
Pukul 10:45 PM. Mereka pun tiba di depan apartemen Yuki.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jack.
"Yeah"
"Apa kau serius?"
"Yeah, tentu."
"Jangan memaksakan diri untuk lembur kalau fisikmu lemah seperti ini," ujar jack.
"Aku baik-baik saja, Jack. Kau boleh pulang sekarang," jawab Yuki sambil berjalan menuju pintu masuk gedung. "By the way, terima kasih sudah mengantarku pulang," ucapnya; tersenyum.
*****
Yuki yang terlihat letih, langsung membanting diri di atas tempat tidurnya.
Malam itu dia langsung tertidur dan bermimpi aneh.
Di dalam mimpinya itu, dia sedang duduk bersama neneknya di dalam sebuah mobil yang tengah melaju. Terlihat di sana ibu dan ayahnya yang sedang mengendarai mobil.
Mereka bercerita dan tertawa bersama.
"Yuki-chan, apa kau bisa melihat sisi dari jalan ini?" tanya nenek.
Yuki menempelkan wajahnya di kaca jendela mobil dan melihat ke luar. "Hanya ada jurang, Nek," jawabnya.
"Ya, hanya ada jurang di depan sana, ha..ha..ha ...," nenek tertawa.
Melihat neneknya yang terlihat aneh, Yuki menolehkan pandangannya ke depan, dan tak jauh dari mobil mereka yang tengah melaju, sebuah jalan buntu yang dibatasi oleh jurang yang sangat dalam.
Yuki panik dan berteriak kepada ayahnya, "berhenti, Ayah! Ibu! Kenapa kalian tidak mau berhenti!"
"Ha..ha..ha..haa ...," nenek terus tertawa dengan wajahnya yang perlahan-lahan berubah menjadi sangat menyeramkan.
Tidak ada yang bisa dilakukan Yuki selain berteriak dan menangis sambil memukuli pundak ayahnya. Tapi seakan-akan mereka tidak menyadari kehadiran Yuki di sana. Mereka menghiraukannya dan terus melaju menuju arah jurang.
"HA.. HA.. HA.. HA ...!!!"
KRSSSSSSSS... GLUDUK.. GLUDUK..
Suara petir yang bergemuruh membuat Yuki terbangun dari tidurnya.
KRING..
KRING..
KRING...
Terdengar suara ponsel Yuki yang berdering tak jauh dari tempat tidurnya.
"Hujan lagi ?"
Dia bangun dan berjalan mengambil ponselnya.
"Nenek?" Kenapa dia menghubungiku selarut ini ?"
"Hello, nek? Kenapa kau menghubungiku selarut ini? Bukannya tadi kubilang nanti aku akan menghubungimu lagi," ucap Yuki menggosok matanya yang masih terasa berat.
"Maaf, nenek menghubungimu saat kau sedang beristirahat, ya? Akhh!" Nenek terdengar seperti sedang mengeram kesakitan.
"Nek? Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau terdengar seperti itu?" tanya Yuki.
"Aku baru saja terjatuh dari tangga, dan kakiku sakit sekali tak bisa berjalan. Sepertinya kaki nenek patah, Yuki-chan," jawab neneknya.
"Jatuh? Kenapa bisa seperti itu? Cobalah untuk menyeret kaki dan minta bantuan ke tetangga, nek!" tegas Yuki yang rasa kantuknya mulai hilang.
"Entahlah, aku bahkan kesulitan untuk bergerak." jawab neneknya yang kemudian berkata lagi, "Yuki-chan, datanglah kemari, nenek benar-benar kesepian tinggal sendiri di rumah ini."
"Tentu saja, nek. Aku pasti akan kesana jika liburan nanti," jawab Yuki.
"Bisakah secepatnya? Nenek benar-benar rindu denganmu saat ini," pinta neneknya yang terdengar menangis pelan.
Yuki berjalan dan duduk di kasurnya. "Tapi, apa tidak apa-apa, Nek?"
"Tentu saja, jangan takut, Yuki-chan. Ini sudah berlangsung enambelas tahun yang lalu dan kau sudah tumbuh dewasa. Tidak ada yang perlu ditakuti lagi olehmu," jelas nenek.
"Apa nenek yakin? Tapi, bagaimana dengan Naku Josei? Apa benar tidak apa-apa?" tanya Yuki lagi.
"..... "
"Nek? Apa tidak apa-apa?" Yuki bertanya untuk kedua kalinya, tapi tidak ada jawaban apa pun dari neneknya selain keheningan.
__ADS_1
"Nek? Apa kau masih di sana?" Mulai berdiri dari tempatnya.
HIKS.. HIKS.. HIKS...
Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan yang tak asing di telinga Yuki.
"Suara ini ... Nenek? Tidak, ini siapa ?" batin Yuki yang mulai merasakan keanehan yang terjadi.
"Siapa ini? Di mana nenekku?" tanya Yuki, tegas.
"Krssk.. krssk.. Konbanwa, Yuki-Chan. Yatto mitsuketa!"
(Selamat malam, Yuki. Akhirnya ketemu juga!)
DEG!
Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Tut...
BRAK!
Tut.. Tut.. tut.. tuuutt.. (sambungan terputus)
Yuki menjatuhkan ponselnya karena kaget setelah mendengar suara itu, lalu dia mulai menyadari dengan jelas kalau sebenarnya yang dari tadi sedang dia ajak bicara bukanlah neneknya.
Yuki melangkah mundur hendak keluar, tapi tiba-tiba saja ponselnya yang terjatuh itu berdering kembali.
KRING..
KRING..
KRING...
Terlihat di situ nomor yang tak dikenal. Dengan hati-hati dia mengangkat panggilan itu, lalu ...
"Nona Yuki, apa anda bisa datang ke rumah sakit sekarang juga? Kami dari pihak rumah sakit, orang tua anda ...."
".... "
"Nona Yuki? Apa kau masih di sana? Katakanlah sesuatu ... hallo!"
Mendengar ucapan wanita yang mengaku sebagai perawat rumah sakit itu, Yuki langsung syok setelah wanita itu memberi kabar bahwa kedua orangtuanya baru saja mengalami kecelakaan mobil.
Malam itu pun Yuki langsung bergegas pergi ke rumah sakit, walaupun jarak yang lumayan jauh.
.
.
Dia terlihat tergesa-gesa dan panik.
Yuki yang belum bisa menemui mereka, hanya bisa melihat kedua orangtuanya yang sedang di infus dan tak sadarkan diri dari luar ruangan.
Setelah sekitar satu jam menunggu, akhirnya dokter pun mengizinkan Yuki untuk masuk. Dia hanya bisa memegang tangan kedua orangtuanya yang belum sadarkan diri itu sambil menangis.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja ... semuanya pasti akan baik-baik saja," doanya dalam hati.
Alat medis yang tiba-tiba saja berbunyi, membuat Yuki panik. Tak lama kemudian, dokter dan beberapa perawat kembali masuk, lalu mereka mengatakan kepadanya untuk menunggu di luar, karena mereka harus segera menangani pasien.
Yuki pun berjalan keluar menuju ruang tunggu. Hatinya yang tak tenang membuatnya berjalan-jalan mengelilingi koridor rumah sakit.
Langkahnya pun terhenti. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu, duduk di sebuah lorong koridor yang remang-remang cahaya sambil menangis.
.
.
Waktu terasa berjalan sangat lama malam itu. Yuki yang duduk berjam-jam sambil menangis mulai merasakan lelah yang sangat hebat, sampai seorang wanita dengan kursi rodanya melintas di depannya. Dia menuju lorong-lorong koridor yang gelap itu.
Wanita itu terlihat memutar roda kursi menggunakan tangan kirinya dan memegang sebuah tongkat di tangan kanannya. Mungkin dia buta, pikir Yuki.
"Kau mau pergi ke mana? Di sana sangat gelap, kau tidak akan bisa melihat jalan dengan benar, di mana perawatmu?" tanya Yuki.
Wanita itu berhenti setelah mendengar ucapan Yuki, tapi dia tidak memutar balik arah kursi rodanya dan hanya duduk menatap lurus ke depan.
Yuki berkali-kali menegurnya untuk memutar arah, tapi wanita itu menghiraukannya.
"Apa dia tuli ...?" batin Yuki; berdiri dari tempat duduknya.
Yuki mendekatinya dan terus mendekat, dan saat mereka hanya berjarak dua meter satu sama lain ...
TOK.. TOK.. TOK.. TOK...
Wanita itu mengetukan tongkatnya ke lantai. Entah kenapa tubuh Yuki tiba-tiba saja menjadi merinding sampai ke belakang lehernya.
__ADS_1
"Hey ... apa yang sedang kau lakukan di sana? mari ku antar kembali ke ruanganmu" tegur Yuki, berjalan mendekat.
TOK..TOK..TOK..Tok.TokTokTok...
Ketukan tongkatnya semaki cepat. Suara itu membuatnya panik dan secara refleks Yuki mundur beberapa langkah ke belakang.
"Apa yang kau ...," ucap Yuki terhenti.
Kemudian wanita itu berhenti dan mulai berdiri.
Hal itu mengejutkan Yuki karena saat wanita itu berdiri, entah kenapa tubuhnya terlihat sangat tinggi dan semakin tinggi sampai kepalanya hampir menyentuh plafon.
Kemudian ...
HIKS.. HIKS.. HIKS.. UHUHUHUUU..
Wanita itu menolehkan wajahnya ke arah Yuki sambil berjalan mundur. Kepalanya yang berputar 180 derajat, membuat wanita itu terlihat sangat mengerikan.
Yuki terjatuh, Tubuhnya benar-benar mati rasa tak bisa bergerak. Dia mencoba untuk bangkit dan berlari, tapi entah kenapa kecepatan larinya terasa sangat pelan seperti dia sedang menarik sebuah benda berat.
"Cepatlah..!! Cepatlah..!!"
Yuki terlihat semakin panik, dia berusaha berlari secepat mungkin sambil menoleh ke belakang, sementara wanita itu berjalan sangat cepat dan semakin mendekatinya.
Dengan sekejap sebuah telapak tangan yang putih pucat menutupi seluruh wajah Yuki dari belakang, dan semuanya menjadi gelap.
*****
YUKI.. YUKI-CHAN ...
Terdengar suara yang menyebut-nyebut namanya. Seorang wanita yang terlihat tak asing, mengelus rambut Yuki dengan dibarengi sebuah kilatan cahaya yang menggambarkan wajah Izumi, ibunya.
"Ibu ...?"
YUKI-CHAN.. YUKI-CHAN...
Suara bisikan itu terus-menerus menggema di telinga Yuki, lalu lambat laun meredup dan menghilang dari pendengarannya.
*****
"Nona Yuki ...," seorang pria mengagetkannya, dan Yuki pun terbangun.
"Dokter ?" Yuki terlihat kebingungan, melihat sekelilingnya yang ternyata sudah pagi. "Hanya mimpi, ya ?" gumamnya dalam hati.
Dokter itu terlihat bingung melihat Yuki. "nona Yuki, apa kau bisa mengikutiku sebentar?" pinta dokter itu.
Yuki hanya membalasnya dengan menganggukan kepala.
Dokter itu mengajaknya ke sebuah ruangan, dan Yuki di persilahkan untuk duduk di sana.
Mereka berdua saling bertatapan mata, sampai dokter itu berkata kepada Yuki dengan raut wajah sedih. "Nona, kami sudah berusaha sebisa mungkin, kami sudah mengusahakan yang terbaik, tapi sepertinya Tuhan telah berkehendak lain." Sejenak, sang dokter terdiam, kemudian dia menghela nafas dalam-dalam. "Orangtua anda ... tidak bisa kami selamatkan," ungkapnya.
Mendengar ungkapan sang dokter, Yuki hanya terdiam membisu tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kami semua turut berduka untuk semua ini, nona," ucap sang dokter lagi yang kemudian berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.
Tak lama kemudian, seorang wanita berpenampilan rapih, memasuki ruangan itu dan duduk saling berhadapan dengan Yuki.
"Selamat pagi, nona Yuki Hamida Johnson." Sambil melihat secarik kertas, dia berkata lagi, "Perkenalkan, namaku Evelyne Rose, dan aku seorang psikiater. Aku di sini untuk membantumu," jelasnya.
Yuki masih membisu tanpa reaksi apa pun.
"Aku tahu ini berat untukmu, tapi kuharap ini semua tidak sampai mengganggu kesehatan mentalmu, nona." wanita bernama Evelyne itu mendekat dan menggenggam tangan Yuki yang terlihat bergemetar.
Yuki yang tadinya hanya terdiam melamun, kemudian mulai menetaskan air mata, dan menangis hebat.
Evelyne membungkus Yuki dengan kain selimut dan menuntunnya berjalan keluar menuju ruang ICU.
Kesedihan semakin menusuk hati Yuki saat dia melihat kain putih yang sudah menutupi wajah kedua orangtuanya.
"Ibu! Ayah!" jeritnya.
Tangisan Yuki yang semakin menjadi-jadi, terdengar seperti jeritan yang sangat nyaring.
Hari itu adalah hari yang benar-benar tak terduga dan sangat menyedihkan bagi Yuki.
Kini, dia harus hidup sendirian tanpa adanya lagi dukungan dari kedua orangtuanya.
.
.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG ...