NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
DESA YUME


__ADS_3

Jalan Konekuta, di daerah kaki gunung Kiri no kumo.


Terlihat Yuki yang sedang bersandar di kaca mobil, sambil melamun menatap pepohonan yang mereka lewati di sepanjang jalan.


"Apa kau yakin akan melakukan semua ini?" tanya Jack.


"Tentu saja. Aku tidak mau hidup dengan di bayang-bayangi oleh makhluk itu. Kau juga sudah terlibat, Jack! Inilah akibatnya kalau kau memaksa untuk mengikutiku sampai ke ke sini!" ujar Yuki dengan memasang wajah cemberut.


Jack menghela nafasnya. "Huufft ... asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak menyesal telah mengikutimu sampai sejauh ini."


"Hah?"


"Yeah, lagipula ... ini tidak begitu buruk bagiku. Kau tahu, saat aku berada di rumah bibimu itu, aku pikir bahwa aku akan mati saat itu. Dia melemparku dari lantai dua. Untungnya bukan kepalaku yang mendarat lebih dulu di lantai. Ha..ha ... aku benar-benar beruntung."


Yuki mencubit paha Jack, dan membuatnya terperanjat kesakitan. "Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau tertawa di dalam situasi seperti ini!" bentaknya.


"Hey hey ... bisakah tanpa mencubitku! Aku 'kan cuma bercanda."


"Bercandamu itu keterlaluan dan tidak pada tempatnya! Dasar badut! Huum," Yuki memalingkan wajahnya dari Jack.


Pemandangan yang tadinya hanya memperlihatkan pepohonan di sepanjang jalan, kini telah berubah setelah mobil mereka menanjak ke daratan yang lebih tinggi. Tak jauh dari sana, terbentang sebuah bukit kecil yang terlihat.


"Wow ... pemandangan di sini lumayan juga," ucap Jack.


"Itu adalah bukit Niji, dan tepat di bawah kaki bukit itu, adalah desa Yume," jelas Yoshino-san kepada Jack menggunakan bahasa Inggris.


"Bukit ... ? Desa yume ... ?"


Tiba-tiba saja Yuki mulai mengingat perkataan Takamura-sama sewaktu mereka di kuil.


"... Pria tua itu bernama 'Yusuke', dan dia masih tinggal di desa Yume. Dia menjadi gila setelah mendapat kabar bahwa istri dan kedua anaknya telah mati. Lalu dia mulai menyendiri dan tinggal di sebuah gubuk di atas bukit ...."


"Yoshino-san! Baru saja kau mengatakan bahwa di bawah kaki bukit itu adalah desa Yume, 'kan?" tanya Yuki.


"Ya, memangnya kenapa?" jawabnya yang bertanya balik.


"Itu artinya ... pria bernama 'Yusuke' yang di bicarakan oleh Takamura-sama ada di sana, bukankah begitu, Yoshino-san!" ucap Yuki.


"Tu-tunggu dulu! Apa maksudmu? Jangan bilang kalau kau mau pergi menemui orang gila itu, Yuki-chan!" sela Nori-san, menoleh ke belakang.


"Nori-san, kau mungkin tidak mengerti, tapi aku sangat but- "


"Yuki-chan!" Bentak Nori-san. "Kita tidak punya waktu untuk pergi ke sana! Ini sudah sore! Akan lebih berbahaya kalau malam tiba!" tegasnya.


"Aku benar-benar butuh penjelasan langsung darinya! A-aku ... mimpi-mimpi ini ...," Yuki mengingat mimpinya ketika dia berada di danau bersama Rin, dan juga tentang mimpi bersama seorang wanita misterius yang memeluknya, sewaktu dia masih kecil dulu.


"Penjelasan apa yang kau butuhkan dari seseorang yang sudah gila, Yuki-chan?" tanya Nori-san, menggelangkan kepala.


"Mimpi-mimpiku!" jawab Yuki.


"Mimpi?"

__ADS_1


"Ya! Mimpi-mimpiku yang berkaitan dengan Hanako-san dan kedua anaknya! Aku sering sekali melihat mereka bertiga di dalam mimpiku, dan aku sangat yakin kalau itu adalah mereka. Karena itulah ... karena itulah aku ...," Yuki yang mulai berlinang air mata, menghentikan perkataannya.


Suasana saat itu tiba-tiba saja menjadi canggung. Nori-san menatap ke arah Yoshino-san dan mengangkat keningnya. Dia memberikan kode gerakan mata, apakah mereka harus mengikuti permintaan Yuki atau tidak. Yoshino-san pun menganggukan kepalanya, menandakan bahwa dia setuju dengan permintaan Yuki itu.


Nori-san menoleh ke arah Yuki. "Baiklah, kami akan mengantarmu ke tempat di mana pria itu tinggal. Tapi ... kita tidak bisa berlama-lama di sana, karena waktu kita tidak banyak. Mungkin saja iblis itu tidak mengetahui letak di mana Kitab itu berada. Namun, dia tetap membayang-bayangi kita dan mengikuti kemanapun kita pergi. Dia selalu ada di dalam kegelapan; memantau dari kejauhan ... sambil menunggu matahari terbenam. Di saat itulah dia menjadi kuat, sedangkan kita melemah, apa kau mengeri, Yuki-chan!" tegas Nori-san.


"Aku mengerti," jawabnya, menunduk.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke desa Yume, mengantar Yuki untuk menemui pria yang bernama Yusuke itu. Yoshino-san juga menjelaskan semuanya kepada Jack menggunakan bahasa Inggris.


*****


Hanya dalam waktu beberapa menit saja, mereka pun tiba di desa Yume.


Setelah memarkirkan mobil, mereka semua berjalan mengikuti jalan setapak menuju pemukiman warga.


"Apa benar ini desanya? Sunyi sekali. Tidakkah kalian merasakan ada hal yang aneh di desa ini? Ini terlalu mencurigakan," ujar Jack.


Tak lama kemudian, terlihat di sana seorang anak kecil yang berlari melewati mereka berempat, dan dari belakangnya, diikuti oleh seorang wanita tua yang juga berlari mengejar anak itu.


"Eto! cepat masuk!" bentak wanita itu kepada anaknya.


Setelah dia berhasil menangkap anaknya, wanita itu menggendongnya dan langsung berlari memasuki rumah, lalu dengan segera dia mengunci seluruh jendela-jendela dan pintu.


"Apa yang dia lakukan? Tingkahnya aneh sekali," ucap Jack.


"Abaikan saja, dan tetaplah berjalan," tegas Nori-san.


Mereka pun menghampiri petani itu, dan bertanya kepadanya mengenai tempat tinggal pria yang bernama Yusuke.


"Yusuke? Kalian orang asing, ya? Kenapa kalian ingin bertemu dengan orang gila itu?" tanya sang petani.


"Kami tahu semua cerita tentangnya, kami juga tahu kalau dia itu gila, tapi ... sepertinya kau tidak perlu tahu alasan kenapa kami ingin menemuinya. Kalau kau tahu di mana dia tinggal, langsung saja beritahu kami, dan jangan banyak bertanya!" ujar Nori-san dengan nada membentak.


"Hoee! Apa-apaan cara bicaramu itu?" tegur sang petani yang terlihat kesal.


"Hey, Nori-san! Ada apa denganmu? Bukan seperti itu caranya ...," sela Yoshino-san yang kemudian berkata lagi, "Ah ... tolong maafkan dia, gaya bicaranya memang seperti itu, tuan."


Petani itu mulai berjalan. "Huh, tadinya aku mau menunjukan kepada kalian jalannya, tapi karena sikapnya itu, aku jadi malas!" ujarnya.


"Tu-tunggu dulu, tolong tunjukan kami jalannya. Kami benar-benar membutuhkan bantuanmu saat ini. Tidak ada orang lain lagi di sini yang bisa membantu kami selain kau, Tuan," pinta Yuki.


"Maaf ... aku tidak bisa membantu," ucap sang petani, berjalan pergi.


Yuki pun mengejarnya dan menghentikan langkahnya. "Tolong ... tunjukan jalannya, Tuan. Kumohon ...," pinta Yuki lagi sambil menundukkan kepalanya.


"Cih ... kenapa dia memaksa sekali !" gerutu sang petani dalam hati.


Nori-san berjalan mendekati mereka berdua. Dia mengeluarkan 1000 Yen dari dompetnya, lalu menyodorkannya ke petani itu.


"Ini ... ambilah, dan antarkan kami ke rumah orang gila itu!" ujarnya.

__ADS_1


Sejenak ... sang petani menatap uang 1000 Yen itu. "Apa kau sedang menyuapku?" tanyanya.


"Tidak. aku hanya memintamu untuk menunjukan kepada kami jalannya. Hanya itu," jawab Nori-san.


"Lalu ... untuk apa uang ini? Kau sedang merendahkanku, ya!" Petani itu mulai terlihat marah.


"Tidak ada yang sedang merendahkanmu di sini. Aku menyodorkanmu uang ini sebagai ongkos tenaga yang kau pakai untuk mengantarkan kami ke sana, apa kau tidak memahami maksudku, hah?" jelas Nori-san.


Setelah mendengarkan ucapan Nori-san, petani itu terdiam sejenak, lalu dengan cepat dia mengambil uang 1000 Yen yang disodorkan kepadanya itu. "Aku akan menunjukan jalannya, tapi itu karena permintaan dari gadis ini, ya. Jadi, jangan salah paham!" ujarnya, memutar haluan dan berjalan ke arah bukit.


"Huh ... sudah kuduga," gumam Nori-san.


"Hoe! Apalagi yang kalian tunggu? Cepat ikuti aku!" teriak sang petani.


Mereka pun pergi menaiki bukit melalui jalan setapak dan tangga yang menjulang tinggi ke atas.


Setelah beberapa menit mereka menanjak, akhirnya mereka pun sampai di puncak bukit tersebut. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat di sana sebuah gubuk yang berdiri di antara pepohonan cemara.


"Itu dia tempatnya. Yusuke tinggal di sana. Kalau begitu ... aku pergi dulu, ya," ujar sang petani.


Yuki menundukkan kepalanya. "Terima kasih atas bantuannya, Tuan."


Langkahnya terhenti, dan petani itu menatap mereka berempat. "sebaiknya kalian berhati-hati di sini. sudah beberapa lama ini, banyak sekali anak-anak yang menghilang dari desa. Itulah penyebab kenapa warga desa menjadi sangat ketakutan, dan tidak membiarkan anak-anak mereka untuk bermain ke luar rumah," jelas sang petani.


"Benarkah?" tanya Yuki.


Petani itu menatap Nori-san. "Tadi ... kau mengatakan bahwa kau sudah mengetahui semua cerita tentang Yusuke. Itu artinya kau juga sudah tau cerita tentang iblis itu, 'kan?"


"Ya, tentu saja," jawab Nori-san singkat.


"Aku tidak tahu kenapa kalian mau menemui Yusuke, dan sebenarnya aku juga tidak mau tau soal itu. Tapi, sebaiknya kalian tidak terlibat terlalu dalam dengan masalahnya. Berhati-hatilah," ujar sang petani yang mulai menuruni tangga selangkah demi selangkah.


"Sayangnya kami sudah terlibat terlalu dalam," gumam Nori-san dalam hati.


"Kami mengerti, Tuan. Terima kasih atas nasehatnya," Yuki kembali menundukkan kepala.


"Anak yang ramah ...," gumam petani itu dalam hati, menatap Yuki.


"Baiklah kalau begitu, aku kambali dulu ke desa, ya. Selamat tinggal," ujarnya yang kemudian berjalan pergi.


Sepeninggal sang petani, akhirnya mereka pun berjalan menuju gubuk itu.


Sesampainya di sana, Yuki langsung mendekati pintu masuk, lalu mengetuknya.


TOK..TOK..TOK ...


.


.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2