NADI

NADI
Pasrah.


__ADS_3



Dicky bergegas turun dari mobil sang papa. Tak memperdulikan siapa yang ada bersamanya. Pikirannya hanya tertuju pada Nasya. Ia, sedetikpun tidak ingin meninggalkan rumah sakit itu.



Matanya yang sendu, menelusuri panjangnya lorong rumahsakit. Ia tidak peduli berapa kali papa mertua akan mengusirnya, ia akan tetap ada disini sampai Nasya mengingat dirinya.



"Dicky, tunggu!," Rafael menepuk bahu sabg sepupu.



"Gue harus tetep disini," Dicky berucap sambil mengalihkan bola mata dari Rafael dan kembali menyusuri lorong panjang itu.



"Dicky!," Rafael menahan pria itu. Terlebih lagi, sang paman sudah menyuruhnya untuk membawa Dicky pulang ke rumah. Ah, keadaannya sungguh memprihatinkan.



"Lepasin gue!," Dicky meronta.



Rafael tetap menahan pemuda itu. "Gue ngerti gimana perasaan lo saat ini! Gue tau, lo sedih tapi ga kayak gini juga! Lo juga harus jaga kesehatan lo sendiri!,".



Dicky melirik pemuda yang katanya mengerti tentang perasaannya. Ia menatapnya tajam, bagaimana bisa pemuda yang baru tiba itu mengerti ? Dicky tersenyum remeh padanya.



"Lo bilang, lo ngerti ?," Dicky melepaskan kasar tangan Rafael yang menahannya. "Lo tu gatau apa-apa! Istri gue di dalem!," unjuk Dicky ke ujung sana, dimana arah kamar inap istrinya berada.



"Dia jatuh dari tangga. Kepalanya terbentur dan Dokter mengatakan bahwa dia hilang ingatan. Dan lo tau, hanya gue... orang yang ga bisa di inget sama dia, GUE!!!," Dicky menunjuk dirinya dengan menepuk kuat dadanya sendiri. Bahkan Rafael bisa melihat, cairan bening yang jatuh dari pelupuk mata Dicky.



"Lo gatau gimana perasaan gue! Lo ga bakal ngerti!,".



Rafael seakan mematung disana, setelah mendengar yang sebenernya terjadi. Pemuda sipit itu terus saja menatap sang sepupu. Ia tak pernah melihat Dicky menderita seperti ini. Orang yang selama ini mendapatkan apa yang diinginkannya dengan begitu mudah, kali ini benar-benar hancur.



\*\*\*



PLAK!!!



Nabila menampar kuat Bisma yang ada di hadapannya. Ia menatap tajam bagai ingin membunuh pemuda kurus itu.



Dan tentu, Bisma tidak terima "Lo apa-apaan, Bil?," nada tinggi keluar dari mulut Bisma, memegang sekilas pipinya yang mulai memerah.



"Lo yang apa-apaan? Maksud lo apa ngebiarin Nadin gitu aja ?," ucap kesal Nabila yang sangat tidak terima dengan perlakuan Bisma kepada Nadin.



Cihh~


Pemuda kurus itu tersenyum remeh dengan mengalihkan bola matanya sekilas.



"Gue pernah bilang sama lo, kalo lo berani nyakitin dia, urusannya ke gue!,".



Dan lagi, Bisma tersenyum remeh pada wanita yang sama hinanya dengan wanita bernama 'Nadin' tadi. "Ah, jadi gue harus berurusan sama lo?," Bisma melipat tangannya. Menatap tajam lawan bicaranya.



Nabila mengernyit, menurutnya Bisma mulai berubah.

__ADS_1



"Bilang sama temen lo yang mu\*\*h\*\* itu. Mulai hari ini, gue sama dia udah ga punya hubungan apapun lagi!," Bisma berucap dengan penuh penekanan di kalimat akhirnya.



Dan Nabila tak terima mendengar Bisma bicara kasar tentang wanita bernama 'Nadin' itu. Tangannya mengepal dan hendak kembali mendaratkan sebuah tamparan di wajah Bisma namun kali ini Bisma lebih cepat darinya. Ia menahan dan mencengkeram kuat tangan Nabila. Pemuda kurus itu kembali tersenyum remeh, ia sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Nabila.



"Lo tau? Gue bukan tipe yang ngebiarin orang nyentuh wajah gue sembarangan! Jadi gue ingetin lo untuk hati-hati! Karena gue bisa jadi buas tanpa rasa iba," Bisma melepas kasar tangan wanita itu dan masuk ke dalam rumahnya setelah berbisik seperti itu pada Nabila.



Nabila berdecak sebal. Kata-kata Bisma barusan, sedikit menakutkan. Tapi tetap saja, ia harus melakukan sesuatu pada pemuda kurus tersebut karena telah berani menelantarkan Nadin begitu saja.



Drt.. Drt...



Nabila dikejutkan oleh suara ponsel yang berdering dan bergetar dari dalam tas selempang berukuran kecil di tangannya. Melihat nama yang tertera di layar ponsel itu, Nabila bergegas menjawabnya.



Semula, wajah Nabila nampak biasa saja. Ia pikir, seseorang yang menelepon di seberang sana ingin membicarakan rencana yang telah mereka buat beberapa jam lalu. Namun betapa terkejutnya Nabila saat ia mendengar penjelasan dari si penelepon tersebut.



Bola mata Nabila segera beralih pada pintu hitam di belakangnya. Dengan tajam, ia seakan sedang menatap Bisma disana. "Jadi begitu? Lo bersikap kayak gini hanya karena cewe itu? Munafik lo, Bis!," Nabila bergumam sembari menutup teleponnya. Ia tersenyum sinis. Entahlah, otaknya itu seakan tiada habisnya memikirkan hal yang tidak terpikirkan sama sekali oleh orang lain.



\*\*\*



"Kamu tidak bisa memaksa mereka berpisah begini. Apalagi keadaan Nasya sekarang tidak ingat bahwa dirinya sudah menikah," Papa Dicky menatap serius sang sahabat di hadapannya. Dia adalah papa Nasya. Keduanya sudah bersahabat sangat lama. Dan papa Dicky sendiri sudah tau, sikap dan sifat dari papa Nasya. Tidak mudah membujuknya untuk keputusan yang telah dibuat olehnya.



"Kamu pikir karena ulah siapa Nasya jadi begitu?," Tatap tajam papa Nasya. Ia tau bahwa lawan bicaranya itu berusaha mengubah keputusannya. "Itu karena ulah Dicky! Anakmu, Bram." lanjutnya.




"Tidak perlu! Itu hanya buang-buang waktu saja!" Papa Nasya membuang wajah dari tatapan papa Dicky.



"Itu perlu, Rama! Jika tidak, perceraian ini hanya akan sia-sia!,".



Seketika, papa Nasya mengernyit. Ia merasa heran dengan maksud ucapan itu. "Apa maksudmu?,.



Dan tanpa diketahui, tak jauh dari kamar inap Nasya, Dicky berada disana. Ia mendengar dan menyaksikan pembicaraan papa dan papa mertuanya. Dicky terdiam di tempatnya. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Sepertinya, sang papa setuju dengan keputusan papa mertuanya. Itu artinya, ia harus rela berpisah dengan Nasya.



Rafael yang ada bersama dengannya, juga tak percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya. Sorot matanya segera menangkap sosok Dicky yang ada di depannya.



Perlahan, Dicky berbalik. Ia tak mungkin menghampiri kedua pria baya disana. Percuma saja, toh tidak akan ada yang berubah jika ia datang dan membantah keputusan mereka.



Dengan lemas dan gemetar, Dicky berusaha melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Ah, dia sudah seperti orang gila saja. Dengan wajah yang pucat, sembab, rambut acak-acakan, dan tatapan yang kosong. Ia benar-benar putus asa sekarang.



Khawatir, Rafael terus menatap sepupunya yang terlihat lebih kurus. Entah, sudah berapa hari Dicky tak mengisi perutnya sementara pikirannya hanya ada Nasya, Nasya dan Nasya saja. Woaah! Tak dapat disangka, Dicky bisa jadi seperti ini hanya karena wanita.



Dicky terus saja berjalan, melewati Rafael disana. Sungguh, ia tak bisa membayangkan jika ia harus berpisah dengan wanita yang kini benar-benar di cintainya. Mungkin, ia akan mengakhiri hidup saja. Tapi sepertinya, Dicky bukan tipe orang yang seperti itu.



»


__ADS_1


Nasya yang duduk di atas brankarnya, menyatukan tangannya dengan posisi menggenggam. Ia merasa risau dengan yang terjadi di luar kamar inapnya. Degupan jantungnya terus saja bekerja dengan cepat. "Kenapa jadi serumit ini?," batinnya. Sesekali, matanya melirik ke arah pintu cokelat di sana. Ah, kedua pria baya itu lama sekali.



Begitu pula yang dirasakan oleh wanita baya yang masih berada di dalam kamar inap Nasya. Ia yang duduk di sofa berwarna cream itu, tak henti-hentinya menatap pintu cokelat disana. Takut-takut kalau kedua pria baya disana akan berkelahi. Mengingat mereka sedang membahas masalah serius yang tentunya tidak di terima oleh keluarga Bram ( papa Dicky ).



Sejujurnya, wanita itu tak ingin ada sebuah perpisahan dalam rumah tangga anaknya namun, ia tak juga tidak ingin melihat Nasya di perlakukan seperti itu oleh suaminya, Dicky. Wanita itu lalu melirik anak sulungnya yang duduk di atas brankar. Lalu, ia tersenyum menatapnya. Satu-satunya yang dapat membuatnya bahagia adalah melihat anaknya bahagia. Melihat senyum terukir di wajah Nasya.



"Ma, Kenapa papa dan om Bram lama banget?," Nasya menatap mamanya yang duduk di depan brankarnya. Seakan tak sabar ingin mendengar pembahasan di luar sana.



Namun, wanita baya itu malah mengernyit, menatap anaknya. Ada sesuatu yang tidak semestinya di ucapkan dalam pertanyaan itu. Dan bola mata Nasya beralih dari tatapan sang mama dan kembali menatap pintu cokelat disana.



»



"Ah, gue bisa di omelin habis-habisan kalo ibu lo liat!," dumel Reza menatap wanita yang berada di kursi roda yang sedang di dorongnya.



Putri terkekeh mendengar dumelan pria tersebut. Meskipun sebenarnya ia juga merasa tak enak jika nanti pria itu di marahi oleh sang ibu. "Nanti gue yang tanggung jawab kalo ibu marah-marah sama lo!," balasnya sedikit melirik ke belakang. "Lagian, gue kan cuma mau keliling di sekitaran rumah sakit. Ibu pasti ga akan ngomel panjang ke elo!," lanjutnya sembari menatap beberapa pasien yang juga berada di taman rumah sakit.



Pemua itu tersenyum mendengar jawaban Putri. Wanita ini memiliki sifat yang sama dengan seseorang yang sampai saat ini masih menjadi pemilik hatinya.



"Pokoknya gue gamau di omelin sama ibu. Kalo lo ga tanggung jawab, Gue bakal kasih lo banyak tugas dikantor setelah sehat nanti!,".



Putri berkerucut mendengar ancaman itu. Ia tak bisa menjamin kalau sang ibu tak akan memarahi pemuda itu. Aish! Kalau begini, ia harus bekerja keras setelah sembuh nanti.



Reza yang mengetahui itu menahan tawa ringannya. Bagaimana bisa dirinya setega itu memberikan pekerjaan yang banyak setelah Putri masuk kerja nanti. CEO macam apa itu ? Bisa-bisa para pegawainya lari ketakutan.



"Ah, Itu bukannya pria yang seenak jidatnya ngebatalin kontrak kerja kita?," ketus Putri menatap pria yang duduk termenung di ujung sana. Dan Reza menatap kearah dimana sorot mata Putri terhenti.



"Benar, itu Dicky,".



"Suami Nasya kan ?," Putri menoleh dan mendongak, menatap Reza yang berdiri di belakangnya. Dan Reza menoleh cepat setelah mendengar pertanyaan Putri. Wanita itu masih saja mengingat banyak hal. Bahkan saat di suruh istirahat pun, ia tetap memikirkan hal yang lain. Bukannya memikirkan keadaannya sendiri.



Putri kembali menyorot sosok pria disana itu. "Kayaknya dia lagi sedih tuh! Mending lo samperin!," ujarnya kembali menatap Reza yang masih memperhatikan pria disana itu.



"Udah sana!," Putri berucap sembari menarik Reza dari belakang kursi rodanya. Ia sedikit mendorong pria itu agar cepat menghampiri suami Nasya disana. Meski sempat bertengkar, setidaknya harus saling menghibur disaat mereka seperti ini. Ah, wanita yang duduk di kursi roda ini benar-benar memikirkan banyak hal.



"Terus lo?,".



"Gue bisa tunggu disini kok," Putri tersenyum yakin dengan perkataannya. Namun berbeda dengan Reza yang nampak ragu. Astaga, sepertinya dia benar-benar akan mendapat omelan yang panjang nantinya.



Disisi lain, Reza juga merasa khawatir dengan keadaan Dicky disana. Ah, sebentar saja. Ia akan menemui Dicky lalu kembali.



Putri memberikan sebuah isyarat agar Reza segera menghampiri Dicky. Dan akhirnya, Reza pun berjalan ke sana, menemui suami Nasua. Ia tersenyum, kedua pria itu mungkin bisa berteman kan walaupun mencintai wanita yang sama.



Setelah dilihat Reza duduk disana, disebelah pria itu. Putri memutar kursi rodanya, hendak berkeliling sendiri. Namun baru saja ia memutar balikkan kursi rodanya, seorang wanita dengan pakaian ketat tak enak di lihat itu berdiri tepat didepannya.


__ADS_1


"Oh, jadi lo yang bernama Putri ?,".


__ADS_2