
Di sisi lain, dalam keadaan mobil yang melaju kencang, Nori-san berusaha untuk menghubungi Yoshino-san dan bibi Miyako untuk memberitahu mereka berdua tentang hal yang baru saja diketahuinya.
Pertama-tama dia menelepon Yoshino-san, namun ponselnya berdering di dalam kamar tidurnya, sedangkan Yoshino-san sendiri sedang terduduk sendirian di dalam Kuil dengan seluruh tubuhnya yang sudah terguyur oleh bensin.
Tak mendapat respons apa pun dari Yoshino-san, Nori-san kemudian menghubungi bibi Miyako. Ponselnya berdering ketika dia sedang berkendara di tengah jalan, namun dia mengabaikan panggilan masuk itu.
Nenek Nadeshiko dan Aoi menatap bingung ke arah bibi Miyako.
"Ibu ... ponselmu berdering!" tegur Aoi.
"Miyako, ada apa? Kenapa kau tidak menjawab panggilannya?" tanya nenek.
Semua perkataan mereka berdua diabaikan oleh bibi Miyako. Wajahnya terlihat sangat pucat, lengannya bergemetar, dan tatapan di matanya itu sangat kosong. Hal itu membuat nenek menjadi gelisah.
"Miyako! Katakan sesuatu! Kau membuat kami berdua jadi takut!" bentak nenek sambil menggenggam tangan Aoi.
Semua panggilan yang dilakukan oleh Nori-san terabaikan. Hal itu membuat hatinya menjadi gelisah tak karuan. Dia mulai mengingat perkataan Chiou-sama sewaktu mereka di perpustakaan kuil.
"... Nori-san, ini semua belum berakhir; ini semua hanyalah sebuah permulaan!"
"Sial.. sial.. sial.. siaal!" kesal; dia mengumpat sambil memukul-mukul pahanya sendiri. "Kenapa tidak satu pun dari mereka yang mau menjawab ?" Gelisah, Nori-san mempercepat laju mobilnya.
Di saat itu juga, hal yang buruk pun terjadi. Para biksu yang telah menyadari bau bensin itu langsung berlari menuju pintu kuil. Mereka mencoba untuk membuka pintu tersebut, namun terkunci.
"Yo-yoshino-san!" gumam salah seorang biksu di sana yang mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela.
mereka semua berteriak untuk menghentikan tindakan yang akan dilakukan oleh Yoshino-san, tetapi itu semua sia-sia. Lalu mereka mencoba untuk mendobrak pintu tersebut, namun itu pun sudah terlambat.
Yoshino-san menyalakan korek api, lalu mulai membakar tubuhnya sendiri. Dia berteriak dan menjerit-jerit kesakitan. Bensin yang membasahi seisi ruangan itu membuat api menjulur dengan cepat ke seluruh bagian bangunan kuil.
Di saat yang sama pula, Nenek Nadeshiko dan Aoi terlihat sangat ketakutan ketika bibi Miyako mulai kehilangan kendali. Nenek berteriak kepadanya untuk menghentikan mobil, namun dia tidak menanggapinya.
Tak lama kemudian, bibi Miyako menolehkan wajahnya ke arah nenek. dengan wajah yang terlihat ketakutan dan air mata yang mengalir deras di pipinya, dia berkata, "Ibu ... aku takut. Tolong aku ...."
Lalu tiba-tiba saja dia membanting setir ke arah kiri dan menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan. Mobil mereka menembus pembatas itu dan terjun bebas ke dalam jurang yang sangat dalam.
*****
KRING
KRING
Ponsel Jack berdering ketika dia sedang memainkan gim.
"Nori-san?"
"Hey ... apa kabar?" sapa Jack.
"Jack! Dengarkan aku baik-baik!" tegas Nori-san tiba-tiba.
"Eh?"
"Dengar ... ini tentang iblis yang kita segel hari itu. Mungkin ini sangat membingungkan dan sulit untuk dipercaya, tapi ... kita sama sekali belum menyegelnya!"
"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti ...."
Di sebuah tikungan tajam itu, Nori-san membanting setir dan melaju dengan cepat.
"Aku mengerti jika kau merasa bingung saat ini. Jadi ... dengarkan dengan seksama, aku akan menjelaskan semuanya sekarang juga!"
"Baiklah ...," jawab Jack dengan tenang.
"Ini mengenai Yuki. Percaya atau tidak, sepertinya iblis itu telah merasuki tubuhnya!"
