NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
NAKU JOSEI


__ADS_3

Empat hari sebelumnya.


.


.


"Yuki-chan ... cepatlah, kita akan segera berangkat!" seru seorang wanita dari luar rumah.


"Baiklah, bu," jawab gadis kecil yang berlari menyeret tas kopernya.


Namaya Yuki Hamida Johnson. Dia adalah anak semata wayang dari pasangan suami istri, Mark Johnson dan Izumi Otsuka.


Ya, nama ayahnya adalah Mark Johnson. Dia berkebangsaan Amerika serikat. Sedangkan ibunya, Izumi Otsuka adalah orang asli Jepang. Jadi, bisa dibilang Yuki itu mix American-japanese.


Yuki lahir di Jepang. tapi, setelah umurnya beranjak 5 tahun, ayahnya membawa mereka pindah ke Amerika, karena dia menginginkan Yuki untuk bersekolah di sana.


Mereka bertiga tinggal di east los angeles-california.


Kakek dan nenek dari pihak ayahnya sudah meninggal sebelum dia lahir, sedangkan Kakek dan nenek dari pihak ibunya tinggal di sebuah pedesaan di daerah Osaka-Jepang.


Setiap liburan akhir tahun, kedua orangtua Yuki selalu mengajaknya pergi ke rumah kakek dan nenek di Jepang.


Yuki sangat gembira dan bersemangat sekali untuk pergi berlibur, karena dia bisa berjumpa lagi dengan teman-temannya di sana.


*****


28 Desember 2004. Akhirnya mereka pun tiba di bandara internasional Osaka-Jepang.


Di sana terlihat nenek dan kakek yang sedang berdiri menunggu mereka.


Yuki berlari menuju mereka dan memeluk mereka berdua. Tentu saja dia sangat senang sekali, karena terakhir kali dia bertemu dengan mereka, itu tahun lalu, saat dia berumur tujuh tahun.


"Kau tambah besar, ya, Yuki-chan. Kelihatan lebih tinggi dari sebelumnya, hehe." Nenek tersenyum sambil mengusap rambutnya.


Mereka pergi menaiki mobil rental dari bandara menuju rumah kakek dan nenek di desa, dan tidak lupa juga untuk membeli beberapa kembang api untuk merayakan tahun baru itu.


Sesampainya di desa, Yuki langsung pergi mengunjungi rumah teman-temannya, Hinami, Rin, dan Touka. Dia benar-benar tidak sabar untuk bertemu lagi dengan mereka.


*****


Di saat malam tahun baru tiba, mereka semua merayakannya di depan halaman rumah nenek dan kakek.


Malam itu adalah malam yang menggembirakan bagi semua orang.


Tetangga dan semua kerabat ibunya yang datang dari kota, mereka berkumpul untuk makan-makan, minum sake, dan bercerita sepanjang malam. Yuki bahkan tidak bisa tidur sampai pagi hari karena keramaian di rumah itu.


Sekitar jam 6:30 AM, barulah dia bisa tertidur.


Hari itu dia terbangun jam 3:15 PM.


Tidurnya panjang sekali, tidak ada yang membangunkannya saat itu.


Dia turun dari tempat tidurnya dan menuju dapur untuk minum.


"Yuki-chan, kau sudah bangun, ya?" sapa nenek yang sedang mengaduk adonan kue.


"Nek, di mana ibu dan ayah?" tanya Yuki.


"ayahmu sedang pergi mengurus jadwal penerbangan pulang kalian, sedangkan ibumu sedang pergi bersama bibi Miyako dan yang lainnya ke tempat bersejarah di daerah ini," jawab nenek.


"Yuki-chan, kau mau pergi kemana?" tanya nenek lagi yang membuat langkah Yuki terhenti.


Nenek berjalan mendekatinya. "Jangan main jauh-jauh dari rumah, ya, Yuki-chan. Main saja di rumah Rin, atau di halaman rumahnya, mengerti?"


"Baiklah, Nek," jawabnya singkat.


Saat Yuki baru sampai di depan pintu keluar, kakek datang melewatinya dengan raut wajah gelisah dan langsung menuju Nenek di dapur. Mereka membicarakan sesuatu.


Yuki yang sedikit penasaran, menguping pembicaraan mereka dari jauh. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, tapi terdengar sekilas kakek mengatakan "Gucinya pecah."


Karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, dia pun pergi keluar bermain dengan teman-temannya.


*****


Sore itu, Yuki, Rin, Touka dan Hinami bermain di daerah perkebunan yang berada di pinggiran desa. Mereka berlari-lari dari jalan setapak memasuki kebun.


