NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
MENCARI PERTOLONGAN


__ADS_3

TOK.. TOK.. TOK...


ketukan itu terjadi sampai tiga kali tanpa adanya suara sahutan dari balik pintu.


"Apa yang harus kulakukan, Nori-san?" tanya Izumi.


"Biarkan saja, jangan terpengaruh." wanita yang bernama Nori itu menyuruh Izumi untuk duduk kembali, dan mereka melanjutkan doanya.


Mereka terus berdoa tanpa henti, dan suara doa mereka itu semakin kuat ketika terdengar suara ketukan di jendela yang kemudian suara ketukan itu berubah menjadi suara gedoran yang sangat kuat.


DUK.. DUK.. DUK!


.


.


YUKI-CHAN ...


DEG!


Sosok wanita bergaun putih yang tinggi sekali terlihat dari balik jendela itu. Wanita itu menunduk dan tersenyum lebar kepada Yuki dengan wajahnya yang menyeramkan.


AAAAAAAHHH!!


Teriakan Yuki membuat semua orang terkejut.


"Tutup matamu! Jangan lihat dia!" teriak Nori-san.


Yuki pun menutup matanya sebisa mungkin. tapi entah kenapa, matanya terasa susah untuk di pejamkan karena suara ketukan di jendela itu.


Nori-san berjalan mendekati Yuki dan berkata, "Jangan lihat dia! Kami juga merasakan kehadirannya walaupun tidak bisa melihatnya. Apapun yang terjadi, jangan pernah buka matamu, Yuki-chan!"


YUKI-CHAN.. YUKI-CHAN.. YUKI-CHAN ...


Suara itu terus menerus menggema di telinganya. Yuki mencoba menutup telinganya dan menunduk, sementara mereka terus berdoa.


Izumi yang tak kuasa melihat keadaan anaknya itu langsung memasuki area di mana Yuki duduk dan langsung memeluknya.


"Ibu ... aku takut!" Memeluk ibunya dengan erat.


"Katakan kepada ibu, Di mana kau melihatnya, Yuki-chan?" tanya Izumi.


Yuki menunjukan jarinya ke arah jendela tanpa membuka mata.


Izumi langsung berdiri mengambil garam dan membuka jendela itu. Sambil melemparkan garam ke luar, dia berteriak dengan kuat. "Jangan ganggu anakku, siapa pun kau! Tinggalkan dia! Pergilah! Pergi!"


Teriakan Izumi membuat Yuki Sedikit membuka mata untuk melihat keadaan. Mereka menarik Izumi dan menutup kembali jendelanya. Situasi saat itu benar-benar kacau. Yuki tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Lantunan doa itu membuat Kepalanya pusing. Suara ribut mereka itu tiba-tiba saja meredup di telinganya, dan jantungnya terasa berdetak pelan sekali. Lalu, dia menutup matanya.


Dan semuanya menjadi hening.


******


"Hangat sekali, tangan siapa ini ?"


YUKI-CHAN ... YUKI-CHAN ...


Terdengar suara seseorang yang menyebut namanya berulang-ulang.


Cahaya matahari yang silau, membuat mata Yuki perih saat dia membuka mata.


"Ibu?" Yuki memandang wajah seseorang yang sedang memeluknya itu.


tidak terlihat jelas karena wajahnya yang terhalangi oleh rambut.


Dia mengelus kepala Yuki sambil bernyanyi menggunakan bahasa Jepang. Tidak begitu jelas apa yang dinyanyikannya, tapi terlihat dia seperti sedang menangis.


"Ibu? Kau bukan ibuku, ya?" tanya Yuki.


Wanita itu tidak menjawabnya, melainkan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sebuah danau yang berada di depan mereka.

__ADS_1


Di danau itu, terlihat tubuh dua orang anak kecil yang sedang mengambang di atas air yang dangkal. Wanita itu mengangkat Yuki dan berjalan menuju danau tersebut.


Dia meletakan Yuki di antara kedua tubuh anak kecil yang berkulit pucat itu, lalu dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya.


HIKS.. HIKS.. HIKS..


Wanita itu mulai menangis dan berjalan mendekati anak yang berada di samping Yuki itu, lalu menaruhnya di pangkuannya.


Dengan tangisan yang semakin kuat, dia mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang pisau itu dan mengarahkannya kepada anak itu.


JLEB ! JLEB ... CRAT!


Suara tusukan bertubi-tubi itu terdengar di telinganya. Yuki yang tak kuasa untuk melihat hal itu, berusaha untuk memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ingin menangis rasanya, tapi tak bisa.


Ingin berdiri, tapi tubuhnya terasa berat.


Suara tangisan yang begitu kuat itu, kini tiba-tiba saja berhenti.


Lalu, ketika Yuki mencoba untuk menolehkan kembali wajahnya, dia terkejut karena wanita itu sudah berada tepat di sebelahnya dengan pisau yang bersimbah darah.


Wanita itu tersenyum ke arahnya, namun kemudian senyuman itu berubah menjadi tangisan yang lirih.


Tubuhnya terasa kaku dan tak bisa bergerak ketika wanita itu mulai menaruh kepala Yuki di pangkuannya.


Jantungnya mulai berdebar kencang saat tetesan darah dari pisau itu menetes di wajahnya.


"Ibu ... ayah ...." Yuki menyebut nama kedua orangtuanya dengan terbata-bata.


Pandangan Yuki tiba-tiba saja menjadi kabur, kepalanya terasa berat, dan suara dari wanita itu yang terus-menerus membisikkan namanya, menggema di telinganya.


YUKI-CHAN.. YUKI-CHAN..


Kemudian semuanya menjadi gelap.


******


"Tetaplah berdoa dan abaikan saja suara itu!" suara nenek membuat Yuki terkejut membuka mata.


"Gelap sekali ...."


Yuki tidak bisa melihat apa pun karena sebuah kain yang terikat menutupi matanya.


IBU!


"Jangan buka ikatannya! Tetaplah menunduk!" teriak nenek.


Yuki tidak tau apa yang sedang terjadi, tapi dia merasa seperti sedang berada di dalam mobil yang tengah melaju kencang.


Ya, seperti sedang berada di dalam mobil yang sedang melaju di atas jalan yang tidak rata.


"Mark, apa kau tidak bisa mengendarai mobil dengan benar!" terdengar suara Izumi di sebelah kanan Yuki.


"Mark? Ayah ?"


"Ayah!" teriak Yuki, menangis.


"Aku ada di sini, tenanglah, sayang, kau akan baik-baik saja," jawab ayahnya.


"Aku takut, Ayah! Kenapa mataku diikat seperti ini?" Yuki mencoba untuk berdiri, tapi Izumi menahannya.


"Yuki, tenanglah sedikit!" Izumi menarik tangan Yuki dan membuatnya duduk kembali.


"Ibu, apa yang sedang terjadi? Kenapa kita ada di sini?"


"Saat ayahmu kembali, Kami semua langsung membawamu yang sedang dalam keadaan pingsan pergi dari desa. Mereka bilang bahwa situasinya akan semakin memburuk jika kami tidak segera membawamu pergi," jawab Izumi, memeluk Yuki.


"Aku takut, Ibu!" lirih Yuki, menangis.

__ADS_1


"Kau akan baik-baik saja, Nori-san akan membawa kita ketempat yang lebih aman," Ujar Izumi, menenangkan anaknya.


Saat itu, ada empat orang di dalam mobil bersama Yuki.


Ibunya dan neneknya berada di kursi belakang bersama Yuki, sedangkan ayahnya yang mengendarai mobil bersama Nori-san di depan.


Dari belakang, mereka di ikuti oleh kakeknya, bibi Miyako dan suaminya, juga para kerabat yang lainnya menggunakan mobil.


Di dalam mobil itu, mereka semua berdoa sepanjang jalan tanpa henti, berharap tidak ada hal buruk yang akan menimpa Yuki dan juga mereka semua.


*****


Setelah menempuh satu jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah kuil besar, dan kehadiran mereka di sambut oleh beberapa biksu kuil di gerbang masuk.


Hal itu membuat hati mereka sedikit tenang.


Sambil mereka memasuki gerbang perlahal-lahan, para biksu itu mencipratkan air suci dengan daun ke mobil yang mereka naiki sampai di tempat mereka memarkir mobil.


Mereka pun turun dan berjalan menaiki anak tangga kuil, sedangkan Yuki di gendong oleh ayahnya dalam keadaan mata masih tertutup kain.


"Selamat datang, Nori-san," sapa salah satu biksu itu.


Izumi mendekat dan menepuk pundak Nori-san. "Apa kau mengenal mereka?" tanyanya.


"Tenang saja, aku mengenal mereka dengan baik. Di sini adalah tempatku belajar bersama mendiang ayahku.


Kotaro sensei adalah guru spiritualku di kuil ini. Aku akan membawa kalian menemuinya," jelas Nori-san.


Sesampainya di depan pintu kuil, mereka langsung masuk dan terlihat beberapa biksu yang sedang duduk. Sepertinya para biksu itu sudah menunggu kehadiran mereka semua.


Seorang biksu tua berjalan mendekat dan memberi salam penghormatan kepada mereka, dan merekapun membalas hormat dengan menunduk.


"Apa kabarmu, Kotaro sensei?" sapa Nori-san kepada biksu tua itu.


"Seperti biasanya, aku belum mendapat masalah apapun, hehe. Apa yang membuatmu menghubungiku malam-malam seperti ini, Nori-chan?" tanya biksu bernama Kotaro itu.


"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan Chan lagi, sensei. Apa aku masih terlihat seperti dulu?" gerutu Nori-san.


"Hehe ... jangan tersinggung, bagiku kau masih terlihat seperti anak kecil.


Lalu ... siapa mereka yang sedang bersamamu ini?" tanya Kotaro sensei lagi.


"Aku membutuhkan bantuanmu, sensei. Tidak, tapi anak ini membutuhkan bantuanmu," jawab Nori-san sambil menatap Yuki.


*****


Para biksu itu mempersilahkan mereka semua untuk duduk menunggu, sedangkan Nori-san mengajak gurunya berjalan mengitari area kuil sambil menceritakan seluruh kejadian yang baru saja terjadi, juga tentang Yuki dan Sesuatu yang menghantuinya.


Hal itu membuat Kotaro sensei terkejut saat dia mendengar bahwa Guci yang menyegel Naku Josei telah hancur.


Saat Nori-san tengah bercerita, perkataannya terhenti ketika angin yang tiba-tiba saja berhembus kencang. Hal itu membuat perasaan mereka berdua tidak enak.


"Apa yang harus kami lakukan dalam menghadapi situasi seperti ini, sensei?" tanya Nori-san.


"Sebaiknya kita membicarakan ini di dalam kuil," jawabnya.


"Baiklah," Nori-san bejalan menuju pintu kuil yang kemudian di ikuti oleh gurunya.


Langit yang gelap tanpa di sinari oleh bintang-bintang; cahaya bulan yang tertutupi oleh awan; dan angin yang berembus kencang menggoyang pepohonan di sekitaran kuil, membuat suasana saat itu menjadi sangat mencekam.


"Perasaan mengerikan apa ini ?" batin Kotaro sensei; berjalan memasuki kuil.


*****


.


.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2