NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KERAGUAN


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Pukul 10:20 AM. Di daerah kaki gunung Kiri No Kumo, terlihat Nori-san yang sedang mengendarai mobil. Hari ini, dia akan pergi menuju desa Kaze untuk menemui Takamura-sama.


Setelah berkendara selama beberapa menit, dia pun tiba di desa Kaze, dan berhenti tepat di depan gerbang kuil tersebut. Terlihat di sana beberapa biksu yang menyambut kedatangan Nori-san.


"Selamat datang ...," sapa seorang biksu di sana.


"Di mana Takamura-sama?" tanya Nori-san.


Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan Nori-san melainkan menundukkan kepala mereka.


"Ada apa ini ?" gumamnya dalam hati.


Nori-san berjalan masuk ke dalam kuil, tapi tidak ada seorang pun di dalam sana. kemudian dia pergi ke area taman di belakang kuil, dan dia mendapati seorang wanita lanjut usia yang sedang duduk di sana.


"Ka-kau ..." Nori-san sedikit terkejut melihat wanita tua itu.


"Dulu ... Takamura sering sekali menyirami bunga-bunga ini," ucap wanita tua itu sambil menyirami tanaman-tanaman hias yang ada di depannya.


"Kau ... kalau tidak salah, kau ini Chiou-sama, ya? Ah, maaf." Nori-san menundukkan kepalanya, memberi salam. "Namaku--"


"Tidak perlu, aku sudah tahu. Kau anak yang sering dibawa oleh kotaro-san itu, 'kan?" Wanita tua itu bangkit dan berjalan mendekati Nori-san.


"Ada perlu apa, Nori-chan?" tanyanya.


"Ah, sebenarnya aku datang kemari untuk menemui Takamura-sama," jawabnya.


Wanita tua bernama Chiou itu menatap wajah Nori-san dalam-dalam, lalu dia membalikan badannya dan berjalan. "Ikutlah denganku," ujarnya.


Nori-san pun mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka berdua berjalan mengitari kuil dan sampai di sebuah area kecil yang di kelilingi oleh berbagai jenis bunga hias. Di sana, terlihat sebuah gumpalan tanah dan batu nisan yang menancap di atasnya.


"I-ini ...."


Nori-san kaget melihat batu nisan tersebut. Nama 'Hosigaki Takamura' tertera jelas di sana.


"Apa maksudnya ini? Sejak kapan--"


"Lima hari yang lalu ...," sela Chiou-sama. "Para biksu mendapati Takamura dalam keadaan tergantung di dalam kuil ini. Dia ditemukan sudah tak bernyawa dengan seutas tali tambang yang terlilit di lehernya."


"Hah!"


"Ya, aku tidak menyangka bahwa bisa-bisanya kakakku mengikuti permintaan konyol yang dibuat oleh istri gilanya itu," ucap Chiou-sama.


"Tidak mungkin ... apa ini semua ada hubungannya dengan ... ah, tidak ... kami sudah menyegel iblis itu." Bingung, hati Nori-san bertanya-tanya sambil berjalan mendekati kuburan itu.


"Ada apa?" Chiou-sama menatap heran Nori-san.


Nori-san membalikan badannya. "Aku juga sudah pernah diberitahu oleh Takamura-sama tentang isi surat wasiat itu. Tapi ... bagaimana kita bisa tahu kalau surat itu memang berasal dari istrinya atau ditulis oleh--"

__ADS_1


"Kau tidak tahu apa-apa!" sela Chiou-sama; menatap tajam ke arah Nori-san.


"Kau tidak tahu apa-apa tentangnya! Surat itu memang ditulis oleh Maiko, mendiang istrinya. Takamura sendiri yang mengatakannya kepadaku. Tapi entah kenapa muncul sebuah keraguan di dalam hatiku." Chiou-sama terdiam sejenak; memejamkan kedua matanya, kemudian melanjutkan perkataannya.


"Tidak ... tapi ada suatu hal yang membuat kami berdua ragu. Saat itu, aku dan Takamura sendiri berfikir bahwa istrinya itu bukanlah lagi Maiko yang kami kenal."


"Apa maksudmu?" tanya Nori-san, kebingungan.


"Iblis itu ... Naku Josei, aku percaya bahwa Maiko telah dirasuki oleh iblis terkutuk itu," jelas Chiou-sama.


"Naku Josei? Apa itu mungkin? Maksudku ... apa mungkin seseorang masih bisa terpengaruh oleh Naku Josei walaupun iblis itu sudah tersegel?"


"Tersegel?"


"Ya, karena itulah aku datang kemari. Aku ingin memberi kabar kepada Takamura-sama bahwa kami telah berhasil menyegel Naku Josei!" ucap Nori-san.


"Apa kau yakin akan hal itu?" tanya Chiou-sama.


"Tentu saja. Takamura-sama sendiri yang memberitahu kami cara menyegelnya. Kami menggunakan kitab mantra yang ditulis oleh para biksu agung, dan kami juga sudah mengikuti semua instruksi yang diberikan oleh beliau. Aku yakin sekali bahwa iblis itu telah tersegel untuk selama-lamanya. Jadi, walaupun cerita tentang Maiko-san itu benar adanya, tidak mungkin pengaruhnya masih tetap berlaku pada Takamura-sama, karena Naku Josei telah tersegel," jelas Nori-san.


"Lalu ... apa yang terjadi?" tanya Chiou-sama lagi.


"Seperti yang beliau katakan, iblis itu benar-benar tersegel di dalam kitab, dan kitab tersebut sudah kami bakar sampai menjadi abu. Hal yang tidak mungkin terjadi jika iblis itu bisa keluar dari segelnya, karena kitabnya sudah lenyap."


Mendengar semua penjelasan dari Nori-san, Chiou-sama terdiam sejenak sambil menenggakan kepalanya ke atas. Dia menghirup nafas panjang, lalu mengembuskannya.


"Kejadian tertentu? entahlah ...," jawab Nori-san yang terlihat sedang berfikir keras.


"Jadi, begitu, ya ...."


"Saat itu, aku, dan tiga orang lainnya, kami berempat bersusah payah untuk melakukan penyegelan itu. Namun pada akhirnya kami berhasil menyegel makhluk itu berkat salah satu rekanku. Satu hal yang kuingat sesaat sebelum Naku Josei terhisap ke dalam kitab tersebut adalah, ketika iblis itu sempat memasuki tubuh Yuki, kemenakanku," jelas Nori-san.


Mendengar perkataan Nori-san itu, sontak Chiou-sama terkejut dan kembali menatap tajam ke arahnya.


"Tunggu dulu ... apa kau baru saja mengatakan bahwa iblis itu memasuki tubuh kemenakanmu?"


"Ya, memang Naku Josei sempat masuk ke dalam tubuhnya sebelum mantra selesai dibacakan. Tapi, setelah mantra selesai dibacakan, iblis itu langsung tertarik keluar dari tubuhnya dan langsung terhisap ke dalam halaman kit--"


Belum menyelesaikan kalimatnya, Tiba-tiba saja Chiou-sama mendekat dan memegang kedua pundak Nori-san. Matanya melotot dan wajahnya terlihat gelisah.


"Di mana ... di mana kemenakanmu itu sekarang ini, Nori-chan!"


"Ah, di-dia sudah kembali ke Amerika. tu-tunggu dulu ... kenapa? Kenapa tiba-tiba saja kau ...."


Perlahan-lahan Chiou-sama melangkah mundur sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Ini terjadi lagi ... Ya Tuhan ... ini terjadi lagi," gumam Chiou-sama.


"Apanya yang terjadi lagi? Ada apa, Chiou-sama?"

__ADS_1


Chiou-sama menggenggam tangan Nori-san, dan mengajaknya berjalan memutari area kuil menuju salah satu bangunan di sana.


"Tu-tunggu dulu ... sebenarnya ada apa ini, Chiou-sama!"


*****


Distrik Hannan - Osaka.


Di waktu yang sama, bibi Miyako sedang berdiri bersama Aoi dan neneknya di aula rumah sakit. Setelah selesai membayar administrasi, mereka pun keluar dari dari gedung itu menuju tempat parkir. Di sana, sudah terparkir mobil rental yang telah disewa oleh bibi Miyako.


Dia bersalaman dengan penyewa mobil tersebut saat kunci mobil diberikan kepadanya.


"Apa kau tidak punya niat untuk membeli mobil, nona? Kau bisa menggunakan layanan kami jika suatu saat kau tertarik," tawar penyewa mobil itu.


"Tidak, terima kasih. Sebenarnya aku punya mobil di rumah, tapi karena saat itu aku datang kemari bersama sepupuku, maka dari itu aku menyewa mobil ini," jelas bibi Miyako.


"Begitu, ya ...."


"Aku akan segera mengembalikannya besok pagi. Kalau begitu, terima kasih," ucapnya sambil menundukkan kepala.


"Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu, nona. Sampai nanti," ujar pria itu, berjalan pergi.


"Miyako ... apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat sangat pucat," tanya nenek Nadeshiko.


Bibi Miyako hanya tersenyum, lalu berkata, "Tidak perlu khawatir, Bu. Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang," jawabnya.


"Yeaaah ... akhirnya kita pulang juga, aku akan menunjukan kamarku kalau kita sudah sampai di rumah, Nek," ucap Aoi yang terlihat sangat gembira mengetahu bahwa neneknya yang akan ikut tinggal bersama-sama dengan mereka.


"Nenek harap, kamarmu tidak berantakan seperti kamar ibumu waktu kecil dulu, ya, Aoi."


Mereka pun menaiki mobil tersebut dan memulai perjalanan pulang.


Di waktu yang sama pula, di dalam kuil Sora. Terlihat di sana Yoshino-san yang sedang duduk sendirian sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong di wajahnya. Lalu, tak lama kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan ke luar dari kuil.


Di sisi lain; desa Kaze, area kuil Washu. Chiou-sama dan Nori-san sampai di depan sebuah bangunan tua di sana.


Tertera tulisan 'Perpustakaan Chishiki' tepat di atas pintu masuk.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Chiou-sama membukakan pintu, lalu menyalakan lampu. Di dalam sana terlihat banyak sekali rak-rak buku yang berjajar rapih di setiap sudut ruangan.


"Di tempat ini ... kau akan mengetahui semua hal tentang Naku Josei, Nori-chan."


.


.


*****


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2