
"... 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Aku datang!" teriak Yuki kecil yang mulai berjalan mencari mereka.
"Huuufft ... mereka bersembunyi di mana, ya?"
"Touka! Rin! Hinami!" serunya.
Yuki berjalan di antara semak-semak yang berduri sambil meneriaki nama teman-temannya. Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti ketika dia melihat sebuah gua yang sangat besar di depannya. Yuki pun melangkahkan kakinya masuk kedalam gua tersebut.
Tak jauh dari mulut gua, di mana tempat dia berdiri, terdengar di sana, suara ribut anak-anak yang seperti sedang tertawa; yang sedang bernyanyi; yang sedang menangis; yang sedang berbincang satu sama lain; dan suara gaduh lainnya.
Hal itu membuat Yuki bertanya-tanya di dalam hati. "Apa ada yang sedang mengadakan pesta si dalam gua ini ?"
"Teman-teman! Apa kalian semua ada di sini? Menyahutlah jika kalian ada di sini!" seru Yuki.
Cplak ... Cplak ... Cplak ...
Dia terus berjalan menelusuri lorong gua yang kini sudah tergenangi oleh air hujan.
GLUDUK ... GLUDUK ...
"Eh ... di luar hujan, ya ?"
Gemuruh petir yang menderu-deru dan hujan yang turun dengan deras, membuat suara gaduh itu menjadi redup di telinga Yuki, sampai akhirnya menghilang dari pendengarannya.
Cplak ... Cplak ... Cplak ...
"Uh ... bau sekali di sini !" gerutunya yang mulai mencium bau busuk yang sangat menyengat.
Dia terus melangkahkan kakinya ke depan, sampai dia menembus gua tersebut dan keluar di satu sisi yang lain.
JRREESSSSS ...
"Riiinn ... Touka ... Hinami ... di mana kalian? Ayo pulang, sudah hampir malam!"
Yuki mencoba memanjat sebuah batu yang licin untuk keluar dari area tanah yang melekuk itu, namun kakinya tergelincir ketika dia mencoba untuk meraih sebuah gumpalan rumput yang ada di atasnya.
BRUAK ...
Tubuhnya terjatuh di atas kubangan air lumpur itu. Namun yang dia rasakan, bukanlah seperti di atas kubangan air, melainkan seperti terjatuh di atas tubuh seseorang.
JDAARRR! KRRRRR ...
DEG!
Cahaya petir yang menerangi sekitaran kubangan itu, memperlihatkan tumpukan tubuh anak kecil yang saling tindih di depan matanya.
Sontak dia kaget dan terjatuh ke belakang.
"Rin ... Touka ... Hinami!" Yuki terlihat semakin ketakutan ketika dia melihat ketiga temannya yang juga ada di tengah-tengah tumpukan mayat yang terlihat kurus dengan dada mereka yang berlubang.
Jantung Yuki berdegup semakin kencang saat mayat-mayat itu mulai membuka mata mereka, dan menatap ke arahnya.
TOLONG KAMI ... KUMOHON, TOLONG KAMI!
detak jantungnya semakin kencang dan semakin kencang, dengan nafasnya yang mulai terengah-engah.
Hosh ... hosh ... hosh ...
.
.
TEEEETTTTT ...!!!
"Sial! Kenapa anjing itu tidak mau menghindar dari jalan!"
Bunyi klakson mobil yang sangat kuat, membuat Yuki membuka mata dan terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Keluarlah dan usir dia," suruh Nori-san yang duduk di sebelah kanan Yuki.
Yoshino-san pun keluar dari mobil untuk mengusir anjing yang menghalangi jalan. "Uh ... merepotkan saja," gerutunya
"Ah ... kau sudah bangun, ya? Sepertinya aku sudah membangunkanmu, Yuki-chan," ucap Yoshino-san sambil memasuki mobil kembali.
"Tidak apa-apa ... sepertinya aku juga tertidur," jawab Yuki. "Oh ya, Nori-san. Kupikir kau yang menyetir mobil."
"Ya, tadinya memang aku, tapi kami bergantian saat kau masih tidur," jelas Nori-san.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Di sepanjang perjalanan itu, Yuki bertanya kepada Nori-san tentang keberadaannya di Hannan yang tiba-tiba saja muncul di rumah bibi Miyako.
Nori-san mengatakan kalau dia mengetahui keberadaan Yuki dari bibi Amai yang meneleponnya.
"Amai memberitahu bahwa kau sedang berada di jepang dan telah membawa bibi Nadeshiko ke Hannan. Hal yang pertama kupikirkan adalah ... pasti kau akan pergi ke rumah Miyako setelah mengantar bibi ke rumah sakit," jelas Nori-san.
"Jadi ... seperti itu, ya? baiklah ...." ujar Yuki.
Selain bercerita tentang keberadaannya di Hannan, Nori-san juga memperingati Yuki akan betapa berbahayanya Naku Josei, dan cara pertama yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan iblis itu.
Pukul 2:45 PM.
Obrolan mereka yang panjang itu, membuat waktu terasa bergulir sangat cepat. Sampai akhirnya mereka pun tiba di desa Kaze.
Yoshino-san memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang sebuah kuil. "Kita sudah sampai. Kurasa ini kuilnya," ujarnya.
Mereka pun turun dan berjalan memasuki kuil tersebut. Di sana ... terlihat beberapa biksu yang sedang berdiri di depan pintu kuil.
Nori-san bertanya kepada mereka tentang Takamura-sama, biksu agung yang ada di kuil ini. Para biksu itu pun mempersilahkan mereka semua untuk masuk menemui sang biksu agung secara langsung.
"Tunggulah di dalam, aku akan memanggil beliau," ucap seorang biksu di sana.
Beberapa saat setelah mereka menunggu, seorang biksu tua berjalan mendekati mereka. "Apa ada yang bisa kubantu untuk kalian?" ujarnya.
Tanpa basa-basi, Nori-san langsung melompat ke inti pembicaraan, dan menceritakan semuanya kepada Takamura-sama tentang semua hal yang telah terjadi, termasuk mengenai Naku Josei.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Nori-san, wajah Takamura-sama terlihat murung. "Jadi ... Itu yang terjadi, ya?"
"Bisakah kau membantu kami, Takamura-sama? Kau adalah satu-satunya orang yang masih hidup di antara para biksu agung yang terlibat dalam penyegelan itu," pinta Nori-san.
"Ya, tolong bantulah kami. Kumohon," timpal Yuki.
"Sebenarnya aku tidak yakin kalau semua ini akan berhasil," ucap Takamura-sama.
"Apa maksudmu?" tanya Nori-san.
"Akan panjang jika kuceritakan, dan aku tidak yakin kalau kalian akan percaya dengan ceritaku ini."
"Kami akan mendengarkannya. Jadi, kumohon ...," pinta Yuki dengan nada lirih.
Takamura-sama terlihat menghela nafas, kemudian dia pun mulai bercerita.
"Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat, mereka mengatakan bahwa Naku Josei adalah salah satu wanita yang pernah tinggal di desa Yume. Wanita itu bernama Hanako Tatsumaki. Berdasarkan cerita itu, Hanako diperkosa sebelum akhirnya dia dibunuh dengan cara di gantung menggunakan tali tambang. Sedangkan jasad kedua anaknya di temukan mengambang di danau Shinu. Mungkin, karena kejadian mengerikan itulah yang membuat arwah Hanako tidak tenang dan akhirnya dia pun gentayangan. Dia selalu terdengar seperti sedang menangis setiap kali seseorang bertemu dengannya. Karena itulah dia dikenal dengan sebutan 'Naku Josei' ...."
"Lalu ... bagaimana dengan suaminya?" sela Nori-san yang kemudian berkata lagi, "Kotaro sensei pernah mengatakan, bahwa selain dia mempunyai dua anak, Hanako juga mempunya seorang suami yang masih hidup. Aku tidak yakin kalau dia masih ada sekarang ini, tapi- "
"Dia masih ada! Dia masih hidup sampai sekarang ini," Takamura-sama menatap tajam ke arah mereka. "Pria tua itu bernama 'Yusuke', dan dia masih tinggal di desa Yume sampai saat ini. Dia menjadi gila setelah mendapat kabar bahwa istri dan kedua anaknya telah mati. Lalu dia mulai menyendiri dan tinggal di sebuah gubuk di atas bukit. Itulah yang dikatakan warga desa Yume tentangnya. Tapi ... aku ragu, aku ragu dengan semua cerita itu."
"Ragu? Tentang apa?" tanya Yoshino-san.
Takamura-sama mulai berdiri dari tempat duduknya. "Tentang semua cerita yang beredar itu. Tentang kisah Hanako dan kedua anaknya; perampokan; Yusuke yang menjadi gila; semua cerita itu terdengar ambigu di telingaku. Entah apa yang membuatku meragukannya, tapi firasatku mengatakan seperti itu." jelas Takamura-sama yang kemudian melangkahkan kakinya.
"Kau mau pergi kemana, Takamura-sama? Apa kau tidak mau membantu kami?" Nori-san membuat langkahnya terhenti.
Takamura-sama membalikan badannya. "Sebaiknya kalian kembali saja ke kota. Tidak ada lagi yang bisa kubantu mengenai hal ini." ungkapnya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah kau pernah menyegel Naku Josei? Kau 'kan mengetahu caranya, setidaknya beritahu kami!" ucap Yuki dengan nada membentak.
"Yuki! Kendalikan dirimu!" Nori-san memarahinya.
"Heemmm ... Yuki? Jadi kau anak gadis yang dibicarakan oleh Kotaro kepadaku, ya?" Takamura-sama berjalan mendekati Yuki. "Baiklah, aku akan membantu, tapi kalian sendiri lah yang akan melakukannya."
"Gadis yang dibicarakan oleh Kotaro sensei ?" batin Nori-san yang bertanya-tanya.
"Baiklah ... beritahu aku caranya!" tegas Yuki.
Takamura-sama kembali duduk di tempatnya. "Jujur saja, aku tidak mengingat sama sekali mantra yang kami gunakan saat menyegel Naku Josei enampuluh enem tahun yang lalu. Itu sudah terlalu lama untuk bisa kuingat. Tapi ... supaya mantra itu tidak hilang, kami menuliskannya ke dalam sebuah kitab."
"Kitab?" sela Nori-san.
"Ya, lalu setelah itu, kami menaruhnya di dalam peti dan menyembunyikannya di dalam sebuah biara kecil yang tak jauh dari kuil Raion," jelas Takamura-sama.
Yoshino-san terkejut mendengar ucapannya itu. "Apa yang kau maksud itu, biara yang berada di ujung jembatan Han'ei?" tanyanya.
"Kau tahu letak biara itu, ya? baguslah, kalau begitu aku tak perlu repot-repot menjelaskannya. Pergilah ke sana, sebelum iblis itu menemukannya lebih dulu. Dan satu lagi, berhati-hatilah ... karena ini sudah sore, dan tak lama lagi malam akan menjelang."
Selain memberitahu tentang kitab mantra itu, Takamura-sama juga menjelaskan bagaimana cara mantra itu bekerja, dia menjelaskan semuanya secara terperinci.
"... Setelah itu, sesegera mungkin kalian harus membakar kitabnya sampai menjadi abu, maka ... jiwanya akan tersegel untuk selamanya."
Setelah mendengar semua penjelasan dan nasehat panjang lebar dari Takamura-sama, mereka pun berpamitan untuk pergi menuju biara tersebut.
Sore itu, Pukul 4:10 PM.
Setelah berpamitan, mereka semua berjalan keluar dari kuil menuju mobil. Sedangkan Nori-san masih terlihat di depan pintu kuil bersama sang biksu agung itu.
"Kalau begitu, aku pamit ... Takamura-sama." Nori-san menundukkan kepalanya, kemudian berjalan.
"Dia bisa menyerang siapa saja," ucap Takamura-sama yang membuat langkah Nori-san terhenti.
"Maaf ... apa yang baru saja kau katakan?" tanya Nori-san.
Takamura-sama memasang wajah yang serius. "Iblis itu ... dia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli itu anak-anak, remaja, maupun orang dewasa; wanita maupun pria; dia akan menyerang siapa saja yang berani menghalangi atau ikut campur dengan urusannya. Luka ini ... adalah bukti bahwa pernyataanku ini bukanlah hanya sebuah omong kosong belaka," ujarnya sambil menunjukan bekal luka robek yang ada di tangan kirinya.
Ucapannya itu membuat Nori-san mengingat kejadian di rumah sakit, ketika Naku Josei hendak menyerangnya secara langsung.
"He..he..he ... Ini lucu sekali. Kenapa tiba-tiba saja aku jadi mengingat wasiat dari mendiang istriku dulu. Sangking cintanya dia kepadaku, sampai dia memintaku untuk segera menemuinya di sana," ujar Takamura-sama.
"A-apa maksudmu?" Nori-san terlihat kebingungan.
Takamura-sama menenggakan kepalanya ke atas. "Sebelum istriku meninggal, dia memberiku sebuah amplop. Tapi amplop itu tidak pernah kubuka sampai akhirnya istriku meninggal.
Dua hari setelah kepergiannya itu, barulah aku memutuskan untuk membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat uang 500 Yen dan sebuah surat yang tertulis."
Takamura-sama terdiam sejenak dan mulai tersenyum, lalu dia berkata lagi, "kau tahu apa yang ditulis olehnya, Nori-san? Di dalam tulisan itu, istriku mengatakan bahwa aku harus menggunakan uang 500 Yen tersebut untuk membeli sebuah tali tambang, lalu menggantung diriku sendiri menggunakan tali itu. He..he..he ... aku jadi mulai merindukannya," ujarnya sambil tertawa, lalu berjalan memasuki kuil.
"Ta-Takamura-sama ... kau- "
"Nori-san! Apa yang sedang kau lakukan di sana? Cepatlah!" seru Yuki dari pintu gerbang kuil.
"Baiklah ... aku datang!" sahut Nori-san, berjalan menuju mobil.
"Apa yang Takamura-sama katakan padamu, Nori-san?" tanya Yuki.
"Ah ... bukan apa-apa. Ayo kita pergi dari sini," jawab Nori-san sambil berjalan memasuki mobil.
.
.
*****
BERSAMBUNG ...
__ADS_1