
Suara angin yang ribut terdengar nyaring dan membuat genting kuil berbunyi.
Mereka menutup seluruh pintu dan jendela agar suasana menjadi sedikit lebih tenang.
Mereka semua duduk melingkar sembari mendengarkan penjelasan Nori-san tentang kejadian di desa.
"Jadi, kejadiannya seperti itu, ya? Baiklah, aku akan memberitahu sedikit informasi tentang makhluk ini," ucap Kotaro Sensei yang kemudian mulai bercerita.
"Duapuluh delapan tahun yang lalu, aku adalah salah satu orang yang terlibat dalam penyegelan Naku Josei di desa Kaze. Itu bukanlah hal yang mudah, karena makhluk ini berbeda dari makhluk yang pernah kutemui sebelumnya. Dia lebih mirip seperti iblis daripadi hantu. Percaya atau tidak, tapi ini bukan pertama kalinya Naku Josei lepas dari benda Kramat yang menyegelnya ...."
"Apa maksudmu dengan 'bukan yang pertama kali'?" sela Izumi.
"Hemmm ... dengarkan dulu ceritaku sampai selesai. Sekitar limapuluh tahun yang lalu, iblis itu juga pernah di segel oleh para tetua desa di dalam sebuah peti, dan dikubur di dekat sungai. Tapi ... entah bagaimana kuburan itu tergali dan peti di dalamnya terbuka. Mereka mengatakan bahwa itu adalah ulah suaminya yang tak rela arwah istrinya diperlakukan seperti itu. Tapi bagaimanapun juga itu hanyalah sebuah cerita rakyat yang beredar. Tidak ada yang tau asal usul Naku Josei secara pasti.
"Menurut cerita lain yang beredar, Naku Josei adalah seorang wanita cantik bernama Hanako Tatsumaki yang pernah hidup di desa bersama suami dan kedua anaknya. Mereka semua hidup dengan bahagia, sampai pada saat suaminya pergi berkerja di kota meninggalkan mereka, dan insiden yang mengerikan pun terjadi kepada Hanako dan kedua anaknya.
"Rumah mereka dirampok; kedua anaknya tewas dibunuh, dan mayatnya di buang ke danau; sedangkan Hanako diperkosa, lalu mereka membunuhnya dengan cara menggantungnya menggunakan tali tambang.
Tapi, ada satu cerita yang lebih mengerikan dari semua cerita-cerita itu. Ada isu yang mengatakan bahwa sebenarnya Hanako sendiri lah yang telah―"
BRUAK !!
Suara dentuman keras di pintu kuil mengagetkan semua orang di dalam. Lilin-lilin merah yang tadinya menyala, sekarang semuanya mati tertiup oleh angin yang entah datang dari mana.
SYUUUUUU ...
Embusan angin sepoi-sepoi masuk melalu celah-celah ventilasi udara, dan terdengar suara langkah kaki dari atap kuil yang diikuti oleh tangisan yang lirih.
KLAK.. KLAK.. KLAK..
HIKS ... HIKS ....
*****
"Jangan takut, berpeganglah pada keyakinan kalian," ujar Kotaro sensei yang mencoba untuk menenangkan mereka.
Semua orang yang sudah menyadari kehadiran Naku Josei, mulai berdoa dan sebagian dari mereka saling berpegangan tangan. Izumi, ibunya memeluk Yuki dengan erat, sedangkan Mark, ayahnya berdoa sambil memegang kalung salib yang digenggamnya.
Suasana menjadi semakin tegang saat angin yang berembus kencang membuat pintu dan setiap jendela kuil terbuka lebar. Suara tangisan yang tadinya pelan itu kini berubah menjadi jeritan yang menakutkan.
Para biksu berdiri dan berjalan mengitari setiap sudut kuil sambil berdoa, sedangkan Kotaro sensei berjalan keluar melewati pintu kuil yang terbuka itu.
