
--------------------------------------------------------------------------------------------------
“Pa, aku tidak akan bercerai dengan Nasya. Kami tidak akan pernah bercerai!,”.
Perkataan itu benar-benar membuat pria baya dengan tatapan intens disana murka. Dasar tidak tau diri! Setelah mencelakakan putri kesayangannya, bagaimana bisa dia tidak mau bercerai ? Cih! Nyawa Nasya lebih berharga ketimbang mempertahankan pernikahan yang baru seumur jagung itu. Sungguh, pria baya itu sangat menyesal telah menikahkan anak perempuannya pada seorang pria yang tidak bertanggung jawab seperti Dicky.
Dan lagi, kepercayaan yang telah diberikan oleh pria baya itu tidak mungkin bisa kembali begitu saja. Layaknya sebuah cermin yang pecah, sekeras apapun untuk menyatukannya lagi tentu tidak akan sempurna seperti semula, bukan ?. Akan butuh waktu yang sangat lama untuk dapat membangun kepercayaan itu kembali.
“Omong kosong!,” Pria baya tersebut tersenyum remeh. Sungguh! Apa yang baru saja Dicky katakan itu tidak akan pernah terjadi. Mereka harus bercerai!.
Papa Nasya beralih masuk ke dalam rumah, mengabaikan pemuda kurus yang kini sangat ia benci.
“Tunggu, Pa!,” Dicky berhasil menyusul langkah kaki pria baya disana. Ia berdiri tepat di hadapan sang mertua—menghalangi jalan pria baya tersebut.
“Pergi kamu!,” ujar Papa Nasya berusaha mengabaikan Dicky dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Dicky bersikeras, enggan untuk menyingkir. Ia tidak akan peduli lagi dengan caci maki yang akan di lontarkan oleh sang Papa Mertua. Pikiran hanya berfokus untuk mempertahankan rumah tangganya.
Pria baya disana nampak diam—menahan amarah yang kini mulai memuncak.
Pun, Dicky yang menatap serius pria baya itu. Ya! Dengan sangat yakin, Ia tidak ingin bercerai dengan Nasya. Tidak akan pernah.
Dengan segenap hati, Ia akan memperlakukan istrinya dengan baik. Menyayangi dan mencintainya. Dengan tulus, Ia ingin memperbaiki semuanya. Mengulang semua dari awal. Membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis.
***
Sore itu, Nasya tengah bersiap untuk pulang ke rumah. Semua barang dan pakaian selama berada di rumah sakit sudah tertata rapi di dalam koper. Sembari menunggu sang papa menjemput dan mama yang tengah membereskan semua pembayaran rumah sakit.
Wanita bertubuh mungil itu duduk di tepian brankar--menatap layar ponsel di tangan. Dengan sendu, Nasya mengusap pelan sebuah poto yang ia jadikan sebagai wallpaper di layar depan ponselnya. Ada rasa yang tertahan dalam hatinya. Cairan bening terbendung di pelupuk mata.
SREET!
Gesekan kayu dari pintu disana terdengar, Membuat Nasya bergegas menyembunyikan ponsel itu. Matanya bergegas menangkap objek yang baru saja masuk ke dalam kamar inap tersebut. Dan ia terkejut. Orang tersebut adalah Dicky. Pria kurus yang selalu ada di depan kamar inapnya.
Dicky melangkah--mendekat secara perlahan. Terlihat, ia tak sedikitpun beralih menatap Nasya disana.
Nasya menggenggam erat ponsel yang ia alihkan ke belakang. Tak ingin seorang pun melihatnya. Termasuk, sosok yang kini terus mendekat kearahnya.
Dicky tersenyum pada wanita itu yang masih berstatus sebagai istri sah-nya. Ia sangat bahagia mengetahui sang istri kini sudah baik-baik saja dan sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Ke..Kenapa.. ?," Nasya bertanya dengan sedikit ragu lantaran pria tersebut terus saja menatapnya seperti itu.
Tanpa menjawab, Dicky memeluk Nasya begitu saja. Rasa bahagia yang ia rasakan saat ini, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Syukurlah.
Nasya mencoba melepaskan pelukan tersebut namun...,
"Tunggu!," Dicky berujar. Membuat wanita mungil itu terhenti sembari mengangkat alis. Ada apa dengan pria ini ?.
"Biarkan seperti ini... Sebentar!," Lanjut Dicky semakin mempererat pelukannya. Dan Nasya terdiam--membiarkan pria tersebut melakukannya.
Dicky terpejam. Rasanya semua beban menghilang.
"Uh.. Maaf... gu...,".
