
"Loh? Kemana Nasya?." Ujar Dicky setelah mengetahui bahwa Nasya sudah tidak berada di belakangnya lagi. Kedua bola matanya menelusur kesana kemari, mencari keberadaan sosok Nasya. Namun, ia sama sekali tidak dapat menemukan sosok istrinya tersebut.
Mengetahui Nasya yang tidak ada di sekitarnya, Dicky panik bukan main. Jika ia membuat kesalahan sekali lagi, Tentu saja sang Ayah mertua tidak akan membiarkan dirinya untuk bertemu dengan Nasya lagi.
“Apa jangan-jangan dia...,”
Dicky bergumam mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya di dalam mobil. Ia baru saja sadar bahwa mungkin Nasya mengira dirinya adalah orang jahat. Tentu saja, Bagaimana bisa seseorang dapat percaya kepada orang begitu saja. Terlebih saat ini, Nasya masih menganggap Dicky sebagai orang asing. Seseorang yang tidak dikenal lalu dengan tiba-tiba mengajak dan menawarkan tumpangan pulang untuknya. Tentu saja wanita itu akan berpikir yang macam-macam. Ah, tidak. Bukan hanya Nasya saja, Siapa saja tentu akan berpikiran yang sama seperti Nasya bukan?
Panik, Dicky segera melepaskan semua barang belanjaan dari tangannya. Dan bergegas mencari Nasya. Pria itu lalu berlari keluar dari minimarket tersebut. Dan tak jauh dari sana, Ia menemukan sosok Nasya tengah berjalan menjauh dari tempatnya. Tentu saja,Dicky tidak tinggal diam dan segera menyusul sang istri.
»
“Nyebelin banget sih. Kenapa jadi aku yang minta maaf? Kan dia yang salah!.”
Nasya menggerutu kesal dalam hati. Pasalnya, pria bermata sipit yang baru saja bertemu dengannya di depan minimarket tersebut bersikeras memaksanya untuk meminta maaf.
“Ga bisa! Yang nabrak gue tadi kan elo. Kaki kemana, Mata kemana.”
Nasya kembali bertambah kesal tatkala celotehan pria itu kembali berputar di dalam kepalanya. “Argh! Dasar nyebelin! Jelas dia yang salah kok.” (Lagi) Nasya menggerutu sembari berjalan pergi meninggalkan tempat perbelanjaan mini sebelumnya. Seperti nya ia sedikit melupakan sesuatu.
"Tunggu!"
Mendengar suara dari belakangnya, Nasya kembali menggerutu kesal. Bagaimana tidak, bukankah dia sudah meminta maaf. Lalu apa lagi sekarang? Masih kurang?
Nasya menarik nafas panjang dan menghentikan langkah kakinya dengan kesal sebelum akhirnya wanita itu menoleh ke arah sumber suara.
“Apalagi sih? Gue kan udah mint...,” Kalimat Nasya menggantung saat retina matanya menangkap sosok Dicky yang saat ini sudah tepat berada di belakangnya. Ia baru sadar bahwa saat ini ia sedang dalam pelarian dari Dicky. Nasya semakin merasa kesal, saat ia terlalu bodoh melupakkan hal ini.
»
“Dasar cewe aneh. Dia yang salah tapi gamau minta maaf. Mana pake nyalahin gue yang salah lagi.” Ujar pria bermata sipit yang saat ini baru saja memasuki minimarket, tempat dimana Nasya dan Dicky berada sebelumnya. Sembari mencoba fokus mencari cemilan yang hendak dibeli nya, tetapi tetap saja pikirannya masih merasa kesal dengan apa yang telah terjadi sebelumnya.
Namun, sejenak ia menghentikan langkah dan terlihat sedikit tersenyum. “Cantik sih...,” Dengan tangan yang mengambil satu bungkus makanan dari rak yang ada di hadapannya. “...Tapi galak!.” Lanjutnya sembari kembali meletakkan makanan tersebut ke tempat asalnya.
»
“Tunggu, Nasya!.”
Dicky menghampiri Nasya dan segera memegang tangang istrinya tersebut dengan alasan takut jika Nasya akan lari lagi darinya. “Kamu ngapain disini? Mau kemana? Kenapa malah pergi gitu aja?.” Celoteh Dicky sedikit panjang.
Nasya yang melihat pria itu nampak khawatir, menatap aneh. Pertanyaan apa itu? Konyol banget! Dan lagi, Nasya nampak sedikit bergidik dengan cara bicara Dicky saat ini.
“Apa sih, pake kamu-kamu-an segala. Emangnya lo tu siapa? Baru kenal ini juga...,” Balas Nasya dengan nada ketus. Ya, sangat menyebalkan bukan? Orang yang baru kenal sudah berbicara dengan nada yang seakan sudah kenal dan sangat dekat. Belum lagi, ditambah kesal dengan pria sipit sebelumnya.
