NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
EPILOG (Season 1)


__ADS_3

Hannan - Osaka. Pukul 4:00 PM.


Sore itu, Nori-san akhirnya tiba di kota dan langsung pergi menuju ke kuil Sora. Dari kejauhan, dia sudah dikejutkan oleh gumpalan asap hitam yang mengapung di atas area kuil.


"Tidak mungkin ... daerah itu 'kan ...," Gelisah; Nori-san mempercepat laju mobilnya.


Semakin dia mendekat, gumpalan asap hitam itu terlihat semakin jelas dari mana asalnya. Nori-san berhenti tepat di depan gerbang kuil. Firasat buruknya itu semakin meyakinkannya setelah ia melihat kerumunan masyarakat dan para petugas pemadam kebakaran yang sedang lalu lalang di sana.


Segera Nori-san berlari memasuki gerbang, dan seketika itu pun ia terkejut, kaget setelah melihat bangunan kuil yang hanya menyisakan kerangka hangus.


"Tidak mungkin ... ini pasti bohong ... tidak mungkin ...," batin Nori-san, tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat di depan matanya.


"Nori-san!" seru seorang biksu yang berjalan menghampirinya.


"Tomaro-san? Apa yang terjadi di sini?! Bagaimana bisa sampai seperti ini?!" tanya Nori-san, panik.


"Ini semua ulah Yoshino-san. Maafkan aku, kami tidak bisa menghentikannya ...," jawab Tomaro-san.


Sejenak, Nori-san terpaku setelah mendengar ucapan Tomaro-san. Dia berjalan mendekat, dan berkata, "Lalu ... bagaimana dengan Yoshino-san sendiri?" tanyanya lagi.


Tomaro-san tidak menjawab pertanyaannya itu, melainkan hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah sedih.


Tidak habis pikir, Nori-san memegang kepalanya sendiri yang mulai terasa pusing.


Beberapa saat kemudian, Nori-san dan beberapa biksu yang lainnya berbicara dengan petugas pemadam kebakaran dan juga kepolisian mengenai kuil dan penyebab bagaimana kuil itu bisa terbakar.

__ADS_1


Mendengar semua penjelasan itu, polisi mengajak mereka pergi ke kantor polisi untuk investigasi lebih lanjut tentang kejadian ini.


"Aku yang akan mengurus masalah ini, kau pulanglah dan beristirahat, atau pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatanmu itu," suruh Tomaro-san.


"Ya, biarkan kami saja yang mengurusnya, Nori-san," timpal salah satu biksu di sana.


Nori-san menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan pergi menuju mobilnya.


Pukul 5:45 PM. Nori-san tiba di rumah sakit. Dia duduk di ruang tunggu sebelum diperiksa oleh dokter; hanya terdiam lesu dengan pikirannya yang kacau balau. Sesekali dia melihat kilas balik tentang perjuangannya bersama Yoshino-san selama mereka belajar di akademi; hal itu membuatnya berlinang air mata.


Televisi yang diputar di dalam ruangan tersebut memberitakan tentang kejadian kebakaran yang terjadi di kuil Sora. Itu memang membuat perasaan Nori-san semakin memburuk, namun hal buruk itu tidak hanya sampai di situ saja.


Diberitakan juga bahwa ada sebuah kecelakaan mobil yang menewaskan dua orang wanita dan satu orang anak kecil. Semua korban yang ada di dalam mobil itu tewas secara mengenaskan. Nori-san syok dan semakin frustasi ketika mereka memperlihatkan identitas dari ketiga orang yang menjadi korban kecelakaan itu.


Mendengar kabar itu, seketika kepala Nori-san menjadi sangat pusing, wajahnya pucat, jantungnya terasa berdetak sangat pelan; tubuhnya lemas tak bertenaga, dan akhirnya dia pun terjatuh pingsan di lantai.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu berlari mengerumuni Nori-san yang sudah tak sadarkan diri; beberapa dari mereka memanggil para perawat.


Mereka mengangkat tubuh Nori-san dan memasukannya ke dalam sebuah ruangan, kemudian para perawat menginfusnya, menginjeksinya, dan memberinya alat bantu pernafasan.


.


.


Hari itu adalah hari yang paling mengerikan sekaligus paling menyedihkan dalam hidup Nori-san; hari yang paling buruk, dan hari yang tak akan pernah terlupakan olehnya.

__ADS_1


*****


Los Angeles - California. Pukul 6:30 AM.


Pagi itu, Yuki masih terlihat sedang duduk di tempat yang sama, sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan matanya yang kosong.


Sinar mentari pagi yang terang, masuk menyinari ruangan itu melalui jendela yang tak tertutup kain gorden. Yuki berjalan keluar menuju balkon, dan berdiri di sana untuk menghirup udara segar sambil menikmati pemandangan kota dari atas.


Hatinya menjadi jauh lebih tenang, ketika angin sepoi-sepoi datang membelai rambutnya yang terurai panjang.


"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasakan hal seperti ini. Perasaan ini ... aku ...." batinya berkata sambil tersenyum manis.


Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya.


"Sekarang ... harus kumulai dari mana, ya?"


.


.


*****


Tamat ...


Season 2 terkonfirmasi.

__ADS_1


__ADS_2