NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KEBENARAN YANG MULAI TERUNGKAP (Part 3)


__ADS_3

"Karena itulah aku meminta Nori-san untuk menyembunyikan mobilnya dari kejauhan, supaya kau mengira bahwa kami sudah pergi dari sini. Sedangkan kami bertiga bersembunyi di belakang mobilmu sampai kau datang kemari," jelas Yoshino-san.


"Ka-kau ...!" ucap Tomo-san terbata-bata.


Tak lama kemudian, Nori-san datang dan memarkirkan mobilnya di tengah-tengah jalan.


"Kenapa kau mengambil kitab itu, Tomo-san? Apa yang kau inginkan dari kitab itu?" tanya Nori-san.


"I-ini bukan urusan kalian! Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian di sini!" Wajah Tomo-san terlihat gugup.


Nori-san turun dari mobilnya. "Kurasa kau sudah tahu alasan kenapa kami ada di sini," ucapnya.


"Tomo-san, apa karena saat itu aku mengatakan hal ini kepadamu sewaktu kita berada di kuil Sora?" tanya Yoshino-san.


Kilas balik ...


"Kami akan menemui Takamura-sama dan meminta bantuan darinya. Pastinya beliau tau cara untuk menyegel Naku Josei. Kau tahu itu, 'kan?"


"Itu tidak akan berhasil!" jawab Tomo-san dengan nada tinggi.


Yoshino-san menatap tajam. "Apa maksudmu?"


Wajah Tomo-san tiba-tiba saja terlihat grogi. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut tanpa menjawab apa pun.


"Dasar ... orang yang aneh."


*****


"Dari mana kau mengetahui tentang kitab ini?" tanya Yoshino-san.


"Tentu saja aku tahu, karena aku dan para biksu agung lah yang menyembunyikannya di sini!" Tomo-san mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya. "Lihat, bahkan Kotaro sensei mempercayakan kuncinya kepadaku."


"Kita tidak bisa berlama-lama di tempat ini, karena langit sudah semakin gelap. Begitu matahari terbenam, iblis itu pasti akan langsung menyerang kita semua! Jadi berikan kami kitabnya, Tomo-san!" pinta Yoshino-san.


"Untuk apa? Untuk menyegel Naku Josei, hah? Apa kalian tidak tahu, jika kalian menyegelnya menggunakan kitab ini, itu artinya kalian juga akan menghancurkan kitabnya!" tegas Tomo-san.


"Kami sudah tau semuanya! Jadi berikan sekarang juga! Waktu kita tidak banyak!" pinta Yoshino-san lagi.


"Aku tidak tahu apa maksudmu melakukan semua ini, Tomo-san. Tapi, saat ini kami sangat membutuhkan kitab itu. Jadi ... tolong berikan kepada kami sekarang juga!" tegas Nori-san, berjalan mendekat.


"Apa ini? Kenapa situasinya menjadi seperti ini? Tomo-san ... ada apa dengan dia sebenarnya ?" gumam Yuki dalam hati; keheranan melihat tingkah Tomo-san.


"Hah? Memberikannya kepada kalian? Haruskah aku? Ini bukan milik kalian!" ujar Tomo-san.


"Itu juga bukan milikmu!" bentak Nori-san.


"Hey hey hey ... kenapa kau membentakku seperti itu? Aku tidak mengerti, a-aku benar-benar tidak mengerti!" Tomo-san memasang wajah dengan mata yang melotot. "Selalu saja ... selalu saja kau! Kenapa kakek tua itu selalu menyanjungmu? Sebenarnya apa hebatnya kau!"

__ADS_1


"Apa maksudmu? Berikan kitabnya kepada kami sekarang juga!" Nori-san berusaha merebut kitab itu, tapi Tomo-san mengelak dan langsung mendorongnya sampai terjatuh.


"Tomo-san!" bentak Yoshino-san.


"Aku tidak akan memberikannya kepada kalian!" ucap Tomo-san sambil berlari memasuki mobil dan langsung mengunci pintunya.


Jack dan Yoshino-san mencoba untuk menghentikan mobilnya, tapi mereka tak sanggup, dan akhirnya dia pun berhasil melarikan diri.


"Biarkan saja. Dia tidak akan bisa lari dari kita," Nori-san mencoba bangkit. "Lihat, dia menuju ke arah yang salah. Ini adalah jalan menuju kuil Raion, dan di ujung sana tidak ada lagi jalan yang bisa dilalui oleh mobil. Karena itulah aku sengaja memarkirkan mobilku di tengah-tengah jalan, supaya dia tidak bisa melarikan diri," jelas Nori-san.


"Kalau begitu ... ayo kita kejar dia!" tegas Yoshino-san.


Mereka pun langsung menaiki mobil dan mengejar Tomo-san menuju kuil Raion.


Di dalam mobil, Yuki bertanya kepada Nori-san mengenai perilaku Tomo-san yang tiba-tiba saja seperti itu.


Nori-san mengatakan bahwa mungkin itu terjadi karena faktor kecemburuannya.


"Aku selalu mendapat pujian dari Kotaro sensei terhadap semua prestasiku selama berguru di kuil Raion. Mungkin karena itulah dia tidak menyukaiku," jelas Nori-san.


"Benar-benar tidak masuk akal. Dia melakukan semua ini hanya karena faktor cemburu?" tanya Yoshino-san.


"Entahlah, mungkin dia sudah gila. Dasar orang tua bodoh itu!" jawab Nori-san.


Saat itu, matahari sudah terbenam, dan langit sudah menjadi sangat gelap.


SYUUUUU ...


"Eh ... apa itu ?" dia dikejutkan oleh sesuatu yang terbang melintasi mobilnya.


Di saat yang sama juga, Nori-san mempercepat kecepatan laju mobilnya. Namun, tiba-tiba ...


BRUAK !


CKIIITT!! BRRSSS!


Suatu yang terbang sangat cepat itu menghantam kaca depan mobil. Hal itu membuat Nori-san kehilangan kendali dan akhirnya menabrak pagar pembatas jembatan, lalu mobil mereka terjun ke dalam sungai.


"Apa itu? Apa yang terjadi!" Nori-san mencoba untuk membuka pintu ketika air mulai menggenangi seisi mobil.


"Cepat keluar dari mobil!" teriak Yoshino-san.


"Aaaaaahhh ... Jack! Bagaimana ini, aku tidak bisa berenang!" ucap Yuki yang terlihat panik.


"Cepat bukan pintunya sebelum mobil ini tenggelam! Aku akan membawamu ke tepi sungai!" jawab Jack.


"A-aku tidak bisa! Aku takut, Jack!" teriak Yuki.

__ADS_1


Nori-san dan Yoshino-san berhasil keluar dari mobil dan berenang ke tepian sungai, sedangkan Jack dan Yuki masih terjebak di dalam mobil yang sudah mulai tenggelam.


"Oh my God ... Oh my God, Jack! Mobilnya tenggelam." Yuki semakin panik ketika air sudah mencapai lehernya.


"Bersiaplah, aku akan membuka pintu dan menarikmu keluar. Saat itu terjadi, tahanlah nafasmu selama yang kau bisa! mengerti?" tegas Jack.


Yuki hanya membalas dengan menganggukan kepalanya.


"Okay, here we go! Three ... two ... one!" Jack langsung membuka pintu mobil dan langsung menarik Yuki keluar. Dia berenang sambil menyeretnya menuju ke tepian.


Sesampainya mereka di pinggir sungai, Nori-san langsung menarik mereka berdua keluar dari air.


Hosh..hosh..hosh ...


"Apa itu tadi? Kenapa kita bisa jatuh ke sungai?" tanya Yuki dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Entahlah, tapi sesuatu yang terbang menabrak mobil kita dari depan. Kejadiannya terlalu cepat sampai aku tidak bisa mengingatnya," jawab Yoshino-san sambil memegangi kakinya yang kesakitan.


"Iblis itu ... dia ada di sini!" Nori-san melangkahkan kakinya. "Kita harus bergegas. Yoshino-san, apakah korek apinya masih berfungsi?" tanyanya.


Yoshino-san merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah korek api. "Ya, masih berfungsi," jawabnya.


"Baguslah, ayo ... kita pergi!" tegas Nori-san.


"Yoshino-san, apa kau baik-baik saja?" tanya Yuki; melihat Yoshino-san yang berusaha keras untuk berdiri.


"Sepertinya kakiku terkilir, tapi tdak apa-apa. Kalian tidak perlu memikirkanku. pergilah, aku akan menyusul kalian perlahan-lahan dari belakang," jawabnya.


"Baiklah."


Akhirnya ... Yuki, Jack, dan Nori-san berlari menuju kuil Raion. Sedangkan di waktu yang sama, terlihat Tomo-san yang sudah berada di area kuil.


"Orang-orang itu ... merepotkan saja !" gumamnya dalam hati sambil berlari menulusuri lorong koridor.


"Sial! kenapa firasatku menjadi tidak enak seperti ini? Sebaiknya aku bergegas masuk ke dalam kuil sebelum iblis itu- "


Tiba-tiba saja langkah Tomo-san terhenti ketika terlihat dari kejauhan sesosok wanita yang sedang berdiri, tepat di depan pintu masuk kuil.


"Celaka! sejak kapan dia ada di sana?"


.


.


*****


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2