
Pria berumur terlihat emosi kala obsidiannya menangkap sosok sang menantu –Dicky berdiri di depan kamar rawat putrinya. Tangannya mengepal, Kenapa lagi bocah itu disini? Gemeretak giginya terdengar. Bukti jika beliau tidak dapat menahan luapan amarah di dadanya. Huh, orang tua mana yang tidak akan marah saat mengetahui anaknya hampir terbunuh oleh suaminya sendiri. Apalagi kenyataan bahwa ia sudah sangat mempercayakan putrinya pada pemuda itu. Seseorang yang seharusnya bisa melindungi putrinya malah berbalik mencelakai. Belum lagi ditambah hal itu karena perselingkuhan yang melibatkan menantunya itu. Membuat rasa bencinya meningkat berkali-kali lipat.
"Ngapain kamu disini?," Beliau mendekat sembari memberi sentakan kuat pada kalimatnya. Menyalurkan segenap kebenciannya pada pemuda itu.
Bentakan kuat yang Dicky dengar sontak mengagetkan pemuda itu. Nyaris membuatnya jantungan. Itu mertuanya? Oh Tuhan kenapa di saat seperti ini ia harus bertemu pria tegas itu? Jelas ia sudah memperhitungkan waktu guna menghindari pertemuannya dengan sang mertua. Jujur ia takut bertatap wajah dengan beliau. Jelas semua atas kebodohannya. Dan seperti seorang pengecut ia lebih memilih menghindar dulu dari mertuanya.
“Si ... siang, Pa!,” mencoba mengalahkan rasa takutnya, Dicky mencoba menyapa. Ia mengulurkan tangannya bermaksud menyalimi Pria baya dihadapannya yang masih menatapnya galak. Namun sebelum jemarinya bersinggungan dengan tangan Papa mertuanya, pria baya sudah lebih dulu menepis kasar tangan kurus itu.
"Sebaiknya kamu pergi!," Ujarnya dingin. Tetap pada tatapan galaknya, membuat Dicky semakin menciut.
"Ma –Maaf, Pa. Aku hanya ingin menemui Nasya." Mencicit, Dicky mencoba menatap berani kedalam mata sang mertua. Dan ...
Glekh!
Ia tercekat. Semakin ia mencoba bersikap baik. Pria baya itu semakin gencar menyuguhinya tatapan tajam. Belum lagi ditambah aura gelap yang menyeruak dari balik tubuh kokoh sang Papa mertua.
"Tidak perlu!" sorot mata pria baya itu semakin tajam, menatap menantu yang telah membuatnya kecewa itu. "Kamu tidak perlu menemui Nasya lagi!"
"Tapi, pa. Dia istri aku. Aku masih suami nya Nasya," Bola mata Dicky terlihat memerah dengan bendungan air bening di pelupuk mata. "Aku berhak untuk menemuinya, pa" lirih Dicky.
"Saya tidak peduli! Pokoknya, kamu tidak perlu menemui anak saya lagi. Lagipula, sebentar lagi kamu sudah bukan suami Nasya!" Masih dengan tatapannya, pria baya itu kini menekan kata-katanya. Dan Dicky terkejut mendengar itu.
Sebentar lagi? Bukan suami Nasya? Tidak tidak. Ia tidak ingin hal itu terjadi.
"Ma...Maksud Papa?"
\*
"Lo mau coba-coba sama gue?," Wanita itu tersenyum sinis, membayangkan sosok pria yang baru saja ia temui di rumah sakit. "Gue akan buat lo nyesel karena udah lupain janji lo ke gue!.".
Jemari lentik itu meraih ponsel berhiaskan manik-manik yang ada di atas nakas sebelum akhirnya mencari sesuatu di sana. Jemari kurus itu menekan beberapa perintah pada smartphonenya.
Senyum miring tertoreh kala mendapati panggilan teleponnya di jawab oleh seseorang di seberang sana. "Halo, Ndre!.".
»
"Apa yang terjadi dengan Nasya ?," Putri menatap Reza yang duduk di sebelah brankarnya.
"Kenapa dia memakai baju rumah sakit?.".
Reza tersenyum menanggapi pertanyaan yang terlontar kepadanya. Menarik nafas sesaat, ia menatap gadis yang berada diatas brankar, yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Dia jatuh dari tangga, dihari yang sama saat lo kecelakaan." jelasnya singkat.
Putri terlihat terkejut mendengar hal itu. Jatuh? Nasya jatuh dari tangga?