"Pasti berat sekali, 'kan? Kau pasti sudah melewati hal yang buruk selama masa hidupmu, Hanako-san."―Kotaro sensei berjalan menuruni anak tangga―"Aku akan berdoa untukmu dan anak-anakmu, tapi tolonglah ... tinggalkan anak itu," pintanya.
Mendengar ucapan sang biksu, Naku Josei langsung menampakan dirinya dalam rupa yang sangat mengerikan dengan suara geraman aneh yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Kotaro sensei berjalan mendekatinya, lalu berkata, "Apa kau juga akan menyakitinya sama seperti kau menyakiti anak-anak yang lain? Apa kau tidak tahu bahwa para orang tua yang ditinggalkan oleh anak mereka telah merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan?"
Suara geraman dari Naku Josei semakin menjadi-jadi.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Sampai kau merasa puas? Kalau kau melakukan hal semacam ini, bukankah tindakanmu ini sama saja dengan mereka yang telah menyakiti Ayumi dan Oba?"
Mendengar ucapan Kotaro sensei, Naku Josei menjerit dan terbang ke atap kuil. Dia berdiri dan memandang kebawah.
"Aku akan berdoa untuk kebaikanmu dan anak-anakmu. Aku berjanji, Ayumi dan Oba pasti akan sangat senang jika kau menemui mereka," ucap Kotaro sensei yang kemudian memejamkan kedua matanya dan mulai berdoa.
Semua orang yang berada di dalam kuil berdoa dengan penuh harapan; meminta pertolongan serta perlindungan dari gangguan Naku Josei.
Rasa tegang, rasa takut, bahkan rasa sedih, perasaan Yuki saat itu terasa campur aduk tak karuan.
HIKS ... HIKS ....
Selagi doa dilantunkan, suara tangisan Naku Josei lambat laun meredup sampai akhirnya tak terdengar lagi. Penampakannya itu secara perlahan-lahan memudar, lalu menghilang.
Angin yang tadinya menderu-deru, kini telah kembali menjadi tenang, dan suasana berubah menjadi lebih baik.
Setelah itu tidak ada lagi hal buruk yang terjadi. Malam itu, mereka semua duduk berdoa bersama-sama di dalam kuil sampai matahari terbit.
*****
Pagi harinya, Yuki masih terlihat tertidur di pangkuan ibunya di dalam kuil. Di sana juga terlihat Mark dan Kotaro sensei yang sedang duduk di sebelahnya. Di sisi lain, semua orang terlihat sudah berkumpul di tempat parkir, mereka bersiap-siap untuk pergi ke bandara mengantar Izumi, Mark, dan Yuki.
"Tidak perlu sungkan, sebenarnya masih ada banyak sekali hal yang ingin kusampaikan tentang iblis itu kepada kalian, tapi sepertinya anakmu akan baik-baik saja. Makhluk itu tidak mungkin mengejar Yuki-chan sampai ke Amerika, 'kan? hehe," ucap Kotaro sensei yang kemudian berkata lagi,
"Tapi, saranku ... jangan bawa Yuki-chan ke Jepang sebelum dia beranjak dewasa. Naku Josei hanya mengincar anak di bawah umur. Biasanya anak di bawah umur 10 tahun, walaupun terkadang juga ada anak remaja, bahkan orang dewasa yang menjadi korban. Tapi percayalah, iblis itu hanya mengincar anak-anak untuk diambil jiwanya."
"Kami mengerti, sensei," jawab Mark dengan bahasa Jepangnya yang tidak lancar.
"Baiklah, sepertinya semua orang sudah menunggu kalian di luar. Ayo, waktunya kalian pulang." Kotaro sensei berdiri dan berjalan keluar.
"Yuki-chan, bangunlah, Kita akan segera pergi dari sini," Izumi membangunkan Yuki dengan mengelus-elus pipinya.
"Ibu?" gumam Yuki.
Dia pun bangun, dan mereka bertiga berjalan keluar menuju kerumunan orang-orang yang sudah menunggu.
Semua orang sudah memasuki mobil, tinggal di sana Yuki, Izumi, Mark dan Nori-san yang berdiri menghadap Kotaro sensei dan para biksu yang lainnya. Mereka memberi penghormatan dan salam perpisahan kepada para biksu.
"Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya," ucap Izumi, menunduk, kemudian berjalan memasuki mobil bersama Yuki dan Mark.
Kotaro Sensei berjalan dan menyentuh pundak Nori-san yang hendak memasuki mobil. "Jika seandainya suatu hari nanti anak itu datang kembali, tolong awasi dia," ujarnya.
__ADS_1
"Baiklah, sensei," jawab Nori-san.
Gerbang kuil dibukakan, dan akhirnya mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
SHYUUUUUU ...
Angin yang berembus pelan meniup dedaunan pohon yang kering, membuat langkah Kotaro sensei terhenti sejenak dan berkata dalam hati, "Semoga saja anak itu tidak apa-apa, jangan pernah kembali lagi, Yuki-chan."
*****
2 Januari 2005. Pukul 10:00 AM.
Akhirnya mereka tiba di bandara internasional Osaka. Para kerabat yang lainnya menemani mereka sampai tiba waktunya penerbangan.
Mark berjabat tangan dengan mereka semua dan memberi salam perpisahan. Miyako menangis memeluk kakaknya dan mencium Yuki. "Semoga tuhan melindungi kalian semua," ujarnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Nori-san.
Yuki hanya menggelengkan kepalanya.
Nori-san mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan memberikannya kepada Yuki. "Simpanlah perkamen ini. Suatu saat nanti kau pasti akan membutuhkannya. Ini adalah jimat pelindung dari roh jahat yang pernah guruku berikan sewaktu aku masih kecil," jelas Nori-san, tersenyum.
"Terima kasih semuanya," hormat Izumi, menundukan kepala dan berjalan pergi sambil melambaikan tangan.
Pukul 10:20. Akhirnya mereka pun Take Off.
Di sepanjang perjalanan itu, Izumi bercerita dengan Yuki tentang semua hal yang baru saja dia hadapi. Dia juga memberitahu Yuki bahwa sebagian orang yang mengantar mereka itu adalah kerabat mereka, termasuk Nori-san.
Liburan yang Yuki inginkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kejadian demi kejadian yang tak terduga menimpanya. Tapi dia bersyukur, karena dia dan kedua orangtuanya baik-baik saja, sampai mereka kembali pulang kerumah dengan selamat.
Yuki melanjutkan kehidupannya di Los angeles seperti biasanya, pergi bersekolah dan bermain dengan teman-temannya. Dia mencoba untuk melupakan kejadian masa lalunya yang buruk itu, dan menatap ke depan mengejar cita-citanya.
Waktu pun berjalan sangat cepat. Saat dia beranjak remaja, datang kabar buruk yang membuat hatinya tersayat. Yuki berumur tujuh belas tahun saat itu, ketika datang kabar yang mengatakan bahwa kakeknya meninggal karena sakit yang parah.
Mark dan Izumi pergi menghadiri pemakamannya, sedangkan mereka tidak mengizinkan Yuki untuk ikut pergi. Yang dia bisa lakukan hanyalah menghubungi neneknya di desa sambil menangis.
Minggu, 14 Juni 2020.
Seiring berjalannya waktu, Kini Yuki tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang sangat cantik dan seksi. Kepintarannya dan prestasinya di universitas dia berkuliah dulu, membuat dia diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan brand ternama di Los angeles dengan posisi yang cukup penting.
Yuki benar-benar disibukan dengan pekerjaannya itu, Sampai di suatu hari, ia dihubungi oleh neneknya dari Jepang.
"Hello, nenek. Apa kabar?" sapa Yuki dengan senyuman gembira.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG ...