
Harusnya, kamu bahagia! Apa yang kamu harapkan, sekarang terwujud. Jadi, buat apa memikirkan hal yang tidak berguna dan bersedih hati seperti ini?.
Dicky duduk di kursi tunggu yang ada didepan ruangan Nasya. Pandangannya kosong, lurus kedepan. Perkataan papa Nasya terekam sangat jelas di kepalanya.
"Gue...," batinnya dengan sedikit ragu berkata, "...Gue gamau pisah sama lo," sambung sang batin kini dengan yakin.
Dicky menundukkan kepala. Hatinya terasa sesak mengingat ia akan menerima surat cerai dari sang istri setelah istrinya itu sadarkan diri nanti.
"Dicky, bagaimana keadaan Nasya?.".
Pertanyaan itu membuat Dicky menoleh ke sumber suara. Ya, sang mertua yakni mama Nasya, barusaja tiba didepan ruangan anaknya itu, dimana didalam ruangan sudah ada sang suami dan Nadila.
Dicky beranjak dari tempatnya, ia berdiri menyamai posisi sang mertua. "Apa dia sudah sadar?," tanya wanita baya itu.
Dicky mengalihkan wajah sekilas dari tatapan sang mertua "Nasya belum sadar, ma.".
Karena khawatir, wanita baya itu segera masuk kedalam ruangan sang anak.
Terlihat, pria baya itu duduk disebelah brankar Nasya. Ia segera menoleh ketika suara pintu terbuka terdengar di telinga.
Mama Nasya melihat sekilas kearah suami dan keponakannya lalu melirik anak sulungnya yang terbaring diatas brankar. "Sayang...," ucapnya sembari mendekati brankar Nasya. Mata kembali berkaca, melihat keadaan Nasya saat ini.
"Kamu!!!.".
Suara papa Nasya membuat mama Nasya dan Nadila menoleh saat pria baya itu berjalan mendekati Dicky yang berada diambang pintu.
"Kenapa kamu masih disini? Pulang saja sana!!!," ucap pria baya tersebut.
Dicky menatap sendu sang papa mertua, "Aku akan tetep disini, pa. Aku mau nemenin Nasya sampai dia sadar.".
"Ga perlu! Lebih baik kamu temui saja perempuan selingkuhan kamu dan jangan pernah datang kesini lagi untuk menemui Nasya!," tegas pria baya tersebut.
Hal itu membuat mama Nasya tersentak kaget dengan apa yang baru saja di dengar olehnya. Belum sempat Dicky menjawab, mama Nasya menghampiri sang suami, "Pa....".
"Apa? Mama mau membiarkan dia disini? Menjaga Nasya? Mama mau nyawa Nasya terancam lagi?," cela pria baya tersebut saat sang istri hendak membela menantunya.
Mendengar penuturan itu, mama Nasya tak dapat menyangkal. Percuma saja, Suaminya itu sudah terlanjur kecewa dan marah pada Dicky. Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan yang sudah dibuat olehnya mustahil bisa diubah lagi.
Papa Nasya kembali menatap tajam Dicky yang ada dihadapannya, "Pergi kamu dari sini!.".
Dicky masih dengan niatnya, tetap disana dan tidak ingin meninggalkan Nasya. "Enggak, pa. Dicky akan tetep disini.".
"Ngapain kamu disini? Toh, saya tidak akan membiarkan Nasya bertemu dengan kamu!," balas pria baya tersebut.
Sebuah tangan menyentuh lengan pria baya itu. "Pa, sudahlah. Biarkan saja Dicky disini! Lagipula, dia itu suaminya Nasya," sahut sang istri.
Dicky menatap mama mertuanya sekilas lalu kembali menatap sang papa mertua yang sejenak diam atas penuturan sang istri.
"Hanya untuk saat ini, kamu memang suami Nasya tapi setelahnya kamu bukan lagi suaminya Nasya!," ujar pria baya itu dengan penekanan di tiap kata, menatap tajam menantunya disana. Lalu, sedetik kemudian keluar dari dalam ruangan Nasya.
__ADS_1
Dicky yang menatap kepergian papa mertuanya, sedikit menundukkan kepala. Ia sadar dan mengerti, kenapa sang papa mertua menjadi seperti itu padanya. Ya, karena ini semua salahnya. Yang membiarkan Nabila datang kerumah. Ia juga tak menyangka jika Nabila akan bertindak sejauh itu pada Nasya.
Mama Nasya hanya menatap sendu sang menantu. Sejujurnya, ia tidak ingin jika rumah tangga anaknya akan berakhir seperti ini namun, ia juga kecewa dengan apa yang telah di lakukan oleh Dicky.
Tidak ada yang disampaikan oleh mama Nasya setelah suaminya pergi. Ia berbalik dan kembali mendekati brankar Nasya. Memandang wajah Nasya, berharap anak sulungnya itu segera membuka mata.
»
Bisma baru saja selesai dengan kaca yang ada di kamar. Mengenakan pakaian rapi serta parfum andalannya untuk memikat perempuan yang kini akan menggantikan posisi Putri sebagai kekasihnya. Ia berjalan meninggalkan satu per satu ruangan di dalam rumah tersebut. Rumah besar yang terlihat sepi dengan sebagian ruangan yang nampak gelap.
"Wuih, Lagi seneng nih," ucapnya saat melihat temannya yakni Nabila baru saja tiba disana dengan senyum bahagia di wajah.
Nabila hanya melirik Bisma disana dan duduk di kursi yang ada didepan rumah Bisma tersebut.
"Emangnya ada apaan nih?," Bisma menjadi penasaran dengan raut wajah temannya itu dan ikut duduk disebelah Nabila. Tentu saja, pasalnya sejak kekasihnya Dicky menikah, Nabila selalu menunjukkan wajah yang kesal.
"Lo tau? Akhirnya, Dicky jadi milik aku seorang!," ujarnya meluapkan rasa bahagianya.
Bisma terkesiap mendengar itu, seakan tak percaya, "Serius lo?.".
Nabila menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan itu.
"Kok bisa?," tanya Bisma heran.
Seketika senyum Nabila itu menghilang akan pertanyaan Bisma. "Lo tu ya, bukannya kasih gue ucapan selamet, ini malah heran kayak gitu.".
Nabila kembali menyunggingkan senyuman.
"Eh, emang istrinya Dicky udah lo singkirin?," Bisma mengernyit, menatap perempuan disebelahnya itu.
Nabila tersenyum sebelah bibir, melirik Bisma disana. "Dengan sendirinya tu cewe bakalan pergi dari hidupnya Dicky," jawab Nabila membuat Bisma semakin mengkerutkan dahi. "Tu cewe pergi sendiri? Lah, kok bisa?.".
"Banyak tanya deh lo!," ketus Nabila pada Bisma yang selalu memberikan pertanyaan padanya.
Bisma mendengus kesal dengan perkataan Nabila seperti itu. Ia memanyunkan bibir dan mengalihkan pandangannya sekilas dari Nabila.
Lalu, sedetik kemudian, Bisma kembali menatap Nabila dengan senyum yang tersungging diwajah. "Eh, itu si istrinya Dicky cantik ga sih?," Bisma kembali memberikan pertanyaan yang membuat Nabila menoleh cepat padanya dengan tatapan tajam.
"Eh, lo tu kalo nanya dipikir dulu...," ucap Nabila membuat Bisma mengkerutkan dahi. "...Cantik apaan? tu cewe gaada cantik-cantiknya sama sekali," kesal Nabila dengan memajukan bibirnya layaknya seorang ibu-ibu tengah memarahi anaknya.
"Biasa aja dong tu bibir! Gausah di maju-majuin gitu! Ntar gue cium," ketus Bisma disana.
Nabila kembali menatap Bisma, namun kali ini dengan tatapan yang super tajam. "Najis gue!," ketusnya.
Bisma hanya terkekeh, ia lalu beranjak dari tempat duduknya "Mau kemana lo?," tanya Nabila yang heran saat Bisma mendekati mobilnya sembari menekan remote mobilnya. "Cari pacar!," jawabnya.
Nabila mendeha medengar itu, ia melipat tangannya sembari menatap temannya
yang playboy itu, "Cari pacar? Itu yang kemaren mau lo kemanain?.".
__ADS_1
"Gue kasih sama Andre," jawab Bisma masih dengan kegiatannya, tanpa menoleh ke arah Nabila.
