NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KEBENARAN YANG MULAI TERUNGKAP


__ADS_3

TOK..TOK..TOK ...


"Permisi ...."


TOK.. TOK..TOK..TOK ...


"Apa ada orang di sini?" teriak Yuki.


"Huuuft ... jadi kita jauh-jauh hanya untuk mendatangi sebuah gubuk kosong yang tak berpenghuni ini?" gerutu Nori-san.


"Pasti dia sedang tidur atau aku yang kurang kuat mengetuk pintunya," ujar Yuki.


"Hah? kau bahkan menggedor pintunya" gumam Nori-san dalam hati sambil berjalan mendekati Yuki. "Sudahlah! Kita hanya buang-buang waktu di sini! Lihatlah ... langit sudah mulai gelap."


"Akan lebih berbahaya jika malam tiba, Yuki-chan," sela Yoshino-san.


"Huuuft ... padahal aku ingin sekali menanyakannya secara langsung" gumam Yuki dalam hati.


Nori-san menggenggam tangan Yuki, lalu menariknya. "Sudahlah, ayo kita pergi dari sini!"


Saat mereka membalikan badan, dan berjalan hendak menuruni tangga; Mereka berpapasan dengan seorang pria lanjut usia yang sedang memikul kayu bakar di pundaknya. Pria tua itu berjalan melewati mereka tanpa suara.


"Selamat sore ...," sapa Yuki, menunduk.


Mereka berempat memperhatikan pria tua itu yang berjalan menuju gubuk.


"Eh ... jangan-jangan dia ...," Yuki berjalan mengikutinya menuju gubuk. "permisi, Kek. Apakah kau yang bernama Yusuke?" tanyanya.


Pria itu menatap tajam ke arah Yuki. "Apa yang sedang kalian lakukan di tempat seperti ini? Pulanglah!" jawabnya membentak.


"Jadi ... benar kau adalah Yusuke-san, ya? Syukurlah aku bisa bertemu denganmu," Yuki berjalan mendekat


Tapi ketika dia mendekatinya, pria tua itu langsung berteriak. "Pergi kalian! Kalian tidak seharusnya ada di sini! Hah ... haaah!"


Sontak mereka semua kaget. Nori-san berlari ke arah Yuki dan menarik tangannya. "Sudah kubilang, ini semua sia-sia! Tidak ada yang bisa kau harapkan dari seorang yang sudah gila, Yuki-chan!" tegasnya.


"Ya! Aku gila! Jadi ... pergilah kalian semua!" teriak pria tua itu sambil berjalan membuka pintu.


"Aku tidak percaya!" bentak Yuki, melepaskan genggaman tangan Nori-san. "Aku tidak percaya kalau kau itu gila!" ujarnya berjalan mendekati pria tua itu.


"Hey! Apa yang kau katakan? Cepat kembali kemari!" ucap Nori-san.


Pria tua itu menghiraukan Yuki, dan melangkahkan kakinya memasuki rumah, lalu menutup pintu rapat-rapat dengan cara membantingnya.


"Ayo kita kembali, Yuki." Jack menarik tangannya.

__ADS_1


"Ha-hanako-san ... Hanako-san! Aku sering sekali melihatnya di dalam mimpi-mimpiku! Karena itulah aku datang kemari untuk menemuimu! Aku ingin mendengar semua ceritanya langsung darimu, Yusuke-san!" teriak Yuki dengan air mata yang sudah berlinang di pipinya.


Yuki menjatuhkan lututnya ke bawah sambil menangis. "A-aku ... Hanako-san ...," ucapnya terbata-bata; teringat dengan mimpinya.


Jack dan Nori-san membantu Yuki untuk berdiri dan menuntunnya berjalan menuju tangga. Tapi baru saja beberapa meter mereka melangkah, pintu gubuk itu terbuka, dan pria tua itu berkata, "Masuklah ... kalau kau ingin mendengarkan ceritaku."


"Yuki, apa kau yakin soal dia?" tanya Jack.


Yuki tidak menjawab pertanyaannya, dan langsung berjalan memasuki gubuk.


"Kita juga masuk," ujar Nori-san kepada Jack dan Yoshino-san.


*****


Di dalam gubuk itu, Yusuke-san mempersilahkan mereka berempat untuk duduk, sedangkan dia pergi ke belakang untuk mengambil teh yang sudah dingin, lalu menyuguhkannya kepada mereka.


"Minumlah, ini masih enak," ucap Yusuke-san.


Melihat minuman yang telah di suguhkan itu, mereka berempat saling bertatapan mata satu sama lain.


"Dia benar-benar gila," gumam Jack dalam hati; melihat beberapa ekor lalat yang terlihat tenggelam di dalam gelas.


"Jadi ... apa yang ingin kau ketahui tentang istriku?" tanya Yusuke-san.


"Semuanya!" jawab Yuki, singkat.


"Apa maksudmu?" tanya Yuki.


Yusuke-san menatap tajam. "Kau ... dan semua penduduk desa, kalian semua sama saja. Kalian menganggap istriku sebagai iblis itu. benar, 'kan?"


"Tidak, aku tidak percaya. Karena itulah aku datang kemari untuk mendengarkan semuanya darimu." Yuki meminum teh dingin itu, lalu menghela nafasnya. "Jadi ... tolong ceritakan semuanya kepadaku, Tuan," pintanya.


Tak tahan dengan sikap Yusuke-san, Nori-san berdiri dari tempatnya. "Kami tidak akan memaksamu jika kau tidak mau mence- "


"Hanako-chan adalah orang yang sangat baik," sela Yusuke-san. "Dia adalah sosok wanita yang sangat baik di mataku, bahkan di mata seluruh penduduk desa Yume. Dia juga sangat menyayangi kedua anaknya, anak kami, Ayumi dan Oba. Mereka ... sudahlah, sepertinya tidak penting juga untuk mendeskripsikan seperti apa kedua anakku."


Mereka berempat menatap wajah Yusuke-san dengan serius; Nori-san kembali duduk di kursinya.


.


.


"Sekitar enampuluh tahun yang lalu, saat itu aku sedang bekerja di distrik Senboku-Tadaoka. Hal yang paling kusesali, adalah aku yang tidak mengajak Hanako dan kedua anak kami untuk tinggal bersama. Aku meninggalkan mereka bertiga di desa ini. Itulah kesalahan terbesarku."


Yusuke-san mengambil gelas teh dan meneguknya. "Keadaan saat itu baik-baik saja, sampai aku mendapatkan sebuah surat dari salah satu temanku yang mengatakan bahwa kedua anakku telah meninggal dalam insiden perampokan di rumah kami. Mendengar hal itu, aku pun langsung bergegas pulang ke desa.

__ADS_1


Sesampainya di desa, kedua anakku telah di makamkan, sedangkan Hanako hanya diam termenung di dalam kamarnya dan tak mau menemui siapapun. Sampai di suatu malam, dia menghampiriku sambil menangis tersedu-sedu. Saat itu, dia mengakui bahwa dia juga sempat di perkosa oleh para perampok itu.


Bukan hanya itu yang membuatku terkejut. Di desa juga tersebar isu yang mengatakan bahwa Hanako sendiri lah yang telah membunuh Ayumi dan Oba."


"Dia membunuh anaknya sendiri?" sela Yuki.


"Itu hanyalah sebuah gosip yang dibuat oleh warga desa! Tentu saja aku tidak mempercayainya, karena seorang yang baik seperti Hanako tidak mungkin melakukan hal semacam itu, dan dia juga tidak punya alasan untuk melakukannya," Yusuke-san berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghadap ke jendela. "Mereka mengatakan bahwa ada saksi yang melihat istriku di danau. Saksi itu mengatakan bahwa istriku merobek dada kedua anakku menggunakan pisau. Mereka juga mengatakan bahwa saat mereka membersihkan jasad kedua anakku untuk di makamkan, mereka melihat dada Ayumi dan Oba dalam keadaan berlubang dengan jantung yang hilang dan tubuh yang kurus kehabisan darah. Huh ... bagaimana mungkin aku bisa mempercayai sebuah cerita omong kosong seperti itu ...."


"Di danau? Memakan jantung ?" Yuki mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


"... Semua tuduhan itu membuat Hanako menjadi tertekan. Dia menjadi pemurung, penyendiri, dan selalu menangis sepanjang malam. Sedangkan aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku, dan hanya berkebun setiap hari. Melihat perilaku buruk warga desa terhadap Hanako, aku pun memutuskan untuk membawanya pindah ke gubuk ini, dengan harapan semuanya bisa membaik.


Kupikir ... semua hal buruk telah berlalu, dan kami berdua bisa membangun semuanya kembali dari awal. Tapi ternyata tidak."


Yusuke-san membalikan badannya, dan menatap mereka berempat. "Hari itu, di saat aku baru pulang berkebun ...."


Kilas Balik ...


"Aku pulang! sayang ... bisakah kau membuatkanku secangkir teh? Aku benar-benar lelah ...," Yusuke meletakan tas jeraminya dan duduk di kursi. "Sayang! Apa kau sedang tidur? Aku lapar sekali. Kau memasak apa sore ini?" tanyanya.


Saat itu ... kupikir Hanako sedang tidur, karena itulah aku berbaring sejenak untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah.


Namun, karena perutku yang terasa lapar tak tertahankan, aku berjalan ke dapur untuk minum sekaligus memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa kumakan.


"Huuh ... dia tidak memasak apapun," gerutu Yusuke.


"Hanako-chan! Apa kau masih tidur? Hanako!"


Aku memanggilnya terus menerus. Tapi karena tidak ada respons apapun dari Hanako, aku pun berjalan menuju kamar untuk memeriksanya.


"Hanako-chan ... apa kau tidak memas- "


DEG!


Perkataanku terhenti, dan jantungku terasa mau copot ketika aku melihat sesosok wanita yang tergantung dengan tali yang terlilit di lehernya.


"Haanaakooooo!!! Aaaaaaaarrghh!!" jerit Yusuke sambil berlari menurunkan tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu.


"Apa yang terjadi? Ke-kenapa ... kenapa kau melakukan hal ini! Hanakoo! Aaaaaaaaghh!"


AAAAAAAAGGHHHH ...!!!


.


.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG ...


__ADS_2