti. Kamu harus berpisah dengannya. Titik!!!," ucap papa Nasya masih dengan nada dan penekanan kata yang sama.
Dicky terkesiap, matanya membola mendengar keputusan tersebut. Ia melirik mamanya sekilas disana.
Papa Nasya memilih pergi dari hadapan besan dan menantunya. Beliau masuk kedalam ruangan Nasya untuk melihat kondisi anaknya saat ini, diikuti oleh Nadila disana.
"Ma, itu tadi ga bener kan?," Dicky memastikan hal itu pada sang mama. Ia tidak percaya dengan apa yang barusaja didengar olehnya.
"Apa yang kamu dengar itu benar. Papa Nasya sudah membulatkan keputusannya. Dia sangat kecewa dengan kamu," Mama Dicky menjawab sembari perlahan duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruangan Nasya.
Dicky terpaku ditempatnya setelah mendengar jawaban sang mama. Berpisah? Itu artinya, ia harus merelakan Nasya pergi dari kehidupannya? Tapi seharusnya, Dicky gembira dengan hal ini. Karena tujuan awalnya adalah menyingkirkan Nasya yang menyebalkan itu, dari kehidupannya. Harusnya dia tersenyum sinis seperti Nabila saat ini. Tersenyum sinis penuh dengan kemenangan.
"Jadi, setelah Nasya sadar nanti, kamu akan menerima surat cerai darinya," jelas sang mama dengan tatapan sendu. Dengan berat hati, ia harus terima untuk kehilangan menantu seperti Nasya.
"Apa?," Dicky menoleh cepat pada sang mama setelah mendengar kata 'Cerai'.
Dengan mata yang berkata, wanita baya tersebut menoleh pada Dicky dengan tatapan tajam. "Kenapa kaget begitu?," Dicky mulai kikuk, mengalihkan pandang setelah mendengar itu, ia tau hal itu pantas diterima olehnya. Orangtua mana yang akan rela membiarkan anaknya menjadi korban perselingkuhan dari menantu mereka? Apalagi orangtua yang keras dan tegas seperti papa Nasya.
"Harusnya kamu itu seneng! Kamu udah bisa bebas berhubungan dengan perempuan yang kamu cintai itu.".
Dicky kembali menoleh pada sang mama. Menoleh dengan tatapan sendu.
"Sekarang terserah sama kamu! Papa Nasya bukanlah tipe yang mudah berubah pikiran dalam mengambil keputusan. Selama mama dan papa mengenalnya, Dia akan tetap pada keputusannya.".
__ADS_1
Sejenak, Dicky masih menatap sang mama akan penjelasan itu namun sedetik kemudian ia mengalihkan pandangan.
"Tapi, Jika kamu tetap ingin berhubungan dengan perempuan itu maka pergilah dan jangan pernah pulang kerumah lagi!," ujar sang mama membuang wajahnya dari tatapan Dicky yang kembali menoleh cepat padanya. Wanita baya itu bangkit dari duduknya, ia menatap putra sulungnya sekilas. Lalu pergi dari sana meninggalkan Dicky.
Dicky kembali terdiam ditempat, memikirkan setiap perkataan mertua dan sang mama tadi.
Ya, harusnya kamu merasa senang. Bukankah ini yang kamu tunggu? Ceraikan Nasya dan menikah dengan Nabila. pikirnya.
Tidak! Hal ini tidak benar. Hal ini tidak boleh terjadi. batinnya menjawab.
"Argh....".
Dicky merasa kesal sendiri. Ia mengacak-acak rambutnya. Bimbang, Apa yang harus ia lakukan sekarang? Untuk siapa hatinya sekarang? Ah, benar-benar posisi yang sulit.
.
.
.
"Bagaimana keadaanya, dok?.".
Semua yang ada di depan ruang operasi, seketika merapat kearah pintu ruang operasi tatkala sang dokter keluar dari dalam ruangan. Dua wanita baya disana terlihat sangat mencemaskan pasien yang baru saja menyelesaikan masa operasi. Begitupun pula pemuda dengan luka lebam yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Ya, Mama Putri, Mama Nasya dan Reza. Ketiganya masih setia menunggu kabar tentang Putri dari sang dokter.
Dokter itu menghela napas terlebih dahulu, sebelum menjelaskan keadaan pasien. Terlihat raut wajah sang dokter jauh lebih baik dari sebelum Putri di operasi. "Syukurlah, operasi berjalan lancar dan pasien barusaja melewati masa kritisnya," jawab dokter membuat ketiganya bernapas lega.
"Boleh saya masuk, dokter?," pinta Mama Putri yang sudah tak sabar ingin menemui anaknya.
Tersenyum "Tentu saja, tetapi setelah pasien di pindahkan dari ruang operasi," jawab dokter. Itu artinya, sang mama tidak bisa menemui anaknya saat ini dan harus menunggu untuk beberapa menit lagi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," sambung dokter, pamit pergi dari hadapan ketiganya.
"Sabar, tante. Nanti kita akan melihat keadaan Putri," ucap Reza memegang kedua bahu Mama Putri, menenangkan wanita yang khawatir itu.
Sementara mama Nasya, ia menangkupkan kedua tangan di dada. Sejak mendonorkan darahnya, dalam hati beliau terus-menerus berdoa untuk keselamatan Putri. Padahal ia baru saja bertemu dengan perempuan itu tadi saat brankar Putri dibawa masuk kedalam ruang UGD namun, mama Nasya merasa sudah mengenalnya sangat lama. Bahkan kecemasannya bak seperti sedang mencemaskan anaknya sendiri.
.
.
.
"Gawat! Gue harus cepat-cepat pergi dari sini," Andre yang kini sibuk memasukkan baju dari dalam lemari ke dalam koper secara asal. Ia panik setelah apa yang terjadi beberapa jam lalu. Niat untuk bersenang-senang bersama perempuan yang sudah dibayar mahal, ia malah menjadi panik dan ketakutan seperti ini. Tentu saja, pasalnya kejadian yang menimpa Putri tidak ada dalam skenario bejatnya itu.
"Gue gamau masuk penjara!," ucapnya lagi dengan menutup koper dan beranjak pergi meninggalkan apartemen miliknya.
Disisi lain, Bisma yang sudah berada dirumah beberapa jam yang lalu, namun pikirannya masih tertuju pada apa yang dilihatnya secara langsung itu. "Apa... dia akan selamat?," gumamnya yang tanpa sadar mengkhawatirkan keadaan Putri.
Lalu, sedetik kemudian, "Argh! Apaan sih? Terserah dia mau selamat atau enggak. Ngapain gue pusing mikirin," gerutunya, mencoba mengabaikan apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Bisma lalu beranjak menuju kamar. Ia menghempaskan kasar tubuhnya diatas kasur. Meraih ponsel yang tak jauh darinya. Ia tersenyum, menatap layar ponsel itu. "Ini cewe boleh juga," ucapnya tersenyum lebar menatap poto perempuan yang ada di ponselnya. Namun, pikirannya tetap kembali lagi tertuju pada kejadian sebelumnya. Kejadian yang menimpa Putri, kekasihnya. Ah, bukan. Tapi mantan kekasihnya.