
Dengan wajah panik dan khawatir, Dicky melirik Nasya yang terbaring di brankar. Ia terus berada disamping sang istri sembari mengikuti arah para perawat yang membawa brankar itu menuju ke ruangan unit gawat darurat.
"Bertahanlah, Nasya!," ucapnya yang berlari dan sesekali menatap sang istri. Wajah panik serta khawatirnya itu terlihat sangat jelas, seakan takut kehilangan Nasya.
"Maaf, pak. Anda tunggu saja diluar!," ucap suster yang menahan Dicky masuk keruang UGD, mengikuti brankar yang membawa istrinya itu.
"Selamatkan istri saya ya, suster!. Tolong!," ucap Dicky memohon dan berharap pada suster dan dokter yang ada di dalam ruangan. Sang suster mengangguk.
Sorot mata Dicky kembali mengarah pada Nasya yang tidak sadarkan diri diatas brankar itu. Matanya tak sedikitpun beralih dari Nasya hingga pintu ruangan UGD itu tertutup rapat.
Dicky mencoba mengatur deru napasnya yang sudah tidak beraturan. Sekilas ia mengalihkan mata dari depan pintu yang tertutup rapat itu sembari mondar-mandir layaknya sebuah setrikaan.
Panik luar biasa yang kini dirasakan olehnya. Hatinya pun tak henti berdoa dan berharap agar tidak terjadi apa-apa pada Nasya di dalam sana.
Nabila memperhatikan sang pujaan hati yang tetap setia berada di depan ruang UGD, mondar-mandir serta sesekali menatap pintu berwarna putih tersebut. Ia sedikit ber-decak kesal akan hal itu. Hal yang sama sekali tidak penting, pikirnya.
Dengan kesal, Nabila menghampiri Dicky yang bahkan tidak menghiraukan kedatangannya.
"Dicky!," Nabila memegang tangan pemuda itu, menahannya agar berhenti melakukan hal yang tidak berguna di depan ruang UGD tersebut.
Dicky melirik tangan yang memegang tangannya itu dan menoleh cepat pada sang pemilik tangan tersebut.
"Kamu ngapain sih?," dengus kesal Nabila atas apa yang dilakukan Dicky disana.
Dicky menghadapkan tubuhnya pada Nabila disana. Menatap dengan tatapan serius penuh amarah. "Harusnya aku yang nanya gitu ke kamu!...," ucapnya membuat dahi Nabila mengkerut.
"Lihat!," unjuk Dicky pada ruang UGD disana.
"...Gara-gara kamu, Nasya jadi seperti ini!," sambung Dicky dengan penuh penekanan pada kalimatnya.
"Kenapa kamu malah nyalahin aku?...," Nabila tak terima dengan apa yang Dicky tuduhkan padanya.
"...Bukannya ini yang kamu mau? Nyingkirin perempuan itu dari hidup kamu kan?," sambung Nabila sembari mengingatkan sesuatu pada pemuda yang ada di hadapannya.
Dicky masih enggan menjawab, ia masih dengan tatapan amarahnya pada Nabila sembari mencerna perkataan itu.
"Dari awal kamu yang ingin aku pura-pura jadi istri baru kamu buat nyingkirin Nasya dari hidup kamu. Kamu lupa dengan itu?," jelas Nabila.
Setelah mendengar penjelasan itu, Dicky mengalihkan bola matanya ke bawah. Sejenak menghindar dari tatapan Nabila. Memory nya memutar kembali saat dimana ia berada di kantor, duduk bersama perempuan yang ada dihadapannya ini dengan mesra. Dimana pada saat itu, ia membisikkan sesuatu pada telinga Nabila lalu tersenyum sinis setelahnya. "Gimana? Kamu mau kan, sayang?," ucapnya yang tentunya dijawab anggukan oleh Nabila walaupun dalam hati, perempuan itu sedikit kecewa~
Raut wajah Dicky saat itu membuat Nabila men-de-ha, mengalihkan sekilas tatapannya pada Dicky sembari melipat kedua tangan. "Oh, jadi kamu udah lupa soal itu?," ucapnya kembali menatap Dicky yang menoleh cepat setelah lamunannya itu menghilang.
Dicky kembali menatap dengan tatapan sebelumnya "Perbuatan kamu itu udah kertelaluan!!!," tekannya lagi.
Nabila kembali mengalihkan sekilas tatapannya, melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. "Kenapa?," ucapnya yang kembali menatap Dicky disana.
"Kamu ga rela kehilangan dia?," tanya Nabila membuat Dicky sejenak diam, melonggarkan sorot matanya yang tajam dan mengalihkan pandangan dari Nabila.
Dicky terdiam, mematung ditempat, memikirkan ucapan Nabila. Tak rela? Apa mungkin?
"Munafik kamu, Dic!.".
Hal itu membuat Dicky menoleh cepat kepada Nabila yang menatapnya kesal.
"Kamu bilang, kamu gaakan pernah berpaling dari aku. Tapi apa sekarang? Sekarang kamu berpaling dari aku!," sambung Nabila dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa sesak saat tau bahwa hati Dicky sudah bukan untuknya lagi. Meski begitu, ia tetap tidak terima dengan hal itu. Baginya, Dicky tetap miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya! Bagaimanapun caranya, Dicky adalah miliknya!
__ADS_1
Dicky tak mengatakan apapun, menatap Nabila yang perlahan menitikkan air mata. Hatinya tak kuasa, melihat perempuan itu menangis. Namun, disisi lain, ia juga merasa sakit karena tak sanggup melihat keadaan Nasya yang sampai saat ini belum juga di konfirmasi oleh dokter.
Dicky mengalihkan pandangan, menunduk seraya berpikir, untuk siapa hatinya saat ini? Bimbang.
Lalu...
"Dicky!," seorang wanita baya bersama suami dan keponakannya, berlari cepat dengan memanggil nama Dicky. Wajahnya sangat panik dan khawatir. Ia memegang lengan menantunya itu. "Bagaimana keadaan Nasya?," tanyanya kepada Dicky dengan mata yang berkaca.
Dicky yang sedikit menunduk itu, perlahan melirik mertuanya, "Nasya masih didalem, ma," jawabnya dengan berat hati.
Dicky merasa bersalah kepada wanita baya itu karena telah menyebabkan anaknya jadi seperti ini. "Maafin Dicky, ma. Ini semua salah Dicky!," sambungnya menatap sendu wanita baya itu.
Nabila yang mendengar itu, tersenyum remeh menatap Dicky sembari melipat tangan.
"Dicky! Apa yang terjadi?," sahut seorang wanita baya lainnya yang baru saja tiba dan menghampiri Dicky.
Wanita itu tidak lain adalah mamanya sendiri. "Bagaimana bisa Nasya jatuh dari tangga?," tanya sang mama dengan tatapan amarah, panik dan khawatir pada anaknya itu.
Dicky mengalihkan wajah dari tatapan sang mama. Tak ada jawaban dari Dicky, ia tak sanggup menceritakan apa yang terjadi sebelumnya.
Wanita baya itu memegang kedua bahu sang anak, "Jawab mama, Dicky!.".
Dicky benar-benar merasa bersalah saat itu "Maaf, ma.".
Wanita baya itu lalu melirik pintu putih yang ada disebelah Dicky, sekilas dan kembali menatap Dicky, "Lalu, bagaimana keadaannya? Bagaimana keadaan Nasya?.".
Dicky kembali menatap sang mama disana, ia menggeleng, "Dicky gatau, ma. Nasya masih didalem, dokter masih memeriksanya," jawab Dicky.
Mama Nasya terduduk lemas di bangku tunggu setelah mendengar itu. Sementara mama Dicky tetap berdiri di hadapan anaknya, melepaskan tangannya dari bahu Dicky. Ia beralih dari hadapan Dicky, khawatir akan keadaan menantu kesayangannya.
Mendengar itu, Mama Nasya melirik perempuan yang dituduh mencelakai anaknya itu, beliau sedikit mengkerutkan dahi.
Dicky nampak terkejut, Ia segera menghampiri mamanya.
Nabila tetap bersikap biasa layaknya tak terjadi apapun.
"Dasar perempuan gatau diri, kamu! Sudah saya bilang, jangan pernah ganggu kehidupan anak saya lagi!," wanita baya itu menatap dengan sangat tajam bak ingin membunuh perempuan tersebut.
"Tante! Ini tu bukan salah aku! Nasya nya sendiri yang jatuh ditangga!," ucap Nabila dengan mengalihkan pandangan sekilas dan merasa tak bersalah sedikitpun.
"Bohong kamu! Saya tau, Ini pasti ulah kamu!," balas wanita baya tersebut.
Nabila sedikit membola dengan tuduhan wanita itu lagi. Ia melepaskan lipatan tangannya, wanita itu nampak menyebalkan. "Aduuuh! Tante ga denger apa yang aku bilang tadi? Ini bukan salah aku!," ucap Nabila dengan menatap kesal wanita baya itu.
Mama Dicky tak akan mudah percaya begitu saja dengan ucapan perempuan itu, yang ada beliau selalu murka jika melihat wajah perempuan itu. "Dasar perempuan tidak tau malu, kamu! Pergi kamu dari sini!," usir mama Dicky pada Nabila.
"Tunggu!," ucap Mama Nasya. Beliau bangkit dari duduknya, menatap mertua Nasya dan Nabila disana.
"Apa maksudnya ini?," Mama Nasya menatap satu persatu pada mertua Nasya, Nabila dan juga Dicky disana.