Yuki yang saat itu keasikan bermain, sampai lupa dengan peringatan nenek untuk tidak bermain jauh-jauh, dan tanpa mereka sadari, mereka memasuki sebuah tempat yang di tumbuhi oleh pepohonan besar dan tinggi.


Pepohonan itu benar-benar besar, daun-daunnya yang lebat menutupi cahaya matahari masuk.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bermain petak umpet di sini?" ujar Rin.


"Boleh juga," sahut mereka bertiga.


Mereka melakukan Hompimpa untuk menentukan siapa yang jaga, dan sialnya, Yuki yang mendapat bagian jaga saat itu.


.


.


".... 7,6,5,4,3,2,1 ... Aku datang!" teriak Yuki yang mulai berjalan mencari mereka.


"Heemm ... Apa benar tidak apa-apa bermain di tempat sunyi seperti ini ?"


"Rin ... Touka ... kalian di mana? Hinami!" Teriaknya sambil berjalan mengitari tempat itu.


*****


Langit sudah terlihat semakin gelap, dan dia belum juga menemukan mereka bertiga.


Tanpa disadari, Yuki sudah berjalan terlalu jauh memasuki daerah itu.


"Hufft ... kenapa mereka sulit sekali untuk di temukan, sih. kakiku sudah lelah berjalan," keluh Yuki dalam hati.


Dia terus berjalan dan terus berjalan lebih dalam, sampai tiba-tiba terdengar suara tangisan dari balik salah satu pohon beringin yang sangat lebar dan tinggi.


"Rin ... apa itu kau? Hinami?" Yuki berjalan mendekat dan memutari pohon itu untuk melihat siapa di sana.


Suara itu semakin jelas dan semakin kuat di telinganya, dan saat dia sampai pada sumber suara tersebut.


DEG!


Yuki terkejut setelah melihat sesosok wanita yang sedang duduk menangis membelakanginya.


Suara tangisan yang kuat itu perlahan-lahan meredup dan akhirnya berhenti.


"Bibi? Bibi sedang apa di sini?" tanya Yuki sambil berjalan mendekat.


Wanita itu kemudian berdiri tegak.


Hal itu membuat Yuki ketakutan karena tubuhnya yang begitu tinggi.


Namun kemudian senyuman itu berubah menjadi menyeramkan. Matanya yang menjadi merah melotot dan mulutnya terbuka lebar sampai merobek kedua pipinya.


Itu semua membuat Yuki terpaku tak bisa bergerak.


Dia mendekat dan terus mendekati Yuki perlahan-lahan. Lalu wanita itu mengangkat tangannya, hendak menggapainya dengan kuku-kuku hitamnya yang runcing itu.


Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangan Yuki dari belakang.


"Yuki-chan! Apa yang kau lakukan di sini?" Tegur kakek yang sontak membuatnya kaget.


"Kakek?" gumamnya kebingungan.


"Kami sudah mencarimu dari tadi! Rin dan Touka bilang kalau kau memasuki tempat ini sendirian, dan Hinami mengejarmu memasuki tempat ini. Ayo, kita kembali! Kau sudah membuat semua orang jadi khawatir!"


"Tapi, kek. Dia siapa?" tanya Yuki sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah pohon beringin itu.


Dia menjadi bingung karena sosok itu tiba-tiba saja menghilang.


Wajah kakek terlihat resah.


Tanpa menjawabnya, dia langsung menggendong Yuki dan segera membawanya pergi dari sana dengan berjalan sangat cepat.


"Dimana Hinami-chan? Yuki!" tanya kakek.


"Aku tidak tahu, kami bermain petak umpet dan aku sedang berusaha mencari mereka, Kek," jawabnya yang masih kebingungan.


"Celaka! Celaka sudah!" gumam kakek sambil terus berlari di bawah langit yang sudah gelap.


Sesampainya di rumah, nenek langsung memarahinya dengan hebat. Yuki benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Satu hal yang dia ingat adalah wanita menyeramkan yang di temuinya di hutan.


Kakek menaruh Yuki di atas meja dan mulai menanyainya soal kejadian tadi.


"Apa yang kau lakukan di sana? Dengan siapa kau pergi memasuki tempat itu?" tanya kakek dengan wajah serius.


Yuki menceritakan semuanya dari awal, sampai pada saat dia bertemu dengan seorang wanita di belakang pohon.


"Coba ceritakan, seperti apa dia? Setinggi apa dia?"