"Gila lo ya! Nekat juga lo jual tu cewe," balas Nabila yang nampak terkesiap dengan apa yang dilakukan Bisma tersebut.
"Andre ngajakin gue taruhan karena gue lagi ga ada duit, yaudah tu cewe gue jadiin taruhannya," jelas Bisma melirik Nabila disana.
Nabila membola dengan hal itu, "Parah lo! Kalo gue jadi tu cewe, udah gue habisin lo.".
"Alaaa, cewe polos kayak si Putri mah ga bakal tega ngelakuin itu. Dia tu cinta mati sama gue makanya mau aja gue kibulin," jelas Bisma yang kini benar-benar menatap Nabila di kursi depan rumahnya itu.
Setelah mendengar itu, Nabila tidak membalas lagi. Ia hanya geleng kepala akan hal itu, Sudah ke sekian kalinya Bisma melakukan hal seperti itu. Tak terhitung. Layaknya sebuah permen karet, Habis manis sepah dibuang.
»
Beberapa pria bertubuh besar itu terus saja mengejar dirinya. Begitupula dengan sang kekasih yang juga mengejar dirinya. Perempuan itu terus berlari tanpa melihat apa yang ada didepan. Hal itu bagaikan sebuah Dejavu, sesuatu hal yang sepertinya sudah pernah terjadi.
Perempuan itu terus berlari, menjauh dari pria-pria yang mengejarnya. Seperti yang dilakukan oleh anak kecil berumur 3 tahunan yang berlari pergi ketika sepasang suami-istri tengah mengejar dirinya. "Tunggu, nak!.".
Anak itu terus berlari tanpa memperdulikan panggilan dari pasangan suami-istri itu.
"Kamu mau kemana, nak? Tunggu dulu!," ucap wanita tersebut. Tetap saja anak tersebut berlari dari mereka.
"Tunggu, nak!.".
Anak kecil yang berlari sembari sesekali menoleh kebelakang itu seketika nampak seperti perempuan yang tengah berlari, menjauh dari para pria bertubuh besar itu.
"Hei! Berenti lo!.".
Lagi, sosok perempuan yang terus berlari tanpa melihat yang ada didepannya itu bagai menyatu dengan sosok anak kecil yang berlari pergi dari pasangan suami-istri tersebut. Dejavu~
"Kamu udah sadar, sayang?.".
Sebuah senyum tersungging lebar di wajah yang panik nan khawatir dari wanita baya ini. Ia menatap anak tunggalnya yang baru saja membuka mata pasca melakukan operasi.
Dengan masih mengenakan masker oksigen dan beberapa alat lainnya. Perempuan yang kini terbaring lemah tersebut, perlahan menoleh ke sumber suara yang sangat familiar di telinganya.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar," Wanita baya itu menggenggam erat telapak tangan sang anak. Betapa senang rasanya melihat anak kesayangannya itu akhirnya tersadar dari tidurnya.
Meski samar-samar, perempuan itu terus mengerjapkan tatapannya, memperjelas penglihatannya.
"Sayang, ini mama, nak," ucap wanita baya tersebut yang sesekali mencium tangan anaknya. Dengan air mata, kebahagiaan.
"Ma..Ma...," lirih perempuan tersebut sehingga membuat masker oksigen tersebut nampak beruap. Air mata wanita tersebut kembali mengalir, mendengar sang anak memanggilnya.
Tak berapa lama, "Putri...," Reza nampak terkesiap melihat itu. Reza yang datang membawakan makanan untuk wanita baya tersebut, bergegas meletakan makanan tersebut, sembarang dan menghampiri wanita baya yang berdiri di dekat brankar tersebut.
"Putri udah sadar, tante?," tanya Reza seakan tak percaya.
Sembari mengalirkan air mata, wanita baya itu melirik Reza sekilas dengan mengangguk lalu kembali menatap anaknya yang terbaring disana. "Putri udah sadar," ucapnya meyakinkan pemuda tersebut.
"Syukurlah, Akhirnya lo sadar juga, Put," ucap Reza kepada Putri yang hanya melirik keduanya disebelah brankarnya. Akhirnya, wanita baya dan Reza kini dapat berlega hati karena Putri sudah membuka matanya.
__ADS_1