
Dengan segera, Yuki berlari mengambil kitab tersebut, lalu membuat sebuah lingkaran menggunakan seluruh sisa garam penangkal yang diberikan oleh Yoshino-san kepadanya.
"Bagaimana ini ... bagaimana ini! Bagian mana yang harus kubaca ?" Yuki kebingungan dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Halaman ke-13!" seru Nori-san.
Mendengar instruksi dari Nori-san, dia pun langsung membuka halaman ke-13.
"Fukuslah ... fokuslah! Yuki, kau harus fokus !" batin Yuki.
Angin berembus sangat kencang, dan petir menggelegar kuat; Naku Josei mulai berteriak dan menjerit kesakitan ketika Yuki mulai membacakan mantranya. Iblis itu mendekat, mencoba untuk menyerangnya, tetapi tangan kanannya terbakar saat dia hendak menggapai Yuki. Lingkaran garam itu membuatnya tidak bisa mendekat. Tubuhnya mulai menguap, dan sesekali terlihat percikan api dari wajahnya.
Sejenak, Yuki tertegun mendengar suara teriakan yang mengerikan itu. Di dalam suara angin yang ribut, terdengar samar-samar teriakan Nori-san yang terlihat berdiri tak jauh darinya.
"Tetaplah fokus! Teruskan mantranya!" seru Nori-san.
Yuki berusaha untuk melanjutkan mantranya, walaupun kepalanya mulai terasa pusing karena suara teriakan iblis itu.
Di sisi lain, Yoshino-san terlihat sedang berjalan ke luar meninggalkan kuil dengan langkah kakinya yang terpincang-pincang.
Jeritan blis itu semakin kuat dan terdengar nyaring. Lalu, suatu hal yang tak terduga terjadi. Iblis itu terbang menerka Yuki yang berada di dalam lingkaran penangkal tersebut, dan membuatnya terhempas ke luar dari lingkaran itu. Hal itu juga membuat sebagian dari tubuh Naku Josei terbakar.
"Yuki!" teriak Jack dan Nori-san yang berlari menuju ke arahnya.
"Sial! Padahal tinggal sedikit lagi!" gumam Nori-san.
Dengan tubuh yang berapi-api, iblis itu mendekati Yuki yang sedang tergeletak. Nori-san mencoba untuk melindungi Yuki, tetapi itu semua hanya sia-sia. Naku Josei mencekik lehernya dan melemparnya jauh.
Iblis itu mendekati Yuki. Dia terus mendekat dan semakin dekat. Namun sesaat sebelum iblis itu berhasil menggapainya, Yuki melemparkan kitab tersebut ke arah Jack yang sedang terduduk ketakutan di belakangnya.
"J-jack ...."
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Yuki mencoba untuk memberontak ketika lehernya dicekik.
"Berikan jiwamu kepadaku!" teriak iblis itu sambil menjulurkan jari-jarinya ke dalam mulut Yuki.
Lalu, tiba-tiba saja Naku Josei menghilang, dan Yuki terjatuh tak sadarkan diri.
"A-apa yang terjadi ?" batin Jack.
Mereka berdua keheranan melihat Naku Josei yang tiba-tiba saja menghilang. Namun tak lama kemudian, Yuki membuka matanya. Matanya terlihat sangat merah, dan mulutnya mengeluarkan asap hitam yang aneh. Tubuh Yuki yang tergeletak di bawah itu menggeliat seperti cacing kepanasan.
__ADS_1
"Sial! Iblis itu merasukinya!" Nori-san berusaha untuk bangkit, tapi dia kesulitan untuk berdiri karena seluruh tubuhnya yang terasa sakit.
"Jack! Apa yang sedang kau lakukan! Cepat bacakan sisa kalimat mantranya!"
"Huh? Kenapa baru sekarang kau berbicara menggunakan bahasa Inggris!" ucap Jack.
"Shut up, and Just do it!" (Diam, dan lakukan saja!) bentak Nori-san.
Panik; Jack membuka kitab tersebut, namun dia kebingungan setelah melihat semua tulisan yang ada di dalamnya.
"Apa lagi yang kau tunggu! Buka halaman ke-13!" seru Nori-san.
"Baiklah ... halaman ke-13. Tapi aku tidak tahu di bagian mana Yuki berhenti!"
"Baca saja! Baca ulang dari awal!"
"Ba-baiklah!" Jack membuka halaman tersebut. "A-apa? Bagaimana ini? Aku bahkan tidak mengerti tulisan apa ini!" ucapnya yang kebingungan karena dia tidak memahami aksara Kanji, Hiragana, maupun Katakana.
"Berikan kepadaku!" Yoshino-san yang tiba-tiba saja muncul di sana; mengambil kitab yang digenggam oleh Jack, dan langsung membacakan mantranya.
Di setiap kata dan kalimat yang dibacakan oleh Yoshino-san, membuat tubuh Yuki semakin menggeliat tak terkendali. Seakan-akan dia sedang menahan rasa sakit yang hebat di tubuhnya. Asap hitam yang keluar dari mulutnya itu semakin banyak, dan tak lama kemudian, tubuhnya mengapung sekitar satu meter di atas permukaan tanah.
Yuki menjerit kuat, namun suara jeritannya itu terdengar berbeda.
Yoshino-san terus membacakan mantranya. Lalu, saat mantra tersebut selesai dibacakan, tubuh Yuki terjatuh kembali ke bawah, dan sebuah bayangan keluar dari tubuhnya. Bayangan itu terlihat semakin jelas di mata mereka bertiga ketika hal tersebut membentuk sebuah sosok iblis yang terbakar seperti batu bara yang menyala.
"Sekarang! Yoshino-san!" seru Nori-san.
Dengan segera, Yoshino-san mengarahkan halaman kitab tersebut kepada Naku Josei, dan di saat itu pun iblis itu langsung terhisap ke dalam halaman buku. Yoshino-san menutup buku rapat-rapat; mengeluarkan korek api dari sakunya; dan langsung membakar kitab tersebut sampai menjadi abu.
Suasana pun menjadi tenang.
Jack berlari ke arah Yuki yang masih tak sadarkan diri. Dia menempelkan telinganya ke dada Yuki; mengecek nadinya dan nafasnya.
"Syukurlah ... kau baik-baik saja ...," gumam Jack, memeluk Yuki.
"Huuuft ...."
Nori-san akhirnya bisa menghela nafas panjang; Yoshino-san bejalan ke arahnya dan membantunya berdiri.
*****
__ADS_1
Malam itu juga, mereka menghubungi polisi dan rumah sakit..
Beberapa jam kemudian, terdengar suara sirine ambulan dan mobil polisi yang mendekat.
Yuki mulai membuka matanya dan menatap Jack yang sedang memeluknya.
"Jack?" gumamnya.
"Sudah berakhir, Yuki. Semuanya sudah berakhir. Kita semua akan baik-baik saja," ujar Jack.
Saat itu, Nori-san menjelaskan semua kejadian yang baru saja menimpa mereka kepada kepolisian.
Untuk sementara, mereka semua menetap di kuil itu untuk diberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit.
Malam itu, polisi langsung menelusuri area di sekitar kuil dan hutan. Keesokan harinya, mereka menemukan beberapa tengkorak manusia yang ada di dalam sebuah gua di sana, dan ratusan tengkorak lainnya di sebuah kubangan air lumpur. Mereka juga menemukan jasad Tomo-san di dekat sana.
Walaupun mereka tidak bisa mempercayai semua perkataan Nori-san, kepolisian juga tidak bisa melemparkan tuduhan terhadap mereka tentang kematian Tomo-san di hutan itu.
Pukul 6:10 AM.
Para perawat memasukan Yuki ke dalam mobil ambulan.
"Kau akan baik-baik saja, Yuki," ucap Jack menghiburnya.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Yuki.
"Kami akan menyusul ke rumah sakit. Tenang saja, aku yang akan bertanggungjawab di sini." Nori-san mengusap kepala Yuki.
Yuki hanya menganggukkan kepalanya.
"Jack, kau ikutlah bersama Yuki. Aku dan Yoshino-san harus tetap bersama kepolisian untuk saat ini," jelasnya.
"Baiklah," jawabnya singkat.
Pagi itu pun Yuki dan Jack kembali ke kota. Mereka dibawa menuju ke sebuah rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit di mana nenek Nadeshiko dirawat. Sedangkan Nori-san dan Yoshino-san menyusul mereka berdua ke rumah sakit yang sama bersama kepolisian.
.
.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG ...