NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
HAL YANG KEMBALI TERJADI


__ADS_3

Los angeles - East California.


Pukul 7:10 PM.


James terlihat sedang duduk di depan monitor komputernya. Dari kerumunan para pegawai yang sedang lalu lalang itu, terlihat Jack yang berjalan mendekatinya.


"Hey, ada apa?" James menyapa lebih dulu.


"Ah, tidak ada apa-apa." Jack terdiam sejenak, lalu berkata lagi, "Sebenarnya aku ingin bertanya, apa kau melihat Yuki akhir-akhir ini?" tanyanya.


"Eh? bukannya dia sedang ambil cuti untuk pergi ke Jepang?"


"Kalau soal itu aku juga tahu, karena kami berdua pergi ke Jepang sama-sama, dan kami sudah kembali dari sana seminggu yang lalu," jelas Jack.


"Lalu?"


Jack menyandarkan bahunya ke tembok. "Karena itulah aku bertanya padamu, apa kau melihatnya akhir-akhir ini? Karena sejak kami kembali dari Jepang, dia tidak pernah masuk kerja."


"Mungkin dia ambil cuti lebih lama, atau berhenti bekerja untuk sesaat karena ada alasan tertentu ... mungkin, itu cuma pendapatku."


"Tidak, karena menejer juga menanyakan tentangnya kepadaku. Nomor ponselnya juga tidak bisa dihubungi," jelas Jack.


"Apa kau sudah mendatangi apartemennya?"


"Sudah, tapi sepertinya apartemen itu kosong. Mobilnya pun tidak ada di tempat parkir." sejenak, Jack terdiam untuk berfikir.


"Mungkinkah dia pindah apartemen?"


"Kalau memang seperti itu, kenapa dia harus mematikan ponselnya? Seakan-akan dia tidak mau dihubungi oleh siapa pun," ucap James.


"Huufft ... baiklah kalau begitu. Tolong hubungi aku jika kau bertemu atau melihatnya, ya," ujar Jack yang kemudian berjalan pergi.


Malam itu, Jack pergi ke lantainya untuk mengambil tas dan jaket, lalu pergi keluar dari gedung. Jack berlari menuju tempat parkir sambil menutupi kepalanya dengan tasnya karena hujan yang turun begitu deras.


Setelah menaiki mobil, dia hanya duduk melamun sambil memikirkan di mana Yuki dan ke mana dia pergi. Apa benar dia pindah apartemen? Pikir Jack berulang-ulang.


Secangkir kopi mungkin akan membuat pikirannya terbuka, karena itulah dia berniat untuk singgah ke salah satu cafe terdekat. Namun tak lama kemudian, sesaat sebelum dia menyalakan mobilnya, tiba-tiba saja ponsel Jack berdering. Dia merogoh sakunya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Yuki ?"


"Hey! kau ada di mana? Kenapa kau baru menghubungiku sekarang? Dan kenapa kau mematikan ponselmu?" tanya Jack.

__ADS_1


"Maaf, Jack. sebenarnya selama ini aku memang ada di apartemenku, cuma ... aku hanya tidak ingin keluar saja. Badanku terasa tidak enak," jelas Yuki.


"Alasan yang tidak masuk akal," batin Jack.


"Tapi kenapa sampai harus mematikan ponsel? Menejer menanyakanmu, tahu! Apa kau sudah tidak mau lagi bekerja di sini? Kau bisa dipecat kalau kau tidak masuk kerja dalam selang waktu yang panjang tanpa ada kabar apa pun!" tegas Jack.


"Aku baru saja menelpon menejer dan memberitahunya soal ini. Tidak perlu khawatir."


"Dasar kau ... jadi selama ini kau mengabaikanku setiap kali aku datang ke apartemenmu, hah!"


"Maafkan aku ... besok aku akan mulai masuk kerja lagi."


"Baiklah kalau begitu. Besok pagi kita bertemu di tem--"


"Jack ... bisakah kau datang ke rumahku sekarang?" pinta Yuki tiba-tiba.


"Sekarang?"


JDAAARR!!! GRESSSSSS ...


Hujan turun semakin deras; petir menggelegar kuat. Jack mulai menyalakan mobilnya dan mulai menancap pedal gas.


"Ada yang ingin kukatakan padamu, Jack," ucap Yuki.


"Baiklah ... aku akan tiba di sana dalam waktu sepuluh menit," ucap Jack.


Di waktu yang sama; desa Kaze, Pukul 11:15 AM.


Nori-san dan Chiou-sama berjalan memasuki perpustakaan tersebut. Di antara beberapa deretan rak-rak buku di sana, Chiou-sama mengarahkan Nori-san ke salah satu rak buku yang ada di sudut ruangan itu. Di sana ada sebuah lemari kecil yang terlihat sudah sangat tua.


Chiou-sama membuka lemari itu dan mengeluarkan sebuah tas yang berisikan beberapa buku tua; dia mengambil salah satu buku yang ada di dalam tas tersebut. Buku itu hanya terdiri dari beberapa halaman saja, tapi juga terlihat tebal karena ukuran kertasnya yang berbeda dengan buku-buku yang lainnya.


Chiou-sama menyodorkan buku tersebut kepada Nori-san. "Ini dia bukunya. mungkin kau akan mendapatkan sebuah jawaban setelah membaca buku ini," ujarnya.


Tanpa berfikir panjang, Nori-san langsung duduk di kursi dan meletakan buku tersebut di atas meja; dibukanya buku itu dan dibaca olehnya.


Sementara itu, di kuil Sora. Yoshino-san terlihat memasuki kuil dengan sebuah jerigen bensin yang digenggam di tangan kanannya. Tidak ada seorang pun di dalam sana. Para biksu yang lain sedang duduk bercerita di halaman samping kuil.


Yoshino-san menutup pintu kuil rapat-rapat dan menguncinya, kemudian dia menyirami setiap sudut ruangan dan setiap benda yang ada di dalamnya menggunakan bensin.


Bau bensin yang sangat menyengat, tercium dengan jelas sampai ke luar kuil.

__ADS_1


"Uuh ... Tomaro-san, apa kau juga mencium bau ini?" tanya salah seorang biksu di sana yang mulai menyadari hal tersebut.


"Ya, sepertinya dari arah kuil," jawabnya.


*****


Nori-san terlihat sedikit terkejut setelah dia membaca setengah dari buku itu. Sejenak dia terdiam dan berfikir.


"Ini ...."


"Aku sudah membaca keseluruhan buku ini, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kumengerti, bahkan Takamura sendiri tidak memahami apa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat itu," ujar Chiou-sama.


Beberapa saat kemudian, Nori-san menutup buku tersebut dan berdiri dari tempat duduknya.


"Chiou-sama ... bolehkah aku meminjam buku ini? Ini sangat penting!" pinta Nori-san.


"Tentu saja ...."


"Terima kasih. Kalau begitu, aku harus segera kembali ke kota."


Chiou-sama berdiri dari tempat duduknya; berjalan mendekati Nori-san dan menggenggam tangannya. "Kau harus cepat! Iblis itu telah melakukan hal yang sama kepada kemenakanmu itu, persis seperti apa yang telah ia lakukan terhadap Maiko. Hal ini akan terus berlanjut sampai ada seseorang yang bisa menghentikannya. Nori-san, ini semua belum berakhir; ini semua hanyalah sebuah permulaan!"


Segera Nori-san berlari keluar dari perpustakaan itu menuju gerbang kuil; menaiki mobilnya dan langsung menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi.


Di sisi lain, Jack akhirnya tiba di depan gedung apartemen. Dia berjalan masuk ke dalam lift menuju lantai di mana Yuki berada. Sesampainya dia di sana, Jack mengetuk pintu apartemen, dan tak lama kemudian seseorang membukakan pintu dari dalam.


"Hey ... masuklah," ucap Yuki, memeluk Jack. "Maaf karena selama ini aku mengabaikanmu. Jangan marah, ya ...."


Hanya terlihat senyuman kecil dari wajah Jack saat dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia melemparkan jaketnya di atas sofa dan kemudian duduk di sana.


"Kupikir kau sedang pergi ke luar kota, atau memang pindah ke apartemen lain. Kau ini ... keterlaluan," omel Jack.


Yuki tersenyum ke arahnya. "Apa kau mau minum coklat panas?" tawarnya.


"Ide yang bagus," jawab Jack.


Selagi Jack menunggu di sana, Yuki berjalan ke belakang untuk membuatkan Jack secangkir coklat panas. Tapi selain itu, dia juga mengambil sebilah pisau dapur dan menyelipkannya di belakang bajunya. Sesekali Yuki menoleh ke arah Jack yang terlihat sedang asik memainkan gim di sofa.


.


.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG ...


__ADS_2