
Sinar mentari berhasil menembus jendela kamar wanita bertubuh mungil dengan rambut hitamnya yang terurai. Hembusan angin lembut memasuki ruangan yang cukup luas tersebut. Sementara sang wanita, sibuk berada didepan sebuah cermin. Menata dan mempercantik dirinya.
Ya, dia adalah Nasya. Wanita yang sebentar lagi akan berstatus janda. Meski kenyataan tersebut harus disembunyikan darinya.
Nasya di diagnosa mengalami Transient Global Amnesia. Dimana sebuah kejadian yang menimpa dirinya menghilang secara permanen. Termasuk orang-orang yang berada di tempat kejadian perkara.
Itu sebabnya, sang Papa melarang keras kepada siapapun untuk tidak memberitahukan Nasya tentang pernikahannya dengan pria bernama Dicky.
»
2 Minggu Kemudian,
"Ma, Pa, aku pergi keluar sebentar ya...," Izin Nasya ketika menemui orangtuanya yang saat ini berada diruang makan.
Wanita baya disana berdiri, menatap khawatir pada putri sematawayangnya itu. Walaupun ia tahu bahwa Nasya tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuatnya khawatir. Tapi tetap saja, beliau merasa takut akan kehilangan putrinya (Lagi).
"Kamu mau kerumah sakit lagi ?,".
Nasya tersenyum diiringi anggukkan kepala. "Iya, ma. Nasya juga udah janji sama Reza kalau hari ini mau ikut ke rumah sakit," jawabnya.
"Yasudah kalo gitu. Sekarang kamu sarapan dulu!,".
Wanita mungil ini meraih selembar roti diatas meja. "Nasya makan ini aja, ma. Ga enak sama Putri nanti dia kelamaan nunggu,".
"Tapi janji, nanti diluar kamu sarapan ya. Jangan engga!,".
Bibir mungil Nasya melengkung. Tersenyum sembari mengangkat tangan kanannya--memberikan hormat kepada sang mama. Layaknya seorang prajurit yang memberikan hormat kepada komandan.
Wanita baya itu tersenyum dengan tingkah Nasya. Lama rasanya tidak melihat putrinya seceria itu.
"Salam dari Mama untuk Putri ya,".
.
.
.
Drt... Drt...
Pemuda bermata sipit ini seketika menghentikan langkah kaki setelah mendapati ponsel miliknya berdering. Sebuah helaan napas sedikit terdengar. Melihat nama yang tertera dilayar ponsel tersebut, mau tidak mau ia harus menerima panggilan itu. Jika tidak....
"Kenapa baru diangkat ?,".
Terdengar suara kesal dari dalam telepon tersebut.
"Maaf, Tante. Tadi aku ada kelas dikampus," Rafael menjawab dengan nada biasa. Datar dan agak terpaksa.
"Tante tidak mau tau, pokoknya siang ini kamu harus kembali ke Indonesia!,".
"Apa ?,".
Rafael kaget mendengar hal itu. Kenapa harus ?
"Tapi tante, aku sudah bilang kan ? Aku gamau kembali kesana lagi!,".
"Kembali atau semua fasilitas kamu disana tante ambil !?,".
Pria sipit ini tidak dapat berkutik setelah mendengar hal yang sedikit mengancam kehidupannya di London. Dengan terpaksa ia memilih untuk kembali daripada merelakan semua yang ada disana hilang.
__ADS_1
"Iya, aku pulang siang ini juga!,".
.
.
.
"Maaf ya, Ja,".
Putri tertunduk dikursi rodanya. Ia merasa sangat bersalah kepada teman yang juga atasan kantornya tersebut. Dalam hati, berbagai kutukan ia tujukan pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang pegawai selalu merepotkan atasannya ? Ah, memalukan sekali. Harusnya ia bisa lebih mandiri meski dengan bantuan kursi roda.
"Buat apa ?," Lirik heran Reza pada Putri, wanita diatas kursi roda yang tengah di dorongnya menuju ruangan cek up.
"Gue udah banyak ngerepotin elo,".
Reza tersenyum simpul mendengar itu. Langkahnya terhenti--membuat Putri mendongakkan kepala untuk melihat Reza.
Reza nampak menghela sedikit napas, "Dibahas lagi!," ujarnya.
Lalu pria itu beralih ke hadapan Putri, menyamai dan menatap Putri disana, "Harus berapa kali gue bilang kalo lo tu ga ngerepotin sama sekali!,".
"Tapi tetep aja gue merasa bersalah dan ngerepotin elo." Alih Putri dari tatapan Reza.
Lagi-lagi wanita itu tertunduk. "Dan lagi, apa yang di bilang sama mama lo ada benernya,".
Sebuah senyum yang tadi terukir di wajah Reza menghilang. Mengingat beberapa penggal kalimat yang dilontarkan oleh sang Mama pada temannya itu.
"Harusnya gue bisa mandiri walaupun sekarang keadaan gue kayak gini,".
"Put...,".
"Lagian, gue juga gamau ngebahayain nyawa orang lagi," Ujar Putri tanpa sedikitpun memberikan jeda agar Reza berbicara.
"Untuk selanjutnya lo ga perlu anterin gue lagi buat ke rumah sakit," Putri kembali memotong perkataan Reza dan menatapnya. "Gue bisa sendiri kok," Lanjut nya dengan tersenyum.
Tidak ada balasan dari Reza. Ia hanya diam--menatap Putri yang tersenyum disana. Namun itu tidak terlihat seperti senyuman bagi Reza. Dan ia juga tau, bahwa perkataan mama nya tempo hari cukup keterlaluan terhadap Putri.
"Jae!,".
Panggilan Nasya membuat dua manusia bersahabat ini menoleh. Entah mengapa Nasya terlihat lebih bersemangat untuk datang ke rumah sakit.
"Ehm, gue ke ruang cek up dulu!," Putri berujar dan mulai memutar kedua roda kursi rodanya.
Sementara Reza hanya memandang wanita itu. Hatinya merasa bersalah terhadap temannya tersebut.
»
"Kenapa ? Kayaknya lo lagi nungguin seseorang ?," Pertanyaan Reza membuat Nasya sedikit gelapan. Wanita ini menatap sahabatnya tersebut.
"Ya... Kan gue lagi nungguin Putri keluar dari ruangannya!,".
Reza tak percaya akan hal itu. Ia tau pasti bahwa Nasya sedang berbohong padanya. "Siapa orangnya ?,".
Wajah Nasya mengernyit. Memahami pertanyaan Reza barusan. "Siapa ?," Ucap Nasya balik bertanya.
"Udahlah, ngaku! Gausah main sembunyi-sembunyi sama gue. Siapa dia ?,".
Wanita bernama Nasya tersebut nampak kikuk. Ya, ia tak dapat menyembunyikan apapun dari sahabat karibnya itu. Kenapa ? Tentu saja, karena hal itu dapat dengan mudah di baca oleh Reza.
"mm... gue...,".
__ADS_1
"Ngaku ga lo !?," Reza makin mendesak Nasya agar bicara tentang seseorang yang tengah ia tunggu.
Bola mata Nasya beralih--menghindari tatapan intens Reza. Dan... "Putri," ujarnya segera beranjak dari tempat duduk menuju Putri yang baru saja keluar dengan kursi roda.
Tentu, Reza pun ikut menoleh dan bangkit dari tempatnya--mengikuti Nasya disana.
"Gimana ?," tanya Nasya.
Sejenak Putri diam--menatap dua orang yang kini ada dihadapannya.
"Dokter bilang apa ?," ucap Reza ikut bertanya. Namun, wanita diatas kursi roda tersebut masih enggan untuk menjawab.
"Put, ada apa ?," Nasya mulai heran melihat Putri yang hanya diam saja.
Putri menatap Nasya "Gapapa kok," jawabnya singkat lalu beralih memutar roda kursinya dan "Gue cuma mau pulang,".
"Yaudah, kalo gitu. Kita pulang," ucap Reza yang hendak mendorong kursi roda Putri.
"Ehm, Reza," ujar Putri membuat Reza disana terhenti dan menatap heran.
"Gue mau pulang sendiri aja," Lanjut Putri sembari tersenyum, seolah tidak ingin menyakiti teman-teman nya akan penolakan nya tersebut.
"Putr...,".
"Gapapa, Gue bisa kok. Lagian, gue ga mungkin kan minta anter-pulang kalian berdua terus," Jelas Putri.
"Ya, tapi kan, Put...,".
"Yaudah, Gue pulang ya," Lagi-lagi Putri memotong perkataan Reza. Seakan tak ingin memberikan pria itu kesempatan untuk bicara.
"Dia kenapa ?," Tanya heran Nasya pada Reza yang masih berdiri disana.
Pria itu menatap Nasya sekilas "Gapapa," Lalu Reza benar-benar menatap Nasya disana. "Habis ini lo mau kemana ?,".
"mm, gaada sih. Gue kan keluar niatnya cuma buat nemenin Putri doang," jawab dan jelas Nasya.
"Kalo gitu biar gue sekalian anter pulang,".
"Ok. Tapi ntar mampir ke minimart bentar yak,".
"Ngapain ?," Reza mengangkat sebelah alisnya.
"Biasa, stock yuppy dikamar gue udah abis," Wanita mungil bernama Nasya tersebut menampakkan beberapa deret gigi putih nya.
"Yuppy mulu lo! Emang suami lo kemana ?,".
"Suami ?," Nasya terkejut mendengar kata tersebut. Pasalnya, ia merasa sama sekali belum menikah. Bagaimana bisa dia punya seorang suami ?.
"Uh, ngh... Ga..Gaada!," Reza beralih dari tatapan kebingungan Nasya. "Ayo pulang!," lanjutnya sembari berjalan lebih dulu dari Nasya.
»
"Sial! Udah gue dorong dari tangga sampe gelinding gitu, kenapa tu cewe ga mati sih!," Geram Nabila didepan cerminnya.
Wajahnya makin kesal, kala wajah Nasya terlintas di benaknya. "Argh!,".
Namun, sesaat aura wajahnya berubah. Seakan bingung dengan apa yang terjadi pada Nasya. "Tapi, apa benar dia lupa ingatan ?,".
__ADS_1
"...atau dia cuma mau menguji cintanya Dicky ?,".