NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
RENCANA PENYEGELAN


__ADS_3

Nenek hanya membalas dengan menganggukan kepalanya sambil tersenyum, dan dalam keadaan berdiri di atas pagar pembatas.


Namun, sebelum dia berhasil melompat ke bawah dari atas balkon itu ...


"Bibi!" Nori-san berlari ke arah nenek, lalu menarik bajunya dari arah belakang sampai membuatnya terjatuh ke lantai.


"Sudah kuduga ini akan terjadi ... sudah kuduga!" Memeluk erat nenek.


Wanita yang tadinya terlihat cantik itu, kini wajahnya berubah menjadi sangat bengis dan mengerikan. Dia terlihat sangat marah dan berteriak, "Manusia penggangu! Beraninya kau ... beraninya kau! matilah!" Iblis itu mendekat, hendek menyerang mereka berdua.


Dengan segera, Nori-san mengeluarkan jimat perkamennya dan melemparkan garam ke arah wajah iblis itu. "Terkutuklah kau, iblis!" teriaknya.


Jimat yang diperlihatkan oleh Nori-san, dan juga garam yang mengenai wajahnya, membuat iblis itu kepanasan serasa terbakar. Dia pun menjerit-jerit kesakitan, lalu terbang dan menghilang dari pandangan.


"Syukurlah ... syukurlah ...," Memeluk nenek yang terlihat sudah pingsan.


KRING..


KRING..


KRING..


Ponsel Nori-san yang tiba-tiba saja berdering, menunjukan panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Dia pun menjawab panggilan itu.


"Nori-san ... apa yang terjadi? Bagaimana dengan nenek?" tanya seseorang di dalam telepon yang ternyata adalah Yuki.


"Dia baik-baik saja. Dia ... sedang bersamaku sekarang ini," jawabnya.


Yuki tersandar di tembok. "Huufft ... syukurlah, nenek ...."


.


.


Malam itu, Nori-san berhasil menyelamatkan nenek Nadeshiko dari maut yang menghampirinya.


Yuki yang sudah mengetahui keadaan neneknya itu, menjadi sedikit lebih tenang.


Yoshino-san bertanya, apakah dia harus mengantar Yuki pergi ke rumah sakit atau tidak. Tapi Nori-san mengatakan bahwa sebaiknya Yuki tetap berada di kuil sampai besok pagi.


"Lalu ... Bagaimana denganmu, Nori-san?" tanya Yuki.


"Aku akan tetap berada di sini untuk menjaga nenekmu. Datanglah kemari besok pagi, mengerti?" tegas Nori-san.


"Yasudah ... aku mengerti," jawabnya.


Malam itu, mereka semua tidak bisa tertidur, dan memutuskan untuk duduk menunggu sampai matahari terbit. Yuki juga akhirnya menghilangkan rasa penasaran Jack dengan menceritakan semua hal yang terjadi kepadanya.


"Sekarang kau mulai percaya, 'kan?" tanya Yuki.

__ADS_1


"Ya ya ya ... anggaplah seperti itu," jawabnya.


Walaupun Jack sudah mendengarkan semua penjelasan Yuki, tapi dia tetap tidak merasa puas dengan semua cerita itu.


*****


Keesokan harinya, mereka semua pergi menuju rumah sakit untuk menemui nenek Nadeshiko dan Nori-san di lantai 20.


Sesampainya mereka di sana, Yuki langsung berlari dan memeluk neneknya yang masih terbaring di tempat tidurnya.


Di saat yang sama, Nori-san berbincang dengan Dr. Kobayashi tentang kejadian semalam. Dia meminta izin kepada sang dokter agar memperbolehkan mereka untuk memasang beberapa lembaran kertas jimat di setiap penjuru tembok dan pintu ruangan di mana nenek Nadeshiko dirawat.


Dr. kobayashi pun mengizinkannya tanpa adanya keberatan apa pun.


Nori-san berdiri dari tempat duduknya. "Terima kasih, Pak. Setidaknya ... sampai bibiku sembuh dari sakitnya."


"Aku mengerti, Bu. Karena aku juga berasal dari pedesaan. Kedua orangtuaku juga adalah orang desa, dan mereka sering sekali bercerita tentang legenda-legenda masyarakat yang beredar di sana. jadi ... ini bukanlah pertama kalinya aku mendengar kasus seperti ini," ujar Dr. Kobayashi.


"Terima kasih sekali lagi. Aku sangat mengapresiasi keputusanmu itu. Kalau begitu ... aku mohon pamit," ucap Nori-san, menundukkan kepalanya dan melangkah keluar menuju ruangan nenek.


Pagi itu juga, Yuki, Jack, Nori-san dan Yoshino-san memasang semua kertas jimat yang mereka punya di setiap pojokan dinding, jendela dan belakang pintu. Nori-san juga memberikan sebuah jimat yang berupa kalung perkamen kepada nenek untuk di pakainya.


Setelah semua kertas jimat ditempel dan digantungkan, mereka pun bertanya kepada nenek tentang apa yang terjadi padanya semalam.


Nenek pun menceritakan semuanya pada mereka.


" ... dia datang menghampiriku dengan rupa Ibuku. Dia juga mengatakan bahwa ... kalau aku mengikutinya, dia akan membawaku untuk menemui matsu dan Izumi, aku ..," jelas nenek dengan air mata yang mulai berlinang di pipinya.


Nori-san yang berjalan menuju balkon, kemudian diikuti oleh Yuki, Jack dan Yoshino-san dari belakang.


"Nori-san ... apakah ada cara untuk mengakhiri ini semua?" tanya Yuki.


"Satu-satunya cara hanyalah dengan menyegel dia untuk selamanya. Tapi ... aku tidak tahu bagaimana caranya. Kotaro sensei bahkan tidak mengajarkan kami mantra segelnya. Hanya para biksu agung saja yang mengetahui mantra tersebut," jawab Nori-san.


"Bagaimana denganmu, Yoshino-san?" lirik Yuki ke arahnya.


"Entahlah ... aku tidak yakin," jawabnya, menggelengkan kepala.


Yuki menghela nafasnya. "Huuufft ... seandainya saja kakek tua itu masih hidup ...."


"Tunggu dulu ...," sela Yoshino-san yang kemudian berkata lagi, "Nori-san, apakah Takamura-sama masih tinggal di desa Kaze?" tanyanya.


Wajah Nori-san terlihat terkejut, seakan-akan baru mengingat sesuatu. "Ya ... bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu. Kita bisa meminta pertolongan pada Takamura-sama!" ujarnya.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Yuki.


Mereka berdua pun menjelaskan semuanya kepada Yuki tentang siapa Takamura-sama.


Nori-san mengatakan bahwa Takamura-sama adalah salah satu dari biksu agung yang terlibat dalam penyegelan Naku Josei bersama Kotaro sensei sekitar enampuluh enam tahun yang lalu.

__ADS_1


"Takamura-sama adalah satu-satunya orang yang masih hidup sampai sekarang ini di antara semua para biksu yang terlibat dalam peristiwa penyegelan itu. Jadi ... mungkin dia bisa membantu kita," jelas Nori-san.


"Kalau begitu ... tunggu apa lagi? Ayo kita pergi!" ucap Yuki yang bersemangat.


Mereka pun bersepakat, dan memutuskan pergi ke desa Kaze untuk menemui seorang biksu agung yang bernama Takamura itu.


Yuki berjalan mendekati Aoi. "Ini ... pakailah di lehermu. Kau lebih membutuhkannya daripada aku," ucapnya, memberikan kalung perkamen miliknya.


Sebelum mereka pergi, Nori-san meminta bibi Miyako bersama Aoi tinggal di rumah sakit untuk menjaga nenek Nadeshiko. Sedangkan mereka semua kembali ke kuil Sora untuk menyiapkan barang-barang.


Sesampainya mereka di kuil, Jack bertanya kepada Yuki mengenai rencana mereka selanjutnya. Yuki menjelaskan semuanya kepada Jack, tapi Jack keberatan dengan hal itu. Dia meminta Yuki untuk tidak berurusan lagi dengan masalah ini, dan mengajaknya untuk kembali ke Amerika.


Tentu saja Yuki menolaknya, karena dia juga terlibat dalam masalah tersebut.


"Aku harus menyelesaikan semua ini, Jack! Nyawa semua orang yang sudah terlibat menjadi taruhannya! Kalau kau tidak senang dengan keputusanku, kau bisa pulang sendiri ke Amerika!" tegas Yuki.


"Tapi- "


"Jack! Kau ikut atau tidak?" Yuki menatap tajam.


"Baiklah ... baiklah! Aku ikut!" jawab Jack dengan nada terpaksa.


Di sisi lain, terlihat Yoshino-san yang sedang menyiapkan barang-barangnya di dalam sebuah ruangan.


Tomo-san berjalan mendekatinya dan bertanya tentang kemana dia dan yang lainnya akan pergi.


Yoshino-san pun menjelaskan semuanya.


"Kami akan menemu Takamura-sama dan meminta bantuan darinya. Pastinya beliau tau cara untuk menyegel Naku Josei. Kau tahu itu, 'kan?"


"Itu tidak akan berhasil!" jawab Tomo-san dengan nada tinggi.


Yoshino-san menatap tajam. "Apa maksudmu?"


Wajah Tomo-san tiba-tiba saja terlihat grogi. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut tanpa menjawab apa pun.


"Dasar ... orang yang aneh," gumam Yoshino-san sambil berjalan keluar menuju tempat parkir mobil.


Di luar sana, sudah berkumpul Nori-san, Yuki dan Jack, serta beberapa biksu yang hendak memberi salam dan doa kepada mereka.


"Ayo ... kita pergi sekarang." Nori-san berjalan memasuki mobilnya.


"Semoga Tuhan menyertai dan melindungi kalian semua di sepanjang perjalanan," ujar seorang biksu kepada mereka.


Pukul 11:30 AM, Siang itu. Pintu gerbang di bukakan, dan akhirnya mereka pun memulai perjalanan menuju desa Kaze. Sedangkan di dalam kuil, Tomo-san menatap tajam melihat mereka yang sudah pergi.


.


.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG ...


__ADS_2