NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
HOTOTOGIZU RYOKAN (Penginapan Hototogizu)


__ADS_3

TOK..TOK..TOK..TOK...


Suara ketukan di pintu itu membuatnya merinding dan bergemetar.


Yuki mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu, tapi saat dia hampir meraih tangan pintu, seorang memegang pundaknya dari arah belakang. Secara refleks, Yuki langsung berputar dan melayangkan tangan kanannya.


BUAK ...!!!


Tangannya berhasil memukul sesuatu.


"Aah ... apa yang kau lakukan, Yuki!" teriak sosok itu yang ternyata adalah Jack.


"Jack? Aah ... maafkan aku, aku tidak tahu kalau itu kau. Lagipula kau mengagetkanku! Dari mana saja kau?" Yuki memegang pipinya Jack.


"Aku baru dari toilet, apa yang sedang kau lakukan dengan mengendap-endap di sini?" tanya Jack.


"Entahlah ... sepertinya aku melihat seseorang berdiri di depan pintu rumah," jawab Yuki sambil berjalan membuka kain gorden tipis yang menutupi jendela.


"Ehh ... Kemana perginya dia ?"


"Aneh sekali, aku benar-benar yakin tadi melihat seseorang berdiri di depan pintu ini," ungkap Yuki yang terlihat bingung.


"Sepertinya kau kelelahan. Beristirahatlah malam ini, karena besok pagi kita akan pergi dari sini," kata Jack sambil mengelus pipi Yuki.


.


.


Malam itu terasa sangat dingin, hujan deras yang disertai petir membuat Yuki tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di sofa, berselimut dan bersandar pada bahu Jack yang menemaninya sampai matahari terbit.


*****


Pagi harinya, mereka pun kembali ke rumah bibi Amai untuk membawa nenek pergi bersama mereka.


"Apa kalian yakin akan pergi hari ini? Tidurlah beberapa malam lagi di sini, Yuki-chan," pinta bibi Amai.


"Tidak perlu, Bi. Aku memang masih merindukan tempat ini, tapi ... sepertinya kami harus segera membawa nenek ke rumah sakit secepatnya, dan aku juga harus berkunjung ke rumah bibi Miyako," jelas Yuki.


"Jadi kalian akan pergi ke Hannan?" tanya bibi Amai.


"Yeah, sebaiknya aku memberitahu bibi Miyako secara langsung," jawabnya singkat.


Mereka pun bersiap untuk pergi setelah bibi Amai memberikan alamat rumah bibi Miyako kepada Yuki.


Tak lama kemudian, mobil ambulans yang sudah mereka pesan akhirnya tiba, dan para perawat mengangkat Nenek yang masih belum siuman itu ke dalam mobil, lalu menginfusnya. Sementara Yuki dan Jack pergi menggunakan mobil rental.


Pukul 9:00 AM. Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan desa Okaruto.


Lambaian tangan dan tangisan haru dari bibi Amai membuat Yuki merasa sangat sedih.


Beliau yang telah kehilangan suami dan anak satu-satunya itu, harus hidup sendirian di desa ini.


"Semoga saja kau sehat-sehat selalu di sini. Selamat tinggal ... bibi Amai."


*****


Pukul 15:15 sore. Setelah menempuh kurang lebih enam jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kota dan langsung menuju ke salah satu rumah sakit umum di sana.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, nenek langsung dibawa ke ruangan ICU untuk di periksa.


Yuki ingin sekali menunggu sampai neneknya siuman, tapi dokter menyarankannya untuk beristirahat dan kembali lagi nanti.


"Tidak usah khawatir, kami akan merawat nenek Nadeshiko dengan baik di sini, kami akan memberi kabar jika beliau sudah siuman," ujar sang dokter.


"Sepertinya nenekmu akan baik-baik saja di sini, Yuki." hibur Jack.


Yuki hanya mengangguk sambil memegang tangan nenek, kemudian melangkah keluar bersama Jack.


Dia dan Jack memutuskan untuk pergi mencari tempat penginapan terdekat di sana, dan mereka pun mendapatkan sebuah penginapan tradisional bernama 'Hototogizu ryokan'.


"Apa kau yakin ingin menginap di sini?" tanya Jack.


"Tentu saja," jawab Yuki, berjalan masuk.


.


.


Saat itu, setelah makan malam selesai, Yuki beristirahat di sana dengan tenang tanpa adanya hal yang aneh atau sesuatu yang mengerikan lagi.


Sesekali Yuki teringat dengan mimpi-mimpinya yang dia pikir pasti ada sesuatu hal di balik semua mimpi itu. Dia sedikit merasa gelisah, tetapi dia juga merasa senang karena dia sudah tidak terlibat lagi dengan Naku Josei. Itulah yang di pikirikannya. Juga tentang nenek yang sudah terawat di rumah sakit, membuat pikirannya sedikit lebih tenang dan bisa tertidur lelap.


