
Siang itu mereka tiba di salah satu rumah sakit yang ada di Osaka. Mereka memasukan Yuki ke dalam ruangan perawatan untuk di periksa kesehatannya.
"Untung saja tidak ada cedera yang serius. Kau akan baik-baik saja," ujar dokter wanita itu.
Setelah memeriksa kesehatan Yuki dan mengganti perban lukanya, dokter itu pun melangkah menuju pintu keluar.
"Aku akan mengizinkanmu untuk keluar dari ruangan ini jika kau mau. Kau juga bisa keluar dari rumah sakit hari ini. Tapi ... saranku sebaiknya beristirahatlah sejenak untuk memulihkan tenagamu," ujarnya lagi sambil melangkahkan kakinya keluar, lalu menutup pintu.
Beberapa saat kemudian, Jack masuk ke dalam ruangan itu untuk menjenguknya.
"Hi, how is it going?" (Hey, bagaimana kabarmu?) sapa Jack.
"Good," (baik) jawab Yuki singkat.
Jack berjalan dan duduk di sebelah tempat tidurnya. Lalu tiba-tiba saja Yuki menggenggam tangan Jack.
"Jack ... aku ingin segera keluar dari sini. Aku merasa tidak betah," keluhnya.
"Tentu saja ... kau bisa keluar hari ini. Tapi beristirahatlah untuk malam ini saja. Besok pagi baru kita pergi dari aini."
Yuki menganggukkan kepalanya. Dia berusaha untuk bangun dan duduk.
"Eh ... tidur saja." Jack menahan bahunya.
Yuki membuat wajah Jack mendekatinya dengan cara menarik kerah jaket yang dia kenakan, lalu dia mencium bibirnya. Hal itu membuat Jack terkejut.
"Terima kasih, Jack," ucap Yuki sambil tersenyum.
Grogi dan terkejut, Jack hanya bisa bereaksi dengan senyuman dan berkata, "Ah, tentu saja."
*****
Sore itu, Jack menemani Yuki di sana. mereka berdua duduk bercerita selama berjam-jam mengenai hal apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Yuki mengatakan bahwa dia akan pergi untuk melihat keadaan nenek besok pagi, dan mungkin dia akan segera meninggalkan Jepang, karena masa cutinya yang hampir berakhir.
Malam harinya, Jack mengatakan bahwa dia akan keluar sebentar untuk mengambil makanan.
"Aku tidak akan lama. tunggu, ya," ujar Jack; berjalan keluar dari ruangan itu.
Di luar sana, Jack bertemu dengan Nori-san dan juga Yoshino-san yang sedang berdiri di aula rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yoshino-san.
"Dia baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Sepertinya kakimu terlihat membaik."
"Ya, sudah kubilang kakiku hanya terkilir. Memang masih terasa sakit setelah diobati, tapi setidaknya aku sudah bisa berjalan sedikit lebih normal," ujar Yoshino-san.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kami sudah memberikan semua kesaksian tentang kejadian di kuil Raion dan di hutan itu kepada kepolisian. Mereka akan melakukan investigasi tentang kasus ini," jelas Nori-san.
"Apa semua tengkorak yang ditemukan di sana itu adalah ...."
"Ya," sela Nori-san. "Tidak salah lagi ... Itu semua adalah korban anak-anak yang hilang. Menurut penyelidikan mereka, semuanya merupakan tengkorak anak kecil."
__ADS_1
"Apa kalian juga memberitahu mereka tentang Naku Josei?" tanya Jack lagi.
"Tentu saja tidak. Apa kau pikir mereka akan percaya dengan hal semacam itu!" jawab Nori-san.
Beberapa saat kemudian, beberapa polisi datang menghampiri mereka bertiga. Polisi itu mengatakan bahwa mereka akan sedikit mengintrogasi Jack dan Yuki, karena mereka berdua adalah orang asing atau berkewarganegaraan Amerika. Di tempat itu juga, Jack diberikan beberapa pertanyaan yang harus dia jawab, sedangkan Yoshino-san mengatakan bahwa dia yang akan mengantarkan polisi yang satunya lagi ke ruangan di mana Yuki dirawat.
Setelah mengambil makanan, Yoshino-san pun pergi bersama polisi itu ke lantai 4. Sama halnya dengan Jack, di sana Yuki juga diberikan beberapa pertanyaan.
Setelah mengambil semua data yang mereka perlukan, para polisi itu pun pergi.
Sebelum Yoshino-san melangkah keluar dari ruangan itu, Yuki bertanya kepada Yoshino-san tentang keadaannya.
"Aku baik-baik saja, lukaku tidak parah," jelas Yoshino-san.
"Yoshino-san, apakah aku bisa mengatakan sesuatu kepadamu? Tapi ini rahasia," pinta Yuki.
"Tentu saja. Apa yang ingin kau katakan?"
Kemudian Yuki menyuruh Yoshino-san untuk mendekat, lalu dia membisikan sesuatu ke telinganya.
"Baiklah ... aku mengerti," ucap Yoshino-san yang kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Di luar sana, dia berpapasan dengan Nori-san dan Jack.
"Sepertinya dia baik-baik saja," ujar Yoshino-san. "Oh ya. Besok pagi aku harus segera kembali ke kuil Sora. Bagaimana denganmu, Nori-san?"
"Aku juga akan kembali ke Kyoto. Sepertinya besok adalah perpisahan untuk kita semua, ya," balasnya.
*****
"Oh ya, sepertinya kau kehilangan kalung perkamenmu, Yuki-chan," ucap Nori-san.
"Ah, aku memberikannya kepada Aoi sewaktu kita di rumah sakit."
"Begitu, ya?" Nori-san melepaskan kalung perkamen yang dia kenakan di lehernya, lalu menyodorkannya kepada Yuki.
"Ini, ambilah. Aku akan memberikan punyaku kepadamu. Lagipula aku juga bisa membuat benda seperti ini sebanyak yang kuinginkan," tawar Nori-san.
Sejenak, Yuki menatap Nori-san, lalu dia berkata, "Ah, sepertinya aku sudah tidak membutuhkan benda seperti ini lagi. lagipula, ini semua sudah berakhir, Nori-san," tolaknya.
"Baiklah. Aku akan menyimpannya." Nori-san berjalan beberapa langkah, lalu dia membalikan badannya dan berkata lagi, "Aku akan menghubungi kalian jika seandainya aku berlibur ke Amerika," ujarnya. "Kalau begitu ... sampai nanti, ya."
Mereka pun berpisah di sana. Nori-san kembali ke Kyoto; Yoshino-san kembali ke kuilnya; sedangkan Jack dan Yuki pergi ke Hannan untuk menemui nenek Nadeshiko, bibi Miyako, dan Aoi.
Di sepanjang perjalanan, di dalam kereta itu, Jack hanya duduk melamun menatap ke luar jendela, sedangkan Yuki terlihat tertidur dengan bersandar di bahunya.
Sejenak, Jack termenung dan memikirkan tentang semua hal yang baru saja dia alami. Seakan-akan dia tidak mau percaya dengan hal tersebut. tapi di sisi lain, dia juga menerimanya.
'Semuanya sudah berakhir ... semuanya sudah berakhir.' Kalimat itu terus menerus terlintas di dalam benaknya.
Siang itu, mereka berdua pun tiba di rumah sakit tersebut. Di sana terlihat bibi Miyako dan Aoi yang sedang duduk di sebelah nenek yang masih telentang di atas tempat tidurnya. Yuki berlari; memeluk dan mencium pipi neneknya.
"Semuanya akan baik-baik saja, nek," ucap Yuki.
__ADS_1
Dia juga menceritakan semua hal yang terjadi kepada bibi Miyako. Mereka semua duduk dan bercerita sampai menjelang sore. Yuki mengatakan kepada bibi Miyako dan neneknya bahwa dia dan Jack akan kembali ke Amerika lusa nanti.
"Baiklah, aku akan menjaga ibu di sini. Keadaannya pun sudah mulai membaik. Mungkin beberapa hari ke depannya ibu sudah bisa keluar dari rumah sakit; aku akan membawanya untuk tinggal bersama kami di distrik ini," ujar bibi Miyako.
*****
Waktu pun berjalan terasa cepat. Sudah tiga hari sejak peristiwa penyegelan itu.
Dua hari sebelumnya, Yuki dan Jack sudah memesan tiket penerbangan mereka, dan pagi itu, mereka berdua sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara.
"Maaf aku tidak bisa mengantar kalian ke bandara, Yuki-chan," ungkap bibi Miyako.
"Tidak apa-apa, Bi." Yuki memeluk bibinya dan membisikan sesuatu ke telinganya. Bisikan Yuki itu tidak bisa di dengar oleh Jack karena jarak mereka yang terpaut beberapa meter.
Lalu dia juga berjalan ke arah nenek Nadeshiko; memeluk dan mencium keningnya. "Selamat tinggal, Nek," ucapnya yang kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut bersama Jack.
Di dalam perjalanan menuju bandara, Jack bertanya kepada Yuki tentang hal apa yang dia bisikan kepada bibi Miyako.
"Kau tahu ... kau membuatku penasaran," ucap Jack.
"Bukan apa-apa. Aku hanya membisikan kalimat perpisahan kepadanya," balas Yuki sambil tersenyum.
Pukul 1:15 PM.
Mereka akhirnya tiba di bandara internasional Osaka. Sambil menunggu waktu penerbangan, Jack dan Yuki pergi ke sebuah restoran terdekat untuk makan siang.
Sesekali Jack menatap wajah Yuki dengan tatapan aneh. Jack kebingungan melihat prilaku Yuki yang sedikit berubah dari sebelumnya. Dia merasa bahwa sejak peristiwa itu, Yuki jadi terlihat lebih riang dan banyak tersenyum. Sekilas dia juga mengingat kejadian saat Yuki menciumnya di rumah sakit. Entah kenapa, tapi hal itu membuat Jack menjadi bingung.
"Apa dia juga menyukaiku ?" batin Jack.
Dan lagi, Yuki hanya membalas tatapan Jack itu dengan senyuman di wajahnya.
Yuki menatap balik ke arahnya. "Aku senang ... karena semuanya sudah berakhir, Jack. Sekarang sudah tidak ada hal lain lagi yang perlu kukhawatirkan."
"Benarkah itu?" tanya Jack.
"Tentu saja ...."
Sejenak, Yuki terdiam, lalu tiba-tiba saja dia menepuk jidatnya sendiri karena suatu hal yang terlintas di pikirannya.
"Ah, tentu saja ada hal lain lagi, astaga! Aku tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak pekerjaanku yang menumpuk ...," ucapnya sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Ha..ha..ha ... seperti kita baru saja berhadapan dengan hal yang lebih menyebalkan, ya ...," sindir Jack.
Siang itu, mereka berdua mengobrol satu sama lain. Sekali lagi, Jack membuat lelucon-lelucon konyolnya itu, dan mereka berdua tertawa bersama.
Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya take off, dan memulai perjalanan pulang ke Amerika.
Di sepanjang perjalanan, Yuki hanya terlihat duduk melamun sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan yang amat kosong.
.
.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG ...