
Dicky termangu, menatap istrinya diatas brankar. Rasa sesak mulai menyeruak dalam dadanya. "Lo---Ga inget gue?.". Pertanyaan itu, dengan ragu perlahan keluar dari mulutnya. Memastikan sekali lagi, setelah apa yang ia dengar sebelumnya.
"Gue... Suami lo"
Wanita yang mengenakan pakaian rumah sakit dan duduk diatas brankar itu, mendeha mendengar ucapan Dicky.
"Mustahil.".
.
.
.
»
.
.
.
Terlihat, Reza tengah menarik kerah baju Bisma di depan kamar inap Putri. Ia menatap intens Bisma yang di dapatinya keluar dari dalam kamar inap Putri.
"Lo denger ya, Putri itu ga pantes buat cowo yang ga punya hati kayak lo!!!"
Bisma terdiam mendengar ucapan itu. Reza benar, setelah apa yang terjadi, Putri memang tidak pantas untuk lelaki sepertinya.
"Lebih baik, sekarang lo pergi! Jangan ganggu hidupnya lagi!.".
.
.
.
»
.
.
.
Bandara Soekarno Hatta, baru saja dibuat riuh oleh lelaki bermata sipit yang baru saja tiba di Indonesia. Para wanita berteriak histeris, Apalagi saat lelaki itu melayangkan sebuah senyuman pada salah satu dari mereka. Ah, Bak seorang artis ternama dari luar negeri yang sedang berkunjung saja.
.
.
.
"Tante mau ke rumahsakit dulu," ucap wanita baya sembari menyetir. Wanita itu baru saja memjemput keponakannya dari Bandara.
"Ah, aku mau ikut!," balas pemuda bermata sipit kepada tantenya.
.
.
.
Kepincut Senyuman Dicky
"Membosankan sekali!," gerutu Nasya yang duduk ditepi brankar. Ia menatap keluar jendela.
Bagaimana tidak, terus-terusan berada di dalam ruangan pasti sangat membosankan bukan? Apalagi dengan aroma ciri khas rumah sakit, Bau obat. Belum lagi harus memakan bubur dan sop yang rasanya hambar tanpa adanya penyedap rasa.
Nasya mendorong infusnya keluar dari ruangan itu. Ia terus saja menggerutu dalam hati. Tentu saja, tak ada satupun orang yang menemaninya di ruangan tersebut. Papa dan Mama nya pulang untuk membawa perlengkapan selama dirawat dirumah sakit. Lalu sahabatnya, Reza? Seperti yang dikatakan oleh sang Mama, pemuda itu sibuk dengan rekan kerjanya. Nasya menghelas napas setelah mengingat semua itu.
Langkahnya terhenti, saat seseorang menahan infus itu sebelum ia menjauh dari ruangan inapnya.
"Lo mau kemana?," tanya pemuda itu penuh khawatir.
Lagi, Nasya menghela napas saat mengetahui pemuda itu adalah pemuda yang mengaku sebagai suaminya. Ia berdecak, tak menjawab dan kembali melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan Dicky disana.
Dicky kembali menahan tiang infus tersebut.
"Ish! Lo tu apaan sih? Minggir! Gausah ngurusin orang!," Nasya menatap kesal lelaki bertubuh kurus yang mengaku sebagai suaminya.
__ADS_1
Dicky masih menahan infus itu. "Lo itu harus banyak istirahat! Kenapa malah keluar dari ruangan lo!," khawatirnya.
Lagi-lagi, Nasya berdecak sebal, ia memalingkan wajah sekilas dari pemuda tersebut. "Lo itu siapa sih! Sok peduli banget jadi orang!," balas Nasya masih dengan nada yang ketus melepaskan tangan Dicky dari infusnya.
Mendengar perkataan Nasya, Dicky terdiam. Ia masih tak percaya bahwa sang istri sama sekali tak mengingat dirinya.
"Minggir lo!!!.".
Nasya pergi dari sana dan Dicky terdiam, mematung. Memandang sendu sang istri yang perlahan menjauh darinya. Rasa sesak kembali menyeruak dalam dadanya. Betapa sakit rasanya saat Nasya tak mengenalnya.
"Lo---bener-bener ga inget gue?," batin Dicky sembari mengalihkan sorot matanya yang telah berkaca-kaca tersebut, sekilas.
.
.
.
»
.
.
.
Masih di lorong rumahsakit.
Sembari membawa infusnya, Nasya terus saja mendumel. Pasalnya, pria tak dikenal itu selalu saja muncul dan menganggunya.
"Awas aja kalo dia berani dateng lagi.. Gue bejek jadi pecel tu orang!," gerutu Nasya dan terhenti setelah merasa jauh dari pria tak dikenal tersebut.
Nasya tersenyum ketika bola matanya menangkap sosok pria yang tidak lain adalah sahabatnya, Reza tengah bersama pria lain. Keduanya terlihat sedang bicara serius didepan salah satu ruang inap.
Setelah dirasa pria yang bicara dengan Reza, pergi. Nasya bergegas menghampiri sahabat karibnya itu.
"Reza.".
Pria bernama Reza itu menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam ruang inap ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh kesumber suara dan sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Nasya, lo ngapain keliaran kayak gini? Harusnya lo itu istirahat di ruangan lo!," Begitulah ucapan yang dikatakan Reza saat melihat wanita berpakaian rumahsakit itu menghampirinya.
Nasya memasang wajah cemberutnya mendengar hal itu. "Gue bosen dikamar. Duduk, Tidur, Nonton, Tidur, Makan, Tidur. Kalo kayak gitu ntar gue bisa jadi bengkak dibawa tidur mulu!," celoteh Nasya akan kebosanannya.
Reza tersenyum ringan mendengarnya. Ah, rasanya sudah lama sekali tak mendengar celotehan wanita itu.
"Tapi tetep aja, lo harus istirahat! Bukannya kelayapan ga jelas kayak gini!," balas Reza pada Nasya.
"Iya, Iya. Nanti gue istirahat! Lagian gue bukannya kelayapan ga jelas. Gue cuma nyari udara seger sekalian ngilangin rasa suntuk di ruangan," jawab dan jelas Nasya.
Reza kembali tersenyum ringan mendengar dan melihat tingkah sahabatnya itu. Begitupun Nasya yang juga ikut tersenyum. Bukankah menyenangkan jika ada teman bicara seperti ini.
Lalu, Nasya menatap pintu kamar inap didepannya. Ia sedikit heran dengan pasien yang ada di dalamnya, membuat sang sahabat tak bisa datang menemani dirinya.
Nasya kembali menatap Reza disana "Ngomong-ngomong, ini ruangan siapa..?," tanya nya dengan sedikit ragu.
__ADS_1
"Ah, ini ruang inap Putri.".
Nasya mengangkat alisnya "Putri?," yang dibalas anggukan oleh Reza.
"Iya. Ibunya sedang berada di kamar inap ayahnya yang juga dirawat dirumahsakit ini. Jadi gue disini buat jagain dia," jelasnya.
Nasya menganggukkan kepala lalu tersenyum dan menepuk lengan sahabat nya itu. Hal itu membuat Reza bingung mematap Nasya sembari memegang lengannya yang dipukul oleh Nasya "Ah, Begitu rupanya.".
Reza mengernyit lagi akan perkataan Nasya. Ia menatap Nasya yang juga menatapnya.
"Sebegitu pentingkah cewek ini sampai-sampai lo lupa untuk jenguk sahabat sendiri?.".
Mendengar itu, Reza mengalihkan bola matanya. "Ah, Maaf," ucapnya.
Melihat tingkah Reza yang seperti itu, Nasya tersenyum. "Apa gue boleh masuk?.".
Reza kembali menatap Nasya karena pertanyaan itu. Nasya tersenyum menatapnya, berharap Reza memperbolehkannya masuk ke dalam untuk menjenguk rekan bisnis yang menurut pandangan Nasya sangat berarti untuk sahabatnya itu.
.
.
.
.
Dicky masih terduduk di kursi tunggu, depan kamar inap istrinya. Rasa sakit yang menyeruak di dadanya itu membuat tubuhnya terasa lemas. Ia harus benar-benar menerima kenyataan bahwa sang istri, Nasya tidak mengingat apapun tentang dirinya.
Pemuda bertubuh kurus itu merasa bersalah dan menyesal. Sebab dirinya lah yang membuat Nasya mengalami hal buruk seperti ini. Ia seharusnya juga bersyukur, karena setidaknya, sekarang Nasya sudah baik-baik saja meski tak mengingat dirinya.
"Bodoh!.".
Suara itu menyadarkan Dicky dari lamunannya. Ia menoleh ke sumber suara. Dan seketika, raut wajahnya mendadak berubah dengan tatapan penuh amarah.
Dicky segera bangkit dari duduknya.
"Ngapain masih disini? Kamu lupa sama janji kamu?," Wanita itu berkata sembari mendekat padanya. Wanita yang membuat Dicky menyesal karena pernah mencintainya, Nabila.
"Janji?.".
Nabila tersenyum layaknya tak terjadi apapun. Ia menatap pria yang menurutnya masih menjadi kekasihnya itu.
"Bukankah kita akan menikah?.".
Dicky terdiam akan perkataan itu. Menatap tajam wanita yang sangat dibenci oleh mamanya itu.
Nabila tersenyum sembari sedikit membenahi kerah baju Dicky yang kusut "Setelah bercerai dengan Nasya, kita akan menikah. Itu janji kamu ke aku," perjelasnya lalu menatap Dicky masih dengan senyumnya.
Dicky yang juga masih menatap tajam Nabila, tersenyum sebelah bibir "Ciih! Hal itu ga akan pernah terjadi!," bantahnya.
Dahi wanita itu mengkerut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dicky.
"Gue ga akan menceraikan Nasya...." Dicky menekan kata-katanya masih dengan tatapan intensnya. Dan itu membuat Nabila menjadi kesal
__ADS_1
".... Apapun yang terjadi, gue ga akan menceraikan dia!!!.".