
...Jangan pernah menyia-nyiakan cinta dan perhatian dari orang terdekat kita karena jika nanti orang itu pergi, barulah kau akan menyesal....
"Aku gamau! Aku mau nya boneka itu!.".
Anak perempuan kecil nan lucu itu mengembungkan kedua pipi sembari melipat tangan di dada. Ia merajuk pada orangtuanya disana, lantaran boneka kesayangan miliknya di rebut oleh sang kakak.
"Sayang, Kasih dong boneka nya sama adek!," bujuk wanita baya itu dengan lembut.
Sang kakak yang berumur 2 tahun lebih tua dari adik, memeluk erat boneka bergaun pink muda tersebut. "Gamau! Ini boneka aku!," Ucapnya menatap sang adik tajam.
Melihat itu, sang adik mulai menangis, "Mama...," Teriaknya pada sang mama disana.
Wanita baya tersebut menggendong anak bungsu nya itu dan, "...Kak Nasya gamau balikin boneka nya," Ia merengek dalam gendongan sang mama.
Ya, dia adalah Nindia dan sang kakak adalah Nasya.
"Udah ya, Jangan nangis lagi! Nanti kita beli boneka baru," bujuk sang mama agar si bungsu berhenti menangis. Wanita baya itu menghapus air mata Nindia dengan jemari lembut nya.
Nindia lalu menatap sang kakak dibawah, yang sedang bermain dengan boneka miliknya. "Gausah beliin kak Nasya, ma!," Ketusnya membuat Nasya menoleh cepat, "Ih, aku juga mau boneka baru!," Ucap Nasya menghempaskan boneka yang ada ditangannya.
"Ga boleh!," Nindia kesal karena Nasya sudah mengambil paksa boneka miliknya.
Nasya lalu merengek pada wanita baya yang masih berdiri disana, "Ma, Nasya juga mau! Nasya mau boneka baru!," Rengek gadis kecil itu.
"Iya, sayang. Nanti kita beli yang baru," jawab mama.
Nindia yang masih dalam gendongan menatap cepat pada mamanya. "Ga boleh! Kak Nasya ga boleh beli boneka baru!.".
Kesal, "Ish! Aku juga mau beli!," tatap Nasya pada Nindia.
"Ga boleh!," jawab Nindia yang masih kekeh.
Nasya mengambil boneka yang tadi ia hempaskan dilantai. "Adek gausah beli boneka lagi! Nih bonekanya aku balikin!," jelas Nasya memberikan boneka itu pada sang adik.
"Gamau! Bonekanya udah rusak sama kakak!," jawab Nindia yang melihat tangan boneka tersebut rusak karena ulah Nasya.
"Ini ga rusak cuma lepas.".
"Gamau! Buat kakak aja! Biar aku beli yang baru!," jawabnya sembari memeluk sang mama.
"Ish!...," Nasya yang kesal kembali menghempas boneka itu.
"...Kakak juga mau beli!.".
"Ga boleh!!!.".
Nasya kembali menatap sang mama, merengek sembari menarik baju wanita itu. "Ma, aku juga mau!," namun, Nindia tetap tak mau kalah. "Ga boleh, ma! Kakak ga boleh beli!.".
Melihat itu, wanita baya tersebut mulai pusing, kedua anak perempuannya itu sama-sama keras kepala. Beliau menatap anak bungsunya, "Iya sayang, kakak ga beli kok," jawab sang mama agar Nindia tak menangis lagi.
Nindia tersenyum mendengar jawaban sang mama sedangkan Nasya tak terima dengan itu, "Mama jahat!," Ucapnya bergegas masuk kedalam, ke ruang tengah meninggalkan sang mama dan Nindia disana.
"Sayang! Nasya!," panggil wanita itu namun Nasya tetap masuk ke dalam karena kesal.
~
"Kakak....".
__ADS_1
Lirih perempuan ini. Matanya masih terpejam, ia menggeleng pelan kepalanya. "Kakak....".
Terdengar bunyi beep dari sebuah alat medis yang ada diruangan tersebut, diruangan tempat perempuan itu terbaring. "Kakak...," lirih perempuan itu, lagi.~
"Dia kehilangan banyak darah. Kita butuh lebih banyak kantong darah," ucap dokter yang tengah menangani perempuan itu.
"Tapi dok, stok darah yang cocok sama pasien sudah habis.".
Sejenak sang dokter terdiam, ia menghentikan aktifitasnya setelah mendengar hal itu. "Akan butuh waktu yang lama jika kita menunggu pengiriman stok darah," jelas sang suster lagi.
Dokter itu melirik sekilas suster tersebut "Bagaimanapun caranya, kita harus mencari donor darah tersebut karena pasien harus segera di operasi," titah sang dokter pada susternya.
"Baik, dok," sang suster segera meninggalkan ruangan tersebut.
»
"Nindiaaa....".
Nasya yang masih berumur 5 tahun itu berlari mengejar sang adik yang dibawa paksa oleh seorang pria bertopi dan pakaian serba hitam itu.
"Kaaak...," teriak Nindia terbata karena pria itu berusaha menutup mulutnya. "Kakaaaak...," teriak kuat Nindia memanggil sang kakak yang ada diseberang sana.
"Nasya...," teriak mama dan papa saat melihat Nasya yang ingin menyeberang jalan raya yang ramai akan kendaraan yang berlalu lalang.
Nasya menoleh cepat, "Nindia diculik, ma, pa," teriaknya sembari menunjuk kearah seberang.
Sang papa menoleh cepat kearah tunjuk Nasya begitupun sang mama sembari memegang tangan anak sulung nya itu.
"Tolongin Nindia, pa," ujar Nasya yang tak ingin kehilangan sang adik.
Tanpa pikir panjang, pria baya itu menyeberangi jalan raya tersebut untuk mengejar orang yang membawa pergi Nindia.
"Kakaaaaaak!!," teriak Nindia sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri akibat obat bius yang ditutupkan ke mulut dan hidungnya.
»
"Kalo terjadi sesuatu sama Nasya, saya ga akan pernah memaafkan kamu!!!," tegas pria baya itu menatap sang menantu dengan penuh amarah.
Jika saja Dicky tidak mengkhianati anaknya dan tidak membawa selingkuhannya datang kerumah, Nasya mungkin tidak akan seperti ini, sekarang.
"Suster, bagaimana dengan keadaan istri saya?," Dicky terus-menerus bertanya pada sang suster yang sedari tadi sudah keluar-masuk dari ruang UGD tersebut, diikuti papamu.
"Kondisi istri anda sudah stabil," ucap suster menenangkan keluarga pasien yang sedari tadi terus bertanya tentang keadaan pasien bernama Nasya.
"Ah, Syukurlah," ujar mama Nasya bernapas lega, ia lalu memandang suster disana. "Boleh saya masuk, sus?," ucap wanita baya tersebut.
"Maaf, keluarga belum bisa menemui pasien karena pasien belum sadarkan diri.".
"Lalu, bagaimana dengan teman saya, dok?," tanya Reza yang masih panik dengan tampak babak belur disana.
"Kami membutuhkan donor darah untuk pasien karena pasien kehilangan banyak darah. Sementara pihak rumahsakit tengah kehabisan stok darah.".
Begitu mendengar penjelasan itu, ada rasa khawatir yang sama seperti saat mama Nasya mengkhawatirkan anaknya.
"Kami membutuhkan pendonor yang bergolongan darah O dan dimana keluarga pasien?," tanya suster yang sampai saat ini belum melihat keluarga dari Putri, pasien yang menjadi korban tabrak lari tersebut.
Menyadari itu, Reza lupa untuk menghubungi orangtua Putri karena sedari tadi ia hanya mengkhawatirkan keadaan temannya itu.
"Dokter ingin bicara pada keluarga pasien saat ini juga," sambung sang suster.
"Saya lupa menghubungi orangtuanya, suster. Tapi akan segera saya hubungi. Tolong selamatkan dia, sus!," jawab Reza disana.
__ADS_1
"Tolong secepatnya dihubungi karena pasien harus segera di operasi," balas sang suster.
Mendengar hal itu, "Biarkan saya bertemu dengan dokter, sus. Saya bibi nya," ujar mama Nasya membuat semua yang ada disana menoleh cepat terutama sang suami dan Reza. "Tante....".
"Baiklah, mari ikut saya masuk," ucap sang suster mencela ucapan Reza lalu masuk kembali ke dalam ruang unit gawat darurat tersebut, diikuti oleh mama Nasya.
Tentu, semua yang ada disana heran dengan tindakan wanita baya itu. Tapi entah kenapa, ia mengkhawatirkan perempuan itu layaknya anak sendiri.
Reza lalu menatap pada papa Nasya. "Om, aku titip Putri. Aku mau menemui orangtua Putri, memberitahukan hal ini," ucap Reza yang memang sudah mengenal baik keluargamu.
Papa Nasya mengangguk, "Cepatlah beritahu mereka!," balas pria baya itu.
Reza mengangguk dan segera pergi dari depan ruang UGD tersebut.
Reza menuju kearah lift untuk naik ke lantai 3, dimana papa Putri tengah dirawat inap, dirumahsakit yang sama.
»
"Bagaimana keadaannya, dok?," tanya mama Nasya yang kini berada tak jauh dari brankar, tempat Putri terbaring.
Dokter itu melirik Putri sekilas yang kini sudah terpasang dengan beberapa alat medis. Beliau menghela napas berat lalu menatap wanita baya yang kini ada disebelahnya. "Kondisinya saat ini sangat buruk. Dia kehilangan banyak sekali darah," jelas dokter tersebut dengan hati-hati.
Mama Nasya tersentak mendengar hal itu, detak jantungnya saat ini sudah tidak karuan lagi. Rasanya seperti ingin lepas. Rasanya ia tak sanggup mendengar kabar buruk ini. "Jika tidak segera di operasi, kita tidak akan tau apa yang akan terjadi pada keponakan anda," sambung sang dokter.
"Kalau begitu, segera lakukan operasi tersebut, dok! Selamatkan dia!," pinta mama Nasya yang kini sudah mulai berkaca-kaca, tubuhnya serasa lemas melihat keadaan perempuan itu. Meskipun dia sadar bahwa itu bukanlah Nasya. Tapi tetap saja, rasanya ia tidak akan sanggup jika yang terbaring dalam kondisi seperti itu adalah Nasya.
"Tapi sebelum melakukan itu, kita membutuhkan banyak darah untuknya," balas sang dokter membuat wanita baya itu diam sejenak menatap perempuan yang terbaring dibrankar itu. Lalu, wanita baya tersebut menatap dokter itu kembali, "Kalau begitu....".
"Ambil darah saya, dok!," cela wanita baya yang baru saja memaksa masuk untuk menemui sang dokter.
Wanita itu adalah mama Putri. Dengan panik dan khawatir, wanita itu menghampiri dokter "Ambil darah saya, dok! Bila perlu semuanya, asal anak saya selamat, dok!," ujarnya dengan isakan tangis.
Melihat itu, Mama Nasya tak bisa melakukan apapun meski dalam hati ia ingin sekali mendonorkan darahnya untuk Putri.
"Baiklah," sang dokter lalu menoleh pada mama Nasya disana, "Mohon ibu tunggu diluar.".
Mama Nasya hanya mengangguk pelan dan perlahan berjalan keluar ruangan dengan langkah kaki yang berat meninggalkan ruangan itu. Sekilas ia menoleh pada perempuan itu, Hatinya ingin tetap berada disana hingga Putri sadarkan diri namun apadaya dia bukanlah siapa-siapa, beliau lalu benar-benar pergi dari ruangan tersebut.
SKIP
"Tante, gimana keadaan Putri?," tanya Reza yang segera menghampiri mama Putri disana. Mama Nasya pun segera bangkit dari duduknya, ikut menghampiri mama Putri dan dokter yang barusaja keluar.
Nabila yang masih berada disana, menatap sinis pada mama Nasya yang sedari tadi sibuk pada keadaan perempuan bernama Putri. "Dasar! Orangtua macam apa yang mengkhawatirkan anak orang lain ketimbang anaknya sendiri," gumamnya dalam hati. Ia melipat tangannya, meskipun dia adalah penyebab Nasya masuk rumahsakit begini tapi ia selalu merasa kesal ketika melihat orangtua bersikap seperti itu pada anaknya sendiri, karena Nabila selalu diasingkan oleh orangtuanya yang lebih menyayangi sang kakak daripada dirinya, yang hanya dianggap anak pungut oleh orangtuanya.
Mama Putri menggeleng, menatap Reza disana. "Apa diantara kalian ada yang bergolongan darah O?," tanya sang dokter pada beberapa orang disana.
Reza menatap cepat pada dokter tersebut "Saya, dok!," namun dokter melirik sejenak pada pemuda yang penuh luka lebam itu. "Maaf, saya tidak bisa mengambil darah anda dalam kondisi seperti itu," jawab sang dokter.
"Tapi, dok....".
"Apa lukamu sudah diberi obat?," cela dokter tersebut.
Terdiam, Reza menggelengkan kepala. Sang dokter lalu memanggil seorang suster untuk mengobati luka pemuda tersebut.
"Sebaiknya obati dulu lukamu sebelum terinfeksi," ucap sang dokter pada Reza.
Pemuda itu menghela napas, menurut dengan perintah dokter itu.
"Kalau begitu, silahkan ambil darah saya, dok," sahut mama Nasya dengan menangkupkan kedua tangannya di dada. Ia sangat berharap darahnya cocok dan dapat menyelamatkan nyawa Putri.
"Baiklah, kita akan tes terlebih dahulu, apakah darah ibu cocok atau tidak pada pasien.".
__ADS_1
Mama Nasya mengangguk dengan penuturan itu dan mengikuti dokter yang masuk ke dalam ruangan.
Terlihat disana, Nasya yang memejamkan mata sudah baik-baik saja. "Syukurlah, kamu sudah tidak apa-apa, nak," batinnya kepada sang anak yang masih terbaring di brankar dalam ruang UGD. Setidaknya hatinya sedikit lega namun belum bisa lega seutuhnya sebelum Putri, perempuan yang terbaring di sebelah brankar Nasya di konfirmasi baik-baik saja oleh dokter.