NADI

NADI
Ada yang aneh (2).


__ADS_3

Suasana kala itu, Hening. Meski banyak orang yang berlalu lalang didepan kamar inap Putri. Rasanya tetap sunyi. Seakan hanya ada Nasya dan Dicky didepan sana.


Wanita berambut sepunggung itu sama sekali tidak mengatakan apapun. Terlebih setelah Reza membawa Nadin pergi dari rumah sakit tersebut.


Dan Dicky, Ia masih terus memandangi wajah sang istri disana. Ingin rasanya menyapa, tapi entah kenapa mulutnya seakan tak dapat bergerak. Terlebih ketika ia mengingat tentang surat perceraian yang sebentar lagi akan diterima olehnya.


Nasya tak ambil pusing. Ia hanya melirik pria kurus itu sejenak lalu berjalan masuk dengan membuka knop pintu kamar inap Putri. Namun...


“Nasya!,” Pria kurus bernama Dicky itu berhasil menghentikan langkah kaki sang istri.


Dengan polosnya, Nasya menoleh—menatap pria yang baru saja menyebut namanya. “Ya?,” jawabnya heran.


“Apa... lo ingat sesuatu ?,” Sebelah alis Dicky terangkat, sedikit curiga dengan sikap Nasya.


Wanita itu sejenak diam. Lirikannya beralih sejenak, seakan tengah mencari jawaban yang tepat.


“Lo... ingat gue ?,” Pertanyaan tersebut membuat wanita muda itu kembali menetapkan sorot matanya pada satu objek yang ada dihadapannya.


“Gue mohon! Lo harus ingat itu,” Tanpa menunggu jawaban dari Nasya, Dicky memegang kedua bahu istrinya dengan tatapan sendunya. Dicky tak perduli, jika Nasya akan membentak atau mungkin menamparnya karena lancang memegang kedua bahu wanita itu. “Lo harus ingat semuanya. Gue gamau.... Kehilangan lo!,”.


Nasya nampak tertegun mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh pria kurus dihadapannya itu. Entah kenapa, hatinya terasa terenyuh.


“Gue janji, Gue ga akan melakukan kesalahan itu lagi,”.


Nasya diam mendengarnya, membiarkan pria kurus dihadapannya menggucangkan tubuhnya.


Melihat reaksi Nasya yang berbeda dari apa yang telah dibayangkan oleh Dicky. Pria kurus itu spontan memeluknya. Jika bisa, ia tidak ingin melepaskan wanita itu dari pelukannya.


“Maaf!,” Nasya berujar dengan penuh rasa bersalah, melepaskan pelukan pria kurus tersebut. Ia tertunduk, menghindari tatapan Dicky.


Lagi-lagi, Dicky harus siap merasakan kekecawaan.


“Gue... sama sekali ga inget sama lo!,” Lanjut wanita dengan rambut sepunggung itu membuat Dicky terdiam ditempatnya.


Pria kurus itu hanya bisa melihat istrinya masuk ke dalam ruang inap Putri, meninggalkannya disana sendiri.


***


Drt... Drt...


Bisma yang baru saja berbaring dan memejamkan matanya sejenak, bangun—mencari sumber suara yang berdering di dalam kamarnya.


Drt... Drt...


Suara dan getar dari ponsel milik pria yang juga kurus itu terus berbunyi. Ya, satu panggilan masuk dari orang yang tak dikenal.


Bisma nampak menaikkan sebelah alisnya. Heran, siapa kiranya yang menghubungi dirinya tersebut. Apakah itu Nadin ? Nabila ? atau mungkin Andre ?


Pria itu membola saat nama Andre muncul dikepalanya. Jika memang benar itu adalah panggilan dari Andre. Ia harus menjawabnya. Setidaknya, ia harus melakukan sesuatu kepada pria brengsek itu. Dengan begitu mungkin akan sedikit mengurangi rasa bersalahnya kepada Putri.


“Ck! Brengsek!,” Umpat seorang pria yang berada dalam mobilnya. Ia menatap tajam ke arah rumah besar yang kini ada dihadapannya.


Tanpa berpikir panjang, Pria itu turun dari dalam mobilnya. Nampaknya, ia benar-benar marah pada pemilik rumah besar itu.


“Bisma! Keluar lo!,” Pria itu berteriak keras sembari menggedor pintu rumah berwarna cokelat muda. Pria itu nampak tidak terima dengan apa yang telah Bisma lakukan kepada rekan kerja sekaligus sahabatnya.


Pria bernama Bisma yang berada didalam kamar, terkejut dengan sedikit rasa kesal. Siapa yang berani datang kerumahnya dengan menggedor pintu dan berteriak seperti itu ? CK! Benar-benar kurang ajar!.


Bisma bergegas keluar dari dalam rumahnya. Melihat orang yang berteriak didepan rumahnya. Dan...,


BUKK!.


Satu tonjokkan mendarat tepat di wajah Bisma hingga pria kurus itu tersungkur. Terlihat, ada darah diujung bibirnya. Mengetahui itu, tentu Bisma merasa kesal. Ia menatap tamu yang datang dan tiba-tiba memukulnya dengan tajam.


“Apa ?,” bentak pria yang masih berdiri dihadapan Bisma. Ya, pria itu adalah Reza. Meskipun hanya sebatas rekan kerja dan sahabat, Ia tetap tidak terima atas perlakuan Bisma kepada Putri. Cih! Laki-laki macam apa yang berani memperlakukan seorang wanita seperti itu ? Setelah nyaris saja menjual sahabatnya kepada pria mesum tak bertanggung jawab hingga sang sahabat mengalami kecelakaan. Kini laki-laki itu masih saja mengganggu hidup sahabatnya.


“Maksud lo apa kayak gini ? HAH ?!,” Bisma balik membentak tak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Reza padanya.


“Cih! Lo bener-bener brengsek ya !,” ucap Reza sungguh tidak percaya dengan ekspresi Bisma yang bertingkah seolah tidak mengetahui apapun. Tanpa pikir panjang (lagi), Bisma kembali menerima pukulan yang sama dari Reza hingga kembali tersungkur.


Tentu, Amarah Bisma memuncak saat itu. Merasa kesal karena menurutnya ia tak melakukan kesalahan lagi.


“Apalagi yang mau lo lakuin sama Putri, Hah?!...,” Bisma mengernyit mendengar hal itu. Bingung dengan apa yang dimaksud oleh Reza.


“...Belum puas lo bikin dia terbaring dirumah sakit kayak gitu ?...,” Bisma masih ditempatnya, mencoba mengerti apa yang dimaksud oleh Reza. “...Mau sampe kapan lo nyakitin dia kayak gitu ? HAH ?!,”.


Pria yang lebih pendek dari Reza ini, hanya dapat diam. Ya! Bisma sungguh menyesal telah membuat kekasihnya, Eh? Mantan kekasihnya itu menderita karenanya. Tapi, sungguh! Kali ini, ia tidak melakukan apapun lagi yang membahayakan nyawa Putri.

__ADS_1


Bisma bangkit, berdiri—menyamai posisi Reza. Tatapannya masih sama seperti sebelumnya. “Apa maksud lo ? Gue ga melakukan apapun lagi ke Putri!,” balasnya.


Reza kembali mendecak kesal akan omong kosong yang baru saja dikatakan Bisma. Pria cungkring ini masih saja berkelit. Pikirnya.


“Gausah pura-pura gatau deh, lo!,” Reza kembali berujar dengan membentak. Tapi kali ini, Bisma mencoba menahan emosinya, meski dalam hati ia sungguh tidak terima di perlakukan seperti ini.


“Lo sengaja nyuruh orang ke rumah sakit buat nyiksa Putri kan ? Mau lo tu sebenernya apa ?,” Bisma sejenak pasrah dengan perlakuan Reza yang menarik kerah baju nya. Kepalanya mencoba untuk menafsirkan perkataan Reza.


“Lo mau ngebunuh dia ?,”.


Bisma melepaskan kasar kedua tangan Reza dari kerah bajunya. Masih menatap intens pria dihadapannya.


“Ngebunuh ? Maksud lo apa ? Gue ga akan setega itu sama dia!,”.


Reza hanya tersenyum remeh mendengar hal itu.


Cih! Bulshit!


***


Huh! Huh!


Deru nafas dari pria bermata sipit ini terdengar jelas. Nampaknya ia sangat kelelahan setelah berkeliling mencari sepupu laki-lakinya. Ia menghela napas panjang.


“Benar-benar! Kemana dia ?,” gerutunya.


Sorot mata Rafael melusur kesetiap sudut rumah sakit dari tempat ia berdiri saat ini. Sungguh! Ia tidak ingin mendapat ceramah panjang dari om dan tantenya nanti.


Berbagai umpatan hingga sumpah serapah ia ucapkan dalam hatinya. Awas saja jika nanti ketemu!


Dan bola mata Rafael terhenti pada sosok pria yang tengah berdiri dan menatap sendu salah satu ruang inap di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Rafael bergegas meghampirinya. Rasanya ia ingin menjitak kepala pria disana itu. Menyusahkan saja!


“Oi, Dicky!,” panggilnya sembari sedikit berlari mendekat ke arah Dicky.


Tentu, Dicky menoleh—memastikan siapa yang telah memanggilnya.


“Kemana aja lo ?,” Pria sipit masih berusaha mengatur deru napasnya. “Lo sengaja mau bikin gue di omelin bokap dan nyokap lo ?” kesal Rafael.


“Sorry!,” jawab Dicky singkat.


Hal itu membuat Rafael membola seakan-akan bola matanya itu akan keluar. Ekspresi macam apa itu ? Bisa-bisanya dia hanya menjawab dengan singkat begitu ? Padahal pria sipit nyaris saja di sidang oleh kedua orang tuanya.


Helaan napas dari Dicky terdengar jelas. Sebelumnya, Rafael tak pernah melihat Dicky sekacau ini. Dicky yang selalu bersemangat dan memiliki tekat yang kuat kini lemah tak berdaya, menatap sendu ruangan yang ada dihadapannya.


Tak lama setelah itu, Pria kurus itupun pergi—melewati Rafael begitu saja tanpa ada sepatah kata yang di lontarkannya.


“Dicky...,” lirih Rafael, merasa khawatir dengan keadaan sepupunya yang seperti itu. Ah, Andai saja ia tau apa yang sedang terjadi sebenernya. Sudah pasti ia akan membantu sepupunya itu. Tapi om dan tante terlihat enggan memberitahukan masalah yang sebenarnya. Mereka hanya bilang untuk menjaga Dicky selama ia berada di Indonesia. Lalu, Dimana sepupu iparnya ?


Melihat Dicky yang seperti itu, Rafael memutuskan untuk hanya mengikuti Dicky dari belakang saja. Cukup lihat dari jauh saja. Lagipula, tidak mungkin Dicky akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


***


“Bagaimana dengan perusahaan?,” Wanita baya yang mengenakan pakaian hijau mencolok ini nampak tengah berbicara pada wakil presdir dan sekretaris presdir.


“Semuanya baik-baik saja, bu. Jangan khawatir,” Jawab wakil presdir dengan yakin. Sebut saja dia dengan Andra.


Dengan jas hitam dan dasi birunya, senyum Andra melebar untuk meyakinkan ibu dari presdir perusahaannya.


Terlihat sorot mata wanita baya tersebut beralih menatap sekretaris disebelah Andra. Dia adalah Nadila, adik sepupu dari menantunya sendiri.


“Benarkah ?,”.


Andra yang mengetahui itu, ikut menoleh—menatap Nadila yang terlihat tidak meyakinkan dengan apa yang ia ucapan sebelumnya.


“Ah, Tentu saja. Ibu bisa percayakan semuanya pada kami! Kami akan mengurus semuanya,” Jawab Andra. Nampaknya wakil presdir ingin mengalihkan pandangan wanita baya tersebut dari Nadila. Namun sayang, Hal itu tidak lebih menarik dari apa yang dilihat ibu presdir.


“Nadila, kamu ga apa-apa ?,”.


Nadila yang sedari hanya diam—tertunduk, sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari tantenya. Ya, hal itu nampak mencurigakan daripada ucapan Andra.


“Uh, engh... sa—saya.. gapapa,” Jawab perempuan mungil tersebut dengan tersendat.


“Apa ada masalah ?,”.


Lagi, Nadila kembali bungkam. Sedikit melirik wakil presdir disebelahnya. Ia terlihat sangat bingung. Dan sebelumnya, Nadila tidak pernah bertingkah seperti itu.


“Ah, sepertinya hari ini dia sedang sakit. Dari tadi pagi terlihat lemas dan tak bersemangat,” Jawab Andra.

__ADS_1


Wanita baya itu sekilas melirik Andra lalu kembali pada keponakannya. “Kalau begitu, kamu pulang saja. Istirahat!,”.


Terkejut, Nadila menatap tantenya. “Tante tidak ingin kamu kenapa-napa. Jadi beristirahatlah dirumah!,”.


Nadila menganggukkan kepalanya pelan. Mungkin dengan pulang ke rumah, ia bisa sedikit lebih tenang.


***


Nasya nampak terdiam—duduk di sebelah brankar—tempat Putri terbaring. Pikirannya kembali mengingat apa yang terjadi di depan ruangan Putri. Jika biasanya ia cukup acuh pada pria kurus tak di kenal itu. Entah mengapa, kali ini hal itu mengganggu pikirannya.


“Nak!,” Sebuah sapaan, akhirnya membuatnya tersadar. Retina matanya menangkap sosok wanita baya yang memegang bahunya.


“Uh, Iya ?,”.


“Ada apa ?,”.


Nasya nampak heran dengan pertanyaan tersebut. Apanya yang ada apa ?.


“Dari tadi kamu diam aja. Apa kamu ngerasa sakit lagi ?,” Wanita muda ini nampak terkejut. Sakit lagi ? Bagaimana bisa wanita baya itu tau ? Padahal, ini adalah kali pertamanya bertemu dengan wanita baya tersebut.


Wanita baya yang tidak lain adalah ibu dari Putri itu tersenyum. Ia melihat pakaian yang saat ini di kenakan oleh Nasya.


“Tante, banyak dengar tentang kamu dari Reza. Dia bilang, kamu cukup sering datang ke sini untuk melihat dan menjaga Putri. Padahal kamu sendiri sedang dalam perawatan di rumah sakit ini,” Jelas wanita itu dengan sangat lembut. Beliau terlihat sangat lelah. Tentu saja, Wanita baya itu sangat lelah. Belum lagi harus mengurus suami nya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Wanita baya tersebut harus benar-benar mengatur waktunya.


“Ah, Itu... karena saya bosan berada di dalam kamar terus-terusan. Jadi saya kemari karena ada teman mengobrol,”.


Wanita baya itu tersenyum. “Terima kasih karena sudah menjaga Putri,”.


“Ah, Tante tidak perlu berterima kasih begitu. Lagipula bukan hanya saya saja,” Balas Nasya.


Wanita itu lagi-lagi tersenyum hangat. Ia terlihat senang dengan kehadiran Nasya disana. Entahlah, rasanya seperti sedang berbicara pada anaknya.


Beberapa detik kemudian, Wanita tersebut berdiri—mengambil tas sandang berwarna merah tua. “Maaf, apa tante bisa minta tolong lagi padamu ?,”.


Dengan pasti, Nasya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


“Tante harus antar ayah Putri buat cek up siang ini. Tolong jaga Putri sampai Reza kembali ya,”.


“Baik, Tante,”.


“Tante percaya pada kalian berdua! Kalau gitu tante pergi dulu,” Kelihatannya, wanita tersebut benar-benar yakin dengan apa yang ia ucapkan. Membuat Nasya merasa sedikit aneh.


Setelah wanita itu keluar dari ruangan, Nasya kembali duduk ditempatnya. Ia memandang wajah Putri disana. Helaan napas sedikit terdengar.


“Kenapa aku terus saja kesini ?,” batinnya. Ia nampak merasa aneh pada dirinya sendiri. Bukankah, Ia dan Putri tidak saling mengenal.


Nasya terus saja memandangi wajah perempuan yang terbaring itu. Tidak saling mengenal tapi terasa memiliki hubungan yang sangat dekat.


##


“Loh, Putri ga diajak ?,” Nasya menatap heran Reza yang berjalan mendekat ke arahnya.


Dan Reza melirik sekilas perempuan yang tengah sibuk di meja kerjanya, “Enggak. Dia bilang, udah punya janji makan siang sama pacarnya,” Jawab Reza kembali menatap Nasya yang berdiri di sebelahnya.


Mendengar itu, Nasya hanya menganggukkan kepala namun sorot matanya terus saja menatap Putri yang sibuk disana.


“Ada apa ?,” Reza yang melihat itu merasa heran. Memangnya apa yang aneh pada rekan kerjanya tersebut sampai-sampai Nasya tak beralih pandangan dari Putri.


Nasya menggeleng pelan namun matanya masih terus tertuju pada Putri.


"Yaudah, yuk makan! Katanya laper," Disaat itulah, Nasya menoleh dan mengangguk—mengikuti langkah kaki Reza yang pergi dari ruang kerja tersebut. Namun sebelum benar-benar pergi, Nasya menoleh ke belakang—melirik sekilas perempuan manis disana.


##


Nasya tersenyum memandang wajah Putri yang terbaring disana. Mengingat apa yang tengah ia lakukan saat ini. Bukan teman, sahabat ataupun saudara tapi ia rela duduk disana—disebelah perempuan itu terbaring.


Memandang wajah Putri seperti ini, membuat Nasya ingin mengelus pelan kepalanya. Sejak awal melihat Putri, rasanya benar-benar sangat aneh. Seakan bertemu dengan seseorang yang sudah sangat lama menghilang.


“Tidak... Lepas...!,”.


Tangan Nasya terhenti, saat sebuah lirihan terdengar di telinganya. Ia menatap wajah Putri. Kelihatannya perempuan itu mengigau.


“Enggak! Aku... gamau ikut!,”.


Ya, perempuan itu benar-benar mengigau. Sepertinya banyak hal sulit yang dilalui oleh Putri. Pikir Nasya.


“Kakak... Tolong aku...!,”.

__ADS_1


Nasya terkejut mendengar lirihan tersebut. Bola matanya terbelalak. Itu...,


“Kakak...!,”.


__ADS_2