__ADS_1
Dicky semakin dan semakin mempererat pelukannya. Tak ingin mendengar apapun yang dikatakan sang istri. Ia tidak ingin mendengar sebuah penolakan dari Nasya.
***
Suara ketukan dari sepatu higheels dan lantai yang beradu, terdengar sangat jelas di sepanjang koridor kantor polisi. Dengan pakaian yang tak berbeda dari biasanya, masuklah wanita berkulit putih itu ke dalam ruangan terbuka dimana disana sudah ada wanita bertubuh mungil dengan wajah yang sangat kesal menunggu.
Langkah kaki Nabila terhenti. Setelah sorot matanya menangkap sosok Nadin yang beranjak mendekatinya diiringi seorang polisi.
“Bil, Tolongin gue!,”.
Nabila menatap wanita mungil yang meringis padanya. Lalu beralih pada polisi yang juga menghampiri dirinya.
>
Diluar kantor polisi. Nabila terus berjalan dengan diam mendahului langkah kaki Nadin yang mengiring dibelakang. Wanita itu terlihat sangat kesal perihal yang baru saja terjadi.
“Apa sih yang lo lakuin ?,”.
Nadin terkejut—menghentikan langkah kakinya saat Nabila dengan tiba-tiba berbalik—menatapnya tajam.
“Kenapa bisa nyasar ke kantor polisi gini ?,” Lanjut Nabila.
“Gue ga ngelakuin apapun ? Gue Cuma ngelabrak tu cewe! Dan tiba-tiba dua cowo dateng marah-marah ke gue dan ngelaporin gue ke polisi!,” Balas Nadin yang juga ikut kesal mengingat apa yang baru saja ia alami. Pikiran kembali menerawang dua sosok pria dirumahsakit tersebut. Ia juga semakin kesal kala sosok wanita yang telah membuat hubungannya dengan Bisma hancur, muncul dalam pikirannya.
“Udah gue bilang kan ? Jangan bertindak ceroboh!,”.
“Apanya ? Lagian juga tu cewe ga gue apa-apain. Ga mati juga,” Ucap Nadin dengan ketus. Wanita tersebut makin dibuat kesal dengan nada bicara Nabila yang seakan menyalahkan dirinya.
Nabila mengalihkan tatapan. Ia menghela napas. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Tentu saja, Rencana yang telah disusun rapi bisa saja kacau karena sedikit kecerobohan.
“Bisma,”.
Nadin mendekat pada Bisma. Meraih lengan dan bernada manja padanya.
Bisma masih diam. Ia menatap sosok Nabila disana. Nampaknya ia tidak terkejut dengan adanya Nabila. Tentu saja, siapa lagi yang memberitahukan Nadin tentang Putri selain wanita licik itu ?.
“Kamu khawatir padaku kan ?...,” ujar Nadin bermanja dilengan Bisma. “...Aku beneran takut dipenjara tadi,” Lanjutnya dengan mendongakkan kepala—menatap wajah Bisma.
Nabila nampak memalingkan wajah melihat sebuah adegan tersebut. Mulutnya sedikit berdecak. Entahlah, apa itu karena Bisma atau karena adegan menjijikkan disana ?.
Bisma perlahan mengangkat sebelah tangannya. Menyingkirkan kedua tangan Nadin dari lengannya. Dengan kasar membuang tangan kekasihnya begitu saja.
“Kenapa gue harus khawatir sama lo ?,” Bisma menatap tajam wanita tersebut. Dan Nadin terkejut dengan apa yang baru saja Bisma katakan.
“Ya... kan aku pacar kamu. Masa kamu ga khawatir sama aku ?,”.
Lagi-lagi Nabila sedikit berdecak. Ia merasa kesal dengan sikap Nadin yang seperti itu. Bagaimana bisa wanita itu menyingkirkan Putri dengan sikap seperti itu ? Bodoh sekali.
Bisma tersenyum sinis mendengar balasan Nadin. Cih! Bodoh! Apa dia tidak tau tujuan pria kurus ini mau menjadi pacarnya ? Pria licik yang menghalalkan segala cara hanya demi uang.
“Untungnya tadi ada Nabila yang ngeluarin aku dari sana,” Unjuk Nadin ke dalam kantor polisi. Tempat sebelumnya ia ditahan. Sebelum Nabila datang dan membebaskannya.
Bisma melirik Nabila disana. Tatapannya tajam. Jika saja yang dilihatnya itu seorang pria, mungkin Bisma sudah memukulnya sejak tadi. Untuk apa membebaskan wanita menyebalkan di sebelahnya ini ?.
__ADS_1
Bisma kembali beralih pada Nadin. Wanita yang kembali memeluk lengan Bisma dengan manja.
Kesal, Lagi-lagi Bisma melepaskan tangan Nadin kasar. Raut wajahnya kali ini benar-benar berbeda. Tidak ada sedikitpun senyum saat ia menemui Nadin.
“Udah bagus di dalem, Ngapain keluar ?,”.
Nadin terbelalak dengan pertanyaan Bisma. Begitupun Nabila yang sangat-sangat tidak habis pikir. Dimana otak pria itu saat ini ? Bagaimana bisa dia berkata seperti itu pada kekasihnya sendiri ?.
“Sayang, kamu...,”.
“Bis, lo apaan sih ? Kenapa lo malah ngomong kayak gitu ?,” Ucap Nabila mendahului ucapan Nadin karena ia sudah sangat tau hal yang akan terjadi ketika dua sejoli itu tengah bertengkar.
“Lo juga! Ngapain bebasin dia ?,” Bisma beralih membentak Nabila disana.
“Eh, wajar dong gue nolongin temen gue sendiri,”.
Bisma mengalihkan tatapannya sekilas dengan jawaban Nabila. Harusnya ia tau bahwa percuma bicara seperti itu pada Nabila.
“Nadin itu pacar lo. Harusnya lo tu tanya keadaan dia dong! Bukan malah ngomong yang ga jelas kayak gini!,” Lanjut wanita licik bertubuh mungil disana.
Bisma berdecak. “Pacar ?,” tatapnya beralih pada Nadin. “Gue pacaran sama lo itu cuma buat seneng-seneng doang!,” Lanjut Bisma dengan menekan kata-katanya.
Nadin terlihat diam—menahan semua emosinya. Menatap tajam pria dihadapannya dengan sebuah bendungan dipelupuk matanya.
“Jadi gausah berharap kalo gue beneran suka sama lo!,”.
PLAK!!!
Dan Bisma terdiam setelah menerima satu tamparan mulus yang mendarat di pipi kirinya. Perlahan wajahnya kembali menatap Nadin. Tentunya masih dengan tatapan tajamnya.
***
Sebuah senyum merekah diwajah pria kurus yang berdiri jauh dari ruang inap Nasya. Ya, Siapa lagi ? Dicky Prasetyo. Ia sangat senang melihat sang istri kini sudah baik-baik saja.
Terlihat di ujung sana, Nasya tengah bercanda dengan beberapa suster dan ibu mertuanya sembari berjalan keluar dari ruang inap. Woah, sudah berapa lama ia tak melihat senyuman itu ? Ya walaupun sejak mereka menikah, mereka selalu bertengkar. Tapi terkadang, Dicky melihat istrinya tersenyum tanpa sengaja.
Ingin rasanya ia berada disana. Mengantarkan sang istri pulang kerumah. Ya, kerumah mereka sendiri bukan kerumah orangtua Nasya.
>
“Terimakasih, suster. Telah membantu dan mengantar kami,” Ucap Mama Nasya pada dua orang suster disana.
Nasya tersenyum pada dua suster tersebut. Namun ia tidak begitu menghiraukan pembicaraan antara Mamanya dan para suster tersebut. Tatapannya menelusur kesetiap sudut rumahsakit. Mencari sebuah sosok disekitar sana.
Dan Nasya nampak kecewa saat ia sama sekali tak mendapati keberadaan sosok tersebut. Senyum palsu terukir kala sang mama berpamitan pada para suster disana.
Wanita mungil ini seketika tak bersemangat. “Dia ga ada,” ujarnya dalam hati.
Perlahan Nasya masuk ke dalam mobil dan untuk terakhir kalinya, sorot matanya kembali menelusur. Memastikan keberadaan sosok tersebut. Dalam hati yang paling dalam, Nasya sangat berharap bahwa ia akan melihatnya sebelum pergi.
“Sepertinya dia beneran ga dateng,” Dan dengan mantap Nasya melangkah masuk ke dalam mobil. Nampaknya ia harus pergi tanpa melihat sosok tersebut.
“Apa dia gatau kalo gue hari ini pulang ?,” Pikirnya. Menatap keluar jendela mobil.
__ADS_1
Nasya menghela kasar napas. Ada banyak hal yang memenuhi isi kepalanya. Ia bahkan tidak tau bagaimana menyingkirkan semua itu. Yang jelas, saat ini Nasya sangat berharap bahwa keputusan yang dibuatnya bukanlah sebuah keputusan yang salah.