Nadila yang juga berada disana merasa tak asing dengan wajah perempuan yang sedang di maki oleh mertua Nasya tersebut. "Loh, dia ini kan, perempuan yang datang ke kantor dua hari yang lalu," ucap Nadila refleks mengatakan itu, membuat semua menoleh padanya.
"Dia datang ke kantor?," tanya mama Dicky.
Nadila mengangguk yakin, "Dia datang ke kantor nyariin kak Dicky," jawab Nadila sembari melirik Dicky disana.
__ADS_1
Disusul oleh mama Dicky, beliau tak menyangka ternyata anaknya itu masih saja behubungan dengan Nabila tanpa sepengetahuannya "Oh, jadi kamu masih berhubungan sama dia?," Wanita baya itu menatap nanar sang anak.
"Apa maksudnya ini?," sahut papa Nasya yang bingung akan pembicaraan itu.
Berhubungan? Pria baya itu menatap Dicky dan perempuan bernama Nabila yang tak dikenalnya, satu per satu. "Berhubungan?," Dicky masih enggan untuk menjawab.
"Jadi kamu selingkuh sama perempuan ini? Di belakang anak saya?," tanya papa Nasya.
Nabila kembali tersenyum remeh, ia menatap pria baya yang juga menyebalkan untuknya disana. "Denger ya, om. Kita bukannya selingkuh tapi emang udah jodoh. Dasaran anak om aja yang ngerebut jodoh saya!," ucap Nabila dengan ketus membuat papa dan mama Nasya serta Nadila terkesiap.
Begitupun Dicky yang menoleh cepat pada Nabila.
Sedangkan mama Dicky, menghela napas beratnya, ia sudah sangat muak dengan perempuan itu dan sekarang, tak bisa ia bayangkan reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh besannya itu.
Dimenit kemudian, beberapa suster dan juga seorang pemuda dalam kondisi memar diwajah tengah berlari membawa sebuah brankar menuju ruang UGD, tepat dimana Nasya berada.
Tentu, Keluarga Nasya yang masih berada di depan pintu ruangan itu, menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
Brankar itu melewati mereka, terlihat perempuan yang terbaring diatas brankar itu dengan darah sekujur tubuh dan juga kepala.
Deg!.
Mama Nasya membola melihat itu, jantungnya berdetak sangat cepat, tiba-tiba saja rasa khawatir dan paniknya muncul seperti saat ia terbangun dari mimpi sebelumnya.
Beliau meletakkan tangan didada, mencoba menenangkan perasaannya. Ahh, Tentu saja ini adalah rasa khawatirnya pada Nasya di dalam sana.
"Maaf, mohon anda tunggu diluar!," ucap suster kepada pemuda dengan luka lebam tersebut.
"Tolong selamatkan teman saya, sus!," mohon pemuda itu pada sang suster.
"Akan kami lakukan semaksimal mungkin," jawab suster lalu menutup rapat pintu UGD tersebut.
Dicky menatap pemuda itu, ia merasa tak asing dengan orang itu.
"Nak, Reza?," ucap mama Nasya yang segera menghampiri pemuda bernama Reza itu dan Dicky pun menatap sang mertua yang mengenal pemuda itu.
Reza menoleh, dilihatnya disana keluarga Nasya yang tengah berkumpul. Ia tak menyangka bahwa disana akan ada keluarga Nasya namun ia juga sedikit mengkerut, menatap bingung, kenapa keluarga tersebut berada disini?.
"Apa yang terjadi, nak?...," tanya mama Nasya melihat keadaan Reza dengan penuh khawatir.
"...Kenapa kamu bisa begini?," tanyanya lagi dengan menyentuh pelan wajah Reza yang lebam.
Reza diam tak menjawab, bukan karena tidak ingin menjawab namun karena bingung harus menjawab bagaimana. Lagipula menurutnya hal ini tidak ada urusannya pada mereka.
"Eh.. Engh---Tante, sedang apa disini?," ucap Reza mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nasya," jawab wanita baya itu membuat Reza terkesiap.
"Nasya kenapa, tante?," tanyanya yang mulai khawatir pada Nasya. "Nasya ... ".
"Suster, bagaimana keadaan istri saya?," ucap Dicky bergegas menghampiri suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
Sang suster keluar bukan untuk memberitahukan keadaan pasien kepada keluarga pasien namun untuk memanggil dokter lainnya dikarenakan di dalam hanya ada satu dokter yang tentu saja mungkin akan kewalahan menangani dua pasien apalagi pasien yang barusaja tiba itu dalam keadaan kritis akibat kehilangan banyak darah.
Melihat suster itu, Reza kembali panik mengingat keadaan temannya dan juga segera menghampiri sang suster. "Suster, keadaan teman saya gimana, sus? Tolong selamatkan dia, sus!.".
__ADS_1
"Maaf! Mohon tunggu! Dokter sedang menangani keduanya," jawab suster itu cepat dan bergegas pergi dari depan ruangan tersebut.