
Hujan yang tadinya turun sangat deras, kini telah berhenti, walaupun sesekali terdengar suara petir yang bergemuruh.
Yoshino-san terlihat sedang berdiri di koridor kuil ketika Jack, Yuki, dan Nori-san akhirnya tiba di sana.
"Kalian dari mana saja?" seru Yoshino-san; bingung melihat mereka bertiga yang berlari tergesa-gesa.
Di saat yang sama juga Yoshino-san mendengar suara jeritan dan sebuah bayangan yang terbang mendekati Nori-san, Jack, dan Yuki dari arah belakang mereka.
"Apa itu ?" batinnya.
"Yoshino-san! Cepat masuk ke dalam kuil, sekarang!" teriak Nori-san dari kejauhan.
Saat itu pun Yoshino-san menyadari bahwa bayangan yang sedang mengejar mereka bertiga adalah Naku Josei.
Dengan kaki yang kesakitan, Yoshino-san berjalan perlahan-lahan menuju pintu kuil. Tapi karena gerakannya yang terlalu lambat, Nori-san, Jack, dan Yuki lebih dulu sampai.
"We made it!"
(Kita berhasil!) ucap Jack dengan nafas yang terengah-engah.
"Dia tidak akan berhasil!" langkah Yuki terhenti ketika dia melihat Yoshino-san yang tengah bersusah payah berjalan menuju pintu.
"Yuki! Apa yang kau lakukan! Cepat masuk!" Nori-san menarik tangan Yuki masuk ke dalam, dan langsung menutup pintu kuil.
"Bagaimana dengan Yoshino-san? Kita tidak boleh meninggalkannya begitu saja di luar sana!" bentak Yuki.
"Cih ...." Nori-san menengok ke luar melalui celah-celah jendela kuil untuk memastikan keadaan Yoshino-san di luar sana. Namun dia dikagetkan dengan wajah menyeramkan Naku Josei yang tiba-tiba saja muncul di depan celah-celah jendela itu.
Hal itu membuat Nori-san terperanjat dan melangkah mundur.
"Nori-san, bagaimana ini?" keluh Yuki.
"Tenang saja ... kita aman di sini," balasnya.
Di sisi lain, langkah Yoshino-san terhenti sejenak, lalu perlahan-lahan dia melangkah mundur ketika iblis itu mulai membalikan badan dan menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Sial!" gumam Yoshino-san.
"Tidak! Dia menuju ke arahnya!" Yuki panik melihat Naku Josei yang mulai berjalan ke arah Yoshino-san. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya saat ini!" ujar Nori-san.
"Kitabnya! Nori-san, cepat bacakan kitab mantranya!"
"Tidak bisa dengan jarak sejauh ini! Halaman kitabnya harus diarahkan ke iblis itu saat mantra selesai dibacakan!" tegasnya.
Jack melihat sekelilingnya dan mengambil salah satu buku yang tersusun di atas sebuah rak buku di sana. Dia membuka kain yang membungkus kitab tersebut, lalu menggantinya dengan buku yang diambilnya itu untuk di bungkus.
"Aku tidak tahu apa ini akan berhasil atau tidak. Tapi, aku akan mencobanya!" ucap Jack sambil membungkus buku tersebut dengan kain.
"Apa yang akan kau lakukan, Jack?" tanya Yuki.
Jack berjalan menuju pintu keluar. "Aku akan memancing makhluk itu dengan ini. Saat aku beraksi, lakukanlah apa yang harus kalian lakukan dengan kitab itu."
"Tapi- "
"Dengar!" sela Jack; membuka pintu, lalu berkata lagi, "Saat aku mengalihkan perhatiannya, Yuki, kau berlarilah ke arah biksu itu untuk menjemputnya, dan segera kembali memasuki kuil ini," jelasnya.
Di sisi lain, Yoshino-san terlihat terpojok di sebuah tiang koridor. Dia tidak bisa berlari untuk menghindari Naku Josei.
Iblis itu mendekat dan semakin dekat. Tapi saat jarak mereka berdua hanya beberapa meter saja, terdengar suara teriakan Jack dari arah pintu kuil.
