
“Lepas!,” Nadin meronta kuat, melepaskan tangannya dari pegangan Dicky. Ia menatap kesal pada pria tersebut.
“Lo harus tanggung jawab!,” ujar Dicky seraya menahan lengan Nadin. Wanita tersebut terlihat mirip dengan seseorang yang membuat rumah tangganya kini berada diujung tanduk yakni Nabila. Tapi sebenarnya, penyebab hal itu bukanlah sepenuhnya salah dari Nabila karena sebelumnya Dicky lah yang berniat untuk bercerai dengan Nasya.
“Apaan sih? Itu bukan salah gue!,” Nadin berdalih, mengatakan bahwa kejadian yang menimpa Putri bukanlah salahnya. Dan ia kembali mencoba untuk melepaskan tangan dari cengkeraman Dicky. Namun, pria itu tidak melepaskannya, Tidak! Tidak semudah itu.
Tak lama setelahnya, Reza keluar dari dalam kamar inap Putri, membiarkan Dokter dan Suster berada di dalam sana. Ia melangkah gontai, beban rasa bersalah bergelayut di pundaknya. Seharusnya... Ia tidak meninggalkan Putri sendirian. Seharusnya ia berada di sana, tetap bertahan di dalam posisinya dan kejadian itu tidak terjadi.
Helaan napas terlontar, Reza memejamkan mata, memijit pangkal hidung yang terasa berdenyut. Sesak luar menindih dada, membuatnya susah hanya untuk sekedar bernapas.
Dicky yang melihat Reza keluar, langsung melangkah mendekati pria itu. Sebelah tangan masih setia memegang Nadin, menyeret perempuan itu untuk ikut bersamanya. “Gimana?,” tanyanya khawatir.
Mendengar pertanyaan tersebut, tentu membuat Reza menoleh. Namun, sorot matanya bukan tertuju pada Dicky. Ia lebih memilih mengabaikan pertanyaan tersebut dan menatap wanita tak dikenal yang menyebabkan Putri jadi seperti sekarang ini. Ia menggeram saat melihat sosok wanita asing itu di depan kamar inap Putri. Setahunya, Putri tak pernah mengenal orang yang berperawakan seperti wanita berbaju ketat dan seksi itu.
“Kenapa lo lakuin itu sama Putri?,”.
Wanita itu tersenyum miring akan pertanyaan yang diberikan oleh Reza. Ia nampak berde-cih, beralih sekilas dari tatapan Reza. “Memang apa yang gue lakuin?,” wanita itu balik bertanya seolah tak melakukan apapun.
Dan Reza mengepalkan tangan mendengar ucapan wanita itu yang seolah tak berdosa sedikitpun. Jika saja dia bukan wanita mungkin, Reza sudah memukulnya dari tadi.
“Udahlah. Kita bawa aja dia ke kantor polisi!,” Ujar Dicky yang masih setia tak ingin melepaskan Nadin.
Hal itu membuat Nadin terbelalak. Kantor Polisi ? Tidak. “Apa? Ke kantor polisi? Memangnya gue salah apa?,” ucapnya masih dengan sikap yang seolah tak bersalah.
Kali ini Reza yang tersenyum miring padanya. “Lo masih tanya salah lo apa?,” Kedua pria disana itu menatap Nadin dengan tajam. Dan Nadin membisu ditempatnya. Namun, bukan berarti wanita ini menyerahkan dirinya untuk dibawa ke kantor polisi. Dibalik mulutnya yang terbungkam, Isi kepalanya bekerja. Ia tengah berpikir untuk lari dari sana.
.
.
.
SREEET!
Pintu berwarna coklat disana baru saja terbuka, membuat penghuni ruangan menoleh untuk melihat siapa yang datang.
“Kak Nasya!,” teriak pelan perempuan muda disana dengan sebuah parsel buah di tangannya.
Nasya sedikit memicingkan mata dan “Nadila,” Ujarnya. Perempuan bernama Nadila itu bergegas mendekati brankar. Wajahnya terlihat sangat khawatir. “Gimana keadaan kakak? Apa masih ada yang sakit? Ah, Kepala kakak masih pusing?,”.
Nasya terkekeh mendengar pertanyaan beruntun dari sang adik sepupu. “Kakak udah baik-baik aja sekarang,” jawabnya lembut.
“Maaf, aku baru bisa dateng buat jenguk kakak,” Nadila dengan raut wajah menyesal.
Senyum terukir diwajah Nasya “Gapapa, kakak ngerti kok. Kamu pasti sangat sibuk ngurus kantor kan?,” Nadila mengkerutkan dahi. Pertanyaan itu terdengar aneh baginya. Bukankah, bibi bilang kakak sepupunya ini mengalami transient global amnesia ? Dimana ia tidak akan bisa mengingat apapun yang berkaitan dengan orang yang ada saat kecelakaan itu terjadi. Lalu, Bagaimana bisa ia tau bahwa wanita bernama Nadila itu sibuk mengurus kantor, yang mana itu adalah kantor suaminya.
“Apa...,” Nadila melirik curiga pada sang kakak. “... kakak ingat sesuatu?,” Tanyanya yang membuat Nasya mengalihkan wajahnya dari tatapan Nadila.
“Engh... Se—Sesuatu....?,” Dengan cepat Nadila menganggukan kepalanya. Bisa saja, apa yang dikatakan oleh dokter itu salah. Ia sangat berharap jika kakaknya itu bisa mengingat sesuatu yang berkaitan dengan suaminya. Lagipula ia merasa kasihan pada kakak sepupu iparnya.
Nasya sesekali melirik Nadila disana dan sedikit memiringkan kepalanya, mengingat Nasya yang baru saja sadar telah berkata ‘sibuk ngurus kantor’. “Err, Entahlah...,” jawabnya dengan sedikit menggaruk kepala.
Nadila terlihat kecewa mendengarnya. Kelihatannya sang kakak belum mengingat sesuatu tentang Dicky. Tapi, bagaimana ia bisa mengatakan hal itu ? pikirnya. Ingin sekali rasanya ia menanyakan hal itu pada kakaknya itu namun setelah apa yang dikatakan oleh paman, ia hanya bisa diam. Mungkin ada bagusnya jika kakak sepupunya itu sama sekali tidak ingat tentang Dicky.
.
.
.
“Apa papa yakin dengan keputusan ini ?,” Wanita baya dengan rambut pendek tersebut menatap sendu sang suami yang sibuk dengan beberapa berkas di meja kerjanya. Wanita itu perlahan mendekat pada sang suami “Sebaiknya kita beritahukan hal ini pada Nasya.” Lanjutnya.
Pria baya yang sedari tadi sibuk dengan berkas-berkas disana, melirik sang istri yang berdiri dihadapannya “Untuk apa? Mama mau anak kita menderita lagi?,” ujarnya.
“Bukan begitu, pa...,”.
“Lalu apa? ...,“ cela pria baya tersebut. Tatapannya sangat tajam sekali. Sepertinya keputusannya untuk memisahkan sang anak dari menantu nya sudah tidak ada harapan lagi untuk membujuknya.
__ADS_1
“... Jangan sesekali memberitahukan hal ini pada Nasya. Biarkan saja ingatannya hilang tentang pria itu. Lagipula sebentar lagi mereka akan bercerai,” Pria baya itu kembali menatap berkas-berkas di atas mejanya. “Jadi, tidak ada gunanya memberitahu Nasya soal ini!,” lanjutnya.
Dan wanita baya tersebut terdiam. Ia hanya menatap sendu sang suami. Sungguh sangat disayangkan jika rumah tangga anaknya yang baru seumur jagung itu harus berakhir seperti ini. Namun apadaya, tak ada yang dapat ia harapkan lagi jika sang suami memutuskan untuk memisahkan anak dan menantunya.
“Papa sudah mengurus semuanya. Dan mungkin dua hari lagi surat cerai akan dikirimkan pada Dicky,” Ujar pria baya tersebut tanpa menatap sang istri.
.
.
.
“Dari mana saja kamu ?,” Bentak dari suara berat itu seakan menggema di ruangan yang besar tersebut. Tatapan tajam dari pria baya berkumis tebal itu tidak dapat dihindari oleh Nabila. Bahkan wanita itu bersikap biasa saja seakan tak terjadi apapun.
“Bukan urusan papa!,” jawabnya dengan nada santai.
Pria itu masih mencoba untuk menahan luapan emosinya. Tidak disangka anak perempuannya akan bersikap seperti itu padanya. Dan makin hari, sikapnya itu semakin tidak sopan kepada orangtuanya.
Tanpa menghiraukan sang papa disana, Nabila bergegas pergi menuju kamarnya.
“Duduk kamu!,” Ucap pria baya tersebut saat anak perempuannya baru berjalan beberapa langkah setelah melewatinya.
Dan Nabila terhenti, menoleh kearah papanya yang perlahan membalikkan badan, menatap tajam padanya. Ia hanya berdecak, menampak raut wajah yang kesal dan terpaksa duduk di sofa berwarnakan abu-abu tersebut.
Nabila menghela napas beratnya. Telinganya sudah siap untuk mendengarkan ocehan-ocehan yang akan keluar dari mulut pria baya itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan belakang ini ?,”.
Tanpa menatap sang papa “Memangnya apa ?,” jawab Nabila sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tas sandang berukuran kecil yang berwarna keemasan.
