
30 menit sebelumnya.
Hannan Hospital, lantai ke-20. Terlihat di sana, nenek Nadeshiko yang sedang terbaring di dalam sebuah ruangan perawatan.
"Tidurlah, nek. Kau perlu banyak istirahat, supaya cepat sembuh," ujar seorang perawat wanita yang mematikan lampu ruangan.
"Bisakah kau tetap di sini bersamaku sampai pagi tiba? Kumohon ...," pinta nenek.
"Heemm ... maafkan aku, nek. Aku harus pulang, dan lagipula ... walaupun aku tetap berada di sini, itu akan membuatmu susah berkonsentrasi untuk beristirahat," jawab perawat itu.
"Tapi aku tidak mau berada di tempat ini sendirian. Entahlah, tapi ... sepertinya aku mulai berhalusinasi," keluh nenek.
"Jangan khawatir, tidak ada yang perlu kau cemaskan di sini. Pikirkan lah hal yang baik, jangan melamun, dan cobalah untuk tidur ...."
Perawat itu berjalan keluar. "Aku akan kembali lagi besok pagi, nek. Selamat malam," ujarnya, menutup pintu.
Beberapa menit setelah kepergian perawat itu, nenek Nadeshiko memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur. Tapi ... tiba-tiba saja angin yang berhembus kencang, membuat jendela yang ada di dalam ruangan itu terbuka lebar, dan sebuah pintu kaca yang menuju ke arah balkon, bergetar karenanya.
Angin yang menderu-deru membuat nenek membuka matanya dan menatap ke arah pintu kaca itu.
Suara angin yang berhembus itu terdengar seperti di iringi oleh sebuah bisikan yang memanggil-manggil namanya.
NADESHIKO-CHAN ... NADESHIKO-CHAN ...
Walaupun suara itu terus menggema di telinganya. Namun ... Nenek tetap berusaha untuk kembali memejamkan matanya, dan menganggap semua itu hanyalah sebuah halusinasi. Sampai pada suara bisikan yang menggema itu berubah menjadi sebuah nyanyian yang sangat merdu. Nayanyian yang di lantunkan itu, terdengar tidak asing di telinganya.
"Lagu ini ...? Suara ini ...," nenek mulai bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu tersebut.
"Siapa di sana!" tegurnya, berjalan mendekati pintu.
Di jarak sekitar tiga meter dari pintu kaca yang tertutup oleh kain gorden itu, terlihat sebuah bayangan seseorang yang sedang berdiri di baliknya.
Nenek menggeser kain gorden pintu untuk melihat siapa orang yang sedang berdiri di luar.
Terlihat di luar sana, sesosok wanita yang sedang berdiri membalikan badannya sambil bernyanyi.
"Siapa itu ?"
Dia mencoba mengetuk pintu untuk menarik perhatian orang tersebut. Namun orang itu tak juga membalikan badannya walaupun pintu sudah di ketuk dengan sangat keras.
Karena tidak ada respons apa pun, nenek memutuskan untuk membuka pintu dan memastikannya secara langsung.
"Si-siapa kau? Apa yang sedang kau lakukan di sini? Dan sejak kapan kau ada di sini?" tanya nenek.
Wanita itu mulai berhenti bernyanyi dan kemudian membalikan badannya.
"Ka-kau ...," wajah nenek terlihat terkejut setelah melihat sesosok wanita muda yang sangat cantik di hadapannya.
Wanita itu berjalan mendekati nenek. "Kau sudah bangun, ya? Nadeshiko-chan," ucapnya, tersenyum.
Nenek yang tadinya hanya diam terpaku, tiba-tiba saja mulai berlinang air mata dan menangis tersedu-sedu.
Nenek memeluk wanita itu, lalu berkata, ...
"Aku merindukanmu ... Ibu."
*****
Hannan hospital, lantai dasar.
Di tempat yang sama, dan di waktu yang sama pula, terlihat di sana Nori-san yang sedang berbicara dengan seseorang di tempat administrasi.
"Ini sangat penting! Tolong beritahu aku di mana ruangan pasien yang bernama Nadeshiko dirawat, kumohon ...," pinta Nori-san kepada salah satu dari mereka itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu. Tapi aku tidak bisa memberitahumu soal itu. Beliau sedang dalam masa penyembuhan," jelas seorang perawat yang ada di sana.
"Kau juga tidak masuk dalam daftar orang yang diizinkan untuk menjenguk pasien itu. Hanya orang bersangkutan saja yang boleh menjenguk pasien," timpal seorang perawat di sebelahnya.
"Aku juga salah satu kerabatnya! Siapa dokter yang merawat pasien Nadeshiko? Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga!" bentak Nori-san.
"Maaf, tidak bisa! Dr. Kobayashi sudah pulang!"
Nori-san menepuk jidatnya sendiri. "Setidaknya ... biarkan aku bertemu dan menemaninya untuk malam ini, kumohon ...," pintanya lagi.
Seorang perawat berjalan mendekatinya. "Tolong ... kembalilah lagi besok pagi, Bu. Ini sudah larut malam, dan kau berbicara kepada kami dengan nada yang tinggi," tegasnya.