Ya ... dia tertidur lelap ...


*****


Matahari yang cerah; angin sepoi-sepoi yang berembus; burung-burung yang berkicau di atas pepohonan yang rindang; dan sebuah padang rumput yang terbentang luas. Terlihat di sana Yuki yang sedang berjalan tanpa alas kaki menuju sebuah danau.


sesampainya dia di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang gadis kecil yang sedang duduk di tepian danau sambil menimba-nimba air dengan gelas bambunya.


"Rin? Apa itu kau? sungguh kau Rin, 'kan?" tanya Yuki yang berlari ke arahnya dan memeluk anak itu.


"Rin, kenapa kau bisa ada di sini? pulanglah, bibi Amai merindukanmu," pinta Yuki dengan air matanya yang mulai menetes.


"A-aku haus, Yuki-chan," ucap Rin dengan terbata-bata.


"Eeh ...?"


"Air ini terlihat segar dan menyejukan, tapi aku tidak bisa meminumnya. Aku ingin pulang ... Yuki, aku ingin pulang," Kata Rin sambil menangis.


"Lihatlah, aku tidak bisa meminum air ini." Rin menyodorkan gelas bambunya yang air di dalamnya sudah berubah warna menjadi merah darah.


Yuki terkejut ketika terlihat air danau yang tadinya jernih, kini sudah berubah menjadi darah yang berwarna merah pekat.


Tiba-tiba saja langit menjadi mendung, angin berembus dan berderu kencang. Suasana saat itu langsung berubah menjadi sangat mencekam.


"Rin, ayo kita pergi dari sini. Ikutlah denganku." Yuki menarik tangan Rin, tapi Rin melepaskan genggaman tangannya.


"Kenapa, Rin!"


"Yuki, apa kau bisa melihatnya di sana?" ujarnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah danau.


terlihat di sana tubuh dua seorang anak kecil yang mengambang di tengah-tengah danau itu.


"Apa kau bisa menolong mereka, Yuki?" Rin menatap wajah Yuki dengan air mata yang berlinang di pipinya. "Tidak, apakah kau bisa menyelamatkan kami?" katanya lagi.

__ADS_1


"A-ku tidak mengerti, aku tidak mengerti maksud dari semua ini! Rin, kenapa kau ...."


Rin hanya terdiam menundukkan kepalanya, lalu dia mengangkat tangannya lagi dan menunjuk ke arah belakang Yuki, seolah-olah dia ingin memberitahunya kalau ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.


Namun, saat Yuki hendak berbalik ...


JDAARR. !!.. GRRRSSS....


Suara petir yang menyambar keras membuat Yuki membuka mata dan terbangun dari tidur.


Listrik pun padam setelah sambaran petir yang kuat itu.


"Mimpi lagi? Kenapa aku terus-menerus bermimpi hal yang aneh seperti ini? Sebenarnya ada apa denganku sekarang?


Rin ... Rin..." batinnya yang bertanya-tanya.


Sejenak Yuki terdiam, lalu dia mulai meneteskan air matanya dan menangis tersedu-sedu. Entah apa yang membuatnya seperti itu, tapi sedih rasanya setiap kali dia mengingat Rin.


"Seandainya saja aku bisa bertemu denganmu sekali lagi ... seandainya saja." gumam Yuki dalam hati.


Yuki membuka ponselnya untuk memeriksa apakah ada E-mail masuk atau panggilan masuk yang tak terjawab dari rumah sakit. Tapi tidak ada notifikasi apa pun yang muncul di sana.


"Baru jam 2:00, ya," gumamnya yang mencoba memejamkan mata dan berusaha untuk tidur kembali.


Tapi beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja sebuah suara dari luar kamar yang terdengar memanggil-manggil namanya itu, membuatnya kembali membuka mata.


YUKI-CHAN.. YUKI-CHAN...


Terdengar seperti suara seorang gadis kecil yang memanggil namanya.


"Suara ini ... Rin ?"


Yuki bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan mendekati pintu dan menempelkan telinganya ke dinding pintu.


YUKI-CHAN.. YUKI-CHAN ...


Suara itu terdengar menjauh dan terus menjauh dari pendengarannya. Hal itu membuatnya penasaran dan menggeser pintu kamar.


Dia melangkahkan kakinya keluar dan mencari sumber suara tersebut.


"Gelap sekali ..."


Cahaya kilatan petir yang masuk melalui jendela-jendela, sesekali menerangi lorong koridor yang gelap itu.


Sambil berjalan, Yuki mencabut ponselnya dari saku dan menyalakan Senter.


Dia terus berjalan menuju sumber suara tersebut. Tapi semakin dia mendekat, suara itu terdengar semakin menjauh dan meredup. Sampai pada di sebuah tikungan koridor yang panjang di depanya.


Tiba-tiba saja suara itu menjadi terdengar semakin jelas di telinganya. Sangat jelas.


"Dari depan sana, ya ...."


.


.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2