__ADS_1


Yuki mejelaskan semua yang dia lihat saat itu, dan hal itu membuat nenek menutup mulut dan matanya terbelalak.


Nenek menggenggam erat tangan Yuki. "Bagaimana dengan Hinami-chan? Bukannya dia mengikutimu memasuki Hutan selagi Touka dan Rin memberitahu kami di sini?" tanyanya.


Yuki tidak bisa menjawab apa pun selain menggelengkan kepalanya, menandakan kalau dia benar-benar tidak tahu dan kebingungan.


Nenek langsung menarik tangan kakek dan mereka membicarakan sesuatu di kamar.


Jarak yang jauh membuat Yuki tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.


Lalu kemudian mereka keluar dan nenek menggendong Yuki memasuki kamarnya.


"Kau jaga dia di sini! Jangan alihkan pandanganmu sedikitpun darinya, mengerti? Aku akan segera kembali!" tegas kakek kepada nenek dengan raut wajah gelisah.


Yuki yang kebingungan hanya bisa terdiam.


*****


Pukul 9:30 PM, kakek tak kunjung kembali.


"Sudah nenek bilang sebelumnya, jangan main jauh-jauh dari rumah!" ucap nenek sembari memeluk Yuki dengan erat.


"Ada apa, Nek? Kenapa kakek terlihat terburu-buru seperti itu?" tanya Yuki.


"Kau tidak mengerti dengan apa yang sedang kau hadapi saat ini! ya tuhan, seandainya saja kakekmu datang lebih awal tadi, aku pasti tidak akan mengizinkanmu untuk keluar rumah, Yuki-chan!" jawab nenek yang kemudian melanjutkan perkataannya.


"Yuki-chan, dengarkan nenek. Sekarang ini kau sedang di incar oleh Naku Josei! Dia pasti akan menghantuimu setiap hari sampai dia bisa mengambil jiwamu."


"Siapa dia itu, Nek?" tanyanya lagi.


Nenek menatap Yuki dengan raut wajah sedih, lalu mulai bercerita.


"Cerita ini sudah lama sekali. Dulu ... pernah ada kejadian mengerikan di desa ini.


Ada Hantu gentayangan yang suka menculik dan mengambil jiwa orang yang diikutinya. kebanyakan dari korbannya adalah anak-anak, bahkan terkadang orang dewasa.


Setiap hari pasti ada saja anak-anak yang menghilang. Entah mereka hilang di luar, seperti di kebun, di Sungai, bahkan di dalam rumah mereka sendiri.


penduduk desa menyebut Hantu itu dengan sebutan Naku Josei, karena dia selalu menangis.


Sampai duapuluh tahun sebelum kau lahir, atau tepatnya duapuluh delapan tahun yang lalu, warga desa memanggil beberapa paranormal.


Mereka menangkap dan menyegel hantu itu kedalam sebuah guci, lalu guci itu di sembunyikan di dalam sebuah kuil tua di tengah hutan.


Namun, tadi pagi pintu kuil itu terbuka lebar, dan guci yang menyegelnya pecah.


Mereka bilang kalau itu adalah ulah para pendaki gunung yang berkemah tadi malam. Dari semua pendaki itu, hanya satu orang saja yang ditemukan oleh warga desa. Entah apa yang terjadi pada yang lainnya ...."


Saat nenek sedang serius bercerita, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari luar, dan seseorang membuka pintu kamar yang ternyata adalah kakek.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya nenek.


"Aku harus menyiapkan ini semua! Memang membutuhkan banyak waktu, tapi semuanya sudah siap dan mereka sudah datang. Cepat, bawa dia ke ruang tengah!" jawabnya.


Yuki dan neneknya keluar dari kamar menuju ruang tengah.


Terlihat di sana ibunya, bibi Miyako, dan juga beberapa orang berbaju hitam sedang duduk.


Mereka menyuruh Yuki untuk duduk di tengah-tengah. Kemudian mereka menyalakan lilin merah yang mengelilingi Yuki, lalu ... mereka pun mulai berdoa.


Entah apa yang mereka lantunkan, Yuki tidak mengerti. yang pasti, suasana itu membuatnya tidak nyaman.


TOK..TOK..TOK ...


Tiba-tiba saja doa mereka terhenti ketika terdengar suara ketukan di pintu.


Izumi yang mendengar suara ketukan di pintu, berdiri hendak membukanya. Tapi seorang wanita yang mengenakan baju hitam itu memberikan kode tangan kepadanya untuk berhenti.


Kemudian, terdengar lagi ...


TOK..TOK..TOK...


.


.


******


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2