NADI

NADI
Nasya.


__ADS_3



SREEET!



Suara halus dari pintu yang didorong ke samping tak sedikitpun membuat Putri, wanita berusia 20 tahunan tersebut, terbangun. Ia nampak tertidur nyenyak di atas brankar. Sebuah perban melingkar di kepala gadis itu. Bahkan selang oksigen dan infus masih setia di tubuh Putri.



"Apa yang terjadi padanya?," Nasya menatap Reza sekilas lalu kembali menatap Putri di hadapannya.



"Dia menjadi korban tabrak lari," tatap Reza sendu pada gadis yang terbaring di atas brankar tersebut. Miris rasanya melihat keadaan sahabatnya saat ini. Kenapa bisa dia se-malang itu? Setelah di jual oleh pacarnya sendiri dan nyaris saja di tidur-i oleh lelaki bejat, Kini terbaring di rumah sakit dan itu juga di karenakan oleh perbuatan dari sang pacar, Bisma.



Nasya merasakan sesak dalam hati. Mendengar jawaban dari Reza. Dan entah kenapa ia jadi merasa khawatir pada gadis yang tak di kenal olehnya itu. Bahkan, mereka baru satu kali bertemu dan itupun atas nama ketidaksengajaan.



"Lalu, Bagaimana keadaannya sekarang?," Nasya menoleh cepat pada Reza dan berharap dalam hati bahwa Reza akan mengatakan 'Dia sudah baik-baik saja'.



Reza menatap Nasya dengan tersenyum "Syukurlah, dia sudah melewati masa kritisnya.".



Nasya menghela napas leganya mendengar hal itu. Matanya kembali beralih pada Putri dan perlahan mendekati brankar Putri.



Reza yang masih di sana, menatap aneh akan pada Nasya. Setaunya, Nasya dan Putri tak saling mengenal satu sama lain.



Nasya menatap lekat wajah gadis itu. "Wajah ini... Terlihat sangat familiar," batinnya. Dan cukup lama istri dari Dicky Prasetyo itu, memandang wajah Putri.



Merasa terusik, Gadis yang tengah tertidur itu akhirnya bangun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga pandangannya terlihat jelas.



"Ah, Maaf. Aku membuatmu terbangun," kaget Nasya saat melihat Putri membuka matanya.



Putri nampak bingung dengan sosok wanita yang ada diruangannya. "Kamu... Siapa?.".



.


.


.



"Mulai sekarang, jauhi Putri dan jangan pernah ganggu hidupnya lagi!!!.".



Kalimat itu masih terekam jelas di benak Bisma. Pemuda yang menyandang predikat 'pacar' dari Putri. Ah, Maaf! Bukan 'pacar' tapi 'mantan pacar'.



Bisma yang terduduk di bangku koridor rumah sakit, meratapi semua kesalahan yang telah diperbuat olehnya. Ia merasa kesal. Kesal terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji itu pada Putri, seseorang yang dengan tulus sangat mencintainya.



Drt...


Drt...


Drt...



Ponsel di saku Bisma sudah berkali-kali bergetar namun Bisma tetap tak menghiraukan panggilan tersebut.



"Aish! Nyebelin!," dumel wanita diseberang sana yang berpakaian ketat, menatap ponsel. Nampaknya ia kesal, panggilan telepon darinya tak ada satupun yang di jawab oleh Bisma.



"Kamu dimana sih, Bis?," gumamnya yang kembali mencoba untuk menghubungi Bisma.



Bisma yang tak ingin di ganggu saat ini, merasa kesal karena ponselnya terus saja berbunyi dan bergetar. Ia lalu meraih ponsel tersebut. Tertera nama 'Nara' disana.

__ADS_1



Nara? Ah, dia adalah wanita yang berpakaian ketat dan sangat suka datang ke sebuah club bersama teman-temannya. Dan dia adalah pacar dari Bisma Karisma yang 'baru'.



Bisma menatap layar ponselnya, kesal. Ia me-reject panggilan tersebut lalu me-nonaktifkan ponselnya.



"Ish! Apaan sih, Bisma? Kenapa dimatiin coba?," gerutu wanita bernama Nara yang mencoba kembali menghubungi Bisma. Dan ...



"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..."



Hal itu membuat Nara jadi benar-benar kesal pada Bisma. Setelah me-reject panggilannya, kini Bisma me-nonaktifkan nomor teleponnya. Nara yang berada di depan sebuah club itu berdecak menatap ponselnya seakan menatap Bisma. Lalu ia berjalan masuk ke dalam club tersebut dengan sedikit menghentakkan kaki sehingga terdengar tapakan dari high hells nya.



Sementara Bisma? Kelihatannya ia benar-benar menyesal atas perbuatannya. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan. Dalam benaknya, Ia harus meminta maaf pada Putri tapi, Bagaimana jika Putri akan membenci dirinya dan tidak mau memaafkannya?.



.


.


.



"Apa om akan pergi ke rumah sakit?," Pemuda sipit yang barusaja tiba di Indonesia beberapa hari yang lalu, menatap pria baya yang tidak lain adalah ayah dari Dicky Prasetyo, sepupunya.



"Iya. Om harus melihat keadaan istrinya Dicky.".



"Biar aku temani, om...." Pria baya itu menoleh seketika pada Rafael. "...Sejak tiba disini, Bibi menyuruhku untuk tetap berada di rumah. Rasanya membosankan! Aku bahkan sama sekali belum bertemu dengan Dicky," keluhnya pada pria baya yang di panggilnya dengan om tersebut.



Setelah mendengar pernyataan Rafael, Pria tersebut nampak berpikir sejenak. Mungkin, ia juga dapat merasakan, betapa bosan keponakannya yang baru saja tiba dari New York itu jika hanya berada di rumah. "Ah, Baiklah!.".




.


.


.



Nasya baru saja keluar dari kamar inap Putri. Ia hendak kembali ke kamar inapnya yang berbeda lorong dari kamar inap Putri.



Ketika berada di pertigaan lorong, sesorang wanita yang sedang terburu dalam keadaan marah dan kesal tanpa sengaja bertabrakan dengan Nasya. "Aw...," Keduanya hanya bertabrakan bahu tidak sampai jatuh ke lantai.



Wanita yang dalam keadaan marah tersebut menatap Nasya dan hendak memarahinya namun ia nampak terkejut saat menyadari sosok yang baru saja bertabrakan dengannya.



Nasya sendiri pun membolakan mata melihat wanita yang bertabrakan dengannya. Lalu mengalihkan tatapan matanya. "Maaf!" ucap Nasya dan bergegas menuju kamar inapnya.



"Tunggu!.".


Nasya menghentikan langkahnya dan perlahan menoleh pada wanita tersebut.



Wanita itu menatap tajam Nasya disana.



"Gue ga akan menceraikan Nasya! Apapun yang terjadi, gue ga akan menceraikan dia!.".


Kalimat itu masih terekam jelas. Kalimat yang membuatnya marah. Rasanya, ia ingin membunuh wanita bernama Nasya, yang saat ini tepat berada di hadapannya. Ya, wanita itu adalah Nabila.



"Ada apa?," Nasya yang juga menatap tajam Nabila.



Nabila perlahan berjalan mendekati Nasya dan Nasya tentu sudah mengambil ancang-ancang kalau-kalau wanita itu 'melakukan hal yang tidak diinginkan' (lagi).

__ADS_1



"Apa lo beneran ga inget apapun tentang Dicky?.".



DEG!


Nasya nampak terkejut dengan pertanyaan itu. Untuk apa wanita itu bertanya seperti itu padanya?.



"Kenapa lo diem aja? Lo beneran ga inget soal Dicky?," tatap Nabila dengan dahi mengkerut. Ia ingin memastikan kabar yang didengar olehnya bahwa Nasya tidak mengingat apapun tentang Dicky dan dirinya.



Nasya lalu tersenyum miring menatap wanita itu. "Dicky? Pria yang sepanjang hari ada di depan kamar inap gue?," Nabila mengkerut dan menatap Nasya serius, memperhatikan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Nasya.



"Memangnya dia siapa? Apa dia orang penting? Artis?," Nasya berucap ketus dengan menatap lawan bicaranya itu.



Nabila masih tetap menatap Nasya. "Lalu... Bagaimana dengan gue?," tanya perlahan. Sorot matanya terus saja memperhatikan setiap gerak-gerik Nasya.



Nasya mengkerut akan pertanyaan itu.



"Apa lo inget sama gue?," tatap serius Nabila dengan sedikit tersenyum sinis.



Sejenak Nasya diam, menatap tajam wanita itu. Kenapa dia bertanya seperti itu?.



Nasya lalu melipat tangannya "Huh, Kenapa banyak sekali orang yang ingin di inget sama gue?....".



Nabila menatap bingung. "...Apa gue ini orang penting ya?," ucap Nasya menempelkan ibu jari dan telunjuknya ke dagu.



"Lo ga inget apapun tentang gue?," heran Nabila.



Nasya beralih menatap wanita itu dan menggeleng "Enggak. Apa kita saling kenal?.".



Nabila terdiam sejenak mendengar itu. "Jadi, dia benar-benar lupa ingatan," batinnya merasa lega setelah memastikan hal itu.



"Maaf, Apa kita saling mengenal?," Nasya kembali mengulangi pertanyaannya.



Nabila lalu menggeleng dan tersenyum lebar pada Nasya. "Ah, maaf. Gue rasa, gue dan Dicky keliru." Nasya mengernyit, memahami maksud perkataan itu.



"Jadi lo ga inget tentang kita berdua?.".



Nasya menggeleng cepat. "Enggak.".



Senyum Nabila lagi-lagi tersenyum lebar. "Sepertinya lo memang bukan orang yang kami kenal.".



Nasya diam menatap Nabila disana.



"Maaf karena kami sudah ngeganggu lo!," ucap Nabila lalu pergi dari hadapan Nasya.



Sembari berjalan, menjauh dari hadapan Nasya. Nabila terlihat sangat senang dengan apa yang telah di dengarnya dari Nasya. "Baguslah, kalo lo beneran ilang ingatan." batinnya.



Namun, disisi lain..



"Lo kira gue akan diem aja? Gue sangat tau maksud dan tujuan lo!.".

__ADS_1


__ADS_2