"Apa?!"
"Dengar ... kau ingat dengan biksu agung yang kita temui di desa Kaze?"
__ADS_1
"Ya ...."
"Dia sudah meninggal dunia. Aku baru saja bertemu dengan adik perempuannya, dia menjelaskan semuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Iblis itu ... dia masih ada, dan kini dia ada di dalam tubuh Yuki!" jelas Nori-san.
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Jack berubah, seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Tunggu dulu, ini terlalu tiba-tiba! A-aku tidak mengerti! Maksudku ... bagaimana bisa?!" tanya Jack kebingungan.
"Aku juga belum tau bagaimana dia melakukannya, tapi saat ini kau harus mengikuti semua instruksiku! Nyawamu bisa saja dalam bahaya! Aku sudah menelepon Miyako dan Yoshino-san, tapi tidak satu pun dari mereka yang menjawab panggilanku. Aku mulai gelisah dan khawatir akan keadaan mereka saat ini, dan--"
"No-nori-san ...," sela Jack terbata-bata.
"Ada apa? Dengarkan aku, sebisa mungkin kau harus menjaga jarak dengan Yuki sampai aku tiba di sana. Mungkin lusa atau tiga hari ke depan aku akan segera pergi ke sana."
"Aku tahu itu, tapi ...."
"Apa lagi?! Apa semua penjelasanku itu tidak cukup?! Baiklah ... katakan kepadaku, sekarang kau sedang berada di mana?" tanya Nori-san.
"Jack ...."
Jack terperanjat kaget ketika Yuki yang tiba-tiba saja memanggilnya dari arah belakang. Yuki berjalan ke arahnya dengan membawa secangkir coklat panas.
"Siapa yang menghubungimu? Sepertinya terdengar serius sekali," tanya Yuki.
"Ah ... bukan apa-apa. Hanya teman sekolahku dulu," jawab Jack dengan wajah yang mulai berkeringat.
"Apa dia mendengarkan semua perkataanku?" batin Jack.
"Hallo? Jack! Siapa itu? Kau sedang berbicara dengan siapa?!" tanya Nori-san dalam telepon.
Secara perlahan Jack memutus sambungan telepon dan memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Sambungan terputus?" gumam Nori-san yang kemudian meneleponnya kembali.
KRING
KRING
Jack kembali mengeluarkan ponselnya. Melihat panggilan masuk dari Nori-san, dia langsung mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku.
"Dimatikan? Sial!" umpat Nori-san; memukul setir mobil.
"Ada apa, Jack? Kenapa tidak dijawab?" tanya Yuki, penasaran.
"Ah ... tidak terlalu penting," jawab Jack lagi dengan senyuman palsu di wajahnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Jack gelisah tak karuan.
Takut jika hal yang dikatakan oleh Nori-san itu benar adanya, Jack mencoba untuk tetap tenang dan bersikap wajar di hadapan Yuki. Dia mengambil coklat panas yang di letakan Yuki di meja, lalu meminumnya sampai habis.
"Hey ... itu kan masih panas. Bagaimana bisa kau meminumnya secepat itu, apa lidahmu tidak melepuh? hihi," ujar Yuki sambil tertawa kecil.
"Entahlah ... mungkin karena terlalu enak sampai aku tidak bisa berhenti untuk meminumnya," jawab Jack, tersenyum.
Mereka berdua bertatapan satu sama lain, lalu tak lama kemudian Yuki mendekatkan wajahnya ke arah Jack. Dia berniat untuk menciumnya, namun Jack menghentikannya.
"Ada apa?"
"Maaf ... Yuki. Sebenarnya aku punya satu pertanyaan untukmu," ucap Jack.
Yuki kembali mundur. "Apa itu?"
"Sejak hari pertama kita kembali dari Jepang, apa saja yang kau lakukan selama ini?' tanya Jack.
"Tidak ada. Aku hanya mengisolasi diri di dalam apartemen ini," jawab Yuki.
"Lalu ... kenapa Mobilmu tidak ada di tempat parkir? Bahkan tidak ada di sekeliling gedung apartemen ini."
__ADS_1
"Eeemm ... saat itu mobilku mogok, jadi aku memanggil mobil derek untuk membawanya ke bengkel," jelas Yuki.
"Bengkel mana?" tanya Jack lagi, penasaran.
"Apa itu penting?" Yuki menatap wajah Jack dalam-dalam.
"Ah, tidak. Lupakan saja ...," ucap Jack sambil membalikan badanya menghadap lurus ke depan.
Sejenak, mereka berdua terdiam. Suasana saat itu menjadi sedikit tegang bagi Jack. Perlahan-lahan Yuki mengeluarkan pisau dari balik bajunya, dan ketika Jack menoleh ke arahnya ....
"Mau apel?" tawar Yuki yang terlihat sedang mengupas kulit apel menggunakan pisau tersebut.
Jack menghela nafas panjang dan bangkit dari tempat duduknya.
"Yuki ... sepertinya aku harus segera kembali ke kantor," ucap Jack.
"Eh ...."
"Kau ingat orang yang baru saja meneleponku? Dia Lukas teman kantorku. Sepertinya ada beberapa hal yang harus kukerjakan malam ini juga," jelas Jack sambil mengenakan jaketnya.
"Tapi ... bukannya tadi kau bilang bahwa orang yang meneleponmu itu adalah teman sekolahmu dulu?"
"Eh? benarkah? A-ahahaha ... y-ya karena Lukas memang teman satu sekolahku dulu. hehe," ucap Jack, gugup.
"Apa kau yakin mau pergi sekarang?" tanya Yuki.
"Tentu saja ... ada apa?"
Yuki menggelengkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu."
Jack berjalan menuju pintu keluar dan mencoba untuk membukanya, namun pintu tidak bisa terbuka.
"Apa pintunya terkunci?" batinnya.
Jack menolehkan wajahnya ke arah Yuki, dan terlihat Yuki yang sedang berdiri tegak menatapnya dari arah sofa dengan senyuman yang sangat aneh. Perlahan-lahan Yuki berjalan mendekati Jack. Dia mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya, lalu membukakan pintu tersebut untuk Jack.
Sejenak, mereka berdua saling bertatapan, lalu Jack berkata, "Baiklah ... aku pergi dulu, Yuki."
"Yeah ... selamat tinggal, Jack," ucap Yuki, melambaikan tangan.
Jack pun menuju lift dan turun ke lantai dasar. Dengan pikiran yang dipenuhi oleh tanda tanya, dia berjalan memasuki mobilnya dan pergi sesegera mungkin dari tempat itu.
"Tidak mungkin ... Yuki adalah iblis itu? Tidak bisa dipercaya! Kalau benar dia adalah Naku Josei, pastilah dia sudah menghabisiku saat di apartemen tadi," batin Jack bertanya-tanya.
Hatinya mulai bimbang, dan perasaan yang mengerikan mulai dia rasakan. Setelah beberapa menit Jack berkendara, kepalanya mulai terasa pusing dan penglihatannya kabur; perutnya terasa sangat sakit dan nafasnya terengah-engah.
"Ada apa ini? Aku harus berhenti ... aku tidak bisa berkendara dengan benar. Sial! Perutku ... sakit sekali." Jack menghentikan mobilnya dan turun keluar.
"Seseorang, kumohon ... tolong aku. Sakit ... sakit sekali!" Sambil memegangi perutnya yang kesakitan, Jack berusaha untuk berteriak, namun suara yang keluar dari mulutnya terdengar sangat pelan.
Tidak ada satu orang pun yang terlihat di jalanan sepi itu. Hanya dia sendirian, berjalan tanpa arah yang jelas.
Di sisi lain, Yuki terlihat sedang duduk di sofa sambil tersenyum; mengingat kembali ketika dia mencampurkan racun botulinum ke dalam coklat panas yang diminum habis oleh Jack.
Sementara itu, keadaan Jack semakin memburuk ketika dia mulai memuntahkan darah. Jack mencoba untuk menyalakan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang bisa menolongnya, namun kakinya yang bergemetar membuat keseimbangan tubuhnya hilang. Dia pun terjatuh di atas jalan beraspal itu. Matanya terbelalak, tubuhnya kejang-kejang, dan busa yang banyak mulai keluar dari dalam mulutnya.
Tidak ada yang bisa Jack lakukan saat itu selain pasrah akan keadaan. Dia mulai berhalusinasi dan melihat kilas balik dirinya sendiri; tentang teman-temannya, orangtuanya, dan seluruh kerabatnya, juga tentang Yuki yang telah membuatnya jatuh hati.
Akhirnya di malam itu juga, pukul 9:05 PM ... Jack Addison mengembuskan nafas terakhirnya, dan tidur untuk selama-lamanya.
*****
.
.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1