NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KEANEHAN YANG MULAI TERASA


__ADS_3

JDAARR! GLUDUK..GLUDUK..


DUK..DUK..DUK..DUK..


DUK..DUK..DUK..DUK..


Tak jauh dari tempatnya berdiri, terdengar suara gedoran yang sangat kuat dari dalam sebuah lemari kayu yang sudah tua.


"Siapa di sana ...!" tegur Yuki, berjalan mendekati lemari itu.


Dia terus berjalan mendekat sampai tepat berada di depan lemari.


Duk..Duk..Duk..... Duk..Duk..Duk..


Suara itu terdengar seperti ada seseorang yang menggedornya dari dalam lemari tersebut.


"Apa ada orang yang terjebak di dalam lemari ini ?" pikir Yuki.


Duk..Duk.. Duk..Dukdukdukduk


Saat Yuki baru menyentuh tangan pintu lemari itu dan hendak membukanya, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan dari arah belakangnya.


"Yuki, apa itu kau?" seru seseorang yang ternyata adalah Jack.


"Yeah, ini aku," sahut Yuki sambil membuka lemari tersebut.


Dia tidak mendapatkan apa pun di dalam lemari itu selain beberapa baju kimono yang sudah kusam.


"Apa yang kau lakukan di sana? Baru saja pihak rumah sakit menghubungiku, mereka mengatakan kalau nenekmu telah siuman," kata Jack sambil berjalan ke arahnya.


"Benarkah? baiklah, antar aku ke sana sekarang juga, Jack." Yuki berjalan bergegas menuju kamar untuk mengambil tas dan mengenakan jaketnya.


Pukul 2:25 AM. Mereka pun pergi ke rumah sakit menggunakan taksi.


.


.


Sesampainya di sana, mereka berdua langsung memasuki ruang ICU tempat di mana nenek di rawat.


"Syukurlah." Yuki memeluk dan mencium kening neneknya yang masih terbaring.


nenek membuka matanya dan menatap Yuki. "Yuki-chan?"


"Iya, ini aku, Nek. Aku ada di sini bersamamu," jawab Yuki.


Nenek memandang Yuki dengan tatapan yang penuh kebingungan, dan kemudian raut wajahnya terlihat kaget seakan-akan baru saja menyadari sesuatu. Lalu, tiba-tiba matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.


AAAAAAHHHH!!!


Nenek tiba-tiba saja berteriak sambil menunjuk ke arah Yuki.


"PERGI KAU..!!! PERGI SEKARANG JUGA ...!! PERGI ...!!!"


"Kenapa? Apa yang terjadi? Ini aku, Nek! Ini aku, Yuki, cucumu!" Yuki terlihat panik, sedangkan Jack menarik tangannya untuk mundur.


Mata nenek terlihat melotot dan ketakutan. Dia mengusir Yuki dan meneriakinya dengan sebutan Iblis berulang-ulang seraya menjerit kuat.


"PERGI KAU! PERGILAH! IBLIS TERKUTUK! TERKUTUKLAH KAU ...!!!"


suara nenek yang menjerit-jerit membuat dokter dan perawat lainnya datang dan memegangi tangannya.


"Apa yang terjadi? kenapa nenek seperti ini?" Yuki yang tidak habis pikir, terlihat panik dan bertanya-tanya kepada dokter.


"Tolong ... tunggulah di luar, nona," tegas seorang perawat kepadanya.


Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan tersebut. Yuki melangkahkan kakinya keluar dari pintu; melihat neneknya yang terlihat bergemetar hebat sambil mengulangi perkataan yang sama terus-menerus.


IBLIS.. IBLIS.. IBLIS.. IBLIS.. IBLIS ...!!!


Yuki hanya bisa menangis melihat neneknya yang bertingkah aneh seperti itu. Jack membawanya ke ruang tunggu dan duduk bersamanya.


"Sebenarnya apa penyakit nenek? Kenapa dia seperti itu? Jack, tolong beritahu aku, sebenarnya apa yang terjadi padanya," Yuki menyandarkan kepalanya ke dada Jack dan meremas jaketnya.


"Sudahlah, biarkan mereka yang menangani ini. Nenekmu akan baik-baik saja," hibur Jack memeluk Yuki.


.

__ADS_1


.


Setelah sekitar dua jam mereka menunggu, akhirnya seorang perawat wanita datang menghampiri mereka berdua.


"Apa kau yang bernama Yuki Hamida, cucu dari nenek Nadeshiko?" tanya sang perawat.


"iya, aku sendiri," jawab Yuki, berdiri dari tempat duduknya.


"Mari ... ikut denganku." ajak sang perawat.


Mereka pun berjalan menuju ruang ICU di mana nenek di rawat. Tapi mereka hanya di perbolehkan untuk melihatnya dari luar ruangan melalui tembok kaca.


