
Osaka - 31 Desember 2004. Pukul 4:50 PM.
Di daerah sebuah pegunungan, terlihat di sana empat pendaki gunung yang sedang berjalan dengan peralatan kemah lengkap.
"Hey ... apa ini tidak terlalu jauh? Bagaimana kalau kita membangun tenda di sini saja? Aku sudah lelah berjalan, tahu!" keluh seorang wanita yang mengenakan jaket berwarna jingga itu.
"Ya, benar. kakiku juga sudah sakit!" timpal teman di sampingnya.
"Berusahalah sedikit lagi! Kita harus mencapai puncak dan mencari tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit," jawab seorang pria yang berada di depan mereka.
"Dasar wanita, seharusnya mereka berdua tidak kuajak berkemah. Menyusahkan saja !"
"Hey, isayama! Coba lihatlah kemari!" seru temannya dari kejauhan.
Dia pun berlari menghampiri temannya itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Sepertinya kita harus berkemah di sini. lihat, di sana ada sebuah kuil," jawab temannya.
Isayama menahan tangan temannya itu. "hoe ... Yamamoto-kun! bagaimana dengan sunrisenya?"
"Hah? Kau sudah gila, ya? Lihatlah ... langit sudah hampir gelap! Kau tidak mau mendaki melewati hutan ini dalam kegelapan, 'kan?" tegas pria bernama Yamamoto itu sambil berjalan menuju kuil.
"Cih ... yasudah lah !" gumam Isayama.
*****
Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk berkemah di dekat kuil yang mereka temukan itu, dan mulai membangun tenda-tenda.
"Hey ... lihatlah, ternyata mereka tidak mengunci pintu kuil ini," ucap Yamamoto, berjalan memasuki kuil.
"Hoe ... jangan sembarangan memasukinya, Yamamoto! Bagaimana kalau penduduk desa tahu!" teriak Isayama sambil berjalan mengikutinya.
"Uh ... berdebu sekali di dalam sini. Apa mereka tidak pernah membersihkan tempat ini? Kuil ini sudah terlihat sangat tua dan rapuh. Sudah tidak terpakai lagi, ya ?" batin Yamamoto.
"Wow ... lihatlah benda-benda antik ini, Isayama!"
"Hoe ... sudah kubilang jangan sembarangan masuk!"
"Sepertinya kita harus membawa salah satu benda antik ini, Isayama-kun"
"Letakan benda itu, itu bukan milikmu!"
"Huuh ... baiklah, baiklah! Dasar kau ini ...."
CKITT.. KITT.. KITT... KIIT..
Huwaaaa ...!
Dua ekor tikus yang berlari melewati kaki Yamamoto, membuatnya terperanjat dan menyenggol sebuah guci yang ada di sampingnya. Hal itu membuat guci tersebut terjatuh ke bawah dan pecah di lantai.
"Yamamoto! Dasar ceroboh, lihat apa yang baru saja kau perbuat!" Isayama berlari dan membantunya berdiri.
"Sebaiknya kita keluar dari sini!" tegas Isayama.
Mereka pun berjalan keluar dari kuil itu.
"Apa yang baru saja terjadi di dalam sana?" tanya kedua wanita itu.
"Ah ... bukan apa-apa." Yamamoto memegangi bokongnya yang kesakitan. "Aku dan isayama akan mencari kayu dan ranting-ranting untuk membuat api unggun. Hikari, sebaiknya kau dan Yura tinggal di sini menyiapkan makanan kita.
"Tapi jangan terlalu lama, aku tidak mau tinggal disini dalam kegelapan," keluh wanita yang bernama Yura itu.
"Baiklah, kami tidak akan pergi lama! Dan satu lagi, sebaikan kalian tidak memasuki kuil itu. Di dalam sana sangat berdebu dan banyak sekali tikus," pesan Yamamoto yang kemudian berjalan pergi.
*****
Langit semakin gelap dan suhu saat itu semakin dingin. Yura dan Hikari terlihat sedang menyiapkan beberapa makanan instan, sedangkan di sisi lain, Yamamoto dan Isayama terlihat masih berputar-putar mencari kayu dan ranting.
"Sepertinya kayu dan ranting yang kita kumpulkan sudah cukup, Yamamoto-kun," ucap isayama.
"Yah ... sepertinya begitu, ayo kita kembali sebelum benar-benar gelap," ajak Yamamoto.
.
.
.
"Huuuuhhf ... kenapa Isayama dan Yamamoto masih belum kembali juga, sial! Mereka itu pasti sengaja melakukan ini," keluh Yura.
__ADS_1
"Tunggu saja, mungkin mereka sedang berada di perjalanan kemari," jawab Hikari.
"Membosankan sekali! Kenapa kita harus menghabiskan malam tahun baru di tengah hutan seperti ini, sih! Huuh!" gerutu Yura lagi.
"Huuh ... dasar cerewet! Apa dia tidak bisa berhenti bicara, harusnya kau sudah tahu akan terjadi hal seperti ini. Kau pikir mendaki gunung dalam waktu singkat itu mudah !"
BRUAK...!
Tiba-tiba saja pintu kuil membanting dan terbuka lebar.
"Eh ... terbuka? Aneh sekali, padahal angin di sini tidak terlalu kuat." Yura berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pintu kuil.
TOK.. TOK.. TOK..
Terdengar sebuah suara ketukan dari dalam kuil.
"Heeh ... Di sini gelap sekali."
TOK.. TOK.. TOK.. TOK ... PRANG!
Kali ini terdengar suara ketukan dan sesuatu yang pecah.
"Eh ... apa itu, tikus?" Yura menyalakan senternya dan mulai berjalan masuk.
"Hey! Bukankah yamamoto-kun sudah memperingati untuk tidak memasuki kuil, Yura!" tegur Hikari.
Yura menghiraukan ucapan Hikari dan terus berjalan masuk.
"Hey hey hey ... lihatlah benda-benda ini, terlihat mahal sekali," ucap Yura yang langkahnya terhenti ketika dia menginjak pecahan guci.
HIKS.. HIKS.. HIKS...
Terdengar suara tangisan dari arah sudut tembok. Di sana terlihat sosok seseorang yang sedang berdiri menghadap tembok dengan rambut panjang yang terurai.
"Eh ... ada orang di sini, siapa di sana?" tegur Yura; berjalan mendekati sosok itu.
HIKS... HIKS...
"Hey, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau baik-baik saja?" dia berjalan mendekat dan terus mendekat.
PRANG!!!
"Tikus sialan!" geram Yura sambil menoleh ke belakangnya.
Namun ketika dia menolehkan kembali wajahnya ke depan, sosok yang tadinya berdiri menghadap tembok itu, kini sudah berada tepat di depannya dengan wajah putih pucat yang menyeramkan.
AAAAAAAHHH.. !!
Teriakan Yura terdengar dari dalam kuil. Hikari berdiri dan menatap pintu kuil yang terbuka itu dengan tatapan gelisah.
"Yura! Apa yang terjadi di dalam sana? Yura, jawab aku! Jangan main-main!" Hikari memanggilnya, tapi tidak ada respons apa pun dari Yura yang berada di dalam kuil tersebut.
"Kenapa kau berteriak? jangan main-main denganku, cepat keluar!" teriak Hikari lagi.
Kemudian terdengar suara tangisan Yura yang menyebut-nyebut nama Hikari.
UHUUHU... HIKARI ... HIKARI ...
"Hey ... cepat keluar dari sana, dasar bodoh!" Hikari berjalan mendekati pintu; hendak memasuki kuil. Namun langkah kakinya itu terhenti di depan pintu masuk, ketika sesuatu yang menggelinding dari dalam kuil berhenti tepat di bawah kakinya.
Hikari terdiam sejenak. Dia terlihat syok setelah melihat benda yang terlihat seperti kepala manusia itu.
"Oh tuhan ... apa yang terjadi? Apa itu kepala Yura ?" batin Hikari.
Tangan dan kakinya bergemetar hebat; jantungnya berdegup kencang; dan dia berkeringat dingin.
Kemudian terdengar suara bisikan dari dalam kegelapan kuil tersebut.
HIKARI-CHAN ... HIKARI-CHAN ...
Dengan cepat sebuah tangan menggapai wajah Hikari dan langsung menariknya masuk ke dalam kuil. Lalu pintu kuil pun tertutup rapat.
AAAAAAHHHH !
KAAK.. KAAK.. kAAKK!!
Burung-burung gagak yang berada di atas pohon, berterbangan menjauhi kuil setelah terdengar suara jeritan Hikari yang nyaring itu.
*****
"Yamamoto! Apa kau mendengarnya juga?" tanya Isayama; mendengar suara teriakan yang terdengar samar di telinganya.
__ADS_1
"Terdengar jelas sekali! Kita harus bergegas!" jawab Yamamoto yang kemudian berlari dan diikuti oleh Isayama dari belakangnya.
Sesampainya mereka di depan kuil, Yamamoto berjalan memeriksa tenda-tenda dan sekitarnya, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.
"Cih ... didengar dari mana pun, itu sudah jelas suara teriakan Hikari. Apa ini? kemana mereka menghilang? jangan-jangan ... cerita itu benar adanya," batin Yamamoto.
"Mereka juga tidak ada di dalam kuil, kemana mereka semua pergi?" ucap Isayama yang terlihat panik.
"Isayama, apa kau masih mengingat jalan kembali ke desa?" tanya Yamamoto.
"Tentu saja, tidak jauh dari sini ada jalan setapak."
"Kalau begitu kau kembalilah ke desa, dan beritahu penduduk desa kalau Hikari dan Yura menghilang."
"Apa maksudmu? Mereka menghilang? Jangan main-main! Mereka pasti sedang berada di sekitar si- "
"Diamlah dan dengarkan aku! Ini bukan main-main! Hikari dan Yura benar-benar menghilang, aku akan mencari mereka, kau pergilah ke desa!" tegas Yamamoto dengan wajah serius.
"Hoe hoe ... jangan bercanda, keparat! Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"
"Mungkin ini semua adalah salahku, aku sudah menganggap remeh peringatan itu."
"Apa maksudmu? Peringatan apa?" tanya isayama yang mulai meninggikan suaranya.
"Sebenarnya, sebelum kita memasuki hutan ini, saat kita masih berada di desa, warga desa sudah memperingatiku untuk tidak memasuki kuil ini, apalagi untuk menyentuh barang-barang keramat di dalamnya," jelas Yamamoto.
"Jadi ... maksudmu ada iblis yang bersarang di tempat ini! hah?"
Yamamoto tidak menjawab pertanyaannya dan hanya menunduk.
Isayama mendekat dan menarik kerah baju Yamamoto. "Keparat! Lalu kenapa kau membawa kami semua ke sini? Jangan bercanda, dasar bodoh!"
"Maafkan aku, sebenarnya ... aku tidak percaya dengan legenda masyarakat di sini, karena itulah aku hanya ingin memastikannya sendiri. A-aku ... aku ...," ucap Yamamoto terbata-bata.
"Cih! Kau tidak seharusnya melibatkan kami dengan tindakan konyolmu ini! Dasar keparat kau!" Isayama mendorongnya sampai terjatuh.
Yamamoto hanya duduk terdiam sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sedangkan Isayama berjalan memutari area itu sambil meneriakan nama Yura dan Hikari.
Tak lama kemudian, Yamamoto pun berdiri dan berjalan.
"Kau akan pergi kemana?" tanya isayama yang membuat langkah Yamamoto terhenti.
"Tentu saja mencari mereka berdua!" jawabnya.
"Aku juga akan ikut!"
"Dasar bodoh! Sudah kubilang kau pergi saja ke desa untuk mencari bantuan!"
"kenapa kau seenaknya memerintahku seperti itu, hah!" bentak Isayama.
"Karena tidak ada cara lain lagi selain meminta bantuan dari penduduk desa!"
"Tapi ...."
"Isayama! Tolonglah ... bantu aku dengan pergi ke desa, kita butuh orang untuk mencari mereka, kumohon ...," pinta Yamamoto dengan nada lirih.
Isayama terdiam sejenak menatap mata Yamamoto, lalu dia berkata, "Awas saja kalau kau juga hilang!"
Akhirnya isayama pun memutuskan untuk kembali ke pedesaan untuk mencari bantuan.
Dia berlari menuruni gunung menuju jalan setapak, dengan pikiran yang di penuhi dengan tanda tanya akan hal yang sedang terjadi.
"Tidak mungkin ... tidak mungkin ... tidak mungkin! Ini pasti bohong, 'kan? Tidak, mereka tidak mungkin hilang ... tidak mungkin !" batin Isayama.
Dia berlari dan terus berlari, berharap untuk cepat sampai di desa dan mendapatkan bantuan. Namun, sesampainya dia di sungai, kakinya tergelincir dan terjatuh saat mencoba untuk menyebrang.
Arus sungai yang deras itu menghanyutkannya sampai ke sebuah perkebunan anggur, dan dia ditemukan terdampar di sana dalam keadaan pingsan oleh seorang petani.
Isayama tidak pernah menyangka bahwa semua ini akan menimpa dia dan teman-temannya.
Satu-satunya hal yang akan selalu dia ingat hari itu, adalah malam tahun baru yang paling mengerikan selama hidupnya.
Dan sejak hari itu, mimpi buruk yang berkepanjangan pun di mulai!
.
.
*****
BERSAMBUNG ...
__ADS_1