NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
PENGEJARAN


__ADS_3

Di sisi lain, Jack, Yuki, dan Nori-san akhirnya tiba di depan gerbang kuil, dan langsung berlari masuk. Sedangkan Tomo-san masih terlihat berdiri terpaku di area koridor kuil.


"Hoee ... jangan bercanda! Sejak kapan dia berdiri di sana?" gumam Tomo-san dalam hati sambil melangkah mundur.


Naku Josei menunjukan jarinya ke arah Tomo-san sambil tersenyum. "Berikan kitabnya kepadaku!"


Langkah Tomo-san semakin cepat dan dia pun berlari menuruni tangga menuju mobilnya, namun langkahnya terhenti karena Yuki, Jack, dan Nori-san sudah tiba di sana.


"Tomo! Apa kau sudah gila! Berikan- " Perkataan Nori-san terhenti ketika dia melihat Naku Josei yang terbang menuju Tomo-san.


"Awas!" seru Yuki.


Dengan segera Tomo-san menghindar dengan melompat ke sisi kanan, lalu berlari menuju pepohonan menuju hutan.


"Si bodoh itu," gumam Nori-san sambil berlari mengejarnya, kemudian diikuti juga oleh Jack dan Yuki.


"Payah, payah, payah ... kenapa kau berlari ke sini? Dasar payah!" batin Tomo-san; membicarakan dirinya sendiri yang telah salah dalam mengambil langkah.


JRSSSSSSS ...


Hujan tiba-tiba saja turun deras ketika Tomo-san mulai memasuki hutan. Dia terus berlari di dalam kegelapan malam hanya dengan bermodalkan senter dari HP-nya. Langkah Tomo-san sempat melambat saat dia mulai menyadari bahwa Naku Josei juga sedang mengikutinya dari balik pepohonan.


"Sial!" gumam Tomo-san yang mulai mempercepat langkahnya.


Di sisi lain, Yoshino-san terlihat sedang berjalan dengan susah payah menuju kuil dengan menyeret sebelah kakinya yang terkilir itu. Sedangkan Yuki, Jack, dan Nori-san berusaha untuk menyusul Tomo-san dari belakang. Mereka berlari mengejarnya memasuki semak-semak rumput yang tinggi.


"Jangan sampai kehilangan dia!" tegas Nori-san.


Langkah mereka bertiga terhenti saat menemukan jalan buntu. Di depan sana, hanya ada sebuah jurang yang dalam dan gelap.


"Sial! Kita kehilangannya," gerutu Yuki.


"Tidak ... tidak mungkin dia menuruni jurang ini. kalaupun dia melakukannya, kita bisa melihatnya dengan jelas dari atas sini." Jack melompati sebuah kayu yang melintang di sebelahnya. "Lihat, ada sebuah gua di depan sana," ujarnya.


Mereka pun berlari menuju gua tersebut. Tapi sesampainya mereka di sana, langkah Yuki terhenti sejenak, tepat di depan mulut gua itu. Dia memperhatikan sekitaran area itu dengan seksama dengan wajahnya yang terlihat kebingungan.


"Tempat ini ... apa aku pernah ke sini sebelumnya ?" batin Yuki bertanya-tanya.


"Yuki! Kenapa kau hanya berdiri saja di sana? Cepatlah!" seru Jack sambil berjalan menghampirinya. "Ada apa?"

__ADS_1


Yuki hanya menggelengkan kepalanya, dan kemudian berlari memasuki gua. "Nori-san?"


"Dia berlari tanpa menunggu kita," jawab Jack.


Mereka berdua pun berlari menelusuri lorong-lorong gua yang gelap itu, sedangkan di waktu yang sama, Nori-san sudah menembus gua tersebut, dan dia tiba di sebuah kubangan air lumpur yang sangat luas. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat Tomo-san yang baru saja berhasil memanjat keluar dari kubangan itu.


"Tomo-san!" serunya.


Tomo-san hanya menoleh ke belakang melihat Nori-san yang sedang berusaha memanjat lekukan tanah itu. Melihat Nori-san yang semakin mendekatinya, ia berlari lagi memasuki gelapnya hutan. Namun tak lama kemudian, langkahnya kembali terhenti saat terlihat di depan sana Naku Josei yang sudah berdiri menatap tajam ke arahnya. Iblis itu berjalan mendekatinnya dengan cepat. Tidak ada jalan lain lagi bagi Tomo-san untuk melarikan diri.


"Sial! Siaaal!" makinya sambil melangkah mundur.


Naku Josei berjalan mendekat dan semakin mendekat. "Berikan kepadaku ... buku itu!" katanya, dengan suara yang mengintimidasi.


Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Tomo-san saat itu hanyalah berdoa. Dia mulai merapalkan mantra pengusir setan sambil menggenggam erat kitab yang terbungkus oleh sehelai kain itu.


Naku Josei mulai mempercepat langkahnya. Namun sesaat sebelum dia berhasil menggapai wajah Tomo-san, dia terhenti saat Tomo-san berhasil menyelesaikan mantranya. Mantra itu terlihat bekerja, dan hal itu membuat Naku Josei menjerit kesakitan.


Tomo-san memasang wajah marah ke arah Naku Josei. Dia tertawa dan memakinya dengan berteriak keras. "Ha..ha..haa! Rasakan itu, iblis terketuk! Kau tidak akan bisa mencelakaiku! Kau bahkan tidak akan bisa menyentuhku! Ha..ha..ha..ha!"


Naku Josei semakin menjerit kesakitan sambil memegangi wajahnya yang terlihat berapi-api dengan asap yang menguap. Namun anehnya, perlahan-lahan suara jeritan itu terdengar berubah menjadi suara tawaan.


DEG!


"Ka-kau!" Tomo-san melangkah mundur selangkah demi selangkah sampai tubuhnya tersandar di sebuah pohon.


JLEB !


Dengan cepat iblis itu menerka wajah Tomo-san; menusuk perutnya menggunakan kuku-kukunya yang runcing itu, dan merobeknya.


HUEEEEK!


Tomo-san terjatuh dan memuntahkan darah yang banyak dari mulutnya.


"Kenapa kau mengatakan kalau aku tidak bisa membunuhmu? Naif sekali," ucap Naku Josei; hendak merebut kitab yang digenggam oleh Tomo-san.


Namun tiba-tiba saja ...


CEESSSSS ...

__ADS_1


AAAAARGGG!


Nori-san melemparkan garam ke arah punggung Naku Josei. Hal itu membuatnya terperanjat dan terbang dari tempatnya berdiri. Lalu dengan segera Nori-san membuat sebuah lingkaran dengan menaburkan garam penangkal dari botol kayu miliknya itu ke seluruh area di mana dia dan Tomo-san berada. Hal tersebut membuat Naku Josei tidak bisa mendekat untuk sementara.


"Tomo-san! Apa kau baik-baik saja!" Nori-san memeriksa luka di perutnya itu.


"Ke-kenapa ka-kau ...,"


"Jangan bicara! Sial, lukamu sangat parah!" sela Nori-san dengan bembentak. "Cih ... Ini tidak akan bisa bertahan lama," gumamnya; melihat garam yang terlihat larut oleh air hujan.


Di sisi lain, Yuki dan Jack akhirnya berhasil keluar dari gua tersebut. Sesampainya mereka di kubangan air itu, Jack langsung memanjat ke atas lebih dulu, lalu diikuti oleh Yuki di belakangnya.


"Ayo ... genggam tanganku!" Jack mengulurkan tangannya untuk membantu Yuki naik. Namun saat Yuki hendak menggapai tangan Jack, dia tergelincir karena bebatuan yang licin dan terjatuh di atas lumpur.


"Yuki!" teriak Jack.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saj- aaaaaahhh!," Tiba-tiba saja Yuki dikagetkan oleh sebuah tengkorak kepala manusia yang sedikit timbul dari dalam lumpur itu.


Aaaaaahhh!


"Hey! Apanya yang tidak apa-apa! Kenapa kau berteriak?" tanya Jack.


"Ti-tidak apa-apa, aku akan memanjat lagi," balasnnya.


Selagi Yuki memanjat ke atas, di waktu yang sama, Nori-san masih terlihat terduduk bersama Tomo-san yang terlihat sekarat itu.


"Ke-kenapa kau menolongku?" tanya Tomo-san dengan terbata-bata.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Sudah kubilang jangan bicara!" Jawabnya dengan membentak.


Tomo-san menatap wajah Nori-san sambil tersenyum. "Untuk pertama kalinya kau terlihat baik di mataku, Nori ...," ucapnya sambil menyodorkan Kitab yang terbungkus kain itu. "Jangan sampai basah, pergilah ke tempat yang teduh, Mantranya ada di halaman ke-13."


"Kau ini ... kenapa kau tidak mau mendengarkanku! Kalau saja kau memberikannya dari awal, ini semua tidak akan terjadi padamu, dasar bodoh!" ujar Nori-san sambil menekan luka Tomo-san.


"He..he, menurutmu ... a-apa lagi alasanku sampai bertindak sejauh ini, hah?" Mereka berdua saling bertatapan mata. "Itu karena a-aku membencimu, Nori-chan!" ungkap Tomo-san dengan nafas yang mulai terengah-engah.


.


.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG ...


__ADS_2