“Papa tau, kamu masih mengejar Dicky kan ?,”.
“Lalu ?,”.
Pria baya itu sejenak menghela napasnya, memandang perilaku Nabila yang seperti itu. “Sudah berapa kali papa bilang, jauhin Dicky! Dia itu sudah menikah dan kamu ga pantas buat ngejar dia lagi!,”.
“Udah ga waras kamu? Dia itu sekarang udah jadi suami orang!,”.
“Dila ga perduli,” Bantah Nabila lalu berdiri dari tempatnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari anaknya. Helaan napas kembali keluar dari mulutnya. “Kamu ini! Udah kayak ga ada pria lain saja!,” Nabila mengalihkan wajahnya dari tatapan tajam sang papa. Ia sedikit merasa menyesal pulang ke rumah.
“Pokoknya papa gamau tau, Kamu harus jauhin Dicky! Mau tarok dimana muka papa kalo orang lain tau kamu berusaha ngerebut suami orang ?,”.
Nabila kembali berdecak kesal. Ia menatap pria baya itu sekilas. Lalu bergegas pergi menuju kamarnya dengan sedikit menghentakan kakinya. Dan sang papa lagi-lagi menghela napasnya menatap anaknya yang berjalan menaikki tangga. “Dasar anak tidak tau diuntung!,”.
.
.
.
“Aih, Dicky kemana sih ?,” gerutu pria berkulit putih dan bermata sipit tersebut. Sorot matanya menelusur ke setiap sudut rumah sakit, mencari sang sepupu yang sebelumnya berlari begitu saja dari dalam mobil. Ia sangat khawatir jikalau sepupunya itu akan melakukan hal yang nekat.
Ia sedikit berdecak karena belum menemukan keberadaan Dicky. “Gue bisa di ocehin tante nih,” Ujarnya. Dan kembali berjalan, memeriksa setiap sisi rumah sakit tersebut.
BRUK!
Karena panik tak kunjung menemukan Dicky. Tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita berpakaian rumah sakit yang muncul tiba-tiba dari balik lorong pertigaan rumah sakit.
“Ah, Maaf. Gue ga sengaja,” Ucapnya sembari membantu wanita tersebut untuk berdiri.
Kesal, wanita itu menatapnya tajam. “Kalo jalan tu pake mata dong! Ga liat apa ada orang disini!,” ketusnya.
Rafael tak bisa berkutik, memang salahnya yang terburu-buru dan tak melihat seseorang disana. “Gue bener-bener minta maaf, mba,” Ucapnya lagi.
Wanita itu hanya mendengus lalu pergi dari sana. Dan Rafael menghela napasnya, menatap punggu belakang wanita tersebut. “Dasar! Gue kan udah minta maaf!,” gumamnya.
__ADS_1
\>
“Jalan ga pake liat-liat! Gatau apa ada gue disitu,” Nasya terus menggerutu sepanjang jalan di lorong rumah sakit. Dengan memegang sikutnya yang terasa sakit akibat terjatuh tadi. “Dia pikir ini rumah sakit milik bapaknya, sembarangan aja jalan!,” Nasya mengelus-elus sikut kiri nya.
Setelah merasa tak begitu sakit lagi, sorot mata wanita ini beralih pada Reza dan beberapa orang yang berada didepan kamar inap Putri. Disana juga ada Dokter dan suster. Khawatir, Nasya bergegas menghampiri sang sahabat, Reza disana.
“Tidak apa-apa. Pasien hanya pingsan akibat merasakan sakit pada kakinya,” Pernyataan sang dokter terlihat membuat mereka yang ada disana bernapas lega.
“Syukurlah,” Ujar wanita parubaya yang tidak lain adalah ibunda Putri. Wanita itu menangkupkan kedua tangannya. Lalu, wanita tersebut kembali menatap pria dengan jas putih dihadapannya. “Apa saya sudah boleh melihat keadaan anak saya, dokter?,”.
Dokter itupun tersenyum lebar pada wanita baya tersebut “Silahkan! Kalau begitu kami permisi dulu,” jawabnya.
“Terimakasih, dokter,”.
Setelah perginya sang dokter, Ibunda Putri pun bergegas masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan anaknya. Terlihat, Putri yang terbaring lemah diatas brankar. Dengan mata yang berkaca, beliau mengelus lembut kepala sang anak.
“Syukurlah, kamu baik-baik saja, nak,”.
\>
“Jahe!,” panggil Nasya saat Reza hendak ikut masuk ke dalam ruang inap Putri. Dan tentunya pria itu menoleh.
“Apa yang terjadi ?,” tanya Nasya melirik sekilas kearah pintu kamar inap disana.
