NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KEMBALI KE JEPANG


__ADS_3

Hari itu berjalan sangat cepat. Evelyne dan beberapa kerabat ayahnya mengantar Yuki pulang ke apartemennya.


Mereka semua membicarakan tentang hal pemakaman orangtua Yuki, sementara Yuki sendiri hanya duduk termenung di dalam kamarnya sambil berselimut.


Sepasang pria dan wanita paruh baya yang merupakan kerabat dekat ayahnya masuk kedalam kamar Yuki dan duduk di sebelahnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, itu tidak baik untuk kesehatanmu, lebih baik- "


"Paman Ben ...," Yuki menyela ucapan pamannya itu. "kenapa mereka berdua harus pergi?" tanya Yuki.


"Mereka tidak pergi, Yuki. Mereka hanya beristirahat di tempat yang lebih baik," jawab paman Ben.


Dengan bulir bening yang mulai berjatuhan dari matanya, Yuki bertanya lagi, "Kenapa mereka harus beristirahat di tempat lain? Kenapa mereka tidak beristirahat saja bersamaku di sini? Bibi marry, kenapa mereka harus pergi?"


Tangisan Yuki yang semakin deras membuat Bibi marry menangis dan memeluknya dengan erat. "Aku tidak tahu, Yuki. Aku juga tidak tahu kenapa mereka pergi secepat itu."


"Tega sekali ... tega sekali mereka meninggalkanku sendirian di sini," ucap Yuki dengan tangisannya yang tersedu-sedu.


Hari itu pun berlalu. para kerabat berdatangan ke apartemen Yuki untuk menemaninya.


*****


Keesokan harinya, mereka membawa jenazah kedua orangtua Yuki ke gereja.


Yuki benar-benar tidak bisa mengatakan apa pun di depan mimbar. Suara tangisan dari para kerabat orangtuanya dan Yuki sendiri, membuatnya hanya bisa terdiam membisu.


Hujan rintik-rintik di sore hari mengiringi rombongan mereka menuju pemakaman.


Upacara pemakaman pun dimulai.


Suara tangisan yang menderu-deru, terdengar dari beberapa orang di sana selagi pendeta berbicara di hadapan para pelayat.


Sore itu, Pukul 5:15 PM. Setelah pemakaman selesai.


Terlihat di sana Jack dan James sedang berdiri bersama. Melihat Yuki yang berjalan sendirian, Jack pun menghampirinya.


"Hey, mau kuantar pulang?" tawar Jack.


"Apa kau tidak punya kesibukan?" tanya Yuki.


"Tentu saja, kau pikir ... apa yang biasa kulakukan di jam seperti ini? Tidak ada," jelas Jack, tersenyum.


"Baiklah," ucap Yuki.


Mereka berdua pun berjalan menuju mobil. Namun tak lama kemudian, terlihat bibi Marry dan paman Ben berjalan mendekati mereka.


"Yuki, ikutlah ke rumah kami jika kau merasa kesepian tinggal di apartemenmu itu. Ada kamar kosong yang bisa kau tempati," pinta bibi Marry.


"Yeah, tinggal lah bersama kami," timpal paman Ben.

__ADS_1


"Tidak, aku baik-baik saja. Terima kasih," tolak Yuki.


"Apa kau yakin?" tanya paman Ben.


"Yeah, aku yakin. Aku sudah terbiasa tinggal sendiri di apartemen," jelas Yuki.


"Baiklah kalau begitu, biar kami antar kau pulang," Digenggamnya tangan Yuki oleh bibinya.


"Aku baik-baik saja, Bi. Jack akan mengantarku pulang. Kalian kembalilah ke rumah, aku bisa menjaga diriku sendiri, jangan khawatir," ucap Yuki.


"Heemm ... baiklah, sepertinya kau memang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat dewasa, ya. wajahmu mirip sekali dengan Ibumu, tapi sifatmu ini lebih mirip dengan ayahmu. Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik," ujar bibi Marry sambil memeluk Yuki dan kemudian berjalan pergi bersama paman Ben.


.


.


Sore itu pun Jack mengantar Yuki sampai di depan gedung apartemennya. Dia mengantar Yuki berjalan sampai di depan pintu masuk gedung.


"Apa kau tidak apa-apa tinggal sendirian di sini?" tanya Jack.


"Jangan khawatir, Jack. Aku baik-baik saja," jawab Yuki.


Jack (Duapuluh tujuh tahun) adalah salah satu rekan kerja Yuki di kantornya. Dia dikenal dengan sebutan si 'Joker' karena sikapnya yang terlihat konyol dan suka melawak.


Menurut banyak orang, dia memang menyukai Yuki sejak pertama kali Yuki bekerja di tempat yang sama dengannya.


Yuki menatap Jack. "Sepertinya ... aku hanya butuh segelas kopi saat ini."


Jack tersenyum. "heemm ... sepertinya kau memang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Baiklah ... biar aku yang teraktir." ujarnya.


Kemudian mereka pun pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari apartemen Yuki untuk sekedar minum kopi.


Mereka mengobrol panjang dan saling berbagi cerita masing-masing di sana. Sesekali Yuki terlihat tersenyum bahkan tertawa karena mendengar lelucon Jack yang dia sebut sebagai pengalaman hidupnya.


"Jadi seperti itu, aku memanggilnya dengan sebutan si gigi kelinci, karena bentuk giginya yang aneh ...." jack memperagakan leluconnya.


"Aku tidak percaya, Jack. Kau pembohong yang buruk." Yuki yang terlihat tertawa.


Yuki juga bercerita kepada Jack tentang semua kejadian yang pernah dia alami selama hidupnya. Banyak hal yang di ceritakannya saat itu. Tentang masa di sekolah; saat dia kuliah; usaha kerasnya sampai dia diterima untuk bekerja di tempat yang bergengsi; bahkan termasuk tentang mimpinya sebelum kabar kecelakaan orangtuanya.


Lalu sampai pada saat dia menceritakan kejadian masa lalunya sewaktu dia kecil dulu di Jepang.


Dan juga tentang Naku Josei.


Jack hanya terdiam keheranan mendengar semua ceritanya. Wajahnya mengekspresikan seorang yang tidak percaya dan menganggap cerita Yuki hanyalah sebuah lelucon belaka.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menceritakan ini kepadamu," ujar Yuki.


"Bzsst ...." Jack terlihat menahan tawanya. "Jujur saja, aku ini tidak percaya, atau lebih tepatnya belum percaya dengan suatu hal yang bersifat supranatural, mistis, hantu, atau apalah itu. Tapi aku percaya padamu, dan biarkanlah aku membatu kali ini," ungkap Jack dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ini bukan lelucon, Jack. Dia benar-benar nyata, dan bahkan sekarang aku belum tau keadaan nenekku di sana. Dia tidak bisa kuhubungi sejak kemarin, dan aku kehilangan nomor kontak bibiku. Sepertinya aku harus ambil cuti untuk pergi ke jepang minggu depan," jelas Yuki dengan memasang wajah serius.


"Okay, i'm in (Baiklah, aku ikut)" Jack mengangkat tangannya.


"Apa maksudmu?" tanya Yuki.


"Sudah kubilang aku akan membantumu. Kau tidak boleh pergi sendirian jika memang ceritamu itu memang benar, karena itulah aku akan ikut," ujar Jack, serius.


"Aku tidak percaya padamu, kau pasti sedang bercanda, 'kan?" Yuki berdiri dari tempat duduknya.


"Aku juga akan ambil cuti bersamaan denganmu, lihat saja nanti," jawab Jack, tersenyum.


Yuki melangkahkan kakinya. "Terserah kau saja. sudah lah ... aku mau pulang," Berjalan pergi.


"Hey ... tunggu dulu, aku belum selesai bicara, dasar kau ini ...," seru Jack sambil berjalan mengejar Yuki.


*****


Malam pun berlalu, dan Hari berganti hari.


Entah kenapa, Yuki merasa percaya saja dengan ucapan Jack yang ingin membantunya, walaupun kelihatannya dia masih menganggap cerita Yuki sebagai omong kosong. Tapi Yuki pun tidak bisa menolak keseriusan yang Jack tunjukan itu. Lalu akhirnya mereka berdua benar-benar sepakat ambil cuti untuk pergi ke Jepang.


Satu hari sebelum jadwal penerbangan mereka, terlihat Yuki yang sedang menyiapkan semua barang-barangnya. Dia mendapati sebuah perkamen yang dulu pernah di berikan oleh Nori-san kepadanya sebelum dia pindah ke Amerika.


Yuki menjahit perkamen itu, dan dibuatnya menjadii sebuah kalung yang digantungkan di lehernya.


Satu Minggu pun berlalu. Hari itu, Pukul 10:15 AM.


Yuki dan Jack terlihat sudah berada di bandara internasional dan bersiap untuk berangkat.


"Huuft ... jujur saja ini pertama kalinya aku berlibur ke Asia," ujar Jack dengan memasang wajah gembira.


"Jack! Ini bukan liburan!" Yuki menatap Jack dengan tatapan tajam.


"Baiklah.. baiklah ...."


Setelah sekitar satu jam mereka menunggu, akhirnya mereka pun take off dan memulai perjalanan ke Jepang.


Yuki dan Jack.


"Tunggu aku, nenek ...."


.


.


*****


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2