
Putri menghentikan kursi rodanya. Dan segera menoleh cepat kearah sumber suara tersebut yang membuatnya sedikit terkejut. Dimana suara tersebut berhasil membuat langkah Bisma terhenti.
"Apa lo budek? Ga denger, dia tadi bilang apa?," ucap pria yang sembari berjalan mendekati Putri dan berdiri tepat dibelakang Putri, menghalangi Bisma yang ingin menghampiri wanita itu. "Dia.. gamau liat muka lo lagi!.".
Bisma yang melihat itu pun juga terkejut. Bagaimana bisa pria itu bisa ada disini. Dicky, Suami dari Nasya Anatasya Putri dan kekasih dari Nadin Chillya.
Bisma mengkerut melihat apa yang dilakukan oleh Dicky saat ini. Menurutnya, masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria tersebut. Kenapa ia harus ikut campur seperti ini.
"Ngapain masih disini ? Udah sana! Pergi!.".
Mendapat pengusiran dari Dicky, Bisma menatap sinis lawan bicaranya. Apa haknya mengatakan hal itu? Tidak seharusnya ia ikut campur dalam masalah orang lain. Bukankah lebih baik pria itu menyelesaikan masalahnya sendiri?
Ingin rasanya Bisma mengabaikan Dicky dan tetap menyusul Putri. Namun apadaya, ketika bola matanya melihat Putri disana. Terlihat jelas bahwa Putri sungguh tak ingin bertemu dengan dirinya lagi. Pria itu tak tega melihat gadis tersebut menangis lagi karena dirinya.
"Tunggu apa lagi ? Sana!.".
Bisma kembali melirik Dicky di depannya. Ia hanya diam dan tak dapat berbuat apa-apa. Walaupun sejujurnya, ia juga merasa kesal dengan Dicky yang ikut mencampuri urusannya. Tapi, Bukankah, mereka berdua sama saja ?
Akhirnya, Bisma berbalik dan memilih pergi. Meski hatinya masih ingin menemui Putri disana. Namun, Nasi sudah menjadi bubur. Bisma tidak dapat berbuat apapun. Kini, Putri membenci dirinya. Bahkan gadis itu sudah tidak ingin bertemu lagi dengannya. Ya, semua salahnya. Kalau saja dulu ia bisa menghargai gadis itu. Kalau saja dulu ia bisa mengalahkan ego nya. Kalau saja dulu ia bisa memperlakukan gadis itu dengan baik. Mungkin, semua ini tidak akan terjadi. Dan Putri tidak akan berada di atas kursi roda tersebut.
Setelah kepergian Bisma disana, Dicky bergegas, berbalik-menatap wanita yang ada di kursi roda tersebut. "Lo gapapa ?," cemasnya.
Putri hanya menggelengkan kepala secara perlahan. Dirinya masih tidak percaya, mengapa pria itu ada disini ? Terlebih ia juga heran saat Dicky menghentikan langkah Bisma yang hendak menghampiri nya. Apa Dicky mengenal Bisma ? Ah, Masa bodo dia mengenal Bisma atau tidak. Bukankah itu bagus? Yang terpenting sekarang, Bisma pergi dari sana.
Dicky sedikit merasa aneh. Mengapa wanita itu sendirian ? Karena yang ia tau, pria bernama Reza tidak pernah absen dari wanita tersebut.
"Ma..Makasih..." Setelah melihat Bisma, Putri masih merasa gemetar dan juga takut. Dan Dicky juga melihat jelas hal itu.
Perlahan, Putri kembali memutar kursi rodanya untuk pergi dari rumah sakit tersebut. Namun lagi-lagi, rodanya terhenti. Saat....
>
Reza bergegas menyusul Nasya yang telah pergi menyusul Putri lebih dulu. Bukannya ia tidak mau memperdulikan perkataan Nasya tapi bukankah Putri sendiri yang menolak. Lagipula saat ini, Putri pasti masih merasa sakit hati atas ucapan dari mamanya.
"Putr...."
Nasya terdiam ditempat, Kala mendapati sosok pria yang bersama dengan Putri. Begitupun Reza yang menyusul di belakang juga ikut terhenti.
"Dicky ?," Refleks Reza berucap, membuat bola mata Dicky melirik padanya sekilas.
Bukan hanya mereka berdua yang terkejut, Dicky juga merasa lebih terkejut lagi saat ia bisa bertemu dan berhadapan langsung dengan Nasya seperti saat ini. Jujur, dalam hati Dicky merasa sangat senang. Tapi, mengingat apa yang telah disepakati dengan ayah mertua, rasanya Dicky ingin cepat pergi dari sana.
__ADS_1
Nasya masih tetap mematung. Ia merasakan sesak di dada. Bahkan rasanya saat ini ia ingin menangis. Namun, fokus Nasya kembali pada Putri. Wanita itu mengabaikan Dicky dan mendekati Putri disana.
"Biar aku yang anter kamu pulang." ucap Nasya sembari mulai mendorong kursi roda Putri. Namun, Putri menahan tangan Nasya. Kepalanya mendongak keatas. Menatap wajah wanita yang belakangan ini terus saja menemaninya. Bahkan Putri tidak begitu ingat, Bagaimana mereka bisa jadi sedekat ini.
"Aku.... bisa pulang sendiri!.".
"Tapi kan, Put....".
"Tadi.... ada pria yang bertemu dengannya." Perkataan Dicky membuat yang lain menoleh padanya. Terutama Reza. Pria ini mengernyit "Pria ?"
Putri terbelalak mendengar itu. Kenapa Dicky harus mengatakan sesuatu yang tidak penting tersebut pada dua orang ini.
Dicky pun menatap Reza disana dan mengangguk. "Iya. Gue pikir, mungkin akan lebih baik kalo kalian antar dia pulang. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti yang terjadi sebelumnya kan.".
Reza beralih menatap Putri disana. Sepertinya ia tau pria yang dimaksud oleh Dicky. Dan ia juga sangat yakin bahwa pria itu adalah Bisma. Sungguh tidak mungkin jika pria tersebut adalah pria brengsek berhidung belang yang membawa Putri waktu itu. Lagipula, dia tidak mungkin muncul begitu saja. Terlebih saat ini polisi sedang mencari dirinya.
"Gue bisa pulang sendiri!," kekeh Putri yang seakan tau maksud dari tatapan Reza padanya. Sungguh! Ia tidak ingin merepotkan pria itu lagi.
Untuk beberapa detik, Tak ada balasan dari Reza. Nampaknya kali ini ia harus mengabaikan ucapan Putri. Sebagai sahabat, ia juga takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (Lagi).
"Ayo, Putri!.".
Nasya berujar dan kembali mendorong kursi roda Putri. Membuat Putri kembali mendongak keatas. Menatap Nasya disana. "Tapi...."
Dan Dicky masih tetap ditempatnya. Memperhatikan Nasya tanpa bicara apapun pada wanita itu.
Mengetahui hal itu, Tentunya Reza juga tak ingin mereka hanya bertemu tanpa bicara sepatah katapun seperti itu. Lagipula mereka berdua juga masih sebagai suami-istri kan.
"Nasya!.".
Wanita manis ini menoleh. Menghentikan langkah. Dahinya sedikit mengernyit. "Kenapa, Jae ?"
"Biar gue aja yang antar Putri," ujar Reza.
Dahi Nasya makin mengernyit. Kenapa begitu ? Pikirnya. Lagipula dirinya kan juga ikut bersama mereka.
"Lagian disini juga ada Dicky. Kayaknya ada yang mau dia bicarain sama lo." Dan seketika bola mata Nasya beralih pada pria bernama Dicky yang berdiri disana. Begitu pun Dicky yang beralih menatap Reza.
Perlahan, Reza mendekat pada Putri dengan berlalu melewati Dicky.
Nasya terdiam ditempat. Memangnya apa yang ingin dibicarakan oleh pria itu ? Kenapa juga pria itu mau berbicara padanya.
__ADS_1
"Gue bisa pulang sendiri, Ja," Putri masih dengan ucapannya. Sementara Reza diam sama sekali tidak menghiraukan permintaan Putri saat itu dan segera membawa Putri pergi dari sana.
Beberapa detik kemudian, setelah Reza dan Putri pergi dari sana. Hanya ada suasana hening diantara Nasya dan Dicky.
Entah harus dari mana Dicky memulai pembicaraan. Yang jelas saat ini, Ia merasa sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan sang istri setelah sekian lama.
"Ma...Maaf...," ucap Dicky.
"Buat ?," jawab Nasya sembari mengernyit. Menatap heran lawan bicaranya.
"Ya, aku cuma mau bilang maaf aja ke kamu." balas Dicky dengan sedikit ragu. Ingin sekali rasanya ia mengatakan kebenarannya. Tapi....
"Aneh." ujar Nasya yang membuat suasana hening sejenak.
Dicky masih disana dengan memandang wajah istrinya tersebut. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah itu sedekat ini.
"Emangnya lo punya salah sama gue ? Pake acara minta maaf-an ?.".
Jika saja dia tau yang sebenarnya. Mungkin jawaban yang akan keluar dari mulutnya bukan seperti itu. Jika saja dia tau betapa sulit bagi Dicky untuk meminta maaf dengan rasa bersalah yang teramat.
"Lagian lebaran juga masih lama." Lanjut Nasya.
Namun, Dicky tak begitu menghiraukan perkataan Nasya. Fokusnya hanya pada Nasya. Meski ingatan tentang dirinya hilang, bertemu seperti ini mengingatkan Dicky pada pertemuan tak sengaja mereka dulu. Nasya masih tetap sama seperti itu.
"Oi!!!." ucap Nasya menyadarkan pria di depannya. Ia merasa sedikit kesal dengan tingkah pria itu. Apalagi saat ia ingat bahwa pria tersebut selalu ada di depan kamar inapnya waktu itu. Dan itu terjadi setiap hari.
"Malah bengong!," ketus Nasya. Ia melipat kedua tangan di dada sambil menatap sinis pada lawan bicaranya itu. "Jadi, Lo cuma mau ngomong 'Maaf' doang?.".
Dicky tetap diam. Ia tidak menjawab semua perkataan dari istrinya tersebut. Wajahnya nampak tersenyum kala mengamati sikap Nasya saat ini. Dimana ia kembali mengingat kenangan (Indah) masa lalu.
"Ga jelas banget sih lo!," Nasya nampak merasa kesal. Tatkala pria di hadapannya itu sama sekali tidak merespon semua perkataannya. Ditambah lagi, Rasa kesal terhadap Reza yang meninggalkannya begitu saja ditempat itu bersama pria yang tidak jelas tersebut.
Wanita ini memutuskan untuk berbalik dan pergi meninggalkan pria itu. Namun, dengan cepat Dicky menahan tangannya. Tentu saja, Dicky yang masih berstatus sebagai seorang suami, tidak ingin membiarkan istrinya pulang kerumah sendirian.
Langkah Nasya terhenti dan sontak menoleh. Ia melirik tangannya yang saat ini ditahan oleh pria menyebalkan itu. Dan didetik kemudian, Bola mata Nasya beralih menatap Dicky disana.
Dicky yang menyadari hal itu segera melepaskan tangan sang istri. "Ma..af," ujarnya sembari mengalihkan sorot matanya dari tatapan Nasya.
"Kalo ga ada yang penting lagi, gue mau pulang!," balas Nasya dengan gaya ketus khas nya. Kalau saja ingatannya tidak menghilang, Ia mungkin tidak akan berbicara seperti itu pada suaminya sendiri.
"Biar aku yang antar." Dicky yang awalnya ragu, terlihat mencoba memberanikan diri mengatakan hal itu pada Nasya. Dalam imajinasi nya, Nasya tentu akan menolak tawaran darinya itu. Tentu saja kan, Dalam pandangan Nasya saat ini, ia hanyalah orang asing. Dan semua orang juga pasti akan menolak dan waspada terhadap orang asing.
__ADS_1
Sang istri kemudian terdiam, mendengar apa yang baru saja di tawarkan oleh Dicky. Ia menatap pria itu dengan sangat intens. Tentu saja, Bagaimana bisa orang asing menawarkan tumpangan untuk pulang? Mungkinkah pria ini seorang penculik?