NADI

NADI
De Javu.


__ADS_3



"Apa Bisma yang dimaksud oleh Dicky tadi ?," Pertanyaan tersebut seakan mengusir hening yang terjadi beberapa menit lalu di dalam mobil. Putri tertegun mendengarnya. Ya, siapa lagi yang akan menemui perempuan tersebut kecuali Bisma.



Reza yang tengah menyetir itu, sesekali menatap Putri disebelah. Perempuan itu tetap diam. Tidak menjawab pertanyaannya. Sejak awal masuk ke mobil, Putri tidak banyak bicara. Mulutnya benar-benar ia kunci dengan rapat.



Dan Reza nampak sudah terbiasa akan sikap Putri yang seperti itu. Terutama saat ini, ia tau bahwa Putri tengah merasa kesal padanya. Dimana sebelumnya, Ia sama sekali tidak menghiraukan permintaan Putri yang ingin pulang sendiri. Wajah Reza mengukir senyum melihat wanita disebelahnya itu Mengapa? Tentu! Putri mengingatkan dirinya pada sosok Nasya yang juga keras kepala, Apalagi jika permintaan atau perkataannya tidak dihiraukan.



"Itu benar Bisma kan ?," Lagi, Reza memberikan pertanyaan yang sama. Memastikan bahwa dugaannya tersebut benar. Selain itu, Reza juga ingin tau apa yang dikatakan Bisma pada Putri. Sebagai sahabat serta partner kerja tentu ia merasa khawatir. Terlebih setelah apa yang terjadi pada perempuan itu.



"Bukan!" Putri menjawab dengan singkat. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun kepada Reza.



"Yakin ?" Tanya Reza lagi, memastikan. Dan itu membuat Putri kembali diam, membungkam mulutnya rapat. Putri merasa sedikit kesal perihal pembahasan tersebut. Terutama pada Dicky, Pria bermulut ember. Yang memberitahukan hal tidak berguna itu pada Reza dan Nasya.



"Apa yang Bisma katakan ?".



"Tidak ada." Putri menjawab masih dengan posisi yang sama.



Sembari menghela nafas, Reza melirik Putri disana. Nampaknya akan percuma saja memberikan pertanyaan seperti itu padanya, Suasana hati Putri saat ini sedang tidak baik untuk diajak bicara. Mau bagaimanapun Reza bertanya, ia tidak akan menjawab. Sepertinya ia harus menemui Bisma secara langsung.



Sembari menatap jalanan didepannya, Reza juga berpikir, hal apa yang membawa Bisma kembali untuk menemui Putri lagi. Apa dia datang untuk mengancam sahabatnya itu? Mau membuat Putri menderita lagi ? Apa pria itu belum cukup membuat jadi seperti sekarang ini ? Tentu, Jika semua dugaannya benar, Reza tentu tidak akan diam saja.



.


.


.



"Rafa!.".


Seorang pria bermata sipit ini menghentikan langkahnya dengan terpaksa dan berbalik menatap sang lawan bicara yang tentu tidak dapat ia bantah sedikitpun. Dimana ia telah menganggap orang itu sebagai ibunya sendiri. Lagipula, tidak seharusnya juga ia bersikap seperti itu pada sang Tante yang telah banyak membantu mengurus dan membesarkan dirinya. Dan lagi, Bukankah ia kesal pada Dicky?.



"Ada apa denganmu ? Apa yang terjadi sebenarnya antara kamu dan Dicky ?" Pertanyaan yang membuat Rafael bungkam. Tidak seharusnya ia bicarakan masalah ini pada tantenya. Lagipula sudah terlalu banya hal yang diurus oleh wanita baya itu. Sejak kakak sepupu iparnya mengalami peristiwa yang tak terduga. Terlebih ketika surat cerai telah diterima oleh Dicky.



"Tidak ada apa-apa, Tante." Jawab Rafael yang akhirnya angkat bicara.



"Jangan berbohong! Katakan semuanya pada Tante!."



Rafael memberikan sebuah senyuman di wajahnya untuk menyakinkan sang Tante agar tidak terlalu khawatir. "Apa yang harus aku katakan? Tidak terjadi apapun antara aku dan Dicky, Tante. Aku hanya kesal saja. Dan itu hanya sebentar. Sekarang aku udah gapapa." jelasnya.



Sang Tante, yang juga Ibu dari Dicky menatap diam ditempatnya. Ia memperhatikan keponakan di hadapannya itu. Merasa bahwa Rafael sudah bukan anak kecil lagi sekarang. Yaa, Ia sudah dewasa sekarang.



"Ah, Aku mau keluar sebentar.".



"Mau kemana ?," ujar cepat sang Tante, Khawatir kalau-kalau keponakannya itu akan kembali ke New York tanpa berbicara dulu padanya.



Rafael kembali menunjukkan senyum. Lalu memegang kedua bahu sang tante. "Aku ga kemana-mana, tante. Cuma mau ke minimarket doang kok."



Namun sang tante terus menatapnya. Tidak semudah itu percaya. Lagipula, ia tidak ingin ada masalah diantara anak dan keponakannya tersebut.



"Janji! Aku ga kemana-mana! Aku ga akan kabur ke New York lagi!," jelas Rafael seakan tau maksud dari tatapan intens dari tantenya.


__ADS_1


"Yakin ?.".



"Iya, Aku janji! Aku ga bohong.".



"Awas kalo kamu sampe bohongin tante. Semua fasilitas kamu, tante tarik semuanya!.".



Rafael sedikit tertegun dengan ancaman tersebut. Ancaman yang paling ia takuti. Tentu saja, sudah sejauh ini kuliahnya di New York. Ia tidak ingin putus ditengah jalan begitu saja.



"Iya, tante." jawabnya sedikit cemburut sembari menganggukkan kepala.



\>



Nasya masih diam di tempat duduknya. Sesekali ia sedikit melirik pria disebelah yang tengah menyetir mobil. Pria yang katanya ingin mengantarkan Nasya pulang. Mengingat itu, perempuan ini tersenyum miring. Mengantar pulang ? Pikirnya. Nasya merasa tidak yakin dengan ucapan pria tersebut. Lagipula, pria itu juga tidak tau alamat rumahnya kan ? Pikir Nasya lagi.



Merasa tengah diperhatikan, Dicky menoleh sekilas ke sebelah. Lalu kembali menatap jalan di depannya. Terukir sebuah senyum simpul di wajah pria tersebut. Ah, rasanya sudah sangat lama sekali ia dan Nasya berada dalam satu mobil seperti ini.



Sementara Nasya, hal-hal aneh mulai bermunculan di benaknya. Ia mulai merasa gelisah dan takut pada pria disebelah. Yang sama sekali tidak dikenalnya. Perihal mengantarnya pulang, Nasya malah berpikir yang tidak-tidak terhadap Dicky.



"Jangan-jangan... "sembari melirik Dicky yang sibuk menyetir, wanita ini terus berbicara dalam hati "Ini penculikan ?" Matanya membola saat beranggapan hal yang sepertinya mustahil untuk dilakukan oleh seorang Dicky, yang tanpa sepengetahuannya adalah suaminya sendiri.



Sorot mata Nasya kemudian tertuju pada sebuah minimarket yang cukup ramai didepan sana.



"STOP!.".



Dicky yang kaget menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia lantas menoleh pada Nasya disebelah. "Ada apa ?," Dicky panik. Ia beranggapan bahwa terjadi sesuatu pada Nasya mengingat wanita itu masih dalam tahap pengobatan.




Namun, tangan Dicky lebih dulu menahan. "Tunggu dulu!.".



"Ga bisa gitu!," tegas Dicky masih menahan wanita mungil tersebut.



Nasya kembali diam ditempatnya. Otaknya semakin berpikir yang tidak-tidak dan mulai mencari alasan agar bisa pergi dari pria kurus tersebut.



Melihat tatapan Nasya padanya, Dicky mengerti bahwa wanita disebelahnya tersebut berpikiran yang macam-macam terhadap dirinya. Apalagi saat ini Nasya sama sekali tidak mengingat tentang dirinya. Itu sama saja Nasya beranggapan tidak mengenalnya kan...



Dicky melirik tangannya yang menahan Nasya dan seketika melepaskan pegangan itu. "Maaf..." ucapnya kembali menatap Nasya.



"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh... aku ga bakal apa-apain kamu kok." sambung Dicky cepat sebelum Nasya bergegas pergi dari mobilnya.



Nasya masih ditempatnya menatap pria tersebut. Kerutan di dahinya makin jelas.



"Sungguh! Aku orang baik-baik." lanjut Dicky.



Untuk beberapa detik, hening. Nasya masih diam. Ia masih tidak dapat percaya pada ucapan pria tersebut. "Ah, gu..gue.... engh..." Sorot mata Nasya kembali tertuju pada minimarket disana. "Ada sesuatu yang mau gue beli disana." lanjutnya. Nasya berniat kabur ketika Dicky lengah.



"Beli apaan ?.".



"Engh... anu... " Kepala Nasya bekerja keras untuk hal ini. "anu... Yu..Yuppy!" sembari menganggukkan kepala "Gue mau beli Yuppy dulu!.".


__ADS_1


"Yuppy ?"



Nasya mengangguk cepat. Berharap Dicky membiarkannya masuk ke minimarket agar dia bisa kabur setelah itu. Namun...



"Ah, kebetulan stok Yuppy di kamar aku habis. Yaudah sekalian aku juga mau beli." jawab dan jelas Dicky sembari melepaskan sabuk pengaman.



Mendengar itu, kedua mata Nasya membola. Jika pria tersebut ikut turun, lalu ? Bagaimana caranya ia bisa kabur ?.



Dicky yang sudah berada diluar mobil, terhenti saat melihat Nasya yang masih diam ditempat menatap dirinya. "Ayok! Kenapa malah diam disitu ?.".



Dan perlahan, Nasya pun turun. Tentu saja, dengan kepala yang bekerja mencari berbagai cara agar bisa kabur. Penculikan, Pemerkosaan, Pembunuhan. Ia benar-benar tidak ingin mati seperti itu. Masih banyak jalan yang belum ia lalui. Ia bahkan belum menikah dan punya anak. Pikirnya.



Melihat Nasya yang perlahan berjalan ke arahnya, Dicky tersenyum. Jika saja ayah mertuanya tau, ia mungkin tidak akan bisa berdua seperti ini bersama Nasya. Sepertinya, ia harus berterimakasih pada Reza.



Keduanya pun akhirnya masuk kedalam minimarket tersebut. Tentu saja, didalam Nasya masih dengan pikiran buruknya. Setelah beberapa menit didalam.



"Biar aku yang bayar." ujar Dicky mengambil beberapa belanjaan ditangan Nasya sembari memberikan senyuman manisnya. Dan Nasya sedikit terkejut dengan hal itu. Kenapa dia yang bayar ? Pikirnya.



Melihat Dicky yang mengantri di kasir, Lagi-lagi Nasya berbicara intens pada hatinya. Jika ini sebuah penculikan, Kenapa sikapnya begitu manis ? Dan....



Tiba-tiba, Nasya kembali mengingat senyum Dicky beberapa detik yang lalu. Seketika pipi nya merona. Dan juga... detak jantungnya bekerja dua kali lipat.



Lalu, dengan cepat Nasya menggelengkan kepala. "Enggak!" ujarnya pelan. "Jangan tertipu dengan kebaikannya, Nasya," lanjutnya sembari menatap Dicky yang masih sibuk mengantri. "Fokus pada tujuanmu! Yakni kabur dari sini!.".



Perlahan, Nasya mulai berjalan keluar dari minimarket tersebut. Matanya melirik Dicky, memastikan bahwa pemuda itu tidak melihat dirinya.



Tapi....



BRUK!



Seseorang menabraknya. Dan Nasya terjatuh disana.



"Mbak, Enggak apa-apa ?"



Kesal, Nasya pun bangkit. Menatap tajam pria yang baru saja menabraknya itu. "Mas, kalo jalan tu pake mata dong!.".



Namun, pria tersebut diam dan malah terkejut pada sosok Nasya disana. Bukankah, perempuan itu adalah perempuan yang sama saat dirumah sakit ? Yang tanpa sengaja juga saling bertabrakan seperti ini ? Perempuan pengomel menyebalkan itu.



Pria ini terus menatap wajah Nasya. Memastikan apakah dia benar-benar perempuan yang sama saat dirumah sakit itu atau bukan.



Menyadari itu, tentu Nasya merasa risih dan tidak terima. "Ngapain bengong ngeliatin gue? Bukannya minta maaf!" ketusnya.



Dahi pria ini sedikit mengkerut, mendengar ucapan Nasya. "Kenapa gue yang minta maaf? Kan elo yang nabrak gue. Kaki kemana, Mata kemana!," Celoteh pria itu. Pria sipit ini tersenyum tipis melihat raut wajah Nasya setelah berkata seperti itu. Tentu saja, kali ini harus dirinya yang mengomel pada perempuan menyebalkan ini.



"Enak aja! Jelas-jelas lo yang nabrak gue kok. Kenapa jadi gue yg nabrak!.".



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2