NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
HIPOTESIS DI BALIK SEBUAH KEMATIAN


__ADS_3

"Naku Josei? Bagaimana bisa itu- "


"Tentu saja ... itu mungkin terjadi. Naku Josei mungkin memang hanya menjadikan anak-anak sebagai targetnya, tapi bukan berarti dia tidak bisa mencelakai orang dewasa," ucap Yoshino-san.


Yuki menatap mata Yoshino-san dalam-dalam. "Apakah yang di lakukannya kepada Kotaro sensei, itu sama dengan yang dia lakukan kepada anak-anak yang hilang juga?" tanyanya.


"Tidak. Dia tidak pernah menculik ataupun mengambil jiwa orang dewasa. Seperti yang sudah kau ketahui, Nako Josei tidak pernah menargetkan orang dewasa, walaupun ada juga sebagian dari mereka yang menjadi korban," jawab Yoshino-san.


"Dia tidak menargetkan orang dewasa, walaupun ada juga orang dewasa yang menjadi korban? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," ujar Yuki, heran.


"Tu-tunggu dulu ... apa yang sedang kalian bicarakan? Biasakan kalian memberitahuku apa yang sedang kita lakukan di tempat ini?" sela Jack.


Yuki memukul paha Jack. "Shut up! I'll tell you later, Jack!" (Diamlah! Nanti kuberitahu, Jack!)" bentaknya.


"Bisakah kau menjelaskan maksud dari perkataanmu itu, Yoshino-san?" pinta bibi Miyako.


Yoshino-san pun berkata, "Baiklah, kalau begitu ... dengarkan ini baik-baik, Yuki-chan. Orang yang menjadi korban, tapi bukanlah tipe target Naku Josei, biasanya adalah mereka yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan iblis itu ...," ujar Yoshino-san yang kemudian melanjutkan perkataannya lagi. "Kau tau sendiri, 'kan? Kotaro sensei sudah terlibat dengan masalahmu ini, Yuki-chan."


"Jadi ... maksudmu, Naku Josei membunuhnya karena sudah terlibat dengan masalahku?" tanya Yuki.


"Ada sebuah kemungkinan seperti itu. Tapi, dia tidak membunuh mereka secara langsung. Melainkan dengan cara mempengaruhi pikiran mereka sampai terjadi insiden yang terlihat seperti sebuah kecelakaan maupun bunuh diri," jelasnya.


Penjelasan Yoshino-san itu, membuat Yuki teringat akan kecelakaan yang di alami oleh kedua orangtuanya. "Apa mungkin, ibu dan ayah ?" gumamnya dalam hati.


"Tomo-san adalah salah satu orang yang paling dekat dengan Kotaro sensei selain aku dan Yoshino-san. Dia pernah bercerita kepada kami tentang perilaku aneh yang di lakukan oleh Kotaro Sensei sebelum dia meninggal," ujar seorang biksu yang duduk bersebelahan dengan Yoshino-san.


"Perilaku aneh? Bisakah kau menceritakannya kepadaku?" pinta Yuki.


Yoshino-san berdiri. "Sebaiknya ... kau langsung dengar sendiri saja ceritanya dari Tomo-san. Mari, ikutlah denganku ke ruangannya," ujarnya, berjalan keluar yang kemudian di ikuti oleh mereka berempat.


Yoshino-san mengantar mereka menuju ruangan di mana Tomo-san berada. Dia juga mengatakan bahwa Tomo-san adalah tipe orang yang tidak suka di ganggu maupun menggangu orang lain, tidak banyak bicara, apalagi basa basi.


Sesampainya mereka di depan pintu.


Tok.. tok.. tok ...


"Siapa? Masuklah!" sahut Tomo-san dari dalam.


Yoshino-san membuka pintu. "Tunggulah sebentar di sini, aku akan berbicara terlebih dahulu dengannya." Berjalan memasuki ruangan.


Di dalam sana, Dia berbicara kepada Tomo-san mengenai prihal yang baru saja mereka bicarakan di dalam kuil, lalu dia meminta Tomo-san untuk menceritakan kesaksiannya tentang Kotaro sensei.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara Tomo-san memanggil mereka yang sedang menunggu di luar. "Kalian semua, masuk lah!" serunya.

__ADS_1


Mereka pun masuk dan duduk di hadapan biksu itu.


"Kenapa kau mau tahu tentang cerita tersebut?" tanya Tomo-san kepada Yuki.


"Aku hanya ingin memastikannya saja, karena kedua orangtuaku juga sudah meninggal."


Wajah kedua biksu itu terlihat terkejut setelah mendengar perkataan Yuki.


Yoshino-san mendekati Yuki. "Kedua orangtuamu sudah meninggal? Benarkah itu?" tanyanya.


"Ya, mereka meninggal secara bersamaan di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan mobil. Awalnya aku pikir itu hanyalah sebuah kecelakaan mobil yang biasa terjadi. Tapi ... setalah mendengar semua penjelasan dari Yoshino-san, aku menjadi tidak yakin soal itu," jawab Yuki.


Tomo-san menghela nafasnya. "Aku juga sebenarnya tidak begitu yakin kalau Naku Josei lah yang membuat sensei seperti itu. Tapi entah kenapa ... hatiku berkata demikian," ujarnya.


"Tomo-san, ceritakan semuanya kepadaku, tolonglah ...," pinta Yuki.


"Baiklah, tapi ... tidak banyak yang bisa ku ceritakan kepadamu. Aku akan langsung ke intinya," ujar Tomo-san yang kemudian mulai bercerita.


"Beberapa hari sebelum sensei meninggal, sering sekali aku melihat dia berprilaku aneh, seperti cara bicaranya yang menjadi ngawur, berbicara sendiri di lorong koridor area kuil saat tengah malam, sampai menyebut-nyebut nama seseorang yang bernama 'Ayumi'.


Setelah kucari tahu tentang nama itu, menurut beberapa biksu senior yang telah keluar dari kuil itu, mereka mengatakan kalau dulu, Kotaro sensei pernah mempunyai seorang putri bernama 'Ayumi'. Tapi karena sakit keras yang di deritanya, dia meninggal saat berusia enam tahun. Sedangkan istri beliau meninggal saat melahirkan Ayumi, putrinya. Perilaku sensei itu membuatku berfikir bahwa pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Kalau di bilang sudah pikun, itu tidak mungkin, karena beliau adalah seorang cerdas yang selalu mengasah otaknya. Tidak mungkin juga tiba-tiba saja dia menjadi pikun hanya dalam jangka waktu beberapa hari."


"Lalu ... apa hubungannya semua itu dengan kematiannya? Bukankah beliau meninggal dengan cara bunuh diri?" sela bibi Miyako.


"Sesuatu yang mempengaruhi pikirannya? Suatu hal yang membuat seseorang sampai melakukan bunuh diri? Suatu hal yang membuat seseorang menjadi frustasi ..."


Tiba-tiba saja, Yuki teringat dengan kejadian saat dia menerima panggilan telepon dari seseorang yang terdengar seperti nenek, tapi itu bukanlah neneknya. Dia juga mengingat tentang mimpinya di malam yang sama dengan malam kecelakaan kedua orangtuanya dan panggilan telepon itu terjadi.


Ketiga hal yang terasa saling berhubungan itu membuat Kepalanya sakit dan pusing.


"Mungkinkah itu ?" batin Yuki.


"Apa kau baik-baik saja, Yuki-chan?" tanya bibi Miyako, memegang bahunya.


"Aku baik-baik saja, Bi," jawabnya.


"Kotaro sensei adalah orang yang sangat baik. Aku sampai tidak mempercayai mataku sendiri ketika melihat jasadnya yang tergantung di kamarnya. Setelah kepergian mendiang istri dan putrinya itu, beliau memutuskan untuk mendedikasikan seluruh hidupnya sebagai seorang biksu di kuil Raion," ujar Tomo-san dengan matanya yang mulai terlihat berkaca-kaca.


"Walaupun begitu, itu semua hanyalah sebuah hipotesis. Kita semua tidak tau secara pasti penyebab kematian Kotaro sensei," sela Yoshino-san.


"Tapi itulah yang terjadi pada semua orang yang terlibat dengan iblis itu!" bentak Tomo-san. "Sensei bukanlah orang pertama yang mengalami hal seperti itu, tapi semua korban yang pernah terlibat, juga mengalami hal yang sama. Setidaknya, itulah yang kudengar dari beberapa cerita yang beredar. Tapi, hal yang paling harus kita khawatirkan saat ini, adalah bahwa kita juga mungkin sudah terlibat dengan masalah yang sama. Karena itulah aku mengatakan bahwa kedatanganmu ini membawa bencana bagi orang banyak, Yuki-chan. Dan karena kau juga, anak ini menjadi sasaran iblis itu," ujar Tomo-san sambil memandang wajah Aoi.


"Semua orang yang terlibat menjadi sasaran?

__ADS_1


Semuanya menjadi sasaran iblis itu ?"


Tomo-san berdiri dari tempat duduknya dan berkata, "jadi, dengan segala hormat, Yuki-chan ... Sebaiknya kau- "


"Nenek!" sela Yuki yang Tiba-tiba saja berdiri. "Aku harus segera pergi dari sini!" tegasnya.


"Apa maksudmu? Kemana kau akan Pergi?" tanya bibi Miyako yang berdiri menggenggam tangan Yuki


"Jika hipotesis itu benar, itu artinya nenek juga sedang dalam bahaya, 'kan? Mungkin saja dia sekarang ini sedang di incar oleh Naku Josei!" ucap Yuki yang kemudian berjalan menuju pintu keluar.


"Hentikan itu, Yuki!" Yoshino-san membuat langkahnya terhenti. Dia berdiri dan berjalan mendekatinya. "Terlalu berbahaya kalau kau pergi sendirian, dan juga kau tidak perlu pergi ke sana," tegasnya.


"Apa maksudmu dengan 'kau tidak perlu pergi ke sana' ?" tanya Yuki.


"Ya, kau tidak perlu pergi. Tunggulah di sini, karena Nori-san sudah menuju ke sana untuk menjemput nenekmu," jawab Yoshino-san.


"Nori-san? Jadi ... tadi itu dia pergi ke rumah sakit? Kenapa kau tidak memberitahu!" bentak Yuki.


"Sudah kubilang, kalau kuberitahu, kau pasti akan bersikeras untuk ikut dengannya!" tegas Yoshino-san.


"Apa yang kau bicarakan, Yoshino-san! Siapa yang mengatakan kalau dia boleh tinggal di sini!" sela Tomo-san dengan nada tinggi.


Yoshino-san membalikan badannya. "Nori-san mengatakan kalau Yuki harus tetap berada di sini sampai dia kembali! Kau juga sudah diberitahu olehnya, 'kan?"


Tomo-san berdiri dan berjalan mendekati bereka berdua. "Nori-san? Kenapa kau harus mengikuti permintaannya itu? Dia bertingkah seolah-olah dia lah yang memiliki tempat ini!"


"Tomo-san! Kau- "


KRING..


KRING..


KRING..


Ponsel Yoshino-san yang tiba-tiba saja berdering membuat ucapannya terhenti.


Dia mencabut ponselnya dari saku dan melihat ke layarnya. "Nori-san? Dia menghubungiku!"


.


.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2