Di dalam ruangan itu, terlihat nenek yang sudah tak sadarkan diri. Dokter mengatakan bahwa mereka harus menginjeksinya supaya dia bisa tetap tenang dan tidak memberontak.


"Selain mempunyai penyakit jantung, nenek Nadeshiko juga memiliki gangguan psikologis. Karena itulah aku sarankan untuk tidak menjenguknya selama beberapa hari kedepan ini. Setidaknya selama masa penyembuhannya," jelas sang dokter yang kemudian bertanya, "Apakah pernah ada kejadian yang membuat kesehatan mentalnya terguncang?"


"Iya, salah satu tetangganya mengatakan bahwa dia jatuh sakit setelah dia mendengar kabar tentang putrinya yang belum lama ini meninggal," jelas Yuki.


"Jadi, putrinya adalah bibimu, ya?" tanya sang dokter lagi.


"Dia ibuku," jawab Yuki singkat.


"Ah, maafkan aku. Tidak seharusnya aku bertanya tentang hal itu," ujarnya yang kemudian melanjutkan perkataannya lagi.


"Nenek Nadeshiko akan baik-baik saja selama dia berada di sini. Penyakit jantungnya pun tidak parah, jadi Kami akan memindahkannya ke ruangan lain di lantai 20. Akan ada seorang psikiater yang datang setiap hari untuk menjenguknya, jadi kalian tidak perlu terlalu khawatir. Apa bisa di mengerti?"


Yuki hanya membalas dengan menganggukan kepalanya.


"Tentu saja dia mengerti, dok," sela Jack; menepuk-nepuk pundak Yuki sambil tersenyum lebar.


"Baiklah .... aku mengerti. Dokter, tolong beri aku kabar jika ada perkembangan apa pun mengenai nenekku," pinta Yuki.


"Tentu saja. Kalau begitu ... sampai nanti, ya," jawab sang dokter yang kemudian berjalan pergi.


*****


Pukul 5:30 AM. Setelah mengurus administrasi dan pembayaran, mereka pun kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak. Kemudian sorenya, mereka langsung menyiapkan barang-barang untuk pergi.


"Kau berencana pergi ke mana?" tanya Jack.


"Aku akan pergi ke rumah bibiku. Dia adalah adik perempuan ibuku, kita akan menginap di sana sampai nenek sembuh, kau masih mau ikut, 'kan?" jelas Yuki yang bertanya balik sambil berjalan.


Sore itu, Yuki dan Jack pergi ke stasiun Yamanakadani, dan memulai perjalanan mereka menuju rumah bibi Miyako.


*****


Setelah sekitar 15 menit perjalanan kereta, akhirnya sampailah di stasiun pemberhentian, lalu mereka langsung melanjutkan perjalanan menggunakan taksi sampai di alamat yang di berikan oleh bibi Amai.


Sesampainya mereka di sana.


"Kenapa sunyi sekali di daerah perumahan ini? Padahal masih sore," gerutu Jack yang berjalan bersama Yuki mengitari area itu.


Tak lama kemudian, langkah mereka terhenti di sebuah rumah bertingkat yang ada tetap di depan mereka.


"Sepertinya ini rumah bibi Miyako. Lihatlah, bagaimana menurutmu, Jack? Alamatnya tepat bukan?" tanya Yuki sambil menyodorkan kertas alamatnya.


"Yeah, tidak salah lagi. Ayo kita check," jawab Jack, berjalan menuju pintu rumah dan menekan tombol bel.


DING DONG ...


DING DONG ...


DING DONG ...


DING DONG ...


Tak lama kemudian, terlihat seorang anak kecil yang membukakan pintu untuk mereka dari dalam.


"Hey ... apa kau Aoi? Di mana ibumu?" tanya Yuki yang terlihat mengenalnya.


Anak itu melangkah mundur perlahan-lahan, lalu berlari masuk.


"Hey, Tunggu!" teriak Yuki mengejarnya memasuki rumah.


"Hey, jangan memasuki rumah orang sembarangan, Yuki!" bisik Jack yang kemudian mengikutinya juga dari belakang.


"Siapa di sana!" seru seseorang dari lantai atas yang terlihat berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


"Eeh, kau ... Yuki Chan. Itu kau, 'kan?" tanya seorang wanita yang ternyata adalah bibi Miyako.


"Yeah ... Ini aku, Bi. maaf kami kurang sopan memasuki rumah seperti ini. Soalnya Aoi berlari masuk setelah membukakan pintu untuk kami," jawab Yuki menundukkan kepalanya.


"Ah ... kukira ada apa sampai dia berlari ke atas. Kalian duduklah, aku akan membuatkan minuman dan segera kembali," ujar bibi Miyako mencium pipi Yuki.


"Baiklah, Bi."


Yuki meletakan tasnya dan duduk bersama Jack. mereka menunggu di ruang tamu sampai bibi Miyako kembali dengan beberapa gelas minuman.


Mereka pun mengobrol panjang lebar tentang perjalanan mereka dari Amerika sampai di Osaka ini, Yuki juga memperkenalkan Jack kepadanya.


"Apa dia pacarmu, Yuki-chan? Dia terlihat tampan sekali," tanya bibi Miyako.


"A-ah, ahahaha ... bu-bukan, bukan, dia hanya rekan kerjaku, Bi." jawab Yuki terbata-bata.


"You're so handsome, son (Kau sangat tampan, Nak)" sanjung bibi Miyako kepada Jack.


"Ah, thank you so much, i appreciate that (terima kasih banyak, kuhargai itu)" jawab Jack.


"Apanya yang tampan ...." gumam Yuki dalam hati.


Dan sampai pada topik pembicaraan yang serius, Yuki akhirnya menguatkan hatinya untuk mengabarkan berita tentang kecelakaan kedua orangtuanya.


Bibi Miyako langsung terlihat syok dan lemas setelah mendengar semua penjelasan Yuki.


Air matanya yang mulai menetes, membuat suasana berubah menjadi sedikit canggung.


Setelah Yuki menceritakan tentang prihal kedua orangtuanya, dia kemudian melanjutkan ceritanya lagi tentang masalah neneknya yang kini sedang di rawat di rumah sakit.


.


.


"Jadi, seperti itu ya ceritanya. Pantas saja sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menghubunginya, dan dia juga tidak mengabariku. Semoga saja ibu lekas sembuh, ya," ujar bibi Miyako.


"Bi, apa kau pernah merasakan keanehan saat berbicara dengan nenek?" tanya Yuki.


"Keanehan? Sepertinya tidak. Aku tidak pernah merasakan keanehan apa pun setiap kali berbicara dengannya lewat telepon. Tapi, dia selalu menolak setiap kali kuajak untuk tinggal bersamaku di sini. Ya, mungkin itu karena ibu adalah tipe orang yang tidak betah tinggal di daerah perkotaan," jawabnya.


Saat itu, Yuki mencoba untuk membuat suasana menjadi lebih baik dengan menanyakan tentang kehidupan sehari-hari bibi Miyako dan keluarganya di distrik mereka tinggal sekarang. Obrolan mereka pun beralih menjadi lebih santai.


"Bagaimana dengan Paman Yakamura?" tanya Yuki.


"Suamiku saat ini sedang menjalankan tugas pekerjaannya di luar kota. Mungkin, dia akan pulang dalam beberapa hari kedepan."


"Begitu, ya. Oh ya, di mana Aoi? Dia tidak terlihat dari tadi, apa sudah tidur?" tanya Yuki lagi.


"Dia tidak pernah tidur secepat ini, pasti sedang bermain game di kamarnya, biar aku panggil dia," jawab bibi Miyako berjalan menaiki tangga.


Beberapa saat kemudian, dia kembali turun ke bawah bersama Aoi, anaknya.


"Dia hanya berbaring berselimut di kasurnya. Hey, Aoi! Apa kau tidak mau mengenal kakakmu ini!" tegas bibi Miyako.


"Tidak apa-apa, Bi." Yuki berjalan mendekati mereka dan berkata kepada Aoi, "Apakah kau ingin berjalan-jalan denganku besok pagi? Aku akan membelikanmu dorayaki, katanya kau sangat menyukainya, ya?" tawarnya.


Aoi tidak menjawabnya, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Yuki. Dia hanya terdiam dan bersembunyi di balik kaki ibunya.


"Aoi! kakakmu sedang bertanya! Bersikaplah dengan sopan!" tegas bibi Miyako lagi dengan nada marah.


Jack berjalan dan langsung menggendong Aoi. "Hey, apa kau takut dengan nenek sihir itu? tenang saja dia tidak akan menggigit," kata Jack sambil tertawa ke arah Yuki.


"Dia ... tinggi," Aoi yang membalikan badannya, mulai berbicara.


"Haah? Tinggi? Jadi cuma karena itu ya?" Yuki berjalan mendekatinya. "Jadi kau takut dengan wanita yang tinggi, ya? Padahal tinggiku cuma 170 CM. Kakak yang sedang menggendongmu itu bahkan jauh lebih tinggi dariku," ucap Yuki dengan senyuman.


Aoi mulai menatap wajah Yuki. "Bukan kakak ...," ucapnya.


Mereka bertiga terdiam sejenak dan menatap wajah Aoi yang terlihat seperti sedang ketakutan.


Tiba-tiba saja Aoi mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah belakang Yuki, lalu dia berkata lagi,


"Tapi ... orang yang sedang berdiri di belakang kakak."


.


.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG ...


__ADS_2