NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
DESA OKARUTO


__ADS_3

Pukul 5:15 PM (Waktu Osaka). Setelah menempuh sekitar empatbelas jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di bandara internasional Osaka-Jepang.


Mereka memesan taksi dan memutuskan untuk pergi beristirahat di sebuah Hotel dekat bandara.


Malam itu, Yuki meminta Jack untuk tidur satu ruangan dengannya supaya dia bisa menjaganya, tapi dia mengatakan bahwa Jack yang harus tidur di sofa sedangkan dia di kasur.


"Haah! Kenapa aku yang harus tidur di sofa?" gerutu Jack.


"Sudahlah! Kasurnya cuma ada satu, dan aku tidak mau berbagi denganmu!" jawab Yuki.


Jack melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. "Huuft ... kalau begitu aku pesan kamarku sendiri saja."


"Jack!" Bentak Yuki dengan tatapan tajam.


"Baiklah ... baiklah ... tapi berikan aku selimutnya," pinta Jack; berjalan menuju Sofa. "Kenapa kau tidak coba untuk menghubungi nenekmu dulu sebelum pergi ke rumahnya di desa?" tanyanya.


"Dia tidak bisa dihubungi sejak hari kecelakaan orangtuaku. Terakhir kami bicara, itu tepat di hari kecelakaan orangtuaku terjadi, tapi ...," jawab Yuki yang terhenti sejenak


"... ??? Tapi apa?"


Yuki meneruskannya, " tapi aku merasa kalau hari itu bukanlah nenek yang kuajak bicara."


"Berbicara dengan nenekmu tapi kau merasa itu bukan dia, apa maksudmu?" tanya Jack lagi.


"Entah kenapa, tapi aku merasa itu bukanlah dia, karena suara itu ...,"


"Suara apa..?"


Yuki berjalan mendekati Jack dan berkata lagi, "Jack, dengar. Jika kau merasakan sesuatu hal yang ganjil malam ini, seperti mendengar suara tangisan seseorang, jangan pernah kau buka matamu sampai suara-suara itu menghilang, kau paham?"


"Hahaha ... apa maksudmu? bagaimana jika yang menangis itu adalah anak kucing? itu terdengar Lucu, 'kan?" ledek Jack sambil tertawa.


"Berhenti tertawa dan dengarkan aku, bodoh! Aku tidak main-main, dan jangan main-main denganku!" bentak Yuki.


Jack terdiam; mengangkat sebelah alis matanya.


"Bantulah aku untuk kali ini, Jack. Kumohon ...," lirih Yuki.


"apa maksudmu? Karena itulah aku ada di sini, 'kan?" jawab Jack.


"Sudahlah ... aku mau tidur," Yuki melemparkan selimutnya kepada Jack dan langsung membanting badan di atas kasur.


"Si bodoh itu ... dasar badut ...," gumamnya dalam hati.


*****


Keesokan harinya, mereka berangkat menuju desa Okaruto, di mana rumah nenek berada.


Sore yang menjelang malam itu, mereka pun sampai di desa. Tapi ... ketika mereka memasuki area desa itu, di sana terlihat sangat sepi dan gelap.


"Kenapa mereka tidak nenyalakan lampu-lampu jalan? Apa listrik di sini padam? Dan juga desa ini ... Ini terlalu sepi," Yuki mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


Hari semakin gelap. Yuki dan Jack terus berjalan mengikuti jalan setapak, dan di tengah perjalanan, mereka berdua berpapasan dengan seorang nenek-nenek bersama cucunya yang sedang berdoa di sebuah biara kecil yang hanya di terangi oleh beberapa lilin merah.


Saat dia dan Jack melewati biara itu, sang nenek terkejut melihat Yuki, dan dengan ekspresi wajah ketakutan, dia lalu berkata, "kau membawanya! Kau membawanya!"


Nenek itu berjalan mundur, lalu dengan cepat dia menutup kedua mata cucunya dengan telapak tangannya, menggendongnya dan berlari satu nafas ke arah pemukiman warga sambil berteriak,


"Dia kembali! Dia kembali!"


Yuki dan Jack kebingungan melihat tingkah laku nenek itu.


"Apa yang di lakukan orang tua itu? apa dia gila?" ucap Jack, menggelengkan kepala.


Jack Mungkin terlihat biasa saja, tapi Yuki mulai merasa resah karena tingkah laku nenek itu saat dia melihat wajahnya dengan tatapan aneh. Seketika itu pun tubuhnya langsung merinding dan dia menggenggam erat perkamen di lehernya itu.


"Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa perasaanku tiba-tiba saja jadi tidak enak seperti ini ?" batin Yuki.


Mereka berdua meneruskan perjalanan mengikuti jalan setapak, sampai akhirnya tiba di rumah nenek.


Suasana di daerah itu sangat gelap, dan mungkin listrik memang sedang padam.

__ADS_1


Yuki berusaha untuk membuka rumah nenek, namun pintunya terkunci.


"Apa nenek sudah tidur dan menguncinya dari dalam, atau dia sedang keluar ?" pikirnya.


"Yuki-chan ...? Apa itu kau?" terdengar suara seseorang memanggil namanya dari arah rumah sebelah.


Seorang wanita tua berjalan ke arah mereka berdua.


"Yuki Chan? Ternyata memang kau, kau sudah besar rupanya, kau terlihat sangat cantik dan dewasa sekali," sanjung wanita itu sambil tersenyum.


"maaf, apa aku mengenalmu?" tanya Yuki.


"Haa? bagaimana bisa kau melupakanku? Aku bibi Amai, Ibunya Rin, teman masa kecilmu dulu. Padahal dulu kau selalu bermain dengan Rin-chan di rumah kami," jelas wanita tua bernama Amai itu.


"Aaah ... ya, Bibi amai. Aku baru mengingatmu. Maafkan aku karena tidak mengenali wajahmu, Bi," ucap Yuki, menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa, kita tidak pernah bertemu selama enambelas tahun, dan saat itu pun kau masih kecil, jadi wajar saja kalau kau tidak ingat dengan wajahku ini," ujar bibi Amai.


"Oh ya, Bi. Apa nenek ada di dalam? Aku tidak bisa masuk karena pintunya terkunci," tanya Yuki.


Bibi amai tidak langsung menjawabnya dan langsung menarik tangan Yuki berjalan ke arah rumahnya yang bersebelahan dengan rumah nenek.


Mereka pun masuk kedalam rumah bibi amai, dan terlihat di sana nenek yang sedang tertidur di atas sebuah kasur dengan kain kompres di jidatnya.


"Aku sudah mengurus nenekmu selama lebih dari satu Minggu ini. Dia hampir saja meninggal karena serangan jantung saat mendengar kabar tentang izumi, mendiang ibumu. Aku benar-benar turut berduka untuk ini, Yuki-chan," ungkap bibi Amai.


"Apa? Tunggu dulu ..."


"Apa maksudmu? Tunggu dulu, dari mana Bibi bisa tau? Maksudku, kenapa nenek bisa tau kalau Ibuku sudah meninggal?" tanya Yuki, keheranan.


"Hee? Nenekmu sendiri yang memberitahuku kalau Izumi dan suaminya telah meninggal dalam kecelakaan mobil," jelas bibi Amai.


"Yeah, memang benar ibu dan ayah meninggal dalam kecelakaan mobil, tapi aku belum pernah memberitahu siapa pun dari pihak keluarga ibu. Mereka belum tahu tentang kabar itu, bahkan bibi Miyako pun belum tahu," Yuki berdiri memegang jidatnya sendiri.


"Bagaimana bisa? Siapa yang memberitahu nenek tentang hal ini ?"


"Ada apa, Yuki-chan? Kenapa kau terlihat seperti itu?" tanya bibi Amai.


"maafkan aku karena tidak bisa menghubungimu untuk memberitahu keadaan nenekmu disini. Aku tidak memiliki nomor ponselmu, bahkan kerabat-kerabatmu yang ada di Jepang pun tidak ada yang punya," ujar bibi Amai.


"Tidak apa-apa, Bi. Aku mengerti. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan nenek, aku akan membawanya ke rumah sakit, besok," ujar Yuki.


Bibi Amai pergi ke dapur dan membuatkan mereka teh hijau yang hangat. Yuki dan bibi Amai duduk di bawah sambil bercerita, sedangkan Jack yang tidak mengerti bahasa Jepang itu berjalan ke luar rumah untuk melihat-lihat.


"Oh ya, Bi. di mana Rin?" Sepertinya dia tidak tinggal di sini, apa dia tinggal di kota? Kuliah atau kerja?" tanya Yuki.


Bibi Amai hanya terdiam dengan wajah sedih.


"Bibi? Ada apa? Bicaralah."


Bibi Amai imendekat dan menggenggam tangan Yuki. "Yuki Chan, apa kau tahu, setelah kejadian itu ... setelah kau meninggalkan Jepang dan tidak pernah kembali lagi selama enambelas tahun, banyak sekali anak-anak yang menghilang di desa ini. Entah mereka menghilang ke mana," jelas bibi Amai yang mulai meneteskan air mata.


"A-apa maksudmu? Kenapa mereka sampai menghilang?" tanya Yuki lagi


Bibi Amai hanya terdiam.


"Bi, jangan bilang Rin juga ...." wajah Yuki yang mulai terlihat serius kemudian melanjutkan perkataannya. "Apa ini semua ulah Naku Jo- " ucapan Yuki terhenti ketika dengan cepat bibi Amai menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


"Jangan pernah kau sebut namanya di sini. Kumohon jangan! jangan!" tegas bibi Amai yang kemudian berkata lagi sambil menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat suasan menjadi tidak enak, kalian beristirahatlah malam ini disini dan kembali ke kota bersama bibi Nadeshiko besok pagi."


Setelah mengatakan hal itu, bibi Amai berjalan melangkah hendak memasuki kamarnya.


"Tunggu, Bi. Apa aku boleh meminjam kunci rumah nenekku? Aku ingin sekali melihat keadaan di dalam rumah," pinta Yuki.


"Baiklah," jawab bibi Amai, berjalan ke kamarnya, dan kembali untuk memberikan kunci rumah kepada Yuki.


.


.


"Wow ... sepertinya tadi dramatis sekali ya dialog kalian berdua, aku jadi terharu," ujar Jack yang meledek karena dia tidak mengerti bahasa Jepang.

__ADS_1


"Diamlah!" bentak Yuki membuat Jack terdiam.


Akhirnya mereka berdua pergi memasuki rumah nenek untuk melihat-lihat keadaan di dalam rumah tersebut. Saat itu, tidak ada banyak hal yang berubah. Sekilas, Yuki merasakan kilas balik ketika dia masih kecil; berlarian di dalam rumah bersama Rin. Hal itu membuat Yuki merasa senang, juga sedih.


Jack duduk di ruang tengah, sedangkan Yuki menyalakan pelita dan masuk kedalam kamar kakek dan neneknya yang berada di lantai dua.


Entah apa yang membuat Yuki merasa tenang dan nyaman di dalam ruangan itu, sampai membuatnya mengantuk dan tertidur.


*****


JREESSSSSSSS.... TOK..TOK..TOK..TOK..TOK...


Suara ketukan di pintu kamar yang sangat keras dan derasnya hujan yang turun, membuat Yuki terbangun, lalu berjalan membuka pintu kamar.


"Eh? tidak ada siapa-siapa ...."


Dia pun berjalan menuruni tangga menuju arah ruang tengah.


Terlihat dari kejauhan seseorang yang sedang duduk di kursi membalikan badannya.


"Jack ?"


"Jack, apa itu kau?" Yuki terus berjalan mendekat.


"Jack? Tidak, itu bukan Jack ...." batinnya.


Rambutnya yang putih dan badannya yang kurus itu terlihat seperti nenek, pikir Yuki dalam hati.


"Nek? Nenek sudah bisa berjalan? Apa yang nenek lakukan sendiri di sini?" tegur Yuki.


"Nek?" Dia berjalan lebih dekat dan terus mendekat, semakin dekat, lalu dia memegang pundak neneknya dari belakang.


"Nek ...?"


Kemudian sosok itu membalikan badannya dan menatap Yuki.


DEG!


Jantung Yuki terasa hampir copot dengan rasa merinding yang langsung menggerogoti belakang lehernya ketika dia melihat wajah neneknya yang terlihat putih pucat; mata yang terbelalak ke atas; gigi yang runcing; dan mulut yang terbuka lebar sampai kedua pipinya robek.


Sosok mengerikan itu menjerit dan berteriak kepada Yuki, "SUDAH KU BILANG JANGAN PERAH KEMBALI LAGI KE SINI ...!!!"


DHUAARR! KRRRR ...


suara petir yang menggelegar dan hujan yang turun begitu deras membuat Yuki terperanjat dan terbangun kembali dari tidurnya.


Hosh..hosh..hosh..hosh..


Nafasnya terengah-engah dan wajahnya berkeringat walaupun suhu saat itu sangat dingin.


"Mimpi? Sial! Kenapa selalu seperti ini? pertama di rumah sakit, sekarang di sini !" gumamnya dalam hati.


Yuki mencoba meraih lentera dan turun dari kasur menuju ruang tengah untuk mencari Jack.


Sesampainya disana, terlihat seperti ada seseorang yang berdiri di luar rumah, tepatnya di depan pintu.


"Gelap sekali, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas."


"Jack, katakan kalau kau yang sedang berdiri di sana!" seru Yuki.


Kemudian terdengar lagi ...


TOK..TOK..TOK..TOK.


.


.


*****


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2