"Tapi- "
"Bu, kau bisa kembali lagi besok pagi untuk bertemu dengan Dr. Kobayashi. Tolong jangan memaksakan kehendak, atau aku akan memanggil security untuk mengeluarkanmu dari sini!" tegas perawat itu.
"Cih ... yasudah lah ...." gumam Nori-san dalam hati.
Nori-san yang tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya pun berjalan keluar dari gedung rumah sakit itu.
"Seandainya saja aku tahu di mana ruangan bibi Nadeshiko dirawat,"
BUAK!
Tanpa disengaja ... Nori-san menabrak bahu seorang pria yang sedang berjalan sambil menelepon; ponsel pria itu terjatuh ke lantai.
"Ah ... maafkan aku, sepertinya tadi aku sedang melamun," ungkapnya meminta maaf sambil memungut ponsel pria itu.
Nori-san terdiam sejenak menatap ponsel tersebut.
"Ponsel ?"
"Permisi ... bisakah kau mengembalikan ponselku sekarang? Aku sedang terburu-buru saat ini," pinta pria itu yang terlihat keheranan melihat Nori-san.
"Lain kali, perhatikan jalannya," tegas pria itu yang kemudian berjalan pergi.
Nori-san kembali berjalan memasuki gedung sambil memeriksa tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel.
"Ponsel ... tentu saja, dasar payah! Kenapa hal ini tidak terpikirkan di benakmu, Nori!" gumamnya dalam hati.
Dia membuka ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
*****
Kuil Sora, Di waktu yang sama.
"Nori-san? Kenapa kau harus mengikuti permintaannya? Dia bertingkah seolah-olah dia lah orang yang memiliki tempat ini!"
"Tomo-san! Kau- "
KRING..
KRING..
KRING..
Ponsel Yoshino-san yang berdering membuat ucapannya terhenti.
Dia mencabut ponselnya dari saku dan melihat ke layarnya. "Nori-san? Dia menghubungiku!"
.
.
__ADS_1
"Ada apa, Nori-san?"
"Di mana Yuki-chan!"
"Dia ada di sini bersamaku," jawab Yoshino-san.
"Berikan ke dia ponselnya, sekarang!" tegas Nori-san.
"Dia ingin berbicara denganmu, Yuki-chan." Menyodorkan ponsel.
Yuki menempelkan ponsel di telinganya dan langsung berkata, "Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya kalau kau per- "
"Yuki-chan ... dengarkan aku!" sela Nori-san. "Apa kau tahu di mana ruangan nenekmu di rawat?" tanyanya.
"Aku tidak tahu di mana letak ruangannya, tapi Dokter mengatakan bahwa mereka akan memindahkan nenek ke lantai 20," jawab Yuki.
"Lantai 20? Baiklah, itu sudah cukup," ujar Nori-san yang langsung memutus sambungan.
"Tunggu dulu ... Nor- "
Tut..tut..tut..tuuutt ... (Sambungan terputus.)
"Cih ... dia langsung mematikannya" gumam Yuki.
Mengetahui nenek Nadeshiko yang dirawat di lantai 20, Nori-san langsung bergegas berlari memasuki lift dan langsung menekan tombol menuju lantai tersebut.
"Aku bisa merasakannya, dia ada di sini! Iblis itu ... dia ada di sini ..," batin Nori-san.
Di saat yang sama, lantai 20.
Di dalam ruangan perawatan, terlihat wanita itu duduk bersama nenek yang sedang telentang di tempat tidurnya.
Wanita itu mengelus-elus kepala nenek. "Pasti berat ya hidupmu selama ini, Nadeshiko-chan? Kau sudah terlihat sangat tua sekali," ujarnya.
Nenek menatap wajah wanita itu. "Berat? Tidak ... sebelum semua orang meninggalkanku, Bu," jawabnya yang kemudian berkata lagi. "Setelah ibu dan ayah pergi, kini ... Matsu dan Izumi juga pergi meninggalkanku." Menangis tersedu-sedu.
Wanita itu mengelus-elus pipi nenek. "Mereka tidak pergi meninggalkanmu, Nadeshiko-chan," ucapnya.
"Eh ... benarkah?" tatap nenek.
"Ya, mereka sedang menunggumu di luar sana. Tidak, tapi kami semua sedang menunggumu," ujar wanita itu yang kemudian berkata lagi, "Jadi ... maukah kau ikut bersama kami, Nadeshiko-chan?"
Nenek hanya membalas dengan menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini, Nadeshiko-chan," ucap wanita itu yang kemudian menggiring nenek ke arah pintu kaca, menuju balkon.
Di sisi lain, Nori-san yang sudah berada di lantai 20, berlari mengelilingi lantai tersebut untuk memeriksa setiap ruangan dan kamar pasien.
"Di mana kau, bibi ...."
Dia berlari dari satu ruangan ke ruangan lainnya untuk mencari di mana nenek Nadeshiko berada.
Sampai akhirnya dia membuka satu pintu ruangan, dengan tempat tidur pasien yang kosong dan pintu kaca menuju balkon yang terbuka lebar.
"Apa kau sudah siap, Nadeshiko-chan?" Digenggamnya tangan nenek oleh wanita itu.
Nenek hanya membalas dengan menganggukan kepalanya sambil tersenyum, dan dalam keadaan berdiri di atas pagar pembatas.
.
.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG ...