NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
INSIDEN DI KUIL RAION


__ADS_3

"cepatlah! Cepatlah!" teriak mereka.


Dengan segera, Nori-san langsung memutar balik arah mobil dan menancap pedal gas dengan cepat. Dia memutari area perumahan dan melalui jalan lain untuk keluar dari tempat tersebut.


"Yabai! ini semakin berbahaya ...," batin Nori-san.


"Kenapa daerah ini sangat sunyi? Apakah tidak ada satu keluargapun yang tinggal di perumahan ini selain kalian, Miyako?" tanya Nori-san.


"Tentu saja tidak. Di sini sunyi karena perumahan ini baru saja beberapa bulan diresmikan, jadi ... belum banyak orang yang membeli atau menyewa rumah di area ini," jawab bibi Miyako.


Nori-san sesekali menoleh ke arah Yuki yang ada di belakang. "Yuki-chan, di rumah sakit mana nenekmu di rawat?" tanyanya.


"Jadi ... kau juga tahu soal itu? Kenapa kau- "


"Jawab saja pertanyaanku! Di mana!" bentak Nori-san.


"Dia dirawat di Hannan hospital."


"Dari mana dia tahu semua ini ?" batin Yuki.


"Kenapa bisa seperti ini, Nori-san? Bagaimana mungkin Naku Josei bisa ada di tempat ini?" tanya Yuki.


"Ini semua karenamu, Yuki. Kau yang membawanya kemari. Sekarang, bukan hanya kau atau Aoi yang bisa melihatnya, tapi aku dan Miyako juga jadi bisa melihatnya, karena kami sudah terlalu jauh terlibat dengan makhluk itu," jelas Nori-san.


"Apa maksudmu? Apa itu mungkin terjadi? Bukankah dia hanya mengincar anak-anak?" tanya Yuki lagi.


"Kau tidak mengerti, Yuki. Karena itulah aku akan menjelaskan semuanya tentang iblis itu kepadamu, tapi ini bukan tempat yang tepat untuk mengatakan semuanya. Kita harus menghindar atau setidaknya masuk ke area di mana iblis itu tidak bisa mengikuti kita," ujar Nori-san, membanting stir.


Di sepanjang perjalanan, mereka semua berdoa untuk keselamatan. Nori-san terlihat sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya, dan dia meminta orang itu untuk menjemput mereka semua di pasar malam, sedangkan Jack masih terlihat tak sadarkan diri di pangkuan Yuki.


.


.


Pukul 10:15 PM. Mereka pun tiba di pasar malam.


"Uuuhh ... Di mana aku?" gumam Jack yang terlihat sudah sadarkan diri.


"Jack, apa kau baik-baik saja?" Yuki membantunya duduk.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di dalam mobil ini? Siapa pria itu?" tanya Jack.


"Sudahlah, Jack. Nanti baru kujelaskan." jawab Yuki.


"Apa maksudmu? Uuhh ... Di mana orang yang sudah melemparku dari lantai dua tadi?" tanya Jack lagi.


"Jack!" bentak Yuki.


"Kita sudah sampai. Di tempat seramai ini, iblis itu tidak akan berani menampakan dirinya," ujar Nori-san yang kemudian memarkirkan mobilnya dan menyuruh mereka semua untuk keluar.


"Ayo, cepat!" ucap Nori-san yang berjalan dan di ikuti oleh mereka berempat.


Mereka berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sesampainya di sana, Nori-san mengetuk pintu kaca mobil tersebut dan seseorang membukanya dari dalam.


"Apa ini mereka semua?" tanya seorang pria berkepala botak itu.


"Iya, tolong bawa mereka ke sana ...," jawab Nori-san yang kemudian berkata lagi,

__ADS_1


"Kalian masuklah ke dalam mobil ini, dia akan membawa kalian ke tempat yang lebih aman."


"Bukankah akan lebih aman jika kita menghubungi polisi dan meminta bantuan?" anjur Yuki.


"Hah? Kau pikir mereka akan percaya dengan semua ceritamu tentang semua hal ini? Ini bukan kasus kriminal yang dilakukan oleh manusia. Tapi oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh semua orang!" tegas Nori-san sambil berjalan pergi.


"Kenapa kau tidak ikut bersama kami, Nori-san?" tanya Yuki yang membuat langkahnya terhenti.


"Aku baru saja mengingat bahwa ada sesuatu hal yang harus kulakukan sekarang. Kalian pergilah bersama Yoshino-san, nanti aku akan menyusul," jawab Nori-san.


"Kau akan pergi kemana?" tanyanya lagi yang merasa penasaran.


Nori-san hanya menatap wajahnya, lalu berjalan pergi tanpa menjawab apa pun.


"Nori-san!" seru Yuki.


"Masuklah semuanya! Kenapa kalian semua hanya berdiri di luar! Yuki-chan, kau juga. Kita harus segera pergi dari sini," tegur pria tua bernama Yoshino itu.


"Kau akan membawa kami ke mana?" tanya bibi Miyako sambil berjalan memasuki mobil bersama yang lainnya.


"Ke Kuil Sora. Aku sudah mendengar semuanya dari Nori-san. Jangan khawatir, kalian akan baik-baik saja di sana," jawab Yoshino-san.


"Apa kau tahu kemana Nori-san pergi?" tanya Yuki.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu sekarang," jawabnya singkat.


"Kenapa?"


"Karena kau pasti akan bersikeras untuk ikut bersamanya jika kuberitahu kemana dia pergi!" tegas Yoshino-san yang mulai menancap pedal gas.


Yuki hanya terdiam dan bertanya-tanya di dalam hatinya, "Kemana dia pergi? Kenapa dia tidak ikut bersama kami ?"


*****


"Kita sudah sampai," ujar Yoshino-san.


Mereka pun turun dari mobil dan berjalan memasuki kuil tersebut. Di dalam sana, ada beberapa biksu yang sedang duduk berdoa.


Yoshino-san mempersilahkan mereka semua untuk duduk di bawah.


"Silahkan duduk ..."


Ucapannya itu membuat Yuki mengingat sesuatu, dan kemudian terkilas sesuatu di pikirannya yang dia rasakan seperti Deja vu.


"Tunggu dulu, wajah-wajah ini? Apa aku pernah bertemu dengan mereka sebelumnya ?" batin Yuki.


"Apa kalian masih mengingat kami?" tanya seorang biksu yang berjalan menghampiri mereka.


"Aku tidak yakin kalau dia mengingatmu, tapi aku masih ingat dengan jelas wajah kalian," jawab bibi Miyako.


"Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali kita bertemu? Limabelas tahun? Enambelas tahun? Entahlah, aku sudah lupa. kau Yuki-chan, 'kan?"


"Siapa dia? Dari mana dia tahu namaku?" Gumam Yuki dalam hati.


"Ah ... maaf, kau pasti belum mengenalku. Namaku Tomo shibisu. Aku adalah salah satu biksu yang juga ada di kuil Raion saat insiden di malam itu. Apa kau tidak mengingat wajahku?"


Yuki hanya diam menatap wajahnya.


"Ah ... tentu saja kau tidak mengingatnya, karena saat itu kau masih kecil. Kalau begitu, langsung ke intinya saja. Apa maksud kedatanganmu ke sini?" tanya pria bernama Tomo itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?" Yuki bertanya balik.


"Apa kau tidak mengerti dengan pertanyaannya? Kenapa kau datang kemari?"


"Tomo-san! Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kau juga sudah tau dari Nori-san tentang semua ini!" sela Yoshino-san.


Pria bernama Tomo itu tidak menghiraukan perkataan Yoshino-san, dan berkata lagi kepada Yuki.


"Kenapa kau datang lagi kemari? Maksudku, kenapa kau harus kembali ke jepang? Apa kau tidak menyadari kalau kedatanganmu ini membawa bencana untuk banyak orang? Dan juga kenapa kau- "


"Tomo-san!" bentak Yoshino-san yang membuat perkataannya terhenti.


"Huuff ... maafkan aku, ini salahku. Aku permisi dulu," ujar biksu bernama Tomo itu sambil berjalan keluar dari kuil.


"Apa maksudnya? Kenapa dia berkata seperti itu ?"


"Maafkan kami atas sikap Tomo-san yang keterlaluan," ucap salah seorang biksu tua di sana.


"Kalian semua adalah biksu yang ada di Kuil Raion itu, Kan? kenapa kalian bisa ada di Hannan?" tanya bibi Miyako.


"ya, sebenarnya kuil itu sudah tidak terpakai lagi, dan kami semua pindah ke sini. Ini sudah limabelas tahun semenjak kami pindah dari sana," jawab Yoshino-san.


"Sudah limabelas tahun? Kenapa? Apa daerah itu ditutup oleh pemerintah?"


"Tidak, tapi memang kami sendiri yang ingin pindah." jelasnya.


"Begitu, ya. Oh ya, lalu di mana Kotaro sensei?" tanya bibi Miyako lagi.


Yoshino-san menatap wajah mereka semua, lalu berkata, "karena itulah kami pindah kemari. Kami menutup kuil itu setelah kepergian Kotaro sensei."


"Pergi? Apa maksudmu?"


"Kotaro sensei sudah meninggal. beliau meninggal dunia beberapa hari setelah kejadian malam itu. Dan kematiannya benar-benar tidak wajar," jelas Yoshino-san.


"Kotaro sensei? Kakek tua itu meninggal ?" Gumam Yuki dalam hati yang mulai mengingatnya.


"Meninggal dengan tidak wajar? Apa maksudmu?" Yuki mulai bertanya.


"Ya, dia meninggal dengan cara bunuh diri."


"Bunuh diri? Bagaimana bisa?" bibi Miyako terlihat terkejut.


"Karena itulah aku bilang kematiannya tidak wajar. Hari itu, beliau tidak terlihat selama seharian, karena itulah kami memutuskan untuk memeriksanya di kamar beliau.


Tapi, malam itu kami menemukannya sudah tak bernyawa dalam keadaan tergantung dengan tali tambang yang terlilit di lehernya," ujar Yoshino-san yang kemudian melanjutkan perkataannya lagi,


"Kotaro sensei bukanlah tipe orang seperti itu. Tapi aku tahu apa penyebab dari kematiannya. Ini mungkin hanyalah sebuah hipotesis, tapi aku sangat yakin kalau dia lah yang menyebabkan kematian Kotaro sensei."


"Dia siapa?" tanya Yuki.


Yoshino-san menatap wajah Yuki dalam-dalam, lalu berkata,


"Naku Josei."


.


.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2