Reza sedikit melirik Dicky yang masih ada disana. Ia merasa tidak enak saat Nasya menghampirinya. “Ga ada apa-apa. Tadi, Putri Cuma pingsan aja,” Jawabnya.
“Syukurlah. Gue kira tadi terjadi sesuatu sama temen lo,” Ucap Nasya. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin melihat keadaan wanita didalam ruangan tersebut.
Nadin yang juga masih ada disana, berdecak mendengar pembicaraan tersebut. “Lebay banget! Baru juga pingsan, paniknya udah segitu!,” ketusnya tersenyum sinis. Hal itu membuat Reza nampak tidak terima dengan perkataannya. Rasanya ingin sekali ia memukul wanita itu.
Lagipula, memangnya siapa wanita itu ? Kenapa dia berbuat seperti itu pada temannya ? Setelah menderita karena Bisma, kini Putri harus menderita karena wanita yang tidak dikenal. Bagaimana bisa Reza diam begitu saja.
Berbeda dengan Nasya, ia merasa terkejut saat menyadari keberadaan Dicky disana. Ah, bagaimana bisa ia tak melihat pria itu. Kalau tau begitu, ia sudah pasti tidak akan menghampiri Reza saat ini.
“Ntar kalo dia udah mati, baru lo semua pada nangis gih!,”.
PLAK!!!
Perkataan Nadin kali ini benar-benar membuat Reza tak dapat menahan amarahnya. Dan satu tamparan mulus berhasil mendarat di pipi tirus wanita itu. “Lo bener-bener kelewatan ya!,”.
Meski merasa kesal atas tamparan dari pria itu, Nadin sempat tersenyum miring menatap Reza. “Apa lo bilang ? Gue kelewatan ? ...,“ Wanita itu lalu berdecih. Mengalihkan tatapannya sekilas dari ketiga orang disana “... Yang kelewatan bukan gue! Tapi temen lo itu. Udah sekarat tapi masih aja cari perhatian sama Bisma!,” lanjutnya dengan tatapan tajam.
Reza mengernyit saat mendengar nama Bisma. Dan isi kepalanya mulai mengerti. Ah, jadi ini ulah Bisma. Apa dia belum puas dengan membuat Putri terbaring di rumah sakit ?.
Nasya yang mendengar pembicaraan itu, ikut merasa kesal. Wanita dengan pakaian ketat itu membuatnya muak, mirip dengan seseorang. “Astaga! Kenapa banyak banget sih cewek gila kek gini,” Ujar Nasya sembari melipat tangan, menatap tajam Nadin.
“Eh, maksud lo apaan ngomong kayak gitu ?,” balas Nadin yang tak terima atas perkataan Nasya padanya.
Nasya menghela napas dan sekilas menatap Reza disana. “Baru sebatas pacar aja, nyawa temen lo udah terancam. Gimana kalo statusnya udah nikah ?...,“ ucapnya sembari menggelengkan kepala.
Dan Dicky sontak menatap intens pada Nasya. “Cewek kayak gini ga bisa dibiarin. Dia bakal ngelakuin apa aja buat ngedapetin cowok yang dia suka. Apalagi kalo si cowoknya mau-mau aja,” Lanjutnya.
Mendengar perkataan ity, Dicky terdiam karena sedikit merasa tersindir. Namun ada hal yang lebih penting dari itu. Ia terus menatap Nasya karena merasa ada hal yang aneh pada istrinya itu.
"Kalo lo gatau apa-apa mending gausah ikut campur!,” Nadin berdecak masih dalam genggaman Dicky. Wanita itu kembali meronta, melepaskan tangannya.
Nasya benar-benar muak melihat wanita yang seperti itu. Wanita murahan yang bisanya hanya merebut kekasih orang lain. Cih! Benar-benar tidak ada harga diri.
Lalu, Reza menarik paksa wanita tersebut dari genggaman Dicky yang menahannya. “Gausah banyak omong! Lo jelasin semuanya di kantor polisis!,”.
Nadin terbelalak medengarnya. “Apaan? Gue gamau ke kantor polisi!,” bantahnya berusaha melepaskan genggaman Reza dari tangannya.
Tak ada balasan dari Reza, ia terus menyeret wanita tersebut untuk ikut bersamanya ke kantor polisi. Bagaimana pun juga, ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
__ADS_1
Sementara itu, Dicky masih terdiam ditempatnya. Menatap sang istri yang juga masih berada disana. “Apa Nasya ingat sesuatu ?,” batinnya. Dari dalam lubuk hatinya berharap bahwa Nasya dapat kembali mengingat dirinya. Tak peduli meski dokter sudah mengatakan bahwa ingatan tentang kecelakaan itu hilang secara permanen termasuk orang yang ada di sekitar saat peristiwa itu terjadi.