"Bagaimana bisa?," tanyanya cepat nyaris terpekik akibat terlampau terkejut. Ya ampun baru saja ia tau soal Nasya dan sekarang malah mengetahui tentang keadaan gadis itu.
Reza memiringkan kepalanya "Ceritanya panjang. Sekarang, lo istirahat aja. Gausah mikirin soal itu!" katanya. Tangannya mendorong pelan bahu Putri untuk terbaring ke atas ranjang. Menyuruh gadis itu untuk kembali beristirahat.
dan Putri menurut, tak bisa menolak kala CEO muda itu merebahkannya secara lembut. Pria yang menjadi CEO di perusahaan RIGroup itu menarik selimut berwarna biru muda lalu menyelimuti sebagian tubuh putri.
Gadis itu tersenyum simpul lalu sorot matanya tertuju ke arah pintu cokelat disana. Dan ia kembali menatap Reza yang masih duduk di sebelah brankar.
"Gimana kabar ayah?," Ah, Gadis ini masih saja memikirkan hal lain. Bukankah Reza sudah menyuruhnya untuk beristirahat?
"Kondisi ayahmu sekarang sudah membaik. Dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang sore ini.".
"Syukurlah." Ujarnya, tersenyum lega. Ia mengalihkan sorot matanya, sekilas. Lega rasanya mendengar kabar seperti itu. Ia sangat ingin melihat keadaan sang ayah tapi apa boleh buat, untuk pindah posisi menjadi duduk saja rasanya sulit sekali.
"Lalu ibu?," Putri kembali menoleh cepat pada Reza. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu ibu dalam mengurus ayah dan malah membuatnya susah seperti ini.
Reza tersenyum, tak ingin membuat gadis itu khawatir "Ibumu baik-baik saja. Dia belum bisa kesini karena harus mengurus ayahmu dulu."
Putri mengangguk pelan, tanda ia mengerti bagaimana sibuknya sang ibu saat ini. Ia menatap langit-langit, berharap ia bisa membantu meringankan beban sang ibu. Lalu...
Lagi, Gadis itu kembali menatap Reza yang masih setia melihat dirinya. Reza mengangkat alisnya "Kenapa?"
"Maaf..." Putri berucap tulus "Karena–gue... sempet ga percaya sama lo soal—Bisma." Tambahnya. Gadis itu sesekali menghindari kontak mata dengan Reza. Entah lah, ia sedikit merasa tidak enak dengan pemuda ini. Semacam perasaan bersalah!
"Dan gara-gara gue, lo jadi dipukulin sama orang-orang itu." Ia masih melanjutkan. Matanya menerawang kembali mengingat kejadian itu.
Dan Reza masih tersenyum menanggapi celotehan Putri. Pria itu agak gemas, kenapa hari ini gadis ini begitu cerewet?
"Gaada yang perlu disalahin!,” katanya menenangkan.
“Lagian gue baik-baik aja, pukulan orang-orang itu belum ada apa-apa nya.” Telunjuk dan jempolnya bertaut, membentuk pose menyepelekan sembari terkekeh pelan.
“Jadi jangan menyalahkan diri sendiri." Sambungnya lagi. Kali ini dengan sorot mata tegas yang langsung menatap lurus kedalam manik sang gadis.
Meski begitu, tetap saja Putri merasa tidak enak pada pria itu. Bahkan luka lebam diwajah pria tersebut masih terlihat jelas. Bagaimana bisa dia tidak menyalahkan dirinya sendiri?.
.
.
.
__ADS_1
Pria ini tersenyum sebelah bibir, setelah sang telinga mendengar kabar dari sebuah ponsel. Sifat bejatnya itu kembali muncul, mengabaikan rasa takut setelah apa yang terjadi padanya beberapa hari yang lalu. Rasa takut akan tertangkap dan tinggal di beruji besi itu hilang seketika. Hilang begitu saja. Seolah tak terjadi apapun sebelumnya.
"Hal yang kayak gini, ga boleh di sia-siain" Senyum miring kembali tersungging di wajahnya. Pikiran-pikiran kotor itu mulai bermain di dalam kepalanya. Seakan tak sabar untuk melakukannya bersama wanita yang akan menjadi target selanjutnya.
Sesaat kemudian, pria itu tertawa. Ya, dia tertawa. Mungkin menurutnya itu bagus tapi jika dilihat rasanya sangat menjijikkan dengan ekspresi yang ia tampakkan itu. Dia seperti salah satu pasien dari rumah sakit jiwa. Mengapa? Tentu saja, diruangan yang sunyi itu dengan keadaan gelap, ia tertawa sendirian. Ah, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.
»
Dicky berjalan lemas keluar dari rumah sakit tempat istrinya dirawat. Pandangannya kosong, menatap lurus ke depan. Ia terlihat seperti orang yang sudah tidak punya tujuan hidup saja.
"Saya sudah mengajukan gugatan cerai atas nama Nasya di pengadilan!" Kalimat dengan nada tegas itu masih terngiang di kepalanya. Bahkan tatapan tajam yang seakan ingin membunuhnya itu masih terekam jelas.
"Kamu harus menandatangi surat itu!" tegas suara serak tersebut. Rasanya, pria baya itu ingin membunuh menantunya dengan tangannya sendiri. Bagaimana bisa dia mempercayakan putri semata wayangnya kepada pria yang berhubungan dengan wanita lain.
"Enggak, pa. Aku ga akan pernah menandatangi surat itu!" Dicky membalas dengan suara yang bergetar. Ia sedikit takut membantah perkataan papa Nasya. Meski begitu, ia harus melakukannya. Jika memang tidak ingin berpisah dengan Nasya, ia harus melakukan hal apapun walaupun nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.
Sementara itu, disisi lain.
Wanita yang mengenakan pakaian rumah sakit itu terdiam ditempatnya, tak jauh dari sang papa dan pria yang bersama dengan papanya. Ia terlihat menahan sebuah bendungan di pelupuk matanya, memandang papa dan pria itu.
"Jika tidak, saya akan tuntut kamu karena kasus percobaan pembunuhan terhadap anak saya!!!" Suara itu lagi-lagi terdengar tegas dan kali ini penuh dengan penekanan. Pria baya itu menoleh dengan tatapan membunuh pada Dicky.
Dan Dicky tersentak mendengar itu. Percobaan pembunuhan? Kenapa ia harus dituntut? Ah, yang dikatakan oleh mamanya benar. Papa Nasya benar-benar orang yang berkomitmen. Beliau tak mudah untuk mengubah keputusan begitu saja. Bahkan, beliau punya beribu cara untuk menjalankan keputusan itu.
"Di---tun--tut...?" Dengan sendu, Dicky berucap terbata. Kenapa? Kenapa dirinya? Rasa sesak itu kembali menyeruak didalam dadanya. Ingin rasanya berteriak sekuat mungkin namun ia masih bisa menahannya.
Pria baya itu hanya tersenyum remeh melihat ekspresi Dicky saat itu. Ia tak berkata apapun lagi dan berjalan masuk ke dalam kamar inap putrinya. Namun...
"Papa..."
Suara itu, berhasil membuat kedua pria berbeda umur itu menoleh. Seorang wanita yang tidak lain adalah Nasya berlari kecil menghampiri sang papa dengan sebuah senyum terhias di wajahnya, seakan ia tak mendengar pembicaraan apapun.
"Papa udah dateng." Ia merangkul lengan sang papa, seperti anak kecil yang sedang menunggu dijemput papanya.
Pria itu terkejut, mendapati anaknya berada diluar kamar inap. "Kamu dari mana? Kenapa keluyuran begini!" Suara serak itu bernada sedikit marah dengan kelakuan putrinya.
Dan Nasya memasang wajah cemberut "Maaf, pa. Aku bosan di dalam jadi aku pergi menemui Reza." jawab wanita itu lalu tersenyum. Dan pria baya itu memaklumi, Ia mengerti bahwa anaknya itu merasa bosan dan pria itu tak begitu masalah saat Nasya berkata bahwa ia pergi menemui Reza karena beliau sudah mengenal baik pria itu. Ah, seharusnya ia mempercayakan anaknya pada Reza bukan pada pria yang ada di hadapannya ini.
"Mama mana?" Sorot mata Nasya mencari sosok mama disana.
"Mama sedang ke toilet." Nasya mengangguk pelan. Lalu beralih pada pria yang masih berdiri di hadapan mereka.
Dicky memandang sendu istrinya itu. Ia harus siap mendengar kalimat dari Nasya yang mengatakan bahwa Nasya tak mengenal dirinya.
Nasya menatap papanya, sekilas. Ia heran, pria itu selalu berada disini, di depan kamar inapnya. "Dia siapa, pa? Papa kenal?" Dan benar, kalimat yang keluar dari mulut Nasya membuat hatinya serasa dicabik-cabik. Nasya tetap tak ingat kalau Dicky adalah suaminya.
__ADS_1
Dan pria baya itu menatap sinis kearah Dicky, "Bukan siapa-siapa. Ayo masuk ke ruanganmu!"