Mendengar itu, Dicky tidak dapat menjawab walau sebenarnya pria itu sangat ingin sekali berkata kalau dirinya ini sebenarnya adalah suami Nasya. Namun apadaya, ia tidak bisa mengatakan hal itu.
“...Lagian ya gue mau pulang lah!.” Lanjut Nasya.
“Kan aku udah bilang, Aku bakal antar kamu pulang. Kenapa malah kamu pergi kayak gini?.” Jawab Dicky dengan lembut.
“Antar gue pulang? Ga salah denger nih gue? Lo itu siapa, Hah? Tau alamat rumah gue darimana? Kenal aja baru ini.” Balas Nasya dengan melipat kedua tangan dan sejenak beralih muka dari Dicky.
__ADS_1
Belum sempat Dicky untuk membalas perkataan Nasya, “Jangan-jangan lo cuma alasan doang kan? Lo itu peculik kan? Lo mau nyulik gue kan?.” Lanjut Nasya walaupun sebenarnya saat ini dalam hati Nasya benar-benar takut kalau pria ini benar adalah seorang penculik.
Mendengar hal itu, Tentu membuat Dicky benar-benar terkejut. Apa yang ia duga ternyata benar. Bagaimana bisa Nasya berpikir sampai kesana. Bukankah sebelumnya sudah jelas, bahwa dirinya ini adalah pria baik-baik. Terlebih, Reza sudah mempercayakan Nasya untuk diantar pulang olehnya. Harusnya Nasya berpikir bahwa Dicky adalah orang baik.
“Ngapa diem? Bener kan, Lo itu penculik kan...?” Ujar Nasya lagi.
Dengan cepat, Dicky menggelengkan kepalanya. “Bu..Buka...n.”
“Tolooong!.”
Tanpa diduga, Tiba-tiba saja Nasya berteriak keras. Hal itu tentu membuat Dicky semakin terkejut. Dan segera menutup mulut istrinya itu dengan tangannya. Tentu saja Nasya meronta, berusaha mengalihkan tangan Dicky dari mulutnya.
“Tunggu dulu!” Ucap Dicky masih dengan berusaha untuk menutup mulut Nasya. “Aku bukan penculik!.”.
Nasya menyingkirkan tangan Dicky dari mulutnya. “Terus lo siapa? Kenal engga pake acara mau nganter gue pulang segala. Apalagi itu namanya kalo bukan penculik.” Celoteh Nasya menatap Dicky kesal.
“Bukan. Aku bukan penculik!.”.
“Gausah bohongin gue ya! Lo mau nyulik gue kan?.”.
“Buat apa aku nyulik kamu!.”
“Alaah! Mana ada maling mau ngaku!.”
Dicky diam untuk beberapa saat. Ia nampak bingung harus bagaiamana menjelaskan kepada Nasya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh, Ingin rasanya Dicky mengatakan bahwa dia adalah suami Nasya tapi, rasanya... Tidak mungkin.
Dicky menatap lekat wajah sang istri. Lama rasanya tidak berdebat seperti ini dengan Nasya. Sungguh, Ia rindu saat-saat masih bersama Nasya.
Tersadar akan perkataan Nasya, “Jangan macam-macam lo ya!.” Ketus Naysa (Lagi).
Dicky mengernyitkan dahi dengan perkataan Nasya. Jangan macam-macam? Memangnya salah berbuat macam-macam pada istri sendiri? Ujar Dicky membatin. Dan di detik kemudian dirinya tertawa lucu.
Dan kali ini Nasya yang mengernyitkan dahi. Ia bingung saat suami yang saat ini ia kira adalah penculik itu, tertawa.
“Lo penculik gila ya.” Nasya bergidik ngeri. Jujur saja, Ia takut berhadapan dengan orang yang tidak dikenal seperti ini. Apalagi saat orang itu tertawa tanpa sebab begini.
“Gila? Iya! Aku gila gara-gara kamu!.”.
Nasya mengernyit sekali lagi setelah mendengar jawaban dari Dicky.
“Buat apa aku nyulik istri aku sendiri dan berbuat yang macam-macam.”.
“Istri...?.”.
»
"Woi!!!"
Bisma segera menoleh kearah sumber suara yang baru saja tiba di rumah nya. Pemilik suara tersebut lalu duduk tepat di sebelah Bisma. Melihat itu, Bisma tidak terlihat memberikan ekspresi apapun. Sepertinya hal itu sudah biasa.
“Ngapain lo? Galau?. Pemilik suara tersebut kembali memberikan pertanyaan kepada Bisma yang saat ini tengah duduk termenung tak seperti biasa.
__ADS_1
“Ngapain lo kesini?.”
Bukannya menjawab pertanyaan, Bisma malah melemparkan balik sebuah pertanyaan kepada sosok yang kini berada disebelahnya. Sejujurnya ia sendiri sudah sangat muak dengan wanita disebelahnya itu. Dan tentu, Bisma sudah paham betul maksud kedatangan wanita itu kesini.
“Mikirin apa sih lo? Mantan?.” Wanita itu kembali memberikan Bisma sebuah pertanyaan mengabaikan apa yang baru saja Bisma tanyakan padanya sembari membuka sebuah benda persegi mungil yang ada di tangannya.
“Bukan urusan lo!.” Balas Bisma.
Mendengar jawaban Bisma yang tidak sesuai dengan ekspetasi nya. Nabila bergegas menoleh, “Bukan urusan gue gimana?. Tuh, Si Nadin, Apa lo ga mikirin perasaan dia?. Tiap hari nangisin elo. Dia telp, ga pernah lo angkat. Chat, ga lo bales. Ga kasian lo sama dia? Pacar lo sendiri?.” Jelas Nabila panjang lebar.
Bisma yang sebelumnya sama sekali tidak menoleh kearah Nabila, merasa geram. Pria itu sejenak menoleh, “Gue ama Nadin udah gaada apa-apa. Kalo lo kasian sama dia, ya lo kasih aja dia ke Andre. Gampang kan? Kelar. Lo ga pusing mikirin dia. Lo juga bakal dapet duit kan dari Andre.” Jawab Bisma dengan nada ketus.
PLAK!
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Bisma. “Mulut lo gampang banget ya kalo ngomong. Jangan sama-in gue sama lo! Gue ga bakal setega itu sama Nadin. Dia itu pacar lo, Bisma! Kok bisa sih lo malah ngomong kayak gitu.” Ujar Nabila yang tidak terima dengan usulan Bisma.
“Lo kira gue peduli?. Lo lupa? Putri? Sebelumnya dia juga pacar gue kan? Bisa aja tuh gue kasih sama Andre. Mau dia pacar gue atau bukan, demi uang, gue ga masalah.” Jawab Bisma lalu memalingkan wajah dari tatapan Nabila.
Ya! Sepertinya wanita bernama Nabila lupa akan sesuatu. Dia lupa bahwa pria di sebelahnya ini adalah manusia yang tidak memiliki hati. Ia lupa bahwa sebelumnya pria itu rela menukar Putri dengan uang. Tentu, Apapun itu, Asalkan ia mendapatkan uang. Bisma tidak peduli.
“Lo bener-bener gila ya!.” Nabila nampak menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam kepala pria itu. Bagaimana bisa ia akan tega menukar Nadin dengan uang juga? Terlebih Nadin adalah orang terdekatnya untuk saat ini.
“Lo kenal gue udah lama kan? Lo juga udah paham banget kan sama sifat gue? Jadi, kalo lo gamau itu cewe gue jual sama Andre, mending lo pergi sekarang. Dan bilang juga ke Nadin, gausah cari-cari gue lagi! Gausah ngehubungin gue lagi!.” Jelas Bisma sembari berdiri.
“Enak banget lo ya kalo ngomong!.” Ujar Nabila sembari mendongakkan kepalanya.
“Kenapa? Lumayan kan, Dia bisa jadi pengganti nya Putri. Lagipula bukankah Nadin lebih bagus daripada Putri? Gue jamin, Andre bakal bayar lebih banyak kali ini.” Balas Bisma sembari menyeringai sebelah bibir.
“What?.” Tidak terima dengan apa yang Bisma katakan. Nabila bangkit, menyamai posisi Bisma disana. “Jadi lo ngedeketin Nadin cuma buat lo kasih ke Andre sebagai pegganti mantan lo yang kabur itu?.”
Bisma tersenyum sinis dan menganggukan kepala. “Ya. Gaada yang salah dengan itu.”
“Gila. Emang manusia ga punya hati lo ya!.”
Mendengar itu, Bisma hanya berdecak dengan mengalihkan wajah dari Nabila (lagi).
“Lo denger ini baik-baik ya, Bis. Gue ga bakal ngebiarin lo ngelakuin hal yang sama kayak yang lo lakuin ke Putri!.” Balas Nabila.
“Udah deh, Bil. Mending sekarang lo pergi dari sini. Sebelum gue berubah pikiran buat ngejual lo sama Andre!.” Ujar Bisma yang sudah semakin muak dengan wanita tersebut.
Mendengar itu tentu Nabila menatap Bisma dengan tajam. Pria itu sudah benar-benar gila rupanya.
“Satu lagi. Mulai detik ini, lo gausah muncul di hadapan gue lagi!.” Lanjut Bisma yang membuat Nabila kemudian melangkahkan kaki pergi dari sana.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1