Dia menggoyangkan buku yang terbungkus oleh kain itu. "Hey, makhluk jelek! Ini yang kau cari, 'kan? Ayo, ambil sendiri kalau bisa!" serunya.
Gerakan Naku Josei pun terhenti. Dia menoleh ke arah Jack, dan dengan cepat terbang ke arahnya.
"Ah, ****!" (Sial) gumam Jack yang mulai berlari mengitari koridor kuil.
Di waktu yang sama, Yuki langsung berlari menuju Yoshino-san dan menuntunnya menuju pintu kuil. Sedangkan Nori-san berlari mengikuti Jack dari arah belakang.
Berusaha untuk menghindari Naku Josei selama mungkin, Jack berlari berputar-putar mengitari area kuil itu. Sesampainya dia di sebuah jalan setapak yang mengarahkannya ke sebuah gerbang besi, langkahnya terhenti di ujung jalan itu. Dia tidak bisa melewati gerbang tersebut karena sebuah rantai dan gembok yang menguncinya.
__ADS_1
"Sialan! Jalan buntu, ya."
Melihat gerbang yang terkunci, Jack hendak berputar arah untuk mencari jalan lain. Tapi saat dia membalikan badannya, iblis yang mengejarnya itu sudah ada tepat di depan wajahnya. Sontak dia kaget dan melompat mundur sampai punggungnya tersandar di gerbang besi tersebut.
Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Jack tertegun dan hanya terpaku di tempatnya berdiri saat iblis itu mulai mencekik lehernya sampai tubuhnya terangkat ke atas. Dia mencoba untuk melepaskan tangan iblis itu, tetapi cengkramannya terlalu kuat dan tenaganya diluar perkiraannya.
Sambil mencekik leher Jack, iblis itu merebut buku yang dia kira sebagai kitab mantra. Hanya dengan menggenggamnya saja, buku dan kain yang membungkusnya itu langsung terbakar.
Di sisi lain, Yuki telah berhasil membawa Yoshino-san masuk ke dalam kuil.
"Tetaplah di dalam sini, aku harus pergi membantu mereka," ucap Yuki.
"Tunggu!" Yoshino-san membuat langkahnya terhenti. "Ambil ini. Gunakan sebaik mungkin." Menyodorkan sebuah botol berisi garam penangkal.
Yuki mengambil botol itu. "Baiklah."
"Maafkan aku. Aku jadi tidak berguna lagi bagi kalian," lirih Yoshino-san.
"Jangan mengatakan hal itu, kau sudah membantu kami sampai sejauh ini. Jangan memaksakan diri." Yuki menepuk pundak Yoshino-san. "Kalau begitu, aku pergi dulu, Yoshino-san!" ucapnya yang kemudian berlari keluar.
Di sisi lain, Nori-san akhirnya menemukan tempat di mana Naku Josei dan Jack berada. Melihat iblis itu yang sedang mencekik Jack, Nori-san langsung membuka kitab tersebut, lalu mulai membacakan mantranya.
"Sial! Apa aku akan mati di sini ?" batin Jack.
Saat Jack sudah mulai pasrah karena tubuhnya yang melemas dan nafasnya yang sudah hampir habis, tiba-tiba saja Naku Josei melepaskan cengkeramannya itu. Iblis itu terlihat kepanasan. Wajahnya menjadi hangus dan asap menguap dari tubuhnya.
"Mantranya bekerja." Nori-san terus membacakan mantra tersebut.
Menyadari bahwa kitab itu belum lenyap, Naku Josei langsung terbang dengan cepat ke arah Nori-san dan langsung menerkanya. Iblis itu mencekik dan mengangkat tubuh Nori-san beberapa meter ke atas, lalu menjatuhkannya ke bawah. dia mencekiknya lagi, lalu melemparkannya ke tembok. Untuk ketiga kalinya iblis itu kembali mencekiknya lagi, dan kali ini dia hendak menusuk Nori-san menggunakan kuku-kukunya yang runcing itu. Namun, dia digagalkan oleh Yuki yang tiba-tiba saja melemparkan garam ke arah mereka berdua. Cengkramannya pun terlepas, dan Nori-san terjatuh.
"Ki-ktabnya ...." ucap Nori-san terbata-bata sambil menunjuk ke arah kitab tersebut.
.
.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG ...