
Mobil yang sedang di buntuti oleh Reza itu terus melaju menuju ke sebuah tempat. "Si Putri mau dibawa kemana sih?," ucap nya yang terus mengikuti mobil berwarna putih itu.
Rasa khawatir dan kesal kini menjadi satu. Setengah jam perjalanan, akhirnya mobil putih itu berhenti didepan sebuah apartemen. Pemuda yang mengendarai mobil itu turun. Ia beralih ke pintu di sebelahnya, tepat dimana Putri yang tak sadarkan diri itu berada.
Tak lama dari sana, mobil Reza menyusul berhenti didepan apartemen tersebut. Ia melihat Putri yang dibawa masuk ke dalam apartemen oleh pemuda itu.
Kepala Reza mulai paham dengan niat pemuda itu. Ia bergegas turun dari dalam mobil dan menyusul pemuda yang membawa Putri tersebut.
Pemuda itu masuk ke dalam sebuah lift menuju ke lantai 6 apartemen disana. Tidak ada orang lain didalam sana, selain pemuda itu dan Putri.
Belum sempat masuk ke dalam, pintu lift sudah menutup terlebih dulu. "Sialan tu cowo!," kesalnya mencoba untuk membuka pintu lift itu.
Ting!
Suara lift berbunyi pertanda lift baru saja melewati satu lantai dan sedang dalam perjalanan menuju lantai yang dituju. Melihat itu, Reza segera bergegas mencari pintu tangga darurat disana.
Sementara di dalam lift, pemuda itu tersenyum melirik tanda lantai yang sudah semakin dekat dengan lantai 6 yang dituju. Ia lalu melirik Putri disana dengan isi kepalanya yang kotor.
Lift itu baru saja melewati lantai 5 dan "Ayo cepatlah!," ucap pemuda itu yang sudah tidak dapat menahan hawa nafsunya.
Ting!
Pintu lift itu pun terbuka lebar dan pemuda itupun keluar dari dalam lift, melewati lorong apartemen yang sudah sepi di malam itu. Ia menuju ke sisi kanan, tempat dimana kamar apartemennya berada.
Reza yang baru saja tiba dilantai 6, segera mencari arah perginya pemuda itu. Terlihat di ujung sana, pemuda yang membawa Putri sedang sibuk memasukkan kode password apartemen nya. Tentu, Reza bergegas kesana.
Pintu terbuka, pemuda yang sudah tidak tahan untuk melakukan niatnya itu segera membawa masuk Putri ke dalam kamar apartemen nya.
Ia meletakkan Putri di sofa terlebih dulu sebelum menutup rapat pintu apartemennya. Ditatapnya perempuan cantik yang tak sadarkan diri itu, "Ga salah emang gue berteman sama sibisma," gumamnya menatap Putri.
Ia lalu beralih untuk menutup pintu apartemen sebelum melakukan aksinya namun,
BUKK!!!.
Sebuah pukulan kuat mendarat diwajah pemuda itu hingga tersungkur ke lantai. Terlihat ujung bibirnya mengeluarkan darah. Pemuda itu mengelap darah tersebut dengan tangan dan menatap orang yang baru saja memukulnya itu. "Oi, Apa-apaan lo?," ucapnya sembari bangkit menyamai posisi Reza yang berdiri menatap tajam padanya.
Terlanjur kesal pada pemuda tak dikenal itu, Reza kembali memberikan pukulan yang lebih keras dan membuat pemuda itu tersungkur untuk yang kedua kalinya, "Lo mau ngapain temen gue? hah!," kesal Reza dengan tatapan tajamnya.
Pemuda itu tersenyum sebelah bibir mendengar hal itu, "Jadi tu cewe temen lo?," ucapnya menatap remeh Reza yang berdiri dihadapannya.
Pemuda yang biasa dipanggil dengan Andre itu bangkit dan berdiri menyamai posisi Reza lagi. "Lo penasaran? Mau gue apain dia?," ucap Andre dengan senyum liciknya.
"Gue mau bersenang-senang sama temen lo itu," sambungnya.
Reza tak terima mendengar perkataan pemuda bejat itu. Sontak saja, tangannya kembali memukul kuat wajah Andre "Sialan lo," kesal Reza padanya.
Reza terus-menerus memukul Andre. Ia sama sekali tak memberi kesempatan pada Andre untuk membalas. "Gue ga bakal ngebiarin lo ngelakuin niat bejat lo itu!," ucap Reza dan...
BUKK!!.
Untuk terakhir kalinya, Reza memukul Andre yang sudah tak berdaya di lantai. Pemuda bernama Andre itu hanya dapat melirik Reza yang berdiri dihadapannya dengan menahan rasa sakit diwajah dan perutnya.
Reza lalu menghampiri Putri yang terbaring, tak sadarkan diri di sofa. Ia segera membawa pergi Putri dari tempat itu. Andre yang melihat Reza membawa pergi gadisnya, mencoba bangkit dengan rasa sakit ditubuhnya. Ia duduk bersandar di sofa dengan merogoh ponselnya yang ada di saku celana hitamnya dan menghubungi seseorang. "Sialan lo, Bis! Lo mau ngejebak gue?," kesalnya pada orang diseberang sana dengan kembali mengelap darah yang ada di wajahnya.
»
"Kak, tolong aku!," lirih anak kecil yang meminta tolong dengan tangisannya.
"Kakak, tolong!," lirihnya lagi.
__ADS_1
Suasana ditempat itu sangat gelap hingga tak memungkinkan untuk melihat wajah anak itu. "Kakak," lirihnya lagi. Tiba-tiba ...
"Nindia!," Ucap Nasya membuka bola matanya.
Nasya menatap langit-langit kamar dengan mengatur napas. Tubuhnya terasa keringat dingin. Lalu, Nasya merubah posisi menjadi duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur, mengingat kembali tentang mimpinya yang barusan.
Dicky yang tertidur dengan posisi duduk dan kepala diatas kasur, merasa terusik dengan pergerakan sang istri. Perlahan, Ia membuka mata. Dilihatnya, Nasya yang sudah dalam posisi duduk.
"Nasya," ucapnya membuat perempuan ini menoleh. "Lo kenapa?," tanya Dicky.
Melihat sang istri yang berkeringat seperti itu, ia mulai panik dan, "Lo demam lagi?," ucapnya mencoba memeriksa suhu tubuh Nasya dengan menempelkan telapak tangannya di dahi Nasya.
"Gue gapapa," jawab Nasya pelan.
Dicky melepaskan tangannya dari dahi sang istri dan menatap bingung padanya. Kenapa Nasya bisa berkeringat seperti itu? pikirnya.
Nasya melirik jam dinding yang ada di dalam kamar. Sudah satu jam berlalu setelah ia pulang dari rumah sakit tadi dan itu artinya Nasya baru tertidur selama satu jam.
Lalu, Nasya kembali pada lamunannya. "Kakak kangen kamu, dek! Maafin kakak," lirih batinnya.
"Gue ambilin minum dulu," ucap Dicky beranjak namun ditahan oleh Nasya.
"Gausah! Lo lanjut tidur aja!," Ujarnya pada Dicky yang masih menatap khawatir.
"Gue gapapa! Tadi gue cuma mimpi tentang adek gue," sambung Nasya.
Dicky mengkerut mendengar itu "Adek?," ucapnya membuat Nasya mengangguk pelan.
Sebuah senyum tipis terukir diwajah Nasya diiringi dengan anggukan pelan, "Sebenernya gue punya adek cewe. Gue bukan anak tunggal," jelasnya.
"Tapi gue ga pernah liat adek lo?," tanya Dicky mulai penasaran.
Nasya terdiam dengan pertanyaan itu. Ragu untuk memberitahukan yang terjadi pada adik kesayangannya itu.
"Oi!," ucap Dicky menyadarkan Nasya dari lamunan beberapa tahun silam.
Nasya menatap Dicky cepat. "Ditanya malah ngelamun! Ntar kesurupan baru tau rasa lo," ujar Dicky.
"Sembarangan aja lo kalo ngomong," kesal Nasya.
"Oh iya kata mama, tadi mama lo telepon nanyain kabar lo," ucap Dicky.
Mendengar itu, Nasya menjadi bersemangat "Mama telepon? Kenapa aku ga dipanggil tadi!," kesalnya pada Dicky.
"Mama sengaja ga panggil lo! Mama mau, lo istirahat dulu!," jelas Dicky.
Nasya memasang wajah cemberutnya tanpa membalas perkataan Dicky. Melihat itu, Dicky merasa ada yang aneh pada dirinya. Dengan memasang wajah cemberut begitu, "Ni anak imut juga ya" batin Dicky memandang wajah sang istri disana.
Merasa Dicky terus saja menatap padanya, "Ngapain lo ngeliatin gue? Naksir ama gue?," ucap Nasya menyadarkan lamunan Dicky.
"Pede amat sih lo! Ngapain juga gue naksir cewe kayak lo!," Balas Dicky yang tak terima dengan ucapan Nasya.
"Gue juga ga sudi kali disukain ama cowo kek elo!," Ucap perempuan ini tak mau kalah.
"Udahlah! Gausah ngajak berantem! Ntar pingsan lagi!," Ujar Dicky yang tidak ingin bertengkar dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Lo yang mulai!," Balas Nasya.
Mendengar itu, Dicky tak terima. Ia menjitak kepala Nasya "Sembarangan! Yang ada elo tu yang mulai duluan!," ucap Dicky.
"Woi, ini kepala bukan bola! Jangan main jitak seenaknya dong!," kesal Nasya memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Dicky melirik istrinya "Terus lo mau nya apa?," tanyanya yang tiba-tiba berbicara lembut pada Nasya.
Hal itu membuat Nasya mengkerutkan dahi, menatapnya. "Lo mau gue cium?," ucap Dicky lagi dengan mendekatkan wajahnya pada Nasya.
Nasya nampak syok dengan hal itu, ia memundurkan kepalanya hingga terpentok di sandaran tempat tidur. Wajah Dicky semakin mendekat padamu lalu...,
"Apaan sih lo!," Ucapnya mendorong kuat tubuh Dicky agar menjauh.
Dicky terkekeh melihat ekspresi Nasya saat itu. "Dasar ya lo! Gampang banget dikerjain," ujar Dicky tertawa puas.
Nasya memasang wajah kesal pada suaminya itu dan menepuk bahu Dicky kuat "Kurang ajar lo!," Ucapnya.
Dicky tak membalas dan terus tertawa melihat Nasya.
Kesal, Nasya memalingkan wajah dari tatapannya. "Awas lo ya, Dic! Gue bales ntar!," kesalnya dalam hati.
»
Reza baru saja mendudukkan Putri di kursi depan tepat disebelahnya. Ia segera membawa sahabatnya itu pulang kerumah. Reza menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan apartemen, tempat dimana pemuda bejat itu berada.
Dalam perjalanan, sesekali Reza melirik sang sahabat. Ia merasa kasian pada Putri. Kali ini, apa yang telah dilakukan Bisma benar-benar keterlaluan. Memberikan pacarnya kepada pemuda bejat seperti Andre. Kali ini, ia tak bisa terima perbuatan Bisma pada sahabatnya itu. "Tu orang minta di kasih pelajaran!," gumamnya.
S
K
I
P
Putri mengerjapkan mata. Pandangan yang kabur itu mulai nampak jelas di matanya. Ia menatap langit-langit diruangan itu. Cahaya matahari telah menembus ke dalam ruangan itu. Perlahan, sorot matanya menyebar luas ke ruangan itu. Mengetahui bahwa itu adalah kamarnya, Putri perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Kepalanya terasa sangat pusing saat ia memposisikan tubuhnya menjadi duduk.
Tak berapa lama, seorang wanita baya masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat. "Sayang, kamu udah bangun?," Ucap wanita baya itu sembari meletakkan teh hangat itu diatas nakas.
"Sekarang jam berapa, ma?," ucap Putri pelan.
"Jam 08:00," jawab sang mama.
Mendengar itu, Putri tersentak. Ia segera turun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
"Sayang, kamu kemana?," tanya wanita baya itu menahan Putri yang baru saja hendak turun dari tempat tidur.
"Ya, ke kantor, ma. Aku udah telat satu jam," jelasnya pada sang mama.
"Putri, hari ini kamu sudah izin ga ke kantor," ucap sang mama membuat Putri menoleh cepat.
"Izin? Aku ga pernah minta izin ga masuk kantor untuk hari ini," ucap dan pikir Putri.
Wanita itu menatap anak tunggal kesayangannya itu, "Bukan kamu tapi Reza yang kasih izin kamu buat ga masuk ke kantor," jelas sang mama.
Putri mengkerut "Reza? Tapi kenapa, ma?," tanyanya bingung. Nampaknya, ia tidak mengingat tentang apa yang terjadi semalam.
Wanita baya itu menatap anaknya, "Kamu ga inget? Kalo semalem kamu itu pingsan?," tanya sang mama membuat Putri terdiam, mencoba mengingat yang terjadi